Cinta itu aneh. Dia yg minta di jemput tapi dia tak mau ikut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Aisyahseor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buah kesabaran
Arief dan ketiga sahabatnya berlari ke arah asal suara. Di kamar arief mendapati Bian dengan mulut berbusa. Arief langsung mengangkat tubuh lemas Bian setengah berlari menuju mobil. Arief melajukan mobilnya di atas kecepatan rata rata menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit. Arief langsung membawa Bian ke ruang IGD. Arief tak lagi merasakan dinginnya puncak. Karena dia hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada memamerkan tatoo besar di punggung dan lengan gempalnya. Pemandangan seperti itu tak luput dari tatapan aneh mata mata yg berada di sekitar.
Ketiga sahabatnya itu datang dengan membawakan baju hangat untuk Arief. Dengan cepat Arief mengenakan baju itu. Pikiran Arief hanya tertuju pada Bian. Dia tidak mau kejadian Al terulang lagi.
"Keluarga pasien?" Tanya Dokter yg baru saja keluar dari ruang IGD.
"Saya kakaknya dok." Kata Arief menghampiri dokte dan di susul oleh ketiga temannya itu.
"Keadaan pasien sudah stabil. Hanya saja kami mau mengingatkan untuk keluarga pasien agar mengawasi penggunaan obat obatan berdosis tinggi seperti ini. Obat Depresi dosis tinggi ini berbahaya sekali untuk pasien. Obat jenis ini mampu membuat rahim pasien kering. Dan yg saya lihat pasien ini juga peminum aktive jadi bisa berakibat lebih buruk lagi. Jika masih di teruskan pasien akan mengalami gagal jantung maupun ginjal. Dari kasus ini juga saya melihat, pasien mengonsumsi obat ini bersamaan dengan minuman berakohol yg mengakibatkan pembengkakan pembulu darah di otak. Jika tadi bapak telat membawanya ke rumah sakit. Bisa saja pembulu darah di otaknya sudah pecah. Jadi kami himbau pada keluarga untuk mengawasi pasien lebih ketat lagi." Kata dokter lalu meninggalkan ruangan IGD.
Bian sudah di pindahkan ke ruang rawat. Semua menunggui Bian yg di tempatkan di ruang VVIP agar semua bisa masuk dan beristirahat. Karena ruangan itu sudah seperti rumah. Ada sofa besar dapur kamar mandi pribadi dan kasur lantai untuk menonton tv.
Keluarga Alfajr datang setelah Arief mengabari mamanya. Mama Bian datang dan menangis sejadinya ketika memasuki kamar Bian. Mama Arief memeluk Arief dan kakek duduk terdiam di dekat Bian terbaring lemas. Keluarga Alfajr tak datang sendirian tapi juga mengajak Indah yg memang kebetulan lagi di sana. Malam itu berlalu dengan pilu.
Arief menunggui Bian semalaman dengan memegang tangan Bian. Semua kembali ke Villa untuk beristirahat selain Arief dan papa Bian. Papa Bian terus memperhatikan Arief yg enggan untuk melepaskan pegangan tangannya.
"Kak. Kakak semaleman nungguin Bian?" Kata yg terucap saat Bian membuka mata dan mendapati Arief berada di sampingnya.
"Ini semua gara gara kakak. Maafin kakak, Kakak gak mau kehilangan orang yg paling kakak sayangi. Janji jauhi obat obatan itu juga minuman berakohol kalo lo mau tetap hidup bersama kakak." Kata yg terucap dari mulut Arief di dengar oleh Keluarga Alfajr yg berada di ambang pintu.
Papa Bian tersenyum karena senang mengetahui perasaan putrinya terbalas oleh putra dari mendiang kakaknya. Namun tidak dengan Indah yg merasa panasnya api cemburu. Indah melangkah masuk dan memisahkan Arief dan Bian.
"Kalian itu kakak Adik. Dan kamu harus ingat Rief. Aku tunangan kamu dan hanya aku yg akan menikah denganmu bukan Dia atau wanita lain!!!" Kata Indah membentak Arief.
"Kamu harusnya tau Rief, bahwa aku berharap pernikahan di hubungan kita ini. Bukan penghianatan seperti ini yg aku dalat kan." Tambah Indah.
"Gue gak pernah menghianati lo karena gue gak pernah cinta sama lo." Ucapan Arief membuat semua orang tersentak.
"Kenapa kamu tak mengatakan pada kami Rief kalo kamu tidak bahagia" Kata kakek Arief menyesal.
"Airef mencoba membuka hati untuk wanita lain kek tapi gak bisa. Maafin Arief." Tangis Arief pecah karena takut akan mendapat penolakan dari pihak keluarga.
Papa Bian mendekati Bian. Namun Bian malah ketakutan.
"Ampun pa Bian salah. Tolong jangan kurung Bian lagi. Bian takut pa." Arief langsung mendekati Bian.
"Om, biar Arief yg jagan Bian. Arief gak mau Bian mengonsumsi obat obatan itu lagi." Kata Arief memeluk Bian.
"Indah gimana?" Tanya datar papa Bian.
"Arief gak mau melanjutkan dengan Indah kalo Arief harus kehilangan Bian." Ucapan Arief membuat senyum simpul di bibir kakeknya.
"Gak bisa gitu dong Rief. Kamu gak bisa mutusin aku secara sepihak." Kata Indah namun tak di hiraukan oleh Arief.
Arief pergi keluar entah kemana. Indah yg mengikuti Arief pun kehilangan jejak. Indah menunggu seharian di rumah sakit namun tak kunjung kembali. Indah kembali ke Villa pun tak mendapati Arief juga. Keluarga Alfajr nampak santai tak seperti orang kehilangan. Sebenarnya ada apa ini?
Indah kembali ke rumah sakit. Ketika Indah sampai di ruangan Bian di rawat. Indah melihat banyak orang keluar dari kamar itu dengan memakai baju resmi seperti seragam dinas orang kelurahan. Dan beberapa orang menggunakan stelan jas.
"Ada apa ini?" Indah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Gak ada apa apa." Jawab Arief yg juga terlihat memakai kemeja putih dan jas hitam tengah membelai lembut kepala Bian.
"Indah, Sini duduk dekat kakek. Kakek mau memberi tau sesuatu." Indah berjalan menuju sofa di mana kakek keluarga Alfajr itu duduk. "Kakek sudah memberi tahu masalah pemutusan hubungan pertunangan kamu dengan Arief karena dia harus menikah dengan cucu kakek bernama Bian yg baru saja di laksanakan. Dan papa kamu menghargainkeputusan kami. Makanya kamu dan Arief sekarang sudah tidak terikat lagi. Cincin itu pakai saja anggap sebagai permohonan maaf kami." Ucapan kakek Arief membuat Indah tak percaya kalo hubunganya dengan Arief telah berakhir.
Seminggu sudah Bian di rawat di rumah sakit. Dan hari ini adalah hari kepulangan Bian dan Arief ke kota. Arief mengajak Bian ke apartemennya. Apartemen yg pernah ia tempati dengan Al istri pertamanya.
"Al, maafin gue gak bisa mempertahankan posisi lo di hati gue. Gue jatuh cinta lagi Al, dengan seorang wanita yg tengil nyebelin sama kaya lo. Tapi lebih tengil dia, masak mau cari cowok gara gara gue mau nikah sama orang lain." Adu Arief pada foto besar yg tergantung di dinding.
"Biarin foto itu kak, biar Bi tau kalo maminya yg sekarang dengan yg dulu itu gak ada bedanya. Jadi Bi gak menganggap Bian jadi ibu tiri yg jahat." Kata Bian membuat Arief tersenyum.
"Demi lo apapun gue lakuin. Oh iya, kalo gue perfom lo boleh ikut tapi lo gak boleh minum. Ngerti?" Tanya Arief.
"Siap boss."
ceritanya plek..
gk muter-muter kya benang kusut...
biar episot dikit tp ngena...
semangat y thooorrrr...
bikin karya yg lebih baik lg...
salam sahabat...
👍👍👍👍
udh mo saingan ma mba kunti gw...
🤣🤣🤣🤣
Yang udah baca komen doank 🙏🙏