Selama belasan tahun Alesha Kamil sendirian membesarkan keponakannya, Azzam. Ia berharap seluruh cinta yang ia berikan dapat menggantikan figur ayah yang tak pernah dikenal anak itu.
Namun tiba-tiba, suatu hari Keenandra Malik Gunawan mendatangi Alesha di rumahnya. Musisi yang terkenal playboy itu sebetulnya ayah kandung Azzam, dia datang karena surat-surat kaleng yang berisi pemberitahuan jika dia memiliki seorang anak.
Akankah Keenan mengambil Azzam dari Alesha yang sudah mengurus dan membesarkannya? atau Keenan justru menginginkan yang lain?
Yuk baca selengkapnya di Dia juga Anakku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Alesha menceritakan tentang peralatan tulis yang ditemukannya di laci kamar rawat inap. “Ummi tidak memiliki saudara untuk dikirimi surat. Selain itu, akibat sakit yang dideritanya, Ummi jadi sulit menulis.” Alesha terdiam untuk sesaat, lalu membuka kedua tangannya. “Kalau aku boleh melihat surat-surat itu, aku mungkin bisa memastikan apakah benar Ummi yang menulisnya atau bukan.”
Andra meletakkan mangkuk serealnya dan berjalan menuju meja kerjanya yang besar. Surat-suratnya terdapat di laci tengah. Semuanya ada enam surat, yang diikat dengan karet gelang. Ia menyerahkan semuanya pada Alesha, yang langsung membuka ikatannya dan mengamati tulisan pada tiap amplopnya, lalu membaca isi dari dua surat.
“Bagaimana?” tanya Andra, setelah selesai menyuap sesendok sereal.
“Tidak seperti tulisan tangan Ummi yang biasa, apa mungkin karena Ummi sedang sakit, jadi tulisannya sedikit berbeda?" Alesha terus mengamati tulisan pada surat-surat tersebut.
"Tapi gaya bahasanya.... Aku yakin surat-surat ini berasal dari Ummi. Kalimat 'bertanggung jawablah dengan apa yang telah di perbuat' sama persis yang biasa diucapkannya.”
Energi Alesha terkuras habis, lalu ia duduk di salah satu kursi di meja dapur itu. Setelah membaca seluruh surat itu, ia menengadah menatap Andra. Pria itu sedang menenggak jus jeruk langsung dan botolnya.
“Aku tidak tahu harus berkata apa, Andra.” Ia begitu merasa tidak enak pada Andra. “Sulit dipercaya Ummi melakukan ini.”
Andra duduk di seberang Alesha. “Waktu itu kau bilang orang tuamu tidak tahu bahwa aku ayahnya Azzam.”
Alesha berpikir sejenak. “Ummi pasti sudah mengetahuinya sejak lama. Mungkin Ummi selama ini sudah mencurigaimu, karena semakin lama wajah Azzam makin mirip denganmu… Wajahmu sering wara-wiri di TV. Di rumah sakit ada TV besar yang biasa di pakai nonton oleh para pasien, mungkin Ummi pernah menonton dan mendengar lagu-lagumu. Atau mungkin juga Ummi melihatmu di kalender, rumah sakit itu bekerja sama juga dengan Bank yang menjadikanmu BAnya, dan kau pernah menjadi modelnya.”
Alesha nyaris tidak berani menatap mata Andra, tapi ia mengumpulkan segenap keberaniannya dan melakukannya. “Aku minta maaf, Andra,” ujarnya, suaranya terdengar sendu.
Andra bersandar di kursinya dan mengelus kepala Chiki dengan lembut. Kucing manja itu menyandarkan dagu di paha majikannya, seolah menyadari topik pembicaraan ini suram. Sepasang mata indahnya menatap Alesha dengan sedih.
“Ini bukan salahmu, Al,” ujar Andra. “Aku sama sekali tidak menyalahkanmu.”
“Aku akan segera menanyakan hal ini pada Ummi.”
“Jangan. Ibumu sedang sakit. Bagaimana dia bisa melukaiku? Dia sama sekali bukan pemeras, aku malah merasa lega karena aku tidak diikuti oleh pemeras betulan.”
“Aku lega karena tidak ada bahaya yang mengancam Azzam.”
Setengah merenung, Andra terus membelai Chiki. “Kau tahu, secara tidak langsung sepertinya ibumu memang ingin aku bertanggung jawab atas Azzam. Kalau tidak beliau tidak akan menuliskan alamatmu di amplopnya.”
“Ummi bukan seorang pendendam.”
“Ibumu memang bukan pendendam, tapi memang sudah saatnya aku bertanggung jawab.”
“Pertanggungjawaban yang pernah kau bicarakan?” ujar Alesha.
“Benar.”
Mereka berdua diam dan merenung untuk beberapa saat. Akhirnya Andra berkata, “Sejujurnya aku senang mendapati fakta bahwa ibumu lah yang melakukannya.”
“Mengapa?”
“Karena Azzam.”
Bibir Alesha terasa kering. “Ada apa dengan Azzam?”
“Aku tidak bisa membayangkan jika harus menjalani sisa hidupku tanpa mengenal anak sehebat Azzam.” Andra tersenyum menatap Alesha. “Kurasa aku berutang budi pada ibumu. Aku akan menebus waktu yang telah kusia-siakan tanpa Azzam.”
“Ma-maksudmu?” tanya Alesha meski ia sudah tahu arah pembicaraan Andra.
“Aku ingin Azzam tinggal disini bersamaku selamanya.”
Mimpi buruk yang selama ini menghantui Alesha menjadi kenyataan. Sejak Keenandra kembali dalam kehidupannya, Alesha sudah takut akan datangnya moment ini.
“Kau pasti pernah menonton film finding nemo, dimana seorang ayah dan anak laki-lakinya berpetualang. Itu yang akan aku lakukan bersama Azzam sepanjang waktu di rumah ini.”
“Sebentar...” Alesha mengangkat tangannya agar Andra berhenti berbicara. “Dirumah ini?” Alesha beranjak dari kursinya. “Sebuah pesta liar? Berbagi wanita seperti Sandra atau wanita lainnya yang selalu mengerumunimu? Dan Azzam akan ikut berpesta seperti itu di rumah ini.” Alesha memegang kepalanya yang nyaris pening.
“Aku tahu apa yang terjadi malam ini kelihatan buruk, Alesha. Tapi...”
“Memang!”
“Oke, aku memang berpesta,” Andra balas membentak. “Dan menurut moralmu yang kaku itu, pesta ini sedikit keterlaluan.”
“Moral adalah kata yang tidak pernah ada dalam kamus hidupmu. Pengisap ganja, mabuk-mabukkan, wanita bertelanjang dada, dan perselingkuhan yang dilakukan terang-terangan. Kau bilang itu semua hanya ‘sedikit keterlaluan’.”
“Mengisap ganja? Siapa yang mengisap ganja?”
“Pria berambut putih dengan ikat rambut norak.”
“Aku tidak mengenal orang itu.”
“Berarti dia diundang oleh temanmu yang lain atau dia menyelinap masuk. Yang pasti, aku melihatnya dengan jelas.”
“Aku tidak tahu apa-apa tentang ganja.”
“Baiklah, lupakan saja. Yang lainnya sudah cukup buruk. Aku sudah susah payah mendidiknya menjadi anak yang shaleh, aku tidak mau Azzam berada di antara orang-orang seperti mereka.” Alesha menunjuk pria itu. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengizinkan anakku tinggal di bawah atap rumah ini setelah apa yang kulihat malam ini. Kau bahkan tidak bisa mengasuh anak kucingmu dengan benar, apalagi mengasuh seorang anak manusia!”
Alesha sudah hampir sampai ke pintu kaca sebelum Andra mengejarnya. Ia mencengkeram lengan atas wanita itu, dan menariknya mendekat. “Aku bisa belajar menjadi ayah yang baik untuk seseorang yang terus-menerus kau sebut ‘anakmu,’ padahal kenyataannya dia adalah anakku.”
Genderang perang sudah dipukul saat Andra mengucapkan kata-kata itu. Apa yang diucapkan Andra membuat hati Alesha sakit, tapi ia tidak menunjukkannya pada pria itu. Dengan kepala ditegakkan tinggi-tinggi, Alesha menghempaskan tangan Andra dari lengannya. "Dia juga anakku!" Alesha meninggalkan Andra yang berdiri di tengah-tengah dapurnya yang berantakan.