NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:919
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah tanggungjawab

Keheningan pagi itu pecah seketika. Nayan, yang tadinya masih dalam kondisi setengah sadar, mendadak kaku saat memori tentang sentuhan dan panas tubuh semalam menghantam kepalanya seperti godam. Ia menunduk, melihat ke balik kain yang menyelimuti mereka, dan kenyataan itu terpampang nyata di depan matanya.

"Aaaaa...!"

Teriakan melengking Nayan menggema di langit-langit goa, membuat Cakra yang sedang terhanyut dalam suasana romantis langsung terlonjak hingga terduduk tegak. Jantungnya hampir copot.

"Ada apa? Nayan!" tanya Cakra panik, matanya liar memeriksa sekeliling goa, mengira ada binatang buas atau musuh yang menyerang.

Nayan menarik kain itu hingga menutupi lehernya, wajahnya yang tadi pucat kini berubah merah padam hingga ke telinga. Ia menunjuk Cakra dengan tangan yang gemetar.

"Cakra! Kita... kita benar-benar... maksudku, kau dan aku... semalam!" Nayan bicara terbata-bata, matanya membelalak lebar antara kaget dan tidak percaya bahwa ia sang Sedra yang dulunya kejam dan ditakuti banyak orang kini bisa berada dalam posisi yang serapuh ini.

Cakra terdiam. Ia baru menyadari bahwa kepanikan Nayan bukanlah karena serangan musuh, melainkan karena syok atas apa yang telah mereka lalui. Cakra berdeham canggung, tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sementara matanya mendadak sangat tertarik melihat tumpukan batu di sudut goa.

"Itu... semalam suhunya sangat rendah." gumam Cakra dengan suara rendah dan serak. "Aku hanya berpikir untuk menyelamatkan nyawamu, Nayan. Tapi aku..., aku tidak akan mengelak. Aku memang bersalah padamu Nayan dan aku pasti akan bertanggung jawab."

Kecanggungan masih mendominasi di antara mereka . Udara di dalam goa terasa berat dan menyesakkan. Nayan memalingkan wajahnya, berusaha menata debar jantungnya yang menggila, sementara Cakra tetap duduk mematung, tak tahu harus meletakkan tangannya di mana.

Mereka berdua terdiam dalam kebisuannya masing-masing, hanya suara tetesan air dari atap goa yang mengisi jarak di antara mereka.

Nayan mengepalkan tangannya, sesekali mengetuk dahinya sendiri dengan gusar. "Apa yang aku lakukan? Dasar bodoh!" gumamnya pelan, suaranya sarat dengan kekesalan pada diri sendiri.

Dalam jiwa Sedra, kejadian semalam adalah sebuah penghinaan besar bagi harga dirinya. Sebagai seorang petarung yang terlatih, ia seharusnya memiliki kendali penuh atas dirinya. Namun, bayangan tentang bagaimana ia justru membalas dekapan Cakra dan membiarkan setiap sentuhan itu meresap, membuatnya merasa sangat rendah. Ia merasa telah dengan mudah terlena oleh kehangatan sesaat.

" Benar, semua pria itu sama saja! "batin Nayan pahit.

"Dan setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dia pasti akan meninggalkanku sama seperti yang dilakukan pangeran Elias. Aku hanyalah pelarian di tengah badai baginya."

Cakra, yang masih terduduk tak jauh dari Nayan, memperhatikan perubahan raut wajah nya yang gelisah. Ia bisa melihat kilatan kemarahan dan kekecewaan di mata gadis itu. Kekecewaan yang ia tahu diarahkan pada diri Nayan sendiri.

"Nayan..." panggil Cakra lembut, membuat Nayan sedikit tersentak.

Cakra menarik napas panjang, menatap Nayan dengan tatapan yang sangat jujur, tanpa ada sedikit pun kesan main-main. "Aku mengerti perasaanmu. Aku tahu ini sulit untuk diterima, dan aku mengakui... ini semua benar-benar salahku."

Cakra merangkak sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga jarak agar Nayan tidak merasa terancam. "Aku ingin sekali bertanggung jawab terhadap dirimu, Nayan. Aku ingin menjagamu, bukan karena rasa kasihan atau sekadar kewajiban, tapi karena aku sungguh-sungguh dengan apa yang aku rasakan semalam. Namun, aku tidak akan memaksamu. Semuanya kembali pada izinmu."

Nayan tertegun. Kata-kata "tanggung jawab" dan "izin" biasanya terdengar seperti belenggu di telinganya, namun dari mulut Cakra, itu terdengar seperti sebuah janji perlindungan yang tulus. Kalimat itu meruntuhkan prasangkanya bahwa Cakra akan langsung membuangnya setelah kejadian ini.

Nayan menoleh, menatap mata Cakra yang dalam. Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang pria yang tidak hanya menginginkan tubuhnya, tetapi juga menghargai kedaulatannya sebagai seorang wanita.

"Kenapa..." suara Nayan tercekat di tenggorokan. "Kenapa kau mau bertanggung jawab pada gadis desa yang bahkan tidak punya apa-apa sepertiku?"

Cakra bergeser sedikit, duduk menghadap Nayan sepenuhnya meskipun ia sendiri hanya berbalut kain seadanya. Atmosfer di dalam goa itu kini bukan lagi tentang dinginnya badai, melainkan tentang kejujuran yang menyesakkan.

Nayan masih memeluk lututnya erat, matanya menatap kosong ke arah pintu goa.

"Kenapa kau diam saja, Cakra? Jawab aku," desis Nayan dengan nada getir. "Kenapa kau mau bertanggung jawab pada gadis yang baru kau kenal di tengah hutan? Apa kau sekedar merasa bersalah?"

Cakra menarik napas panjang. "Ini bukan soal rasa bersalah, Nayan."

"Lalu apa?" Nayan menoleh cepat, matanya berkilat tajam. "Karena kau merasa sudah memilikiku? Karena kau merasa punya kewajiban setelah semalam? Simpan saja harga dirimu itu. Aku tidak butuh belas kasihan."

"Ini bukan belas kasihan!" suara Cakra meninggi satu nada, namun ia segera meredamnya. Ia menatap Nayan dengan sangat dalam.

"Nayan, dengarkan aku. Sejak pertama kali aku melihatmu di hutan itu, ada sesuatu yang berbeda. Aku tidak pernah merasa harus melindungi seseorang sedalam ini sebelumnya."

Nayan tertawa hambar, tawa yang menyembunyikan luka Sedra yang mendalam. "Kata-kata yang manis. Aku sudah sering mendengar pria bicara soal perlindungan, tapi pada akhirnya mereka hanya peduli pada apa yang bisa mereka ambil."

"Aku tidak mengambil apa pun yang tidak kau berikan Nayan !" balas Cakra dengan suara rendah dan tegas. "Semalam... kau pun merasakannya, bukan? Jangan membohongi dirimu sendiri dengan membenciku."

Pipi Nayan kembali memanas. Ucapan Cakra menghantam tepat di ulu hatinya. "Itu... itu hanya karena aku kedinginan. Aku kehilangan kendali."

"Kalau begitu, biarkan aku yang memegang kendali untuk menjagamu," sahut Cakra cepat.

"Nayan, aku serius. Aku ingin membawamu pergi dari sini. Aku ingin kau aman. Jika kau memberiku izin, aku akan menikahimu saat kita kembali nanti."

Nayan tertegun, dia menatap Cakra dengan tatapan dalam sembari berdecak .

" Menikah katamu ? Apakah bagimu pernikahan hanyalah sebuah lelucon Cakra ? "

 Cakra memajukan tubuhnya, tangannya ragu sejenak sebelum akhirnya ia berani menyentuh tangan Nayan yang terkepal. "Nayan, lihat aku."

Nayan perlahan mengangkat wajahnya.

"Aku bukan pria yang suka mengumbar janji . " lanjut Cakra. "Tapi setelah semalam, bagiku, kau adalah tanggung jawab hidupku. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi dunia ini sendirian lagi. Kecuali... jika kau memang sangat membenciku sampai kau ingin aku pergi."

Nayan terdiam cukup lama. Batin Sedra berteriak agar ia mendorong pria ini menjauh sebelum semuanya menjadi semakin rumit. Identitasnya sebagai buronan adalah bom waktu yang bisa hancur kapan saja.

"Kau tidak tahu apa yang kau hadapi jika bersamaku, Cakra." bisik Nayan lirih. "Kau tidak tahu siapa aku sebenarnya."

Cakra tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ketenangan sekaligus misteri. "Dan kau juga tidak tahu siapa aku sebenarnya, Nayan. Mungkin kita berdua memang ditakdirkan untuk menyimpan rahasia bersama-sama."

Nayan menatap tangan Cakra yang menggenggam jemarinya. Untuk sesaat, ia ingin sekali percaya. Ia ingin melupakan bahwa dirinya adalah Sedra yang penuh darah, dan hanya ingin menjadi Nayan gadis lemah yang dicintai Cakra .

"Bagaimana jika suatu saat kau menyesal?" tanya Nayan pelan.

"Maka biarlah penyesalan itu menjadi urusanku!" jawab Cakra mantap. "Sekarang, katakan padaku... apa kau memberiku izin untuk tetap di sisimu?"

Nayan menunduk, lalu dengan gerakan sangat kecil, ia mengangguk. Cakra mengembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.

"Terima kasih, Nayan," bisik Cakra sembari menarik tangan Nayan dan mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.

Nayan menarik napas dalam, mencoba menenangkan hatinya yang masih kacau. "Kita... kita harus segera pulang. Riu dan Ana pasti sangat cemas."

"Kau benar ! " Cakra berdiri, mulai memungut pakaiannya yang sudah agak kering. "Pakailah pakaianmu. Aku akan menunggumu di depan goa ."

Cakra pun berbalik, memberi Nayan privasi.

Bersambung...

🪶🪶🪶

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!