NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Udara di dalam lorong kriogenik Menara Babel terasa lebih tipis daripada di puncak Himalaya. Bukan karena ketinggian, melainkan karena setiap molekul oksigen seakan tersedot oleh ketegangan yang membeku. Adella berdiri terpaku antara tabung kaca berisi 'Adella Pertama'—ibu kandung yang tak pernah dikenalnya—dan sosok Valerius Arkana yang melangkah maju dengan keanggunan seorang predator apex.

Lukas, anak kecil yang baru saja mulai belajar menjadi manusia biasa, kini berjalan kaku menuju Valerius. Cahaya biru di matanya bukan lagi sebuah anomali, melainkan

sebuah sinyal sinkronisasi penuh dengan server pusat Babel.

Julian Mahendra, sang sekutu yang terbuang, perlahan mundur mendekati konsol darurat. Kotak logam berisi perangkat Neural-Link masih dipeluknya erat. "Valerius," sapa Julian, suaranya datar namun penuh perhitungan. "Kamu selalu memilih jalan yang paling rumit. Ekstraksi genetik dari Adella Pertama sudah stabil. Kenapa kamu butuh otak baru?"

"Karena 'stabil' adalah stagnasi, Julian," balas Valerius, matanya beralih ke Adella. "Sistem kami membutuhkan adaptasi. Otak Adella telah belajar bertahan hidup, mencintai, dan membenci dalam ketidakpastian dunia luar. Itulah algoritma yang kami butuhkan untuk menyempurnakan 'Kesadaran Kolektif'. Dan Lukas... dia adalah modem biologis yang akan menyiarkan pembaruan itu ke seluruh dunia."

Adella menyadari bahwa ia tidak bisa menang melawan pasukan bertopeng baja dengan pulpen jarum beracunnya. Ia harus menggunakan senjata yang tidak bisa mereka prediksi: memori genetik yang baru saja terbangun.

Ia memejamkan mata, membiarkan dinginnya tabung kriogenik meresap ke dalam pori-porinya. Ia mencoba mengingat ajaran Baron Senior di Pulau Mati—tentang 'Resonansi Biologis' yang alami.

"Darah tidak pernah berbohong, Adella. Dengarkan detaknya, bukan datanya."

Adella mulai mengatur napasnya, menyinkronkan detak jantungnya dengan denyut samar yang ia rasakan dari dalam tabung ibunya. Itu bukan getaran mesin, melainkan getaran kehidupan yang dipaksa tidur.

"Viona, putuskan sambungan audio eksternal ke earpiece-ku!" perintah Adella secara mental melalui protokol 'Whistleblower' yang masih aktif.

"Diterima, Adella. Tapi itu akan membuatmu buta komunikasi!" sahut Viona dengan panik di seberang sana.

"Lakukan saja!"

Seketika, sunyi total melingkupi Adella. Suara Valerius menghilang. Deru mesin menara padam. Dalam kesunyian itu, Adella mulai mendengar suara yang sebenarnya. Suara itu bukan kata-kata, melainkan frekuensi murni. Frekuensi kasih sayang, ketakutan, dan perlawanan yang tersimpan selama dua puluh tahun di dalam cairan biru itu.

Inilah 'Protokol Penjaga'. Sebuah pertahanan genetik yang ditanamkan Baron Senior secara diam-diam melalui pengawasan Pak Adwan selama bertahun-tahun, menunggu saat yang tepat untuk aktif.

Adella membuka matanya. Tatapannya kini tidak lagi penuh ketakutan. Ia menatap Lukas yang tinggal beberapa langkah dari Valerius.

Adella mengambil napas dalam dan melepaskan sebuah teriakan. Teriakan itu tidak terdengar oleh telinga manusia, namun getarannya menghantam frekuensi Alpha yang dipancarkan oleh Menara Babel.

KRAK!

Layar monitor di sepanjang lorong kriogenik retak secara bersamaan. Lampu neon putih berkedip kacau sebelum akhirnya meledak, menyisakan pencahayaan darurat berwarna merah darah.

Lukas berhenti mendadak. Cahaya biru di matanya bergetar hebat, mencoba mempertahankan sinkronisasi dengan Babel, namun frekuensi Adella terlalu kuat. Anak itu terhuyung dan jatuh berlutut, memegangi kepalanya yang terasa seperti akan pecah.

"Resonansi Biologis Alami..." gumam Valerius, matanya membelalak tak percaya. Koin peraknya jatuh ke lantai baja, menimbulkan denting keras di tengah keheningan yang mencekam. "Mustahil! Baron Senior seharusnya sudah memusnahkan protokol itu!"

Pasukan bertopeng baja Arkana tampak bingung, sistem komunikasi helm mereka mendadak dipenuhi statis yang menyakitkan akibat interferensi frekuensi Adella.

"Julian, sekarang!" teriak Adella, suaranya kembali terdengar di dunia nyata.

Julian tidak membuang kesempatan. Ia tidak menghubungkan perangkatnya ke tabung ibunya, melainkan melempar kotak logam itu ke arah sistem pendingin utama server Babel yang ada di pojok lorong.

BOOM!

Ledakan kecil namun presisi menghancurkan pipa-pipa pendingin. Cairan nitrogen cair menyembur keluar, membekukan konsol utama dalam hitungan detik. Alarm tanda bahaya massal mulai meraung di seluruh Menara Babel.

"Sistem Pendingin Lumpuh! Lonjakan Panas Inti Terdeteksi!" suara komputer menara memperingatkan.

Valerius menatap Julian dengan kemurkaan yang tertahan. "Kamu... mengkhianati keluargamu sendiri, Julian?"

"Keluarga kita sudah mati sejak kamu membiarkan Aristho mengubahnya menjadi barisan kode, Valerius," balas Julian sambil menarik senapan serbu dari punggung salah satu penjaga yang sedang linglung. "Sekarang, aku memilih untuk hidup."

Julian melepaskan tembakan rentetan ke arah pasukan Arkana, menciptakan kekacauan yang memberikan celah bagi Adella untuk berlari menuju Lukas.

Adella memeluk tubuh kecil Lukas yang gemetar. "Lukas, Kakak di sini. Ikuti detak jantung Kakak. Satu... dua... tiga..."

Adella mencoba menstabilkan frekuensi saraf Lukas menggunakan resonansinya sendiri. Perlahan, cahaya biru di mata Lukas meredup, digantikan oleh warna matanya yang asli—hitam pekat yang penuh ketakutan, namun hidup.

"Viona, jemput kami di dek evakuasi bawah! Zero sedang menyiapkan jalur keluar!" teriak Julian sambil terus menembak.

Mereka berlari menembus lorong-lorong Menara Babel yang mulai bergetar karena lonjakan panas inti. Di belakang mereka, Valerius berdiri di tengah kekacauan, menatap tabung Adella Pertama yang mulai retak akibat perubahan suhu yang drastis.

"Ini belum berakhir, Adella," bisik Valerius, meski suaranya tenggelam oleh suara sirene. "Kamu baru saja mengaktifkan sesuatu yang jauh lebih tua dari Arkana."

Mereka sampai di dek evakuasi bawah, tempat sebuah pesawat kargo militer dengan teknologi stealth tingkat tinggi sudah menunggu dengan pintu palka terbuka. Viona berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kekhawatiran.

"Cepat! Seluruh menara akan meledak dalam tiga menit!" teriak Viona.

Adella menggendong Lukas masuk ke dalam pesawat. Julian masuk terakhir, menekan tombol untuk menutup pintu palka. Pesawat itu meluncur keluar dari Menara Babel tepat saat ledakan besar menghancurkan puncak menara tersebut.

Dari kaca jendela pesawat, Adella melihat Menara Babel yang megah kini runtuh menjadi puing-puing baja dan api yang jatuh ke jurang Himalaya yang tak berdasar. Simbol kesombongan Arkana itu akhirnya hancur, bukan oleh data, melainkan oleh kekuatan darah.

Adella duduk di lantai pesawat, mendekap Lukas yang tertidur pulas karena kelelahan emosional. Ia menatap Julian yang kini duduk di kokpit, menerbangkan pesawat menuju arah barat.

"Ke mana kita sekarang, Julian?" tanya Adella dengan nada yang sangat lelah.

Julian diam sejenak, menatap radar yang kini menampilkan jalur evakuasi yang aman. "Ke tempat di mana Aristho dan Valerius tidak akan pernah berani menyentuh kita. Ke Sektor 00."

"Sektor 00? Itu hanya mitos di kalangan peretas," potong Viona. "Tempat yang tidak tersentuh internet, tidak memiliki pemerintah, dan tidak ada dalam peta mana pun."

"Itu bukan mitos, Viona. Itu adalah tempat di mana peradaban manusia yang sebenarnya masih hidup. Tempat di mana kita akan menyembuhkan Lukas... dan mempersiapkan diri untuk perang yang sesungguhnya," Julian menoleh, memberikan senyum tipis yang penuh misteri.

"Karena seperti yang dikatakan Valerius, Adella... ini belum berakhir. Arkana adalah ideologi, dan ideologi tidak pernah mati. Mereka hanya melakukan update."

Bab 35 berakhir dengan Adella yang menatap matahari terbit di atas Pegunungan Himalaya dari kaca jendela pesawat. Ia telah menghancurkan Menara Babel, ia telah membebaskan Lukas, dan ia telah menerima asal-usulnya.

Namun, saat ia meraba saku jaketnya, ia menemukan sesuatu yang aneh. Sebuah koin perak kecil yang berkilau di bawah sinar matahari. Koin perak milik Valerius.

Kapan koin ini ada di sakunya?

Adella mengepalkan tangan, menyadari bahwa permainan belum berakhir. Valerius telah menanamkan 'sesuatu' padanya sesaat sebelum mereka melarikan diri. Perjalanan menuju Sektor 00 bukan hanya untuk bersembunyi, tapi untuk mengungkap teka-teki terakhir yang ditinggalkan oleh sang Arsitek.

"Lukas, berhenti!" teriak Adella, suaranya parau menahan isak.

"Dia tidak bisa mendengarmu, Adella," ujar Valerius, koin perangnya berdenting pelan saat berputar di jemarinya. "Dia sedang mendengarkan simfoni alam semesta yang sesungguhnya. Simfoni tanpa cacat emosi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!