NovelToon NovelToon
Transmigation "Save The Male Lead"

Transmigation "Save The Male Lead"

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lyn_11

Kianara Shernon Abraham

Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.

Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.

Update 2-3 kali dalam seminggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Pagi hari di kediaman Anwealda terasa lebih ramai dibanding biasanya.

Meski sebagian besar anak-anak yang diselamatkan masih beristirahat, suasana muram yang menyelimuti mereka semalam perlahan mulai memudar. Para pelayan membawa sarapan hangat, tabib memeriksa kondisi mereka satu per satu, sementara beberapa penjaga kerajaan mulai mencatat identitas anak-anak yang sudah mampu mengingat nama keluarga maupun daerah asal mereka.

Di sisi lain aula, Arcellio berjalan mengikuti Kianara seperti biasa.

Bukan sesuatu yang aneh.

Setidaknya bagi seluruh penghuni kediaman.

Sudah cukup lama mereka terbiasa melihat pemandangan itu.

Sejak insiden Countess Diana, sejak sore-sore yang dihabiskan di taman untuk minum teh bersama, sejak Kianara mulai membacakan dongeng sebelum Arcellio tidur, hingga saat Grand Duchess itu tanpa ragu berdiri di depan semua orang untuk membela putranya.

Perubahan itu terjadi perlahan.

Namun nyata.

Karena itulah tak seorang pelayan pun terlihat terkejut saat Arcellio tiba-tiba menarik ujung lengan gaun Kianara.

"Ibu."

Kianara menoleh.

"Ada apa?"

"Yang itu sudah bangun."

Arcellio menunjuk ke arah seorang anak laki-laki kurus yang duduk kaku di atas ranjang.

Tatapan anak itu masih penuh kewaspadaan. Seolah mengira semua ini hanyalah mimpi.

Kianara mengikuti arah pandangnya lalu mengangguk pelan. "Mari kita lihat."

Arcellio langsung menggenggam tangannya. Gerakan yang sangat alami dan tanpa ragu, tanpa rasa canggung sedikit pun.

Beberapa pelayan yang melihat hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan pekerjaan mereka.

Tidak ada yang menganggapnya aneh lagi.

Karena sudah lama mereka tahu.

Bagi Tuan Muda Arcellio, orang yang paling dicari ketika ia merasa takut, sedih, atau kebingungan adalah Grand Duchess Kianara.

Mereka berhenti di depan ranjang anak laki-laki itu. Anak tersebut langsung menegang. Tubuhnya refleks mundur.

Mungkin terbiasa dipukul.

Mungkin terbiasa dimarahi.

Atau mungkin terlalu sering dikhianati orang dewasa.

Kianara berlutut hingga tinggi mereka sejajar.

"Siapa namamu?"

Anak itu terdiam cukup lama. "S-Sean..."

"Kau lapar, Sean?"

Anak itu mengangguk kecil.

Kianara mengambil roti yang tadi dibawa pelayan lalu menyerahkannya.

Sean menerimanya dengan kedua tangan. Tatapannya tampak bingung. "Milikku?"

"Tentu."

"Benar-benar boleh?"

"Boleh."

Anak itu menatap roti tersebut lama sekali sebelum menggigitnya pelan. Lalu tiba-tiba air matanya jatuh.

Satu tetes.

Kemudian satu lagi.

Arcellio yang berdiri di samping Kianara terlihat panik. "Ibu, dia menangis."

"Aku bisa melihatnya."

"Apakah rotinya tidak enak?"

Sean buru-buru menggeleng sambil mengusap matanya. "E-Enak..."

"Lalu kenapa menangis?"

Anak itu menggigit bibirnya.ia tak tahu harus bereaksi bagaimana karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seseorang bertanya apakah ia lapar.

Bukan menyuruh.

Bukan mengancam.

Bukan memukul.

Hanya bertanya.

Kianara tidak memaksanya menjawab. Ia hanya mengusap kepala anak itu perlahan. Gerakan sederhana yang membuat Sean kembali menangis. Kali ini lebih keras.

Di sekitar mereka, beberapa anak lain mulai memperhatikan. Ada yang mendekat perlahan. Ada yang berdiri ragu-ragu. Dan tanpa sadar, dalam waktu singkat Kianara sudah dikelilingi beberapa anak sekaligus.

Arcellio memperhatikan pemandangan itu. Lalu tiba-tiba salah satu anak perempuan memeluk lengan Kianara dari sisi lain.

Mata Arcellio membulat. "Itu tempatku."

Anak perempuan itu berkedip bingung. "Hah?"

"Itu tempatku berdiri."

Kianara menahan senyum.

Sementara beberapa pelayan langsung memalingkan wajah untuk menyembunyikan tawa mereka.

"Aku tidak tahu tempat di sebelahku ternyata memiliki pemilik." ucap Kinara menggoda Arcellio.

"Ibu."

"Nada bicaramu terdengar seperti sedang cemburu."

"Aku tidak cemburu."

"Benarkah?"

Arcellio langsung memeluk lengan Kianara dengan kedua tangannya. "Tidak."

Kianara akhirnya tertawa pelan.

Dan untuk sesaat, aula yang kemarin dipenuhi ketakutan itu terdengar jauh lebih hidup.

Tentu, Beby. Aku lanjutkan dengan gaya yang sudah kita sepakati: narasi lebih padat, deskripsi lebih kaya, dialog lebih alami, dan hubungan Kianara–Arcellio yang memang sudah hangat sejak chapter-chapter awal.

---

Tawa pelan beberapa pelayan ikut menghangatkan suasana aula.

Arcellio masih memeluk lengan Kianara seolah tidak ingin memberikan ruang sedikit pun kepada anak-anak lain. Wajah kecilnya terlihat datar seperti biasa, tetapi kedua tangannya justru menggenggam semakin erat setiap kali ada anak yang mencoba mendekat.

Kianara meliriknya sekilas sebelum menghela napas pelan.

"Arcellio."

"Ya, Ibu?"

"Kau tahu kenapa mereka mendekat?"

Anak itu menggeleng.

"Kau lihat wajah mereka."

Arcellio mengikuti arah pandangnya. Anak-anak yang semalam masih dipenuhi ketakutan kini berdiri mengelilingi mereka dengan ekspresi ragu. Tidak ada yang berani berbicara lebih dulu. Mereka hanya menatap Kianara dengan harapan kecil yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak sadari.

"Kau adalah orang pertama yang mendapat pelukan Ibu setiap hari." Kianara menepuk lembut kepala Arcellio. "Hari ini... bolehkah Ibu meminjam sedikit tempat untuk mereka?"

Arcellio terdiam.

Bibirnya mengerucut pelan.

Ia benar-benar sedang berpikir.

Beberapa saat kemudian ia mengangguk kecil.

"...Boleh."

"Lalu kenapa wajahmu masih seperti itu?"

"Karena... aku sedang belajar berbagi."

Jawaban polos itu membuat beberapa pelayan gagal menahan senyum.

Kianara terkekeh pelan, lalu berjongkok kembali agar sejajar dengan anak-anak di hadapannya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian semua duduk di sini?"

Ia menunjuk hamparan karpet tebal di dekat perapian.

Anak-anak saling berpandangan. Tak seorang pun langsung bergerak.

Sampai Arcellio berjalan lebih dulu, lalu duduk bersila di tengah karpet.

"Di sini hangat."

Ia menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.

"Kalian boleh duduk."

Ajakan sederhana itu justru lebih ampuh daripada bujukan orang dewasa.

Seorang anak perempuan melangkah pelan.

Lalu seorang lagi.

Disusul anak-anak lain hingga tanpa terasa mereka membentuk lingkaran kecil mengelilingi Arcellio dan Kianara.

Suasana yang semula dipenuhi kecanggungan perlahan berubah menjadi lebih tenang.

Kepala pelayan tua yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan mengangguk puas.

"Sepertinya mereka mulai merasa aman."

"Ya." Seorang pelayan wanita tersenyum hangat. "Sudah lama sekali aula ini tidak dipenuhi suara anak-anak."

Di sisi lain ruangan, tabib kerajaan menyelesaikan pemeriksaan terakhir sebelum berjalan menghampiri Kianara.

"Grand Duchess."

Kianara berdiri.

"Bagaimana keadaan mereka?"

"Sebagian besar mengalami kekurangan gizi dan kelelahan. Ada beberapa luka lama yang belum sembuh sempurna, tetapi syukurlah tidak ada yang mengancam nyawa."

Tabib itu membuka catatan kecil di tangannya.

"Yang paling mengkhawatirkan justru kondisi batin mereka. Banyak dari anak-anak ini mengalami trauma berat. Beberapa bahkan terkejut setiap kali melihat orang dewasa mengangkat tangan, meskipun hanya untuk mengambil sesuatu."

Tatapan Kianara perlahan bergeser ke arah Sean. dan benar saja, Saat salah seorang pelayan mengangkat teko untuk menuangkan teh, Sean spontan menundukkan kepala sambil menutup wajahnya dengan kedua lengan, seolah mengira pukulan akan datang kapan saja. Gerakan itu begitu cepat, refleks seolah terbiasa dengan kekerasan.

Membuat dada siapa pun yang melihatnya terasa sesak.

Kianara menarik napas panjang sebelum kembali menghampiri anak itu. Ia tidak langsung menyentuhnya. Tidak pula memanggil namanya. Ia hanya duduk di samping Sean dengan jarak yang cukup, memberi ruang agar anak itu tidak merasa terancam. "Sean."

Anak itu perlahan membuka kedua lengannya. Tatapannya masih dipenuhi kewaspadaan.

"Aku ingin menuangkan teh." Kianara mengambil teko itu sendiri, lalu menuangkannya ke dalam cangkir tanpa suara sedikit pun. "Lihat."

Sean memperhatikan gerakannya. "Tidak ada yang akan memukulmu."

Suara Kianara tetap lembut, namun jelas. "Di rumah ini, tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti kalian."

Sean menggigit bibirnya pelan. "Benarkah?"

"Benar."

"Kalau aku melakukan kesalahan?"

"Kita akan membicarakannya."

"Kalau aku menjatuhkan piring?"

"Kita membersihkannya bersama."

"Kalau aku..."

Suara Sean bergetar.

"...menangis?"

Kianara tersenyum tipis.

"Maka kau boleh menangis sampai merasa lebih baik."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi sesuatu yang selama ini tidak pernah didengar anak tersebut. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Namun kali ini ia tidak menahannya.

Ia menangis dalam diam tidak lagi karena takut. Melainkan karena akhirnya percaya bahwa ada tempat di mana ia tidak perlu selalu waspada.

Di dekatnya, Arcellio memperhatikan semuanya tanpa berkedip. Tangannya yang kecil perlahan meraih sebuah kue manis dari nampan di atas meja. Ia menatap kue itu beberapa saat, lalu berjalan menghampiri Sean. "Aku punya satu."

Sean mengangkat kepala.

Arcellio mengulurkan kue itu dengan kedua tangan.

"Untukmu."

Sean tampak kebingungan. "Kenapa... kau memberikannya padaku?"

Arcellio berpikir cukup lama sebelum menjawab. "Ibu pernah bilang..." Ia melirik Kianara sejenak. "...kalau makanan akan terasa lebih enak kalau dimakan bersama."

Kianara menatap putranya tanpa berkata apa-apa.

Sudut bibirnya perlahan terangkat. Kalimat itu...Ia memang pernah mengucapkannya beberapa bulan lalu saat Arcellio menolak berbagi kudapan dengan para pelayan muda di taman. Ternyata anak kecil itu masih mengingatnya.

Sean menerima kue tersebut dengan tangan gemetar. "Terima kasih..."

Suara lirih itu membuat anak-anak lain ikut mendekat.

Tanpa diminta, Arcellio mulai membagikan kue-kue lain yang ada di atas nampan. Meski sesekali wajahnya masih tampak enggan saat anak-anak terlalu dekat dengan Kianara, ia tetap mengulurkan makanan kepada mereka satu per satu.

Melihat pemandangan itu, kepala pelayan tua berbisik pelan kepada pelayan di sampingnya.

"Tuan Muda benar-benar berubah."

Pelayan wanita itu mengangguk sambil tersenyum.

"Karena beliau tumbuh dengan kasih sayang."

Kepala pelayan mengalihkan pandangannya kepada Kianara yang sedang berbicara lembut dengan anak-anak itu.

"Dulu aku khawatir kediaman ini akan selamanya menjadi rumah yang dingin."

Tatapannya melembut.

"Syukurlah... Yang Mulia Grand Duchess berhasil mengubahnya sedikit demi sedikit."

Di luar jendela, sinar matahari pagi mulai masuk melalui kaca-kaca tinggi aula, menyinari ruangan yang semalam dipenuhi tangisan dan ketakutan.

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara tawa anak-anak kembali terdengar memenuhi kediaman Anwealda. Tidak keras, tidak riuh, tetapi cukup untuk membuat rumah megah itu terasa benar-benar seperti sebuah rumah.

...ΩΩΩΩΩΩ...

...TO BE CONTINUE...

1
Siska Sutartini
wowo. penuh misteri. kira2 siapa nihbpara pelaku yg terlibat dalam jaringan tersebut ya? 🤔
Siska Sutartini
hah, untunglag arcelio cepat ditemukan dan belum disiksa. pelakunya mesti dijerat pasal. berlapis ini. jahat sekali
Siska Sutartini
ini yg satu countess bibinya agerald ya, satu lagi siapa ya?. asli tegang baca part ini, penuh misteri 😱
Siska Sutartini
intrik antar sesama bangsawan, wah sungguh melelahkan 😁😁
rose lilian
lanjut
waw jadi tegang banget baca nya ih🤭🤣
janggal Thor,bukan ganjil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,tapi ga papa malah lucu kok semngt thorrr😍😍
Lia.nara: thks ya /Smile/
total 1 replies
Wahyuningsih
thor buat duke menyesal d buat segan matipun tk mau enak aja
Wahyuningsih
thor buat kianara badaz abiz bla prlu dot bonus ruang dimendi biar mkin sru n buat duke menyesal d buat segan mtipun tk mau biar nyakho dia
Lia.nara: teeimakasih atas sarannya, ikuti alurnya saja...akan banyak kejutan di depan
total 1 replies
Wahyuningsih
mampir q thor.....
Intan Aprilia Rahmawati
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!