Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.
Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.
Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.
Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?
Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?
Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?
Mari kita ikuti kisahnya!!
NB: Siapkan tissue!
***
Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.
Aamiin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Belum Pernah Dirasakan Sebelumnya
Pesisir Pantai
Manusia hanya berencana, selebihnya keputusan akan ada pada Yang Maha Kuasa.
Jika kita merasa sedang berada dalam ketidakadilan, yakinlah suatu saat kita akan mendapatkan keadilan tersebut.
Bisa saja kita tidak mendapatkan keadilan tersebut di dunia, namun sebagai manusia yang beragama kita harus yakin bahwa kita akan mendapatkan keadilan di akhirat kelak.
Itulah sepenggal untaian kata yang membuat Bu Nara ikhlas menerima semuanya.
Tiga hari setelah Aiza hilang di sungai, mereka memutuskan untuk menghentikan pencarian.
Tidak ada banyak kata yang bisa menggambarkan betapa Bu Nara sangat sedih dan kehilangan.
Jika saja tidak ada keimanan di hatinya mungkin saja Bu Nara akan mengakiri hidupnya secepat mungkin.
Penderitaannya di mulai sejak ia memilih untuk menikah dengan pria tampan berdarah biru.
Saat Aiza hadir dalam hidupnya, ia merasakan sebagian besar penderitaannya telah berakhir.
Aiza adalah salah satu energi yang membuat ia kuat.
Kini salah satu energi itu telah hilang.
Bu Nara mencoba mengisi lagi energi tersebut dengan sisa-sisa keimanan di hatinya.
Ia menyadari bahwa kesedihan dan keputusasaan yang berlarut-larut tidak akan merubah semuanya menjadi lebih baik.
Ia kembali lagi pada rutinitasnya, membuat ikan asin lalu menjualnya.
Setiap pulang berkeliling, ia selalu menyempatkan diri untuk berdo'a di jembatan yang menjadi saksi bisu hilangnya Aiza.
Kini Bu Nara hanya hidup seorang diri, ketiadaan Aiza disisinya membuat wanita berusia 40 tahunan itu berpikir akan mengumpulkan uang dan segera pergi ke suatu tempat untuk mencari keberadaan orang tuanya.
"Bapak, Ibu, apa kalian masih hidup?"
***
Pinggiran Kota
Ini adalah malam pertama Susi bersama keluarga barunya.
Sikapnya yang periang membuat Liana sangat menyukainya.
Sementara itu Niana dan Bu Niah sedang menyusun rencana untuk memanfaatkan Susi.
Kepolosan Susi yang sangat mengagumi benda-benda di rumahnya membuat Bu Nasih yakin jika Susi bukanlah berasal dari kalangan orang kaya apapalagi darah biru.
Susi juga sangat senang dengan kipas angin kecil yang ada di rumah itu.
Saat kipas angin dinyalakan oleh Nia, tiba-tiba gadis itu mendekat.
"Wah ada angin otomatis," dia lalu mendekatkan wajahnya pada kipas angin itu, lalu membuka mulutnya dan "Aaaaaaa"... Susi membuka mulutnya seakan mau makan angin."
"Ibuu...sepertinya selain amnesia, dia juga gila!" kata Nia.
"Mungkin iya," jawab Ibu.
"Susi kenapa kau seperti melihat emas dengan barang-barang butut di rumah ini?"
Nia bertanya sambil membulatkan matanya.
"Maaf Kak aku tahu kok semua barang-barang itu aku juga sering melihatnya, cuma aku merasa dulu aku tidak pernah memilikinya."
Jari-jarinya masih mengelus-elus kipas angin yang bunyinya bahkan sudah tidak nyaring lagi.
"Krek, krekeket, kreek, krekeket ...," bunyi kipas angin.
"Sudahlah Bu, Nia, biarkan Susi menikmati kebersamaannya dengan barang-barang itu, dia lucu kan, hehehe ...," kata Liana.
Tiba-tiba dari depan rumah terdengan suara Bapak.
"Bapak pulang... "
Susi terkejut dia menghentikan atifitasnya membelai kipas angin.
"Kakak, Ibu, apa itu Bapak?" memandang ibu tiri dan kakak-kakaknya.
Bu Nasih, Liana dan Niana refleks menganggukkan kepala secara bersamaan.
Susi menarik Ibu lalu mendorong Lia dan Nia ke depan pintu.
"Ayo kita sambut Bapak! Bu, Kak, Bapak pasti kelelahan seharian telah bekerja keras untuk kita."
Apa-apaan ini sejak kapan Bapak harus disambut? Hati Nia.
Ada benarnya juga, apasalahnya menyambut Bapak! Hati Lia.
Apa anak ini sudah tidak waras? Kenapa dokter cuma bilang dia amnesia? Hati Bu Niah.
Susi membuka pintu, Bu Nasih, Nia dan Lia berjejer menyambut Bapak.
Bapak nampak kaget ada apa ini pikir Bapak.
"Bapaaak!" Susi berteriak lalu menempelkan tangan di kedua pipinya (gaya chibi-chibi) seperti sedang melihat seorang idola.
"Bapaaak, kau kah itu?"
"Bapaaak ..."
"Susi ...??" Bapak masih terkejut.
Terjadi degan pertemuan pertama dengan orang yang sangat dirindukan.
Susi mendekati Pak Hardi, gadis itu meraih tangannya lalu menciumnya dengan hormat.
Susi tidak peduli dengan Pak Hardi yang lusuh, dengan baju yang masih terlihat di penuhi pasir.
Baginya laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya adalah laki-laki istimewa karena telah menjadi pelantara keberadaannya di dunia.
Susi memang merasa asing dengan wajah itu.
Namun ia ingat perkataan Nia di Rumah Sakit jika sebelumnya dia di besarkan oleh ibunya, dan bapaknya membawanya setelah ibunya meninggal.
Aku merasa asing karena mungkin aku belum lama tinggal dengan mereka.
Bapak terkesima melihat dia disambut oleh anak-anaknya dan Susi, membayangkannyapun belum pernah.
"Bapak bersih-bersih aja dulu, nanti biar Susi pijitin Bapak, kalau Bapak udah bersih-bersih."
Niana dan Ibu saling menatap, dalam bayangan mereka Susi akan jadi anak yang pendiam dan pemalu, tapi mereka salah.
Mereka masuk ke rumah dengan menyimpan perasaan aneh yang baru kali ini mereka rasakan.
"Kak Lia siapin minyak untuk aku mijitin Bapak, ya! Kak Nia siapin air minum untuk Bapak, aku mau bantu Ibu dulu selagi Bapak mandi."
Mereka saling menatap satu sama lain sambil melongo, Nia bahkan sambil memegang dada bagian kirinya seperti mau pingsan.
"Ibu kenapa Ibu bengong?"Nara menarik tangan Ibu ke dapur.
"Ayo kita siapkan makanan hangat untuk Bapak! Aku mau bantu Ibu sekalian belajar menyalakan kompor gas?"
Apa-apan ini, dia pikir dia siapa nyuruh-nyuruh aku? Batin Nia.
Hahaha, lucu sekali kamu Susi, oke akan Kakak siapin minyaknya. Batin Lia.
Sebenarnya nyonya di rumah butut ini siapa sih? Dia atau aku? Kenapa semua orang di rumah ini nurut sama anak ini, termasuk aku ... kenapaaaaaa? Batin Ibu.
Mimpi apa semalam aku Tuhaaan ... ? Apa gadis itu jelmaan putri duyung? Atau Ibu peri yang sedang menjalankan misi kebaikaan? Malam ini aku merasa sangat di hargai oleh anak dan istriku. Biasanya mereka sama sekali tidak peduli. Batin Bapak.
Pak Hardi merasa terharu dan bahagia, malam itu ia disediakan makanan hangat oleh istri dan anak palsunya.
Pak Hardi juga di paksa makan bersama dengan istrinya oleh Susi.
Setelah mereka makan, Susi membereskannya lalu segera mencuci piring tersebut tanpa di suruh.
Lalu Susi menarik tangan Pak Hardi ke karpet yang telah disediakan oleh Lia.
Dengan penuh kehangatan dan kasih sayang selayaknya anak dan bapak, Susi membantu Bapak membuka bajunya, lalu mulai memijatnya dengan telaten.
"Kak...kalau kita bareng-bareng pijat Bapak, pasti tubuh Bapak lebih baik lagi, dan besok Bapak akan lebih semangat mencari uang untuk kita, ya kan Pak?"
Bapak cuma bisa mengangguk dan terdiam seribu bahasa.
Akhirnya Liana dan Niana mendekat, mereka mulai memijat kaki Bapak, kiri dan kanan.
Sedangkan Susi memijat tangan Bapak.
Di atas sofa yang hampir lapuk, Bu Nasih menikmati pemandangan itu, dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitulah Aiza, malam ini ia telah mengajarkan bagaimana kebersamaan itu bisa dilakukan dengan cara yang sederhana.
♡♡ Bersambung ....
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
sambil nunggu TBR
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
tanya aja tuh sama s thor
aku juga bingung
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
d jilat ge ngapa aaah