“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Beni, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Kalau dari pengakuan Ria tentang kepindahan sekolah kembar, secara logika, seharusnya Bu Syafira menyekolahkan mereka di sekitar sini,” ucap anak buah Khale saat mereka melewati sebuah sekolah taman kanak-kanak.
Berdiri sejenak tak jauh dari sekolah, Khale memandangi keadaan sekolah yang bisa saja adalah sekolah kembar yang baru, mengingat sedari tadi baru sekarang ia melihat sebuah sekolah. Bangunannya tidak begitu buruk, tapi jika dibandingkan dengan sekolah kembar sebelumnya yang berada di Jakarta, jelas cukup jauh berbeda. Ia pun seketika membayangkan jika benar kembar sekolah di sana, pasti anak-anaknya tak merasa nyaman.
Setelahnya, Khale dan anak buahnya kembali melanjutkan berjalan kaki untuk mencari rumah orang tua Syafira berdasarkan arahan dari salah seorang warga. Namun, baru juga melangkahkan kaki, Khale tak sengaja melihat Khanza berlari keluar kelas dan memeluk seorang wanita yang ia lihat betul adalah Syafira. Sontak tak banyak pikir ia berlari menghampiri mereka.
Sementara itu, Syafira yang tengah kebingungan melihat Khanza berlari menemuinya sambil memegangi perut, panik seketika. Khanza merintih kesakitan dan memanggil-manggil namanya. “Bunda, sakit.”
Tak berselang lama, Khayra keluar kelas bersama seorang guru dan teman-temannya yang lain. Guru itu tampak menegur salah seorang teman kembar. Khayra lalu menunjuk temannya itu yang berbadan lebih besar dari mereka semua dan mengatakan bahwa dia telah menonjok perut Khanza begitu keras.
“Apa? Kenapa Anda bisa membiarkan anak-anak melakukan kekerasan seperti ini?” sahut Khale setibanya di area ruang kelas dan tak sengaja mendengar pengakuan Khayra yang tak mungkin berbohong.
Syafira semakin shock melihat kedatangan Khale, batinnya penuh tanya bagaimana bisa mantan suaminya itu bisa menemui dirinya.
Meminta maaf, guru tersebut mengaku lengah saat kejadian karena murid di sana tak hanya 1 2 anak saja. Ia juga menduga Khanza menangis hanya karena kaget karena tiba-tiba mendapat pukulan. Yang ia lihat, mereka awalnya saling bermain dan baik-baik saja. Guru tersebut juga menganggap jika ini adalah hal yang wajar dalam perkelahian anak laki-laki.
Semakin geram dengan penjelasan sang guru, Khale murka. “Hanya kaget? Wajar? Apa Anda tidak melihat anak saya kesakitan seperti ini? Itu karena kelalaian Anda sebagai guru. Kalau sampai ada apa-apa padanya, akan saya tuntut sekolah ini dan tentunya Anda!”
“Khale cukup,” lerai Syafira.
Berjongkok, Khale menatap Khanza penuh kekhawatiran dan iba. “Apa masih sakit? Kita ke rumah sakit sekarang, ya.”
“Om,” rengek Khanza lemas.
Tanpa persetujuan Syafira, Khale menggendong Khanza berlari menuju tempat mobilnya terparkir.
***
Menegur Darma yang tengah melamun, Bu Tatik mengingatkannya agar tak kerasukan.
Tersenyum manis, Darma menggeleng.
Dalam hatinya sedari tadi menyambungkan semua kejadian yang Syafira alami, dengan takdir hidupnya yang sampai saat ini masih sendiri. “Apa benar takdir yang membawamu kemari, Syaf? Dulu, seakan tak mungkin aku bisa bersamamu, tapi tiba-tiba kamu kembali ke sini. Apa itu artinya kamu memang untukku?”
“Eh, dibilangi jangan melamun malah sekarang senyum-senyum sendiri,” tutur Bu Tatik berlalu pergi meninggalkannya.
Sementara itu, Syafira terduduk lesu di samping Khayra menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Khanza.
“Khayra, Khayra lihat tadi Khanza dipukul? Bagaimana awalnya?” Khale menghampiri mereka berdua.
Khayra pun menceritakan dengan gaya anak kecil yang polos. "Dia tidak mau gantian dengan Khanza, maunya dia yang main puzzle terus, makanya langsung memukul perut Khanza. Bug, begitu."
Melihat Khale berada di dekatnya, Syafira menjauh. Hatinya campur aduk saat ini. Pikirannya pun kacau. Ada perasaan bersalah karena membawa kembar bersekolah di sana hingga ada insiden seperti ini. Selain itu juga tentang ucapan Khale yang terang-terangan di depan kembar mengatakan bahwa Khanza adalah anaknya.
“Syaf, kita perlu bicara,” kejar Khale menghampiri mantan istrinya.
“Tahu dari mana kamu kami di sini,” sinis Syafira.
Memintanya untuk tak membahas hal itu saat ini, Khale seakan memojokkan Syafira atas kejadian Khanza pagi tadi. “Kalau kamu tidak selalu mengambil keputusan sendiri, semuanya akan baik-baik saja sampai detik ini.”
Tak terima dengan ucapan Khale yang memojokkannya, Syafira berganti menyalahkan mantan suaminya itu yang dinilai menjadi penyebab semua ini.
“Aku sudah meminta maaf dan ingin menjelaskan semuanya, tapi siapa yang kepala batu? Kamu mengorbankan anak-anak demi egomu,” lanjut Khale.
Semakin geram terhadap ucapan mantan suaminya, Syafira mendaratkan sebuah tamparan di pipinya. Ia meminta Khale untuk tidak semena-mena padanya hanya karena lelaki itu menjadi pahwalan atas insiden Khanza. Ia juga kembali menyatakan bahwa dirinya tak butuh sosok Khale yang justru menjadi penghancur hidupnya.
“Aku menyesal menikah denganmu! Harusnya kamu intropeksi diri, ini semua berawal dari kesalahanmu, bukan egoku tapi egomu! Kamu yang lebih mementingkan orang lain dari pada keluargamu sendiri! Makin kesini aku jadi semakin yakin dengan keputusanku dulu untuk bercerai darimu!” Berlalu pergi, Syafira menarik tangan Khayra dan mengajaknya menjauh dari tempat Khale berdiri.
“Bunda, kenapa Om tadi bilang kalau Khanza anaknya? Memang dia siapa?” tanya Khayra membuat Syafira semakin sakit kepala.
Hingga ia berpapasan dengan Darma yang tiba-tiba menemuinya di puskesmas.
“Darma, kenapa kamu bisa di sini?” Syafira terkejut Darma mendatanginya.
Dengan raut wajah penuh kekhawatiran, Darma menjelaskan apa yang ia dengar dari tetangganya terkait kejadian yang menimpa Khanza, karena guru yang berurusan dengan Khale tak lain adalah salah seorang warga di kampung orang tua Syafira.
Melihat kedatangan seorang lelaki menemui mantan istrinya, tatapan Khale begitu sinis namun penuh keingintahuan.
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh