Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Keajaiban
Di bawah naungan Pohon Leluhur yang agung, udara malam yang tadinya tenang mendadak terpilin.
Tekanan Qi yang meluap dari tubuh Yan Bingchen menciptakan pusaran raksasa yang menyedot kabut hijau di sekelilingnya.
Di dalam Dantian-nya, cairan energi merah dan biru tidak lagi sekadar berputar; mereka saling menabrak, memadat, dan mulai mengkristal menjadi sebuah bola padat yang memancarkan cahaya ungu mistis.
Namun, lonjakan energi murni dari proses kenaikan ke Tahap Inti Sejati ini bertindak seperti suar raksasa di tengah kegelapan.
Energi itu memanggil sesuatu yang lapar dari kedalaman hutan yang paling gelap—makhluk-makhluk yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang kuno Federasi LIN.
Grrrr ...
Suara geraman parau terdengar dari segala arah.
Dari balik celah-celah pohon raksasa, muncul makhluk-makhluk mengerikan yang dikenal sebagai Iblis Kerakusan Rimba—entitas yang tercipta dari akumulasi kebencian dan energi alam yang membusuk.
Bentuk mereka menyerupai manusia yang memanjang dengan kulit hitam seperti arang dan mata yang menyala hijau busuk.
Tetua Lin Mu yang semula meletakkan tangannya di punggung Yan Bingchen, tiba-tiba menarik diri.
Ia melompat mundur sejauh sepuluh meter, mendarat dengan ringan di atas dahan pohon.
"Tetua? Apa yang Anda lakukan?" Mo Ran berteriak dari kejauhan, ia baru saja terbangun karena guncangan energi dan kini ketakutan melihat belasan iblis mengepung tempat meditasi kakaknya.
"Diamlah, Anak Muda," sahut Tetua Lin Mu tenang. "Inti Sejati tidak bisa hanya dibentuk oleh meditasi. Ia harus ditempa oleh darah dan tekad. Jika ia tidak bisa melindungi Intinya saat proses pengkristalan, maka ia tidak layak memilikinya."
Yan Bingchen masih duduk bersila. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Di titik kritis ini, ia tidak boleh bergerak, atau Dantian-nya akan meledak.
Namun, para iblis itu mulai menerjang, kuku-kuku tajam mereka berkilat di bawah cahaya bulan.
Tepat saat kuku iblis pertama hanya berjarak beberapa inci dari lehernya, Yan Bingchen membuka kedua matanya.
DHUAR!
Gelombang energi dahsyat meledak dari tubuhnya, melemparkan iblis-iblis di sekelilingnya hingga menghantam batang pohon purba.
Yan Bingchen berdiri perlahan. Rambut merah-putihnya berdiri tegak, diselimuti oleh aura listrik ungu yang menyambar-nyambar.
Mata kanannya yang merah kini tidak lagi hanya membara, pupilnya berubah menjadi bentuk kelopak bunga matahari yang berputar, memancarkan panas yang sanggup menguapkan embun dalam radius seratus meter.
Mata kirinya yang biru membentuk pola kristal salju yang tajam, memancarkan hawa dingin yang menghentikan detak jantung serangga di sekitarnya.
"Sempurna ..." bisik Yan Bingchen. Suaranya tidak lagi terdengar seperti pemuda tujuh belas tahun, melainkan seperti guntur yang bergema dari langit.
Ia menarik Pedang Langit Penembus Awan dari sarungnya. Pedang Kelas Emas itu bergetar hebat, bersuka cita menyambut tuan barunya yang telah melampaui batas manusia biasa.
Iblis-iblis itu kembali menyerang, kali ini dalam jumlah yang lebih banyak, muncul dari tanah seperti jamur beracun.
Namun, di mata Yan Bingchen, gerakan mereka tampak sangat lambat.
Dengan Mata Samsara Elemen-nya yang telah bangkit secara sempurna, ia bisa melihat aliran energi di dalam tubuh makhluk-makhluk itu—ia melihat titik lemah mereka yang paling kecil sekalipun.
Tanpa banyak bicara, Yan Bingchen mengayunkan pedangnya.
Sret!
Ia tidak lagi mengeluarkan ledakan api atau es yang berantakan. Ia mengompres energi itu ke mata pedangnya.
Setiap tebasannya meninggalkan garis tipis berwarna ungu yang membelah dimensi.
Satu tebasan, lima iblis terbelah secara vertikal. Bagian kanan tubuh mereka terbakar habis hingga menjadi debu, sementara bagian kiri membeku menjadi patung kristal yang kemudian pecah berkeping-keping.
Satu iblis raksasa mencoba menerjang dari belakang. Tanpa menoleh, Yan Bingchen hanya mengangkat tangan kirinya.
"Penjara Es Abadi."
Seketika, uap air di udara memadat membentuk pilar-pilar es raksasa yang mengunci makhluk itu. Di saat yang sama, tangan kanannya mengarahkan pedang ke depan.
"Naga Api Pemangsa Jiwa."
Api merah pekat menyembur dari bilah pedang, membentuk kepala naga yang menelan iblis itu hingga tak bersisa.
Seluruh gerakan ini dilakukan Yan Bingchen dengan wajah datar, tanpa sedikit pun emosi yang goyah. Pengendalian elemennya kini telah mencapai tingkat Kesempurnaan Mutlak.
Setelah iblis terakhir musnah, Yan Bingchen memejamkan matanya sejenak.
Di dalam dadanya, bola cahaya ungu itu akhirnya berhenti berdenyut dan mengeras menjadi sebuah permata yang berkilau sempurna.
Tahap Inti Sejati (Ranah ke-4) telah tercapai.
Energi di sekelilingnya perlahan mereda. Langit Federasi LIN kembali menjadi tenang, namun aura yang dipancarkan Yan Bingchen kini jauh lebih berat dan berwibawa. Ia berbalik dan membungkuk hormat ke arah Tetua Lin Mu.
"Terima kasih atas ujiannya, Tetua," ujar Yan Bingchen dengan tata krama yang tetap terjaga, meski pakaiannya sedikit koyak akibat tekanan energi tadi.
Tetua Lin Mu melompat turun, matanya memancarkan rasa takjub yang tak bisa disembunyikan. "Kau bukan lagi seorang pendekar biasa, Yan Bingchen. Di usiamu ini, memiliki Inti Sejati dengan kontrol elemen sesempurna itu ... kau adalah keajaiban yang akan menggetarkan seluruh benua."
Mo Ran berlari menghampiri, hampir menabrak Yan Bingchen jika tidak dihentikan oleh geraman kecil Si Hitam. "Kak! Kau luar biasa! Matamu tadi ... kau terlihat seperti raja kematian yang sangat tampan! Kalau wanita-wanita desa melihatmu tadi, mereka pasti pingsan massal!"
Yan Bingchen hanya tersenyum tipis, lalu menatap peluit kayu pemberian Mo Ran yang masih terselip di pinggangnya. "Kau terlalu berlebihan."