Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Sabotase ing Tengah Wengi
.. Mobil mewah milik Clarissa melesat keluar dari area parkir rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Genta memutar setir dengan sangat lihai, matanya terus melirik kaca spion untuk memastikan tidak ada lagi mobil SUV hitam yang membuntuti mereka.
.. Di kursi penumpang, Clarissa masih terdiam seribu bahasa. Ia terus menatap wajah samping Genta yang tampak sangat tenang dan dingin. Rasanya seperti sedang duduk di samping orang asing, bukan bodyguard konyol yang biasanya ia kenal.
.. "Genta... sebenarnya siapa Kakek bertato naga itu? Dan kenapa dia memanggilmu Arjuna?" tanya Clarissa akhirnya memecah kesunyian. Suaranya masih terdengar sangat lelah dan penuh kebingungan.
.. Genta menghela napas panjang, tatapannya tetap lurus ke depan menembus kegelapan jalanan kota yang mulai sepi. "Ada hal-hal yang lebih baik Mbak Bos tidak tahu sekarang. Yang jelas, keselamatan Mbak Bos adalah prioritas hidup saya."
.. Clarissa mendengus kesal, namun ia tidak bisa menampik rasa aman yang tiba-tiba muncul di hatinya saat berada di dekat Genta. "Tapi luka tembakmu... aku melihatnya sendiri tadi. Bagaimana mungkin luka itu hilang begitu saja?"
.. Genta hanya tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Mungkin karena doa Mbak Bos yang terlalu kencang tadi di ambulans," jawab Genta, sedikit kembali ke sifat "sengklek"-nya yang lama untuk mencairkan suasana.
.. Namun, senyum itu tiba-tiba memudar saat Genta mencoba menginjak pedal rem di sebuah tikungan tajam. Pedal rem itu terasa sangat empuk, tidak ada tekanan sama sekali. Genta mencoba memompanya berkali-kali, namun hasilnya nihil.
.. "Sial... remnya blong!" umpat Genta dengan suara rendah namun penuh tekanan. Wajahnya kembali menegang, dan ia segera menarik rem tangan secara perlahan agar mobil tidak terbalik.
.. Clarissa langsung panik, wajahnya pucat pasi kembali. "Apa?! Remnya blong? Genta, jangan bercanda! Kita sedang melaju sangat cepat!" teriak Clarissa sambil berpegangan erat pada handle pintu mobil.
.. "Tenang, Mbak Bos! Pegangan yang kuat dan pasang sabuk pengamanmu!" perintah Genta dengan nada yang tidak bisa dibantah. Ia menyadari bahwa rem ini sengaja dipotong oleh seseorang saat mereka berada di dalam rumah sakit tadi.
.. Di depan mereka, sebuah truk besar sedang melaju lambat, menutup hampir seluruh jalan. Genta tidak punya pilihan lain selain membanting setir ke arah pembatas jalan yang menuju ke area hutan kota.
.. "Genta! Apa yang kau lakukan?! Kita akan menabrak!" teriak Clarissa histeris. Ia menutup matanya rapat-rapat, pasrah pada apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
.. Genta Arjuna memejamkan mata sesaat. Kilatan cahaya keemasan kembali muncul samar di telapak tangannya yang menggenggam setir. Ia menyalurkan energi panas itu ke seluruh bagian mobil, mencoba mengendalikan laju besi besar itu dengan kekuatan batinnya.
.. Ciiiiiieeeeeekkkkk! Suara ban yang bergesekan hebat dengan aspal mengeluarkan asap putih yang pekat. Mobil itu meluncur liar, menghantam beberapa tiang pembatas sebelum akhirnya berhenti tepat beberapa sentimeter dari sebuah pohon besar.
.. Sunyi. Hanya terdengar suara mesin mobil yang berderu panas dan napas Clarissa yang tersengal-sengal. Clarissa perlahan membuka matanya dan melihat Genta masih memegang setir dengan tangan yang bergetar hebat.
.. "Mbak Bos... kamu tidak apa-apa?" tanya Genta lirih. Ia menoleh ke arah Clarissa, dan kali ini Clarissa melihat ada darah segar yang mengalir dari dahi Genta akibat benturan keras tadi.
.. Clarissa masih mematung, jantungnya serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Ia melihat Genta yang baru saja menyelamatkan nyawanya untuk kedua kali dalam satu malam.
.. "Dahi kamu berdarah, Genta!" pekik Clarissa saat melihat cairan merah mengalir dari pelipis bodyguard-nya itu. Tanpa sadar, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kain sapu tangan sutra miliknya.
.. Genta mencoba menghindar sedikit, ia tersenyum kecut sambil mengusap darah itu dengan punggung tangannya. "Biasa, Mbak Bos. Cuma lecet dikit, nggak sebanding sama mahalnya mobil ini yang ringsek."
.. "Diam! Jangan bahas mobil sekarang!" bentak Clarissa, namun suaranya bergetar karena rasa khawatir yang mendalam. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Genta, tangannya yang halus perlahan menempelkan sapu tangan itu ke luka di dahi Genta.
.. Jarak mereka kini sangat dekat. Genta bisa mencium aroma parfum mahal Clarissa yang menenangkan, sementara Clarissa bisa merasakan napas Genta yang hangat dan berat mengenai wajahnya.
.. Untuk sejenak, suasana mencekam di luar mobil seolah sirna. Mata mereka bertemu di bawah temaram lampu dasbor mobil yang masih menyala redup. Kilatan emas di mata Genta sudah hilang, menyisakan tatapan manusiawi yang penuh rasa lelah.
.. "Kenapa kamu melakukan ini, Genta? Kenapa kamu mempertaruhkan nyawamu berkali-kali untukku?" bisik Clarissa lirih. Jarinya gemetar saat membersihkan sisa darah di wajah pria di depannya.
.. Genta menatap lekat mata jernih sang CEO. "Karena itu kontrak saya, Mbak Bos. Dan karena... saya tidak akan membiarkan mawar seindah Anda layu di tangan orang-orang kotor itu," jawab Genta dengan suara rendah yang sangat tulus.
.. Pipi Clarissa bersemu merah mendengar ucapan itu. Ia segera menarik tangannya kembali, merasa canggung dengan suasana romantis yang tiba-tiba muncul di tengah kekacauan ini.
.. "Dasar tukang gombal! Dalam keadaan begini pun masih bisa-bisanya bicara seperti itu," gumam Clarissa sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela yang pecah.
.. Genta terkekeh pelan, namun tawanya segera terhenti saat ia mendengar suara langkah kaki dari arah semak-semak hutan kota yang gelap di depan mereka. Telinganya yang tajam menangkap suara kokangan senjata api.
.. "Mbak Bos, merunduk!" Genta tiba-tiba mendorong tubuh Clarissa ke bawah kursi penumpang dan ia sendiri merangkak keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat waspada.
.. Dari balik kegelapan, muncul tiga orang mengenakan masker hitam dan rompi antipeluru. Mereka membawa senapan laras panjang dan perlahan mengepung mobil Clarissa yang ringsek.
.. "Genta Arjuna! Keluar dan serahkan Nona Wijaya sekarang juga, atau kami akan meledakkan mobil ini berkeping-keping!" teriak salah satu dari mereka dengan suara parau yang menakutkan.
.. Genta berdiri di depan pintu mobil, melindungi Clarissa yang bersembunyi di bawah. Ia mengepalkan tangannya, membiarkan energi panas kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tahu, musuh kali ini bukan preman kacangan lagi.
.. "Kalian ingin mengambilnya dariku? Silakan coba kalau kalian bosan melihat matahari besok pagi," tantang Genta dengan seringai mematikan yang menghiasi wajahnya yang berlumuran darah.
.. Suasana hutan kota yang gelap itu seketika pecah oleh suara tembakan yang membabi buta. Ratatata! Peluru-peluru panas menyambar bodi mobil mewah Clarissa hingga kaca-kacanya hancur berkeping-keping.
.. Genta Arjuna melompat dengan lincah, berguling di tanah dan berlindung di balik batang pohon beringin besar. Matanya kembali menyala keemasan, memberikan penglihatan tajam di tengah kegelapan malam yang pekat.
.. "Mbak Bos! Tetap di bawah kursi, jangan keluar apa pun yang terjadi!" teriak Genta di tengah desingan peluru. Clarissa hanya bisa meringkuk, menutup telinga sambil menangis ketakutan.
.. Salah satu penembak mencoba mendekati mobil, namun Genta bergerak lebih cepat. Ia memungut sebuah batu sebesar kepalan tangan dan melemparkannya dengan kekuatan penuh yang dialiri energi panas.
.. Brak! Batu itu menghantam helm taktis sang penembak hingga pecah, membuatnya langsung jatuh terjungkal tak sadarkan diri. Genta tidak membuang waktu, ia melesat maju menerjang dua penembak lainnya.
.. Perkelahian jarak dekat tak terhindarkan. Genta menepis moncong senapan lawan dengan tangannya yang terasa sekeras baja. Dengan satu pukulan maut ke arah rusuk, ia merobohkan lawan kedua dalam hitungan detik.
.. Penembak terakhir, sang pemimpin regu, terbelalak melihat anak buahnya tumbang begitu cepat. Ia membuang senapannya dan mencabut pisau komando yang sangat tajam. "Siapa kau sebenarnya, Arjuna?! Manusia tidak mungkin bergerak secepat itu!"
.. Genta berdiri tegak, membiarkan luka-luka kecil di tubuhnya mengeluarkan uap panas yang aneh. "Aku? Aku hanyalah mimpi buruk bagi orang-orang sepertimu," desis Genta dengan suara yang sangat mengerikan.
.. Sang pemimpin menyerang dengan kalap, menebaskan pisaunya berkali-kali. Namun Genta hanya menghindar dengan gerakan minimalis, seolah ia sudah tahu ke mana arah pisau itu akan bergerak sebelum serangan dimulai.
.. Dengan satu gerakan mengunci, Genta mematahkan pergelangan tangan lawan dan merebut pisau tersebut. Ia menodongkan ujung pisau itu tepat di leher sang pemimpin yang kini gemetar ketakutan.
.. "Katakan... siapa yang memberimu perintah?! Keluarga Wijaya atau pihak luar?" tanya Genta dengan nada dingin yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
.. "Ka... Kami hanya disewa... lewat perantara anonim... kami tidak tahu siapa bos besarnya!" rintih pria bermasker itu. Genta mendengus kesal, lalu memukul tengkuk pria itu hingga pingsan seketika.
.. Keadaan kembali sunyi, hanya suara jangkrik dan embusan angin malam yang terdengar. Genta mengatur napasnya yang memburu, perlahan aura keemasannya mulai meredup kembali.
.. Ia berjalan tertatih menuju mobil yang sudah hancur itu. Ia membuka pintu dan membantu Clarissa keluar. Clarissa langsung menghambur ke pelukan Genta, menangis sejadi-jadinya karena trauma yang luar biasa.
.. Genta hanya terdiam, membiarkan Clarissa bersandar di dadanya yang masih terasa panas. Ia tahu, penyerangan ini hanyalah permulaan dari konspirasi besar yang mengincar nyawa wanita di pelukannya ini.
.. "Sudah aman, Mbak Bos. Kita harus pergi dari sini sebelum bantuan mereka datang lagi," bisik Genta pelan. Ia menatap ke arah kegelapan hutan, menyadari bahwa musuh yang sebenarnya masih bersembunyi di balik bayang-bayang.
.. Genta merogoh saku salah satu penyerang dan menemukan sebuah ponsel satelit yang masih aktif. Di layarnya, tertera satu pesan singkat yang baru saja masuk: "Habisi mereka berdua sekarang juga."
.. Mata Genta menyipit tajam. Ia mengenali kode pengirim pesan itu. Itu adalah kode yang hanya dimiliki oleh orang dalam di kediaman Wijaya. "Pengkhianat itu... ternyata sangat dekat dengan kita," gumam Genta penuh dendam.
.. BERSAMBUNG