Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon
"Hallo.."
"Hallo Si, ini om Ijal!"
Suaranya terdengar seperti terengah-engah, membuatku semakin penasaran apa yang akan omku itu katakan, om adalah orang yang ceria, ini pertama kalinya aku mendengar suara om Ijal yang menyiratkan suatu kekhawatiran.
"Iyah om kenapa?"
"Nenek sama kakek..!"
Sepertinya om Ijal berbicara sambil berlari, membuatku semakin penasaran dan rasa khawatir pun mencuat di hatiku, terlebih ia menyebutkan kakek dan nenek.
"Kenapa kakek sama nenek om?"
"Mereka kecelakaan!"
"Hah?!"
Deg, jantungku seolah berhenti berdetak karena tersambar petir. Aku langsung bangun dari baringku, membuat Pierre menghentikan aksinya. Kami bertatapan, dan ku lihat rasa penasaran muncul terlihat dari mimik wajahnya.
"Mobil mereka hampir jatuh ke jurang!"
"Apa!?!"
Tangisanku mulai keluar, tanpa ku sadari aku juga mulai memainkan kuku jari dan menggigit bibirku, menandakan bahwa aku mulai tak bisa mengendalikan diriku. Pierre meraih tangan kiriku agar aku tak melanjutkan kebiasaan burukku. Pierre sangat mengenaliku, mungkin dia takut aku akan mulai menyakiti diriku sendiri lagi.
"Sekarang nenek sama kakek di rumah sakit, mereka koma"
"Innalillahi.." aku menangis semakin menjadi, Pierre langsung memelukku erat.
"Kamu bisa pulang ke Jakarta, Si?"
"Iyah om! Aku berangkat ke sana pake pesawat paling pagi"
"Iyah, kami tunggu ya Si, tolong bilang ke ayah dan ibu kamu, tadi om telepon gak diangkat, mungkin mereka udah tidur"
"Iyah om, tolong jaga nenek sama kakek ya om"
"Ya, tapi kamu tetap tenang ya, Si!"
"Ya udah om, makasih ya.. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Setelah menutup telepon dari Om Ijal, seketika itu pula Pierre pun langsung mengeratkan pelukannya. Tangisanku semakin menjadi, tak tertahankan lagi. Tangannya terus mengelus punggungku yang tanpa sehelai benang pun.
"Sudah sayang, kamu harus tenang, mulai siap-siap yah, bawa apa yang harus kamu bawa" titah Pierre dengan suara lembut.
"Hmmmm.." aku menarik nafas dalam dan menganggukan kepalaku.
"Ya sudah, bersiaplah.. aku tidak butuh baju yang banyak, siapkan beberapa saja. Aku keluar dulu sebentar"
Tanpa menjawab, aku hanya mengangguk, langsung beranjak dari kasur, tanpa memakai pakaian terlebih dahulu, aku langsung mengambil koper dan memasukan barang-barangku dan Pierre untuk beberapa hari ke depan.
Baru saja aku akan berpakaian untuk menyiapkan keperluan Zoey dan Zayn, Pierre masuk ke kamar dengan telepon genggam yang baru saja diturunkan dari telinganya. Mungkin dia baru saja selesai menelepon.
"Kita berangkat sekarang! Percepatlah kemasi barangnya"
Pernyataan Pierre sungguh membuatku melongo, apa maksudnya? Penerbangan paling pagi saja masih butuh beberapa jam lagi, kenapa harus skrg berangkat ke bandara? Aku bahkan belum sempat memesan tiket ke Jakarta.
Tapi belum sempat aku bertanya, Pierre langsung berkata lagi, mungkin dia melihatku yang tidak mengerti apa maksudnya.
"Aku dapat pinjaman pesawat pribadi milik temanku, kita berangkat sekarang!"
Tentu perkataan itu makin membuatku menganga. Hebat sekali suamiku, dalam sekejap dia bisa mendapatkan pinjaman pesawat pribadi. Teman macam apa yang dia punya? Yang rela pesawatnya dipinjam. Tunggu, apa dia bayar? Ah sudahlah, aku hanya butuh segera sampai ke Indonesia!
Aku bergegas memakai pakaianku dan segera menuju kamar Zoey dan Zayn. Untung lemari pakaian mereka berada di area walking closet yang sama, membuatku mudah mengemas barang-barang keperluan mereka.
"Fuuuhh.. akhirnya selesai.."
Ku ambil nafas lega, walau hati masih menggemuruh memikirkan kakek dan nenek. Bagaimana pun, selama ini mereka sudah seperti pengganti ayah dan ibu selama orangtuaku itu sibuk meniti karier mereka masing-masing.
--------
Hai gengs! 😘
Sebenernya kisah Sienna dan Xavier/Pierre ini ada novel tersendiri. Doakan aku bisa selesain cepat yah, biar bisa tiap hari update novelnya "SIENNA".
Untuk novel ini, memang aku nulis per-episode dan nunggu waktu senggang di antara istirahat atau pulang kerja, kadang sampe kost pengen tiduran atau leyeh2 sambil video call sama anak 🥺🙏