Novel ini merupakan lanjutan dari Novel:
Chase the Dreams & Petualanganku sebagai hantu di dunia lain
Berawal dari sebuah legenda yang menjelaskan:
Mereka bilang, dulu kami sama
Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi
Lalu datanglah Hari Keretakan
Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya
Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti
Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita
Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka
Suara mereka tak akan menggema seperti para pendahulu mereka. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata dan tidak kasatmata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas kedua Sany
Faye memperhatikan Rey dan langsung memahami keheranannya. Dari raut wajah Rey, dia tahu pertanyaan itu akan segera meluncur.
"Kejahatan apa yang mereka lakukan sampai dijadikan buronan?" tanya Rey yang suaranya penuh rasa ingin tahu.
Tebakannya tepat. Faye pun menarik napas ringan sebelum mulai menjelaskan.
"Yang berperingkat A adalah pencuri ulung yang sangat sulit dilacak dan ditangkap. Lalu AA, dia pemimpin kelompok bandit yang kerap membuat onar di perbatasan. Sedangkan yang AAA adalah kapten bajak laut yang dikenal kejam. Dia tidak hanya merampas kapal, tapi juga menculik dan memeras," jelas Faye dengan panjang.
"Jadi, itu kesalahan mereka," gumam Rey, seolah mencoba menerima penjelasan itu.
Matanya kemudian beralih ke poster yang lain. Tulisan "UR" terpampang besar, dengan gambar seorang perempuan yang wajahnya hampir seluruhnya tertutup topi penyihir. Hanya senyum tipis yang terlihat, misterius dan menusuk.
"Kalau yang ini... kenapa?" tanya Rey, jarinya menunjuk poster itu dengan sadar.
Faye mengikut arah telunjuknya, dan napasnya sesaat terhenti. Wajahnya berubah pucat.
"Penyihir itu..." gumam Faye yang hampir tidak terdengar.
"Penyihir?" Rey memicingkan mata, menangkap sepenggal kata itu.
Faye langsung menyadari kekeliruannya. Ia menghela napas dalam, menarik bahu, dan mengatur kembali ekspresinya menjadi netral, tapi sudah terlambat. Rey melihat reaksinya yang tak biasa.
"Ah... maaf soal tadi," ucap Faye, berusaha mengumpulkan kata-kata.
"Dia adalah penyihir yang pernah... bermasalah dengan keluarga kerajaan. Karena itulah dia ditempatkan sebagai buronan," lanjut Faye sambil menjelaskan.
"Tapi kenapa ranking-nya UR?" Rey tak mau berhenti.
Faye tertegun sejenak, seolah mengingat sesuatu yang terlupa. "Oh, iya. Aku lupa menjelaskan. Sebenarnya dia awalnya ranking A, tapi rankingnya dinaikkan menjadi UR setelah..."
Ia berhenti sebentar, menelan ludah. "...setelah berhasil mengalahkan seorang petualang ranking UR dalam pertarungan tunggal,"
Rey mengamati Faye dengan cermat. Cara bicaranya yang tersendat, pandangan yang menghindar, semuanya terasa tidak natural. Ada sesuatu yang disembunyikan.
Rey memutuskan untuk menanyakan kondisi Faye.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Faye yang suaranya penuh kepedulian.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Faye, mencoba tersenyum tipis. Namun sorot matanya masih terlihat buyar.
Faye melirik jam tangannya, lalu menghela napas.
"Ayo kita kembali. Waktu istirahat hampir habis," ujar Faye yang berusaha mengalihkan topik.
"Baik,"
Mereka berdua pun berbalik dan bergegas meninggalkan Guild, langkah kaki mereka cepat menuju istana. Mereka harus sampai sebelum Putri Nova kembali ke ruang kerjanya.
Di pelataran istana, Sany baru saja melangkah keluar dari gerbang utama. Dari kejauhan, ia melihat dua sosok yang dikenalnya, Rey, bersama seorang perempuan yang asing baginya berlari mendekat.
Rey dan Faye sempat menangkap pandangan Sany. Hanya sebentar, lalu mereka kembali memacu langkah, fokus pada tujuan mereka: sampai sebelum sang putri kembali.
"Mereka buru-buru sekali," gumam Sany, matanya mengikuti hingga kedua sosok itu menghilang di balik pintu utama.
Benar saja, Rey dan Faye berhasil tiba beberapa menit lebih awal. Ruang kerja Putri Nova masih sepi, belum ada tanda-tanda kedatangannya.
"Fiuh... akhirnya kita sampai lebih dulu," desah Faye, tubuhnya sedikit membungkuk menahan lelah.
"Iya. Untung saja Sany tidak menghentikan kita tadi," tambah Rey, juga masih terengah.
"Sany? Kapan kita bertemu dengannya?" tanya Faye, mengernyit.
"Tadi, di gerbang utama. Dia sempat memandangi kita," jelas Rey sambil menatap Faye.
Faye terdiam sejenak. Wajah yang tatapannya singkat, namun terasa mengiris, kini baru tersambung dengan nama itu.
"Yuk, masuk dulu. Ada sesuatu yang perlu kubicarakan," ucap Faye, nadanya tiba-tiba berubah serius.
Begitu mereka masuk ke dalam ruang kerja yang masih sepi, Rey tak tahan menanyakan.
"Ada apa, Faye?"
"Untuk sementara, jangan mencurigai Sany. Anggap saja tidak ada yang salah dengannya," jelas Faye memberitahu sesuatu.
"Kenapa?" Rey menyeringai, tak terima.
"Karena," Faye mendekat, suaranya turun hingga hampir seperti bisikan, "dia adalah tamu kehormatan dari keluarga kerajaan. Bukan orang sembarangan,"
Kalimat terakhir itu menggantung di udara, membuat penasaran Rey semakin menjadi.
"Tamu kehormatan?" Rey mengerutkan kening, belum sepenuhnya paham.
"Iya," Faye mengangguk, menekankan poinnya.
"itu gelar untuk orang yang punya peran vital, pengaruh, kekuasaan, atau pengetahuan yang sangat dibutuhkan kerajaan. Apa pun peran Sany, satu hal yang pasti: hari ini Tuan Putri Nova memaafkanmu bukan karena kau atau aku, tapi karena dia," jelas Faye dengan serius.
Faye menatap Rey dalam-dalam, memastikan setiap kata itu meresap.
Tiba-tiba, langkah kaki berirama dan suara percakapan samar mengalir dari koridor. Semakin lama semakin jelas, ada lebih dari satu orang.
Suara Putri Nova yang khas terpancar di antara yang lain. Rey dan Faye segera bersiap menyambut kedatangannya.
Dari balik pintu, potongan percakapan itu tetap terdengar jelas.
"Sayang sekali, Sany sudah pergi lebih dulu sebelum kamu datang,"
"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Aku bisa menemuinya lain kali."
"Kalau begitu, beristirahatlah dulu. Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan,"
"Baik, Yang Mulia,"
Lalu, suara pegangan pintu berderak, diikuti bunyi engsel yang perlahan terbuka. Tanda bahwa Putri Nova akan segera masuk.
Pintu pun terbuka lebar.
"Selamat datang, Yang Mulia," sambut Rey dan Faye serempak, seraya membungkukkan badan dalam-dalam.
"Hmm," sahut Nova singkat. Ia melintas di antara mereka tanpa jeda, langkahnya pasti menuju meja kerjanya.
Kedua pelayan itu tetap membungkuk, tidak beranjak. Hanya setelah terdengar suara kursi didorong dan sang putri sudah sepenuhnya duduk, barulah mereka perlahan bangkit, berdiri tegak dalam posisi siap.
Nova mulai membaca selembar laporan yang telah menunggu di meja kerjanya.
---------
Sementara itu, Sany telah melanjutkan perjalanannya. Tugas barunya adalah menangani sungai yang mengering, sebuah masalah yang secara teori bisa diselesaikannya dalam sekejap dengan keinginannya.
Namun, Sany memilih untuk tidak mengambil jalan instan. Baginya, menyembuhkan gejala tanpa memahami akar masalah adalah solusi yang sia-sia. Ia lebih memilih menelusuri hulu sungai, mencari penyebab sebenarnya, dan menyelesaikannya dari sumbernya.
Sesampainya di lokasi sungai yang mengering, Sany menjumpai sekelompok petualang yang sedang berjaga-jaga. Mereka diutus untuk mengusir monster yang kerap merusak hasil perkebunan dan pertanian warga.
Namun, alih-alih sedang bertarung, mereka justru tampak menunggu, mungkin monster itu hanya muncul pada waktu tertentu.
Sany yang tak ingin mengganggu, memutuskan untuk melewati mereka begitu saja. Akan tetapi...
"Hei, tunggu!"
Salah satu petualang perempuan bertubuh tegap dengan pedang tersandang di punggung, memanggilnya. Sany berhenti, lalu menoleh perlahan.
"Ada apa?" tanya Sany, suaranya tenang namun waspada.
"Kamu ke sini untuk misi yang sama?" tanya si petualang, raut wajahnya tak bersahabat.
Petualang memang dikenal dengan harga diri mereka yang tinggi. Namun, di balik sikap kasar dan kompetitif, ada kode tak tertulis: mereka akan saling membantu jika misi seorang petualang terancam gagal atau nyawa yang dipertaruhkan.
"Ah... tidak. Aku diutus kerajaan untuk menangani sungai ini," jawab Sany langsung sambil mengulurkan surat perintah bermeterai kerajaan.
Petualang itu melirik ke arah aliran sungai yang kerontang, lalu mengangguk singkat.
"Jangan ganggu pekerjaan kami,"
"Tentu," balas Sany, anggukan singkatnya menghormati kode itu.
Ia pun melanjutkan langkah, menjaga jarak yang wajar dari wilayah para petualang.
Bersambung...