NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — KETIKA MUSUH MENJADI SEKUTU

Udara di ruangan itu masih terasa berat.

Bukan karena panas.

Tapi karena… terlalu banyak kebenaran yang baru saja terbuka.

Aku berdiri diam.

Arkan juga.

Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Dan anehnya—

itu bukan lagi sunyi yang canggung.

Tapi sunyi yang penuh arti.

“Aku butuh waktu,” akhirnya Arkan bicara.

Suaranya lebih pelan.

Lebih manusia.

Bukan seperti dia yang biasanya.

Aku mengangguk.

“Ambil.”

Aku berbalik.

Berniat pergi.

Karena aku tahu—

semua ini tidak bisa langsung diterima.

“Tunggu.”

Langkahku berhenti.

Aku tidak menoleh.

“Kalau kita benar-benar… ada di posisi yang sama sekarang,” lanjutnya, “kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri.”

Aku memejamkan mata sebentar.

Menarik napas.

Lalu berbalik.

Menatapnya.

“Jadi?”

Tatapannya berubah.

Lebih fokus.

Lebih dingin.

“Kerja sama.”

Aku hampir tertawa.

“Serius?”

“Ini bukan pilihan.”

Dia melangkah mendekat.

“Kalau kita bergerak sendiri, kita akan dihancurkan satu per satu.”

Aku menyilangkan tangan.

Menatapnya tajam.

“Dan kamu pikir aku akan percaya kamu?”

Dia tidak langsung menjawab.

Hanya menatap balik.

Lalu—

“Aku tidak minta kamu percaya.”

Sunyi.

“Aku cuma minta kamu realistis.”

Kata itu…

kena.

Aku menghela napas pelan.

Sial.

Dia benar.

Untuk pertama kalinya—

aku tidak punya posisi untuk menyangkal.

“Baik.”

Aku akhirnya menjawab.

Pelan.

Tapi jelas.

“Kita kerja sama.”

Leon yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, “Ini keputusan besar.”

Aku meliriknya.

“Aku tahu.”

Lalu kembali menatap Arkan.

“Tapi jangan salah paham.”

Aku melangkah mendekat.

Berhenti cukup dekat.

“Begitu semua ini selesai…”

Suaraku turun.

Lebih dingin.

“Aku tetap akan menghancurkanmu kalau perlu.”

Arkan tidak tersenyum.

Tidak tersinggung.

Dia hanya mengangguk.

“Adil.”

Untuk pertama kalinya—

kami sepakat.

Beberapa jam kemudian—

kami bertiga duduk di satu meja.

Dokumen berserakan.

Laptop terbuka.

Semua data yang kami punya—

akhirnya digabung.

Dan di situlah—

semuanya mulai terlihat lebih jelas.

“Dia tidak main-main,” kata Leon sambil menunjuk layar.

“Semua aliran dana, aset, bahkan orang-orang yang terlibat… semuanya rapi.”

Aku menatap layar.

Nama demi nama muncul.

Beberapa familiar.

Beberapa tidak.

“Dia sudah menyiapkan ini bertahun-tahun,” gumamku.

Arkan menyandarkan tubuhnya.

Tatapannya tajam ke layar.

“Bukan cuma bertahan.”

Dia berhenti sejenak.

“Dia membangun kekuasaan.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Dan kita baru sadar sekarang.”

Dia tidak membalas.

Tapi rahangnya mengeras.

“Ada satu hal yang aneh,” kata Leon tiba-tiba.

Aku dan Arkan langsung menoleh.

Leon memperbesar satu file.

“Nama ini…”

Aku menyipitkan mata.

“Kenapa?”

Leon menatap kami.

“Dia muncul di semua transaksi besar.”

Aku membaca ulang.

Dan saat aku sadar—

napasku tertahan.

“Ini…”

Arkan langsung berdiri.

“Aku kenal orang ini.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

Dia menghela napas.

“Orang kepercayaan ibuku.”

Sunyi.

“Berarti…” aku bergumam.

“Semua ini dikendalikan dari satu titik.”

Leon mengangguk.

“Dan titik itu…”

Kami bertiga langsung saling pandang.

Tidak perlu dijelaskan lagi.

Aku menyandarkan tubuh.

Menatap langit-langit.

“Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.”

Arkan menggeleng pelan.

“Bukan tidak berusaha.”

Dia menatapku.

“Tapi dia yakin… tidak ada yang bisa menyentuhnya.”

Aku tersenyum tipis.

Pelan.

Berbahaya.

“Kalau begitu… kita sentuh bagian yang paling dia jaga.”

Leon mengangkat alis.

“Kamu sudah punya rencana?”

Aku menatap layar.

Fokus.

“Kalau dia bermain di balik layar…”

Aku menunjuk satu nama.

“…kita tarik dia ke depan.”

Arkan langsung mengerti.

Tatapannya berubah.

“Publik?”

Aku mengangguk.

“Bukan cuma publik.”

Aku tersenyum.

“Skandal.”

Leon terlihat berpikir cepat.

“Kalau ini gagal—”

“Tidak akan.”

Aku memotong.

Tanpa ragu.

Karena kali ini—

aku tidak bermain setengah-setengah.

Malam semakin larut.

Tapi tidak ada yang tidur.

Semua bergerak.

Semua disusun.

Semua disiapkan.

Dan di tengah semua itu—

aku berdiri di balkon.

Sendirian.

Menatap kota.

Langkah kaki terdengar di belakangku.

Aku tidak menoleh.

“Tidak bisa tidur?” suara Arkan.

Aku tertawa kecil.

“Kamu juga.”

Dia berdiri di sampingku.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Lalu—

“Aku tidak tahu harus percaya apa lagi.”

Suaranya pelan.

Jujur.

Aku meliriknya.

“Jangan percaya siapa pun.”

Dia menoleh.

“Termasuk kamu?”

Aku tersenyum tipis.

“Terutama aku.”

Dan anehnya—

dia tidak marah.

Tidak tersinggung.

Dia hanya mengangguk.

“Setidaknya kamu jujur.”

Aku tidak menjawab.

Karena kejujuran…

tidak selalu berarti baik.

“Kalau semua ini selesai…” katanya lagi.

Aku menoleh.

“Apa?”

Dia menatap lurus ke depan.

“Kamu akan pergi?”

Pertanyaan itu…

tidak kuduga.

Aku diam.

Sebentar.

Lalu—

“Mungkin.”

Jawabanku singkat.

Tapi cukup.

Dia tidak bertanya lagi.

Dan aku tidak menjelaskan.

Karena ada hal yang bahkan aku sendiri belum tahu.

Ponselku bergetar.

Pesan masuk.

Dari nomor tidak dikenal.

Aku membuka.

Dan saat membaca isinya—

senyumku perlahan hilang.

“Kamu pikir kamu sudah tahu semuanya?”

“Kalau begitu… datang sendiri.”

“Tempat lama. Tengah malam.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Arkan langsung sadar.

“Apa itu?”

Aku tidak langsung menjawab.

Hanya menatap layar.

Tempat lama.

Aku tahu tempat itu.

Sangat tahu.

“Alena.”

Suaranya lebih tegas sekarang.

“Apa yang terjadi?”

Aku menutup ponsel.

Menarik napas dalam.

Lalu menatapnya.

“Sepertinya…”

Aku tersenyum tipis.

Tapi kali ini—

tidak tenang.

“…permainan kita belum cukup besar.”

Arkan menyipitkan mata.

“Kamu mau ke sana?”

Aku mengangguk.

Tanpa ragu.

“Terlalu berbahaya,” kata Leon dari dalam.

Aku menoleh sebentar.

“Justru karena itu.”

Aku mengambil jaket.

Melangkah menuju pintu.

Arkan langsung mengikuti.

“Aku ikut.”

Aku berhenti.

Menoleh.

“Tidak perlu.”

“Ini bukan permintaan.”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu—

aku menghela napas.

“Baik.”

Karena mungkin…

aku memang tidak bisa pergi sendiri kali ini.

Malam semakin gelap.

Mobil melaju cepat.

Dan untuk pertama kalinya—

aku merasa…

ini bukan hanya tentang balas dendam lagi.

Tapi tentang sesuatu yang lebih besar.

Lebih dalam.

Dan jauh lebih berbahaya.

Mobil berhenti.

Tempat itu terlihat.

Gelap.

Sepi.

Dan penuh kenangan yang tidak ingin kuingat.

Aku turun.

Langkahku pelan.

Tapi pasti.

Dan di kejauhan—

seseorang sudah menunggu.

Siluetnya tidak jelas.

Tapi kehadirannya…

cukup untuk membuat udara terasa berbeda.

Aku berhenti.

Menatapnya.

“Lama tidak bertemu…”

suara itu terdengar.

Pelan.

Dingin.

Dan sangat familiar.

Jantungku langsung berdebar keras.

Karena suara itu—

bukan milik orang asing.

Tapi seseorang yang…

seharusnya sudah tidak ada.

Dan di saat itu—

aku sadar…

semua yang aku tahu… mungkin masih salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!