Menjadi berbeda bukanlah menyenangkan bagi Tazkia, gadis kelas sebelas yang baru saja pindah ke sekolah asrama. Sebab dengan berbeda, ia harus berurusan dengan makhluk-makhluk astral yang selalu mengganggunya.
Di tempat baru, Kia berharap bisa hidup normal. Tapi nyatanya, ia malah mendapat teror arwah bayi setiap malam. Apa sebenarnya yang diinginkan ruh bayi itu dari Kia? dan bagaimana cara Kia mengatasi gangguan ini?
***
Sambung silaturahmi yuk. 😁
Ig: @eriyyalma_4
TT : ERiyy Alma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERiyy Alma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TBB 23
Terpaksa Dewa meminta izin meninggalkan Nia sendiri di kamarnya untuk menemui Nur. Mau tak mau Nia pun memberinya izin, tapi cukup lama suaminya tak kunjung kembali. Hal ini membuat Nia penasaran, ia turun dari ranjang dan keluar kamar.
Di ruang tamu, Nia melihat Nur sudah rapi, sepertinya ia siap untuk keluar, sempat penasaran hendak kemana wanita itu malam-malam begini, tapi kemunculan Dewa lebih membuatnya penasaran. Suaminya pun telah berganti pakaian dengan warna senada dengan yang dikenakan Nur saat itu.
“Mas, kalian mau kemana?” tanya Nia.
“Oh, maaf Nia mas nggak bisa temani kamu malam ini, kamu istirahat aja biar cepat sehat. Mas mau keluar dulu sama Nur, kasihan dia bosan.”
“Mas, yang benar saja. Mas kan udah janji temani Nia malam ini. Lagian ini juga masih jadwalnya Nia loh mas,” protes Nia merasa sikap Dewa sangat tak masuk diakal. Baru beberapa saat lalu lelaki itu bersikap hangat dan peduli padanya, tapi tiba-tiba tunduk patuh di depan Nur.
“Jangan manja Nia! kamu ini nggak kasihan apa sama Nur, belum pernah mas bawa dia keluar rumah. Lagian kamu sakit, orang sakit itu istirahat saja, jangan terlalu banyak gerak. Udah sana kembali ke kamar!” bentak Dewa, ia lantas memeluk pundak Nur dan berkata, “ya udah sayang, kita berangkat sekarang.”
Nia tak percaya dengan apa yang terjadi, perubahan besar hanya dalam waktu beberapa menit saja terjadi pada suaminya, seolah Dewa tak menjadi dirinya sendiri. Nur tersenyum padanya, mengerlingkan mata dan melambai penuh kemenangan.
Nia berlari mengikuti keduanya, tapi ia tak mampu mengejar sebab tiba-tiba perutnya kembali terasa sakit, sakit luar biasa hingga untuk memanggil Dewa saja ia tak mampu. Hanya bisa menatap sang suami masuk ke dalam mobil bersama istri keduanya, mobil berjalan pelan meninggalkan halaman rumah.
“Aduh, mbok.. mbok…” lirih suara Nia memanggil Lastri, tapi itu tak berhasil membuat wanita paruh baya itu bisa mendengar panggilan nya. Nia mulai curiga, sakit yang menderanya selalu muncul setelah ia meminum susu buatan Nur, apakah wanita itu memberinya obat obat aneh?
“Astaghfirullah, kenapa ini? mas Husin, mas tolong kesini mas!” teriak Lastri saat tak sengaja menemukan Nia tergeletak di lantai. Husin berlari dari arah dapur, terlihat panik melihat keadaan sang kakak.
“Kak, kakak kenapa?” tanya Husin.
“Kita bawa ke kamar dulu mas Husin, biar mbak Nia bisa istirahat,” ucap Lastri, keduanya memapah tubuh lemah Nia menuju kamar, menidurkannya di ranjang. Nia terus merintih sambil memegang perut. Bibirnya terus membaca ayat suci Al-quran berharap bisa mengurangi rasa sakit, tapi aneh kali ini itu gagal.
“Mbok balur minyak putih ya mbak perutnya.” Lastri meminta izin untuk membalurkan minyak kayu putih pada perut Nia, Nia hanya pasrah membiarkan Lastri melakukan apa yang diinginkannya.
“Kak, kalau kakak belum sehat kenapa pulang? mana mas Dewa, kenapa kakak sendiri?” tanya Husin.
“Astaghfirullah, mbak Nia ini kenapa perutnya keras dan besar? seperti orang hamil saja mbak Nia. Ya Allah kenapa ini?” Lastri tampak sangat panik, Nia yang bahkan belum menjawab pertanyaan adiknya mendadak ikut panik, sebab melihat perutnya yang mendadak menjadi besar seperti hamil empat bulan.
Nia mencoba menyentuh perut, keras dan sakit tak tertahankan yang ia rasa. Nia tak mampu berbicara apapun, ia hanya merintih dan menangis, bibirnya tak henti menyebut asma Allah dan ayat ayat Alquran meski tanpa suara. Husin sangat kebingungan, melihat keadaan sang kakak tak bisa membuatnya berpikir jernih.
“Ya Allah mbak, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? tadi kan sudah sehat sepulang dari rumah sakit?” keluh Lastri, merasa tak tega melihat istri tuannya.
“Mbok, tadi kakakku makan atau minum apa sepulang dari rumah sakit?”
“Apa ya mas, nggak ada. Eh susu ya, iya susu mas. Itu gelasnya sudah kosong.”
“Siapa yang bikin susu?”
Lastri tampak kebingungan, ia tahu fakta keberadaan Nur di rumah sebagai istri kedua dirahasiakan oleh Dewa dan Nia, bahkan itu kepada Husin, ia bingung memberi jawaban apa, menatap Nia dan Husin bergantian.
“Siapa mbok?”
“Anu, itu mas. Itu..”
“Mbok, telepon mas,” ucap Nia lirih, sangat lirih hampir tak terdengar. Husin pun mengingat kakak iparnya yang tak ada di rumah saat istrinya sedang kesakitan.
“Dimana sebenarnya mas Dewa mbok? sini kak ponsel kakak mana? biar Husin telepon mas.” Husin melihat ponsel Nia tergeletak di atas nakas, meraih benda pipih itu dan mulai menghubungi kakak iparnya, tapi ponsel Dewa sedang tidak aktif.
“Dimana sebenarnya mas Dewa sih kak? kenapa ponselnya nggak aktif?” ucap Husin kesal, berulang kali menelepon nomor kakak ipar, tapi hasilnya tetap sama.
“Mas, coba telepon mbak Nur,” saran Lastri, pada akhirnya ia tak mampu menyembunyikannya lagi. Melihat Nia kesakitan ia tak tega, apalagi perut Nia yang semakin membesar dan keras membuatnya ngeri.
“Siapa itu? siapa Nur?”
***
Kia dan Shella tengah belajar bersama di dalam kamar. Namun, keduanya sama-sama tak bisa fokus. Kia masih memikirkan ucapan wanita bernama Dara yang ia temui bersama Husin di perpustakaan tadi. Sedangkan Shella sibuk memikirkan kenapa Nia tak lagi hadir di masjid tadi.
“Ki, kok kak Nia akhir-akhir ini jadi sering nggak masuk ya. Aku jadi kangen,” keluhnya.
“Kak Nia sakit Shel, dia masuk rumah sakit semalam.”
“Astaghfirullah, kamu tau dari mana Ki?”
Kia sadar ia salah bicara, harusnya ia berpura-pura tak tahu saja. Tapi nyatanya ia melupakan itu, terpaksa Kia menceritakan segalanya.
“Asem kau Ki, bisa-bisanya nggak ngajakin aku belajar ngaji sama kak Nia, tega ya!” ucapnya.
“Maaf Shel, beneran maaf. Itu terjadi begitu saja, tak bisa kucegah.”
“Ih, tau lah kesel aku.”
TOK TOK TOK
Dua gadis itu saling bertatapan, mulut mereka terkunci rapat, Shella bahkan melupakan acara merajuknya pada Kia, sebab ia mencoba merapatkan duduknya pada teman sekamarnya itu. Ketukan pintu kembali terdengar, kali ini bersamaan dengan suara seorang gadis yang memanggil nama Kia dari arah luar kamar mereka.
“Ki, Kia aku Zaina Ki, tolong buka pintunya sebentar!”
“Ada apa gadis itu malam-malam ke kamar kita?” gumam Shella melirik Kia yang tetap memilih diam, “Ki, bukain sana, itu kan temanmu. Aku mana kenal Zaina.”
Kia berjalan pelan menuju pintu, dalam hati ada rasa khawatir jika itu bukan Zaina. Tapi lagi-lagi Zaina mengatakan bahwa itu dirinya dan ini sangat penting. Kia pun membuka pintu, dan benar saja gadis itu masih ngos-ngosan di samping pintu.
“Ada apa Zaina? ayo masuk dulu.”
“Aku nggak bisa lama-lama Kia, aku cuma mau bilang padamu kak Nia dalam bahaya, kamu bisa kesana sekarang?”
“Bahaya? bahaya apa? dari mana kamu tahu kabar ini?” tanya Kia, Shella pun segera mendekat.
“Dari mbak Dara, cepat!”