ZIRA FATASYA wanita dua puluh tahun, saat kecil dia mengenal seorang anak laki laki yang usianya tujuh tahun lebih tua dari Zira yang bernama Zico, yang mana memebuat Zira jatuh cinta pada pandangan pertama, namu saiapa yang mengiria saat mereka sudah tumbuh dewas Zico malah menjalin kasih dengan Kakanya Zahra Fatasya, hanya karna mengira jika Zahra adalah Zira gadis masa kecilnya, bahkan keduanya juga sudah hampir bertunangan.
Zira yang saat itu membenci keluarganya atas perlakuan tidak adilnya pada dirinya, dia nekat merebut Zico dari kakanya saat malam akan di langsungkan pertunangan Kakanya dan Zico, dengan cara menjebak Zico dan berakhir Zico menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Plakkkkk
''Masih punya muka kamu datang ke sini!!'' bentak Nico.
Zico yang berdiri di belakang Zira terkejut melihat Papa Nico menampar istrinya dengan keras. Sedangkan Mama Nita dia masih menangis di pelukan mama Ella, mereka kini berada di depan ruang UGD.
Meskipun di tampar oleh Nico tapi Zira sama sekali tidak mengeluarkan air matanya, bahkan Zira menyunggingkan senyumnya di depan Nico.
''Apa kamu yakin aku yang mendorong putri manjamu itu'' cetus Zira dengan senyum devilnya, tapi tidak bohong jika saat ini Zira tengah merasakan kepalanya yang sangat sakit seperti mau pecah.
''Kenapa tidak yakin, tidak mungkin Zahra melakukan hal bodoh dengan menjatuhkan dirinya sendiri'' sahut Nico membuat Zira terkekeh, semua orang termasuk Zico merasa aneh dengan tanggapan Zira, dia yakin jika ada yang tidak beres dengan adegan jatuhnya Zahra di tangga.
Zira mengeluarkan ponselnya dan mengotak atiknya sebentar, lalu memperlihatkan vidio di ponselnya tepat di depan wajah Nico, yang mana membuat Nico seketika membelalakkan kedua matanya, karna di vidio itu terlihat jelas jika Zahra menjatuhkan dirinya sendiri di tangga, bahkan Zira sama sekali tidak menyentuh Zahra.
''Lihatlah dengan jelas, putri manjamu itu memang bodoh bukan, hanya ingin menjatuhkan namaku sampai rela melukai dirinya sendiri'' cibir Zira membuat Zico dan kedua orang tuanya terkejut.
Zico langsung mengambil ponsel milik Zira, dan Zico tak kalah terkejut dari Nico, saat melihat vidio yang berada di ponsel Zira.
''Tidak, itu pasti bohong, kamu pasti mengeditnya'' bantah Mama Nita membuat hati Zira mencelos, orang tuanya sepertinya memang tidak pernah menganggap dirinya ada.
Zira langsung merampas ponselnya dari tangan Zico, lalu melangkah mendekat ke arah Mama Nita dengan kedua mata menajam.
''Anda tidak percaya kan, kalau begitu anda mintalah pada Mama Ella untuk memutar kembali cctv di mansionnya saat kejadian'' ujar Zira lalu membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruang UGD, sedangkan Zico dia bergegas menyusul istrinya, dia kini menyaksikan sendiri bagaimana perlakuan tidak adil yang di terima Zira dari kedua orang tuanya.
Sedangkan Papa David orang tua Zico dia segera meminta pengaman cctv mansionnya untuk mengirim rekaman cctv saat kejadian, dan tak butuh waktu lama rekaman itu masuk ke ponselnya, dan benar rekaman itu sama persis dengan yang berada di ponsel Zira.
''Kalian berdua lihat, Zahra mamang sengaja menjatuhkan dirinya, bukan Zira yang mendorongnya'' tukas Papa David memperlihatkan rekaman cctv mansionnya.
''Tidak, itu tidak mungkin, untuk apa Zahra sampai berani melukai dirinya sendiri, dia selama ini sudah tersiksa dengan penyakitnya, apa mungkin Zira mengancamnya'' ucap Mama Nita yang mana membuat Mama Ella dan Papa David menghela nafas kecewa pada besannya, karna masih tidak terima jika Zira terbukti tidak bersalah.
Zira melangkahkan kakinya dengan air mata yang mulai merembes membasahi pipinya, rasa kebencian pada kedua orang tuanya semakin meningkat, dia tidak menyangka kalau orang tuanya tidak sepercaya itu pada dirinya.
''Zira, kamu kenapa?'' seru seorang pria yang baru melangkah keluar dari ruangannya.
Zira mendongakkan kepalanya melihat siapa pria di depannya Zira seketika langsung memeluknya dengan erat, begitu juga dengan pria itu yang juga membalas pelukan Zira, dan mengelus punggung Zira dengan lembut.
''Hiksss,,, Hiksss'' Zira yang berada di pelukan dokter Rio seketika tangisnya pecah.
Sedangkan dokter Rio dia membawa Zira masuk ke dalam ruangannya. Zico yang sejak tadi mengikuti Zira.mengepalkan tangannya dengan geram, dia sangat ingat betul dengan pria yang di peluk Zira, dia pria yang sama di dalam foto yang di kirim oleh nomor asing itu. Zico melangkah mendekat ke depan ruangan itu yang kebetulan tidak tertutup rapat, jadi Zico bisa melihat dengan jelas dimana Zira menangis di pelukan pria yang berstatus dokter itu yang tak lain adalah Rio.
''Zira, kamu benar benar membuatku kecewa'' gumam Zico dengan tangan mengepal erat bahkan sampai buku jarinya memutih, lalu Zico meninggalkan ruangan dokter Rio dengan wajah penuh amarah dan kecewa.
Sedangkan di dalam ruangan dokter Rio, Mala yang baru keluar dari dalam kamar mandi terkejut melihat Zira menangis di pelukan suaminya, bukannya cemburu tapi Mala malah kahwatir karna selama dirinya mengenal Zira dia tidak pernah melihat Zira menangis.
''Zira sayang, kamu kenapa?'' tanya Mala mengelus punggung Zira dengan lembut, berharap Zira bisa merasa tenang.
Zira membalikkan badannya dan kini bergantian memeluk Mala, hanya dua orang inilah yang menjadi tempat keluh kesah Zira selama ini.
''Hikss,,, Hikss,, aku benci dengan mereka, aku benci'' isak Zira.
Mala dan Rio sudah bisa menebak siapa yang du maksud oleh Zira, tapi mereka berdua penasaran apa yang membuat Zira sampai menganis seperti ini, bisanya meskipun Zira sering di perlakukan tidak baik oleh kedua orang tuanya tapi Zira sama sekali tidak pernah menangis seperti saat ini.
Dokter Rio dan Mala terkejut saat melihat Zira pinsan di pelukan Mala.
''Astaga Zira!!'' pekik Mala.
Dan dokter Rio langsung mengangkat tubuh lemah Zira, dan di rebahkannya di atas brangkar di ruangan dokter Rio.
''Bagaimana Pa?'' tanya Mala panik sekaligus khawatir, saat melihat suaminya sudah memeriksa kondisi Zira.
''Sepertinya Zira hamil sayang'' jawab dokter Rio.
''Ha,,hamil'' sahut Mala terkejut antara senang dan khawatir.
''Tolong kamu panggilkan dokter Nita, biar dia memeriksa ulang Zira, biar lebih jelas'' pinta Dokter Rio yang di angguki oleh Mala, dan langsung bergegas pergi ke ruang dokter Nita.
Dokter wanita yang tak lain dokter Nita, kini tengah fokus memeriksa Zira yang masih dalam keadaan pinsan.
''Bagiamana dokter Nita?, Zira sungguh hamil'' tanya Dokter Rio.
''Benar, Zira hamil, untuk jelasnya bawa dia ke ruanganku, nanti biar aku memeriksanya lebih detail'' jawab dokter Nita tersenyum dia sudah hafal dengan Zira yang di kenalkan sebagai adik Dokter Rio padanya.
Setelah dokter Nita meninggalkan ruangan Dokter Rio, tak berselang lama Zira mulai membuka kedua matanya.
''Zira, kamu sudah bangun?, apa yang kamu rasakan?'' tanya Mala beruntun.
Zira berusaha duduk dengan di bantu oleh Mala. '' Kak kenapa aku bisa berada di sini?'' tanya Zira melihat dirinya berada di atas brangkar yang berada di ruangan Dokter Rio.
''Kamu tadi pinsan'' jawab Mala.
''Zira''
''Iya Kak'' sahut Zira menoleh pada dokter Rio.
''Kamu hamil'' ucap dokter Rio yang sukses membuat Zira membulatkan kedua matanya terkejut, namun sedetik kemudian raut wajah Zira berubah berbinar.
''Benarkah kak?, Kak Rio tidak berbohong?'' tanya Zira dengan antusias.
''Benar, Kaka tidak berbohong'' jawab Dokter Rio.
Zira langsung melihat ke arah perut ratanya dan mengelusnya dengan lembut, dia rasanya ingin segera memberi tahu pada Zico, dan pasti suaminya sangat senang mendengar kabar bahagia ini.
"Kak Zico, akhirnya yang kamu tunggu sudah terwujud, sebentar lagi kita akan punya anak" batin Zira dengan senyumnya yang sama sekali tidak luntur dari sudut bibirnya.
Kalo seandainya SAD ENDING GA MASALAH.😅
semangat kk
semangattt