Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Misterius
"Iya, mau jenguk!"
Sudah lebih dari tiga kali Dena bertanya serupa, dan Rola pun jadi kesal dibuatnya.
Kayak, masa iya sudah berulangkali dijawab Dena masih saja tidak percaya.
Atau mungkin, memang tidak mau percaya.
Dan yah, Dena justru terlihat mendelik seketika—was-was, takut sekaligus gundah, teman-temannya itu benar-benar datang menjenguknya seperti apa kata Rola di seberang sana.
"Ke kos gue?!"
Terdengar dari seberang Rola menghela napas panjang, "Ya iya lah! Masak ke rumah sakit!"
"Lo kan di kos, nggak lagi dirawat inap!" sengaknya.
Dena malah terdiam, wajahnya langsung pucat pasi—bingung.
Berpikir bagaimana ia harus menghadapi situasi ini. Saat, sekarang ini ia justru sedang tidak berada di kos, melainkan di rumah Alvaro.
"Jangan malah diem bangsat!" sergah Rola tak lama.
"Dena!" panggilnya.
"Iyaa, kenapa?"
"Lo di kos kan?" tanya Rola memastikan.
Dena mengangguk tanpa sadar, "I-Iya, gue di kos kok..."
"Tapi—" Dena seperti ingin menambahkan sesuatu, hanya saja masih bingung bagaimana mengatakannya.
Di sana Rola mengerinyit heran, "Tapi apa?"
"Nggak apa-apa," sahut Dena spontan.
"Ya udah, kalau gitu gue ke sana!" ujar Rola.
"Tapi, sebelum itu gue mau ngisi bensin dulu...gue matiin ya, bye Dena, muach..."
Dena langsung terlonjak, panik, "Heh! Tunggu!"
Namun, panggilan itu tetap Rola putus sebelah pihak dengan mendadak.
Tut!
"Haloo!"
"Rola!"
...***...
Dari atas ranjang Alvaro memperhatikan gelagat panik istri kecilnya yang teramat lucu bila diperhatikan terus-menerus.
Alvaro jadi senyum-senyum sendiri.
Di sudut kamar tempat Dena menerima telepon, ia refleks menoleh Alvaro.
Dena lalu berlari kecil ke arah laki-laki itu ketika rasa paniknya sudah semakin tak terhindarkan.
Alvaro menatapnya tersenyum tipis.
"Kenapa?" tanyanya tenang.
Dena langsung menunduk.
"Om! Plis... kali ini tolong saya!" pintanya memohon-mohon dengan tidak lagi peduli gengsi. Dena tau, sekarang ini hanya Alvaro lah satu-satunya harapan yang ia miliki.
"Tolong apa?"
Dena mendongak, matanya lekat menatap sang suami.
"Teman-teman saya mau datang ke kos menjenguk saya. Tapi saya di sini, gimana dong?" cemasnya.
"Gimana apanya?" Alvaro malah bertanya balik, membuat Dena menghela napas.
"Ck! Saya-nya yang harus gimana! Apa yang harus saya lakukan sekarang, Om?!" decak Dena kian gusar.
"Duduk," sahut Alvaro.
Dena mengerinyit, "Duduk?"
"Iya." Alvaro mengangguk sambil menepuk-nepuk ranjang, meminta Dena duduk di sebelahnya.
Dena sempat bingung, tapi pada akhirnya ia menurut, kemudian ia pun duduk di sebelah Alvaro dengan perasaan cemas.
"Terus tarik napas," ujar Alvaro sambil mengelus pundak sang istri.
"Tarik napas?"
"Iya."
Dena spontan menoleh, melirik suaminya itu tajam-tajam. "Om! Saya ini lagi panik, bukan mau meditasi!" dengusnya.
"Siapa yang nyuruh lo meditasi, gue cuma nyuruh lo tenang," balas Alvaro.
"Sekarang tarik napas!" pintanya.
Dena memutar kedua bola matanya malas hendak menolak itu, tapi ia akhirnya menurut untuk menarik napas panjang-panjang, lalu ditahan sedikit lama.
"Jangan kelamaan juga..."
"Sekarang, buang pelan-pelan," kata Alvaro.
Huh...
"Sekali lagi!" pinta Alvaro.
Hingga Dena mengikuti arahannya itu lebih dari lima kali. Dan Dena jadi yang capek sendiri.
Dena lalu menoleh, kali ini sinis. "Om!"
"Kenapa!"
"Udah ah!" tolak Dena sekarang.
Alvaro langsung cekikikan.
Sedangkan Dena tetap saja masih panik. Lalu melirik jam di pergelangan tangannya—terhitung sudah lewat lima menit setelah Rola memutus panggilan itu.
Artinya, jika Rola mengisi bensin di SPBU terdekat dari kos-nya, sekitar sepuluh menit lagi Rola akan tiba di sana.
"Waduh!"
Dena mendadak gelagapan, lalu menoleh menatap suaminya yang masih cekikikan.
"Om jangan ketawa-ketawa aja dong! Nasib saya gimana nih?" gerundelnya.
"Nasib kamu ya bagus," sahut Alvaro, santai.
"Bagus apanya?"
"Udah nikah, udah punya suami, udah punya tempat tinggal untuk jalanin hidup," lanjutnya tersenyum jahil.
"Itu nasib yang bagus," tegas Alvaro.
Dena menghela napas berat. Kalau saja ia tidak takut kualat, mungkin wajah suaminya itu sudah ia jejak sejak awal.
Dena jadi manyun, lalu mendengus-dengus.
"Iya bagus," dengusnya. "Tapi, jadi nggak bagus lagi kalau teman-teman saya tau saya sudah nikah," gerutunya sekarang.
Alvaro menggeleng, "Mereka nggak akan tau," sangkalnya.
"Kenapa gitu?"
"Karena mereka nggak akan curiga," imbuh Alvaro seraya menatap ke arah layar ponsel. Sudah sejak tadi laki-laki itu memang terlihat saling berbalas pesan dengan seseorang, entah siapa.
Dena tidak tahu, dan yang pasti—ia juga tidak memperdulikan itu.
Justru, ia sendiri sedang bingung-bingungnya memikirkan nasibnya sendiri.
"Nggak mungkin mereka nggak curiga!" sanggahnya yakin.
"Kenapa?"
"Karena Om nggak kenal teman-teman saya yang bego-bego itu!" kata Dena, gelisah lalu menatap Alvaro.
"Yang sebego-begonya mereka, kalau pas mereka datang ke kos dan saya nggak ada di sana. Mereka pasti langsung berpikiran ke mana-mana, Om! Itu pasti!" ujarnya panjang lebar, lebih yakin lagi daripada apapun.
Sedangkan Alvaro seolah tidak mempedulikan kalimat itu, ia memilih diam dan malah meletakkan ponselnya ke atas meja nakas dengan cueknya.
Lalu Alvaro kembali menatap wajah istrinya itu.
"Lo tenang aja, karena dengan lo tenang, masalah ini bakal lebih mudah untuk teratasi," ujarnya kemudian.
Dena mencebik, terus terang untuk tetap tenang ia sedang tidak bisa sekarang.
"Nggak bisa tenang, Om!" bantahnya langsung.
"Nggak bisa?"
"Iya..."
"Kalau nggak bisa ya dibisa-bisain!" sergah Alvaro.
Dena spontan mengerucut hendak mengomel, tapi belum sempat mulut itu terbuka untuk menyambar Alvaro.
Laki-laki itu sudah lebih dulu bicara.
"Telepon temen lo, terus bilang ke dia. Sekarang lo lagi nggak bisa nerima tamu!" pintanya tiba-tiba.
"Hah?"
Dena menyerngit, lagi-lagi ia bingung saat suaminya itu justru memintanya untuk menghubungi Rola tanpa dasar apapun.
"Bilang ke Rola kalau saya nggak bisa nerima tamu?"
Alvaro mengangguk.
"Alasannya?"
Alvaro menunjuk ponsel Dena, sempat juga ia berkomentar kenapa ponsel itu jelek sekali.
Lalu sebelum istrinya tambah ngomel. Alvaro lalu berkata, "Telepon dulu aja, nanti lo bakal tau alasannya.
Awalnya setelah mendengar itu Dena masih enggan, masih pula bingung berkelanjutan.
Menelfon Rola hanya untuk bilang dirinya sedang tidak bisa keluar kamar? Enggak deh kayaknya, pikir Dena.
Sebab, tanpa sebuah alasan, mereka mana mungkin percaya.
Tapi, lagi-lagi Alvaro memaksa Dena untuk segera menelpon Rola, bahkan dengan sedikit tegas.
Dena jadi bimbang.
"Atau ... Lo tunggu aja, nggak lama lagi temen lo pasti nelpon," kata Alvaro akhirnya.
Dena refleks menoleh, "Pasti?"
Alvaro mengangguk lalu melirik ke arah jam dinding.
...***...
Setibanya para sahabat Dena di halaman depan rumah kos itu.
Ketiganya lalu turun begitu mobil telah terparkir di sebelah satu mobil mewah berwarna merah.
Sesaat, pandangan mereka langsung tertuju ke arah rumah kos itu.
Satu kata lalu terucap.
"Sepi..." Itu kata Rola, ia heran. Lalu melirik sekitaran dan... tetap sepi.
Micin di sebelahnya mengangguk-angguk, setuju. Ia pun tidak menemukan adanya aktivitas yang terjadi di sekitarnya, di hari yang sebenarnya belum terlalu larut.
"Iya, padahal biasanya teras ini ramai. Tumben banget sepi! Kenapa ya?" herannya.
Elsa yang biasa selalu terlihat tenang pun sama bingungnya.
"Paling lagi pada pergi," katanya.
"Atau...kos ini memang lagi banyak yang kosong," pikirnya kemudian begitu di samping pintu, ia melihat ada tulisan 'kos tersedia khusus perempuan'
Rola mengangkat bahu, lalu mengajak dua sahabatnya itu masuk.
Langkah mereka beriringan membelah lorong gelap panjang, dengan lantai keramik coklat bermotif kayu. Sementara dinding-dindingnya terlapisi cat dengan warna krem pudar yang sedikit mengelupas dan penuh debu.
Lampu temaram menggantung rendah di langit-langitnya, beberapa mungkin hidup, sisanya terlihat berkedip-kedip, hampir mati.
Sekilas, lorong itu tampak lebih seram dari yang mereka bayangkan.
"Gue udah lama nggak ke sini, sekalinya datang kondisinya udah begini," komentar Rola yang disetujui dua temannya.
"Rol, kamar Dena nomor berapa sih? Gue lupa," geming Micin melangkah paling depan. Membelah lorong setengah gelap itu sambil celingukan membaca setiap nomor, saat ia melupakan nomor kamar sahabatnya sendiri.
"Ck! Gue juga lupa lagi," decak Rola menggaruk kepala, lalu ikut-ikutan menelisik setiap papan nomor dari pintu ke pintu.
Tapi, tidak ada satu pun ingatan yang terbesit di kepalanya.
"Lo, Ca?" Micin melirik Elsa yang mungkin tidak lupa.
Tapi Elsa nyengir tipis, tanda bahwa ingatannya mungkin turut luput.
"Ye!"
"Tapi, gue inget satu hal!" katanya tepat setelah Rola dan Micin menghela napas kesal.
"Apa?" sahut mereka hampir bersama.
Elsa kemudian mendahului dua sahabatnya itu, meminta mereka untuk mengikuti langkahnya.
"Letak kamarnya," ujar Elsa melenggang santai.
"Setelah kita belok ke kanan di ujung lorong ini, kamar Dena ada di paling ujung," sambungnya.
"Paling ujung?"
Elsa mengangguk.
"Lo yakin, Ca?" Rola ragu.
Micin ikut-ikutan nimbrung, "Kalau salah kamar gimana? Malu, Ca."
"Kenapa malu! Justru, itu jadi kesempatan buat kita ketemu orang dan nanya kamar Dena yang mana," sahut Elsa.
"Iya, tapi canggung."
Elsa tidak menanggapi apa pun. Langkah kecilnya tetap bertapak pelan hingga akhirnya mereka tiba di ujung lorong utama.
"Kesini," lirih Elsa sesaat menoleh ke belakang.
Micin dan Rola ngangguk-ngangguk, lalu mengikuti pergerakan Elsa melenggang ke arah kanan.
Namun, belum ada lima langkah mereka menembus cabang, pandangan mata Elsa tiba-tiba menangkap sesuatu, dan langkahnya tiba-tiba terhenti.
Hening.
Yang terdengar hanya suara ketukan pintu, tepat di depan kamar Dena sesuai dengan petunjuk Elsa.
"Kenapa berhenti, Ca?" tanya Rola sambil menyentuh kedua bahu Elsa.
"Sstt! Tuh, liat!" desis Elsa.
"Apa?"
"Itu, orang yang di depan pintu kamar Dena!" tunjuknya.
Rola dan Micin spontan menatap depan.
Tok! Tok!
"Dena!"
"Buka pintunya atau kami dobrak!"
Di depan sana, seorang perempuan berpakaian anggun terdengar memanggil-manggil nama Dena—seperti memaksa gadis itu agar keluar.
Mendengar itu ketiganya terperanjat, lalu buru-buru mundur sebelum perempuan itu menyadari keberadaan mereka.
"Anjir! Orang itu siapa sih?" tanya Rola terheran-heran, walau ia ikut mundur karena kaget.
"Mungkin ibu kos yang mau nagih," pikir Micin.
Elsa menggeleng pelan, samar. "Bukan!" sangkalnya yakin.
"Bukan?"
"Beberapa kali gue pernah datang ke sini, dan sekali gue pernah ketemu ibu kosnya..."
Elsa menatap perempuan itu lekat-lekat.
"Orang itu bukan dia!" imbuhnya sambil menunjuk perempuan itu.
Rola tiba-tiba mendelik, "Terus itu siapa?
Elsa menghela napas panjang. "Gue nggak tau, Rol!"
"Iya, gue juga tau lo emang nggak tau, dan yang gue maksud juga bukan dia, tapi mereka!" tunjuk Rola ke arah dua orang pria yang berdiri tegap di sebelah perempuan itu.
"Mereka?"
Elsa sontak menyipitkan mata, lalu mengintip dari sudut dinding yang menjadi tempat persembunyian mereka.
Dari sana wajah perempuan itu tampak samar, tapi benar seperti yang Rola katakan sebelumnya, perempuan itu tidak datang sendirian.
"Lah iya!" kaget Elsa, lalu memperhatikan lagi dengan lebih seksama.
Matanya pun langsung melebar, begitu sadar tubuh kedua laki-laki itu besar dan kekar. Penampilannya juga urakan, nyaris seperti para preman yang sering berkeliaran di kota.
"Mereka siapa ya?"
"Mungkin preman," terka Micin tiba-tiba.
Keduanya jadi mendadak noleh, "Preman?"
Micin mengangguk, "Iya, lo lihat aja bentukan mereka," katanya agak mengerinyit.
"Serem!"
Rola mengintip lagi, dan seketika jantungnya mendadak berdentum kencang.
"Apa jangan-jangan mereka orang jahat?" lirihnya.
Tapi ketiganya tidak ada yang tahu pasti. Hanya saja mereka langsung mengkhawatirkan Dena yang mereka pikir berada di dalam kamarnya.
Elsa bergeming pelan, "Dena di dalam kan?"
Rola mengangguk, "Iya."
"Kalau iya, berati Dena sedang dalam bahaya!" ujar Elsa.
Rola mengangguk setuju, lalu cepat—gadis itu sontak menghubungi Dena.
...***...
"Mana?"
"Apanya?"
"Mereka! Nggak nelpon saya tuh!" Dena mencebik saat ia merasa seperti telah dipermainkan suaminya, yang dengan enteng berkata, temannya akan segera menelepon.
Buktinya, hingga sekarang ponselnya masih terlihat anteng-anteng aja.
Dena jadi geram.
Namun, Alvaro tetap santai, lalu tak lama kemudian.
Drtt! Drtt!
Ponsel Dena benar-benar mendapat panggilan telepon, persis seperti yang Alvaro katakan.
"Tuh!"
Dena langsung nyengir, lalu meraih ponselnya seraya menahan malu.
"Rola?" Dena tersentak ringan, tebakan suaminya ternyata jauh lebih tepat dari apapun.
"Jangan cuma diliatin! Angkat cepet!" sergah Alvaro sambil mencubit gemas pipi istrinya.
Dena mengangguk-angguk lalu menggeser tombol hijau yang bergerak-gerak itu.
Ponsel itu lalu ia tempelkan di telinga.
"Halo, Rol?"
"Eh Dena! Lo di mana?" tanya Rola tanpa basa-basi, suaranya pun terdengar pelan seperti sedang menahan sesuatu.
Dahi Dena mengerinyit tipis, "Di mana apanya?"
"Lo ... sekarang di mana? Di dalam kamar kan?" desis Rola.
"I—Iya, kenapa emang? Lo bertiga udah sampai?" ujar Dena seraya mendorong-dorong tangan jahil suaminya yang terus-terusan menekan pipinya.
"Udah! Tapi kita belum di depan pintu, masih agak jauh," sahut Rola.
Dena mengerinyit heran, "Kenapa?"
"Ada orang asing di depan kamar lo!" kata Rola terus terang saja.
"Terus kelihatannya dia bukan orang baik! Lo nggak usah keluar dulu. Kita di sini juga nggak mendekat!" imbuhnya.
Dena sontak mendelik, "Siapa, Rol?"
"Gue nggak tau, Mimi juga enggak, Eca juga ... tapi dia perempuan!" kata Rola.
"Perempuan?"
"Iya, dan di bagian lengan kirinya ada tato bergambar bunga edelweis," jelas Rola lebih detail.
"Edelweis?"
Sekejap, setelah Dena mendengar ciri-ciri perempuan itu, ia langsung terdiam seraya berpikir dalam—jangan-jangan perempuan itu?
"Sialan! Sejak kapan si jalang itu tau alamat kos gue?" gusar Dena mendelik menatap Alvaro.
"Ini ulah Om ya?!"
Alvaro tertawa kecil, tapi ia tidak mengangguk, tanda itu bukan ulahnya.
"Sekarang lo udah tau kan harus beralasan apa," ujarnya santai.
Tapi Dena, rahangnya sontak mengeras, pengen banget marah-marah, tapi justru karena kehadiran perempuan itu, ia jadi terselamatkan.
Dena menatap Alvaro sesaat.
"Nanti kita bicarakan ini!" dengusnya, lalu kembali menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Rol, lo bertiga masih di sana?"
"Masih," jawab Rola cepat.
"Kenapa, lo mau keluar?" tanyanya langsung.
Sejenak Dena terdiam, lalu tak lama ia akhirnya mengaku.
"Enggak, Rol. Em ... "Dena sempat ragu, tetapi untung tidak benar-benar sampai menahan kalimatnya.
"Kalau boleh jujur, sebenarnya gue juga nggak ada di kamar itu, Rol. Sekarang gue lagi di luar," ucapnya jujur, walau kejujuran itu hanya untuk menutupi kebohongannya yang lain.
Rola terkejut ringan, "Jadi, lo nggak ada di dalam?"
"Iya, Rol ... maaf ya udah bohongin lo," cicitnya.
"Nggak perlu minta maaf, lo kayak yang nggak pernah bohong aja!" sahut Rola.
Dena mendadak nyengir.
"Tapi, Den," sambung Rola tak lama.
"Iya?"
"Lo memang sengaja pergi karena mengindari perempuan itu?" tanya Rola penasaran.
"Iya... dan sebaiknya lo bertiga jangan mendekati dia juga!" tekan Dena.
"Jangan?"
"Iya, pokoknya jangan!" tegasnya.
Sejenak Rola tak bergeming. Di sana ia menatap wajah perempuan itu lekat-lekat.
"Memangnya dia siapa sih, Den?" desis Rola kian penasaran.
"Dia itu..."
"Orang yang paling gue benci, Rol..."