Mengisahkan tentang kisah kehidupan dari seorang pemuda biasa yang hidupnya lurus-lurus saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sekonyong-konyong mengigit lehernya kemudian mengaku sebagai vampir.
Sejak pertemuan pertama itu si pemuda menjadi terlibat dalam kehidupan si perempuan yang mana si perempuan ini memiliki penyakit yang membuat nya suka ngehalu.
Dapatkah si pemuda bertahan dari omong kosong di Perempuan yang tidak masuk akal itu?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh belasan
Hari-hari masih sama.
Pagi aku pergi ke sekolah, dari siang sampai sore aku bekerja di kantor dan juga mengantarkan si Ketua Kelas ke tempat terapinya.
Tentu meksipun aku sibuk aku tetap tidak lupa pada kewajibanku pada Tuhanku.
Pada awalnya memang sangat menyebalkan setiap hari mendengarkan omong kosong si Ketua Kelas tentang apa yang dia pikirkan.
Tapi lama-lama aku terbiasa dan cukup terhibur.
Rasanya si Ketua Kelas masih seorang anak-anak yang otaknya penuh imajinasi dan rasa ingin tahu.
Apalagi si Ketua Kelas juga tergolong penurut ketika di suruh melakukan sesuatu.
Contohnya ketika aku menyuruhnya terapi setiap hari tanpa absen maka ia akan lakukan setiap hari.
Meskipun harus aku yang mengantar.
Dan hari-hari seperti itu berlangsung cukup lama hingga berbulan-bulan kemudian.
Bulan ini adalah bulan Agustus yang berarti bulan kemerdekaan Indonesia jadi aku beserta orang-orang di komplekku bermusyawarah akan melakukan lomba apa selain panjat pinang.
Para bapak-bapak berkumpul di rumah pak RT dan masing-masing dari mereka mengutarakan idenya masing-masing.
Setelah berdiskusi selama beberapa jam sambil ngopi semua warga pun sepakat akan mengadakan lomba balap karung, merangkak di dalam kardus, memasukan paku ke dalam botol dan masih banyak lagi.
Tentu setelah itu semua warga melakukan iuran untuk membeli hadiah untuk yang menang dan semuanya di serahkan pada pak RT.
Setelah selesai dengan musyawarahnya semua warga kemudian mulai menyiapkan tempat dan properti.
Untuk balap karung tentu saja kita butuh karung dan yang lainnya juga begitu.
Pagi itu berlalu dengan penuh kesibukan dan kerja sama yang kompak dari para warga.
Ngomong-ngomong aku juga turut serta membantu dalam menyiapkan tempat dan bagianku adalah aku harus mengumpulkan kardus untuk balap merangkak dalam kardus.
Pada awalnya aku melakukan semuanya sendirian karena tugasnya juga agak mudah yaitu cuma mengumpulkan kardus yang agak besar untuk di bentuk melingkar seperti roda.
Tapi di tengah jalan aku malah bertemu dengan si Ketua Kelas.
"Dimas! Kamu mau kemana!?" Ia menghampiriku sambil tersenyum lebar penuh keceriaan dan semangat seperti biasa.
"Mengumpulkan kardus!" Aku menjawab sambil membawa beberapa kardus yang aku masukan ke dalam karung agar mudah di bawa.
"Untuk apa? Kamu mau jual!?"
"Tidak, ini untuk lomba tujuh belasan nanti. Di komplekku kami mengadakan lomba dan aku menjadi salah satu panitia penyelanggaranya!"
"Lomba?... Maksudnya seperti lomba di film-film yang hadiahnya mendali emas?!"
"... Kayaknya ini tidak seperti itu deh. Aku yakin yang kamu maksud itu ajang perlombaan nasional makanya ada mendali emasnya tapi di sini kami tidak memberi mendali emas tapi cuma hadiah kecil-kecilan!"
"Yah. Namanya juga untuk hiburan rakyat!"
"Oh... Apa aku bisa menonton?!"
"Tentu saja bisa kalau kamu mau. Tapi acara ini tidak akan seperti apa yang kamu lihat di TV-TV jadi jangan berekspektasi terlalu tinggi oke?" Ketua Kelas langsung mengangguk sambil senyum.
... Jujur sepertinya aku agak menyukai cewek satu ini meksipun otaknya agak tidak beres.
Selain cantik ia juga penurut dan sifatnya juga sangat sederhana tidak seperti anak orang kaya kebanyakan.
Beberapa saat kemudian aku kembali ke tempat para warga gotong royong menyiapkan acara dengan semua kardus yang telah aku kumpulkan.
Tanpa buang waktu aku langsung menyambungkan kardus-kardus itu hingga panjang kemudian di sambung lagi dari ujung ke ujung hingga membentuk lingkaran.
Dari pagi sampai malam kami bekerja sama untuk menyiapkan acara tujuh belasan yang akan jatuh...
Dua hari lagi dari sekarang.
Oke jadi dua hari kemudian acara di langsungkan di mana pada saat itu satu komplek berkumpul baik tua, muda dan anak-anak.
Ada yang cuma jadi penonton dan ada juga yang ikut dalam lomba yang sangat berbeda-beda itu.
Tentu saja aku tidak ikut karena posisiku di sini adalah panitia meksipun seharusnya aku ikut lomba karena lebih cocok mungkin.
Tapi aku tidak suka ikut lomba karena lebih suka menonton di pinggiran atau jadi panitia seperti ini.
Jam delapan pagi lomba pertama di mulai dan yang paling pertama di mulai adalah lomba balap karung karena lomba ini yang paling banyak di ikuti.
"Oke semuanya! Tolong menyingkir dari jalur balapan dan bagi para peserta silahkan kenakan karung kalian sebagaimana mestinya!"
"Dan jangan ngelawak seperti make karungnya di kepala!..." Ketika ku tengok malah beneran ada yang ngelawak.
Untungnya itu bocil jadi masih aku maklumi.