Perjanjian antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.
Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.
Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.
Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.
Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga pelakunya. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRM 23: Penabur Racun
“Selain para dayang yang menyediakan air kembang, siapa orang lain yang seharusnya tidak terlibat, tetapi dia ada lokasi penyediaan air?” tanya Panglima Bidar Bintang kepada Kepala Dayang Istana, yang juga mengatur penyediaan air kembang untuk siraman Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan Ratu Ani.
Ada enam belas, termasuk Kepala Dayang Istana, yang sedang diinterogasi oleh Panglima Bidar Bintang di luar Aula Tahta. Para dayang yang ketakutan itu berlutut berderet dalam satu saf memanjang. Jelas mereka sangat takut dipenjara atau sampai dieksekusi karena dituduh hendak mencelakai Prabu dan Ratu.
Pesta terdengar berlangsung sangat meriah di dalau Aula Tahta. Pesta di dalam Istana jelas sangat jauh berbeda suasananya dibandingkan yang digelar di Ibu Kota atau di pusat-pusat kadipaten.
Di sisi sang panglima berdiri Delik Rangka, Ketua Pasukan Hantu Sanggana. Tidak jauh dari mereka ada puluhan prajurit Pasukan Ular Gunung dan dua puluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana.
“Hanya ada seorang prajurit Pasukan Pengaman Putri kekasih Punayi yang datang bergurau. Namanya Malang Anu,” jawab Kepala Dayang Istana. “Malang Anu tiba-tiba datang dan mencandai Punayi dengan menyipratkan air kembang. Tidak lama, Malang Anu pergi. Karena dia kekasih Punayi, kami tidak curiga.”
“Siapa yang bernama Punayi?” tanya Panglima Bidar Bintang sambil memandang wajah-wajah dayang Istana yang menunduk pasrah.
Ada satu dayang yang jadi menangis.
“Hamba, Gusti,” jawab dayang yang menangis ketakutan dengan suara bergetar.
“Untuk apa kekasihmu itu datang ke tempat penyediaan air kembang?” tanya Panglima Bidar Bintang.
“Hahaha-hamba … hamba tidak tahu, Gusti. Kakang Malang tiba-tiba … tiba-tiba datang sambil tertawa kepada kami, lalu dia menciduk air di baskom, kemudian menyiram kepadaku, Gusti. Setelah itu Kakang Malang pergi begitu saja,” jawab Punayi. Dia tergagap, bukan sedang tertawa.
“Ketua, semua prajurit Pasukan Pengaman Putri, termasuk Komandan Ati Urat harus ditangkap,” kata Panglima Bidar Bintang kepada Delik Rangka.
“Tapi pasukan itu ada di dekat Gusti Ratu,” kata Delik Rangka.
“Agar tidak mengacaukan pesta di dalam, kirim pesan saja kepada Gusti Ratu lewat Gusti Prabu,” kata Panglima Bidar Bintang.
Delik Rangka mengangguk tanda setuju.
Sementara itu, di dalam Aula Tahta, pesta berlangsung meriah.
“Hahaha…!”
Terdengar suara gelak tawa hadirin yang begitu ramai, seolah-olah itu bukan suasana resepsi pesta pernikahan.
Memang terdengar suara gendang dan gamelan, tetapi iramanya berbeda. Ternyata, pasangan pengantin yang mulia dan para pejabat hadirin sedang disuguhkan penampilan tunggal seorang pelawak di atas panggung yang tersedia.
“Hahahak…!” Kembali meledak tawa hadirin. Prabu Dira dan Ratu Ani bahkan ikut tertawa kencang, seolah-olah mewakili kebahagiaan mereka yang baru saja resmi sebagai suami istri.
Pelawak yang tampil adalah seorang lelaki paruh baya yang jika melihat wajahnya saja sudah ingin tertawa. Apalagi jika melihat bibirnya yang doer sebawah dan mendengar suaranya yang cempreng. Dia lelaki berhidung pesek dengan hanya mengenakan rompi merah muda tanpa kancing. Jadi, dadanya yang kerempeng dan perutnya yang gendut terlihat jelas. Dia bernama Atemur. Kata bapak kandungnya, kepanjangan dari nama anaknya adalah “Anak Ketemu di Sumur”.
“Kelima pelayan yangAdipati tuduh telah mencuri dan menggoreng belut kesayangannya, lalu dieksekusi dengan pedang pusaka yang bernama Pedang Cipta Perkara!” seru Atemur seperti seorang komika yang sedang stand-up. Dia harus mengeraskan suaranya karena dia melawak di depan lebih dari seratus pejabat, terutama di depan Prabu dan Ratu.
“Hahaha!” tawa rendah pemirsa karena mendengar nama pedang pusaka yang disebut.
“Jangan bunuh aku, Gusti Adipati. Aku belum menikah!” jerit Atemur dengan suara dilengkingkan meniru suara wanita dan berekspresi ketakutan. Lalu katanya lagi dengan suara aslinya, disusul suara serupa perempuan lagi, “Pelayan yang lain berkata, jangan bunuh kami, Gusti. Bagaimana kami bisa mencuri belut Gusti jika belutnya tidak bisa lepas dari perut Gusti?”
“Huahahak…!” Kembali meledak tawa Prabu Dira dan Ratu Ani serta hadirin sekalian saat langsung paham belut apa yang dimaksud.
Di era itu, para pelawak sering menyuguhkan cerita-cerita cabul karena memang tren yang disukai oleh orang kebanyakan, dari bangsawan dan rakyat jelata adalah cerita cabul.
“Sang adipati lalu mengeksekusi ketujuh pelayan wanitanya yang dia tuduh sebagai pencuri. Maka ditusuklah pelayannya satu demi satu dengan Pedang Cipta Perkara. Tusuk. Aaakk! Tusuk. Aaakk! Tusuk. Aaak!” Atemur kembali bernarasi serius.
Sementara itu, para hadirin menunggu joke-joke lucu dari Atemur. Untuk sementara mereka serius mendengarkan.
“Begitu hebatnya Pedang Cipta Perkara, sampai-sampai ketika pedang itu ditusuk, para pelayang itu tidak mati, tapi justru langsung brojol bayi. Tusuk! Aaak! Oeeek! Tusuk! Aaak! Oeeek!”
“Hahahak…!” Meledak tawa Prabu dan Ratu serta para pejabat. Para prajurit jaga yang biasanya tidak boleh terlibat juga ikut tertawa.
Di saat para hadirin tertawa tergelak-gelak, di atas panggung muncul seorang kakek bungkuk berwajah seram yang rambutnya digelung dan diikat dengan rumput. Jubah hijau gelapnya kontras dengan celananya yang lusuh dan compang-camping, bahkan robek-robek, sampai-sampai paha dan cawatnya yang warna kuning terlihat.
Melihat kemunculan kakek yang membawa ranting pohon berdaun hijau itu, tawa mulai reda. Ternyata Atemur tidak main sendiri.
Melihat kemunculan si kakek bercodet dua di wajahnya itu, Atemur jadi terbeliak dan memandangi si kakek yang datang dengan mata mendelik. Sepertinya kakek itu marah.
“Dasar kunyuk mesum! Di sini kau bercerita tentang adipati cabul, tetapi kau tidak bertanggung jawab karena telah mencabuli istriku!” maki si kakek bungkuk lalu memukul kepala Atemur dengan rantingnya, tapi tidak keras.
Sruk! Sruk!
“Hahahak…!” tawa hadirin kembali melihat adegan di atas panggung tersebut.
Penonton jelas mengira, jika Atemur mencabuli istri si kakek bungkuk, pastilah yang dicabuli nenek-nenek. Ditambah Atemur dipukul.
“Hentikan, Kek! Kau siapa? Aku tidak kenal!” teriak Atemur, dia marah sungguhan karena acara panggungnya diganggu oleh orang asing.
Namun, pemirsa yang melihat itu menduga bahwa itu adalah akting Atemur. Kedua orang itu terlihat begitu menjiwai peran mereka.
“Dasar anak sumur! Setelah kau membodohiku dengan memberiku telur ayam busuk yang aku sangka telur bumbu dari negeri jurig, lalu kau mencabuli istriku, kini kau malah pura-pura tidak mengenalku. Mohon ampun, Gusti Prabu….”
Setelah marah-marah kepada Atemur, si kakek bungkuk lalu berbicara kepada Prabu Dira sambil menjura hormat. Perkataan si kakek bungkuk membuat Prabu Dira dan yang lainnya berhenti tertawa, tapi masih menyisakan cengiran di wajah, siap untuk tertawa lanjutan.
“Orang ini telah menodai istri cantikku, harus aku hukum apa dia? Mohon petunjuknya, Gusti,” kata si kakek bungkuk penuh hormat.
Karena meyakini itu hanya lakonan, maka Prabu Dira pun memberi perintah, “Tendang bokongnya!”
“Hahaha!” tawa para pejabat.
Si kakek bungkuk lalu benar-benar bergerak menendang bokong Atemur, sampai-sampai pelawak itu tersungkur di panggung. Adegan itu kian membuat para hadirin tertawa tergelak-gelak.
Karena ditendangi yang tidak sesuai skenario, Atemur buru-buru bangun dan berlari meninggalkan panggung. Prabu Dira dan Ratu Ani serta hadirin sekalian terus saja tertawa.
Kini tinggallah si kakek bungkuk sendirian di atas panggung. Para penonton menunggu apa yang kakek itu akan lakukan untuk melanjutkan lawakan.
“Kakek!” panggil Prabu Dira.
“Hamba, Gusti!” sahut si kakek bungkuk.
“Kau katakan Atemur telah menodai istrimu. Apakah kau bisa hadirkan istrimu dan memberi kesaksian?” tanya Prabu Dira.
“Bisa, Gusti,” jawab si kakek bungkuk yang disangka adalah anggota kelompok penghibur. Dia lalu menengok ke samping dan memanggil istrinya, “Istriku sayang!”
Dari balik dekorasi panggung kemudian muncul sesosok wanita muda cantik yang bertelanjang bahu. Warna kulitnya yang cerah dan bersih memperjelas kecantikannya.
“Rayu Pelangi?” sebut Ratu Ani lirih. Dia terkejut.
Prabu Dira juga terkejut karena dia pernah mengerjai gadis kekasih Pangeran Tirta Gambang itu.
“Putrinya Mahapati Olo Kadita?”
“Rayu Pelangi?”
Ramailah para pejabat yang mengenali gadis yang berjalan lurus dengan tatapan lurus naik ke atas panggung. (RH)