Berprofesi sebagai seorang penulis, Dinara berharap kisah cintanya akan semanis novel yang ditulisnya. Akan tetapi, menemukan seseorang yang tepat tidaklah semudah saat kita menulis cerita. Kisah cinta yang penuh lika-liku membuat Dinara belum juga menikah meski usianya hampir menginjak kepala tiga.
Kehidupan Dinara semakin bertambah kacau saat Mama mulai mencampuri urusan asmaranya. Jika dalam waktu tiga bulan Dinara belum juga mendapatkan lelaki yang tepat, terpaksa dirinya harus menerima pria yang mamanya jodohkan.
© 2023 | Nur Azizah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurAzizah504, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
Dinara mematut penampilannya di depan cermin. Dress merah sebetis dengan bahu transparan dan hells warna senada membuat dirinya terlihat begitu memesona. Tak cukup dengan itu, sapuan make up natural dan rambut tergerai juga ikut mendukung. Malam ini, Dinara menjadi wanita paling cantik sedunia.
Suara klakson mobil terdengar saat Dinara akan mengambil sebuah tas kecil dari dalam lemari. Melirik terakhir kalinya untuk memastikan tak ada cacat cela pada penampilannya, Dinara bergegas keluar.
Dia langsung menutup pintu tanpa mematikan lampu. Karena saat pulang nanti, Dinara tak ingin kegelapan yang menyambutnya.
Sama halnya seperti Dinara, Adam pun terlihat sama tampannya. Laki-laki dewasa dengan seorang putra yang mengisi kursi belakang, terlihat gagah dengan kemeja hitam.
Keduanya saling melemparkan senyuman sebelum mobil yang dikemudikan Adam bergerak membelah jalanan.
"Mau makan di mana, Din?" tanya Adam memecah keheningan.
"Terserah Mas Adam aja. Aku ngikut soalnya."
Jawaban Dinara membuat Adam mau tak mau harus berpikir keras. Keningnya berkerut bingung dengan isi kepala dipenuhi oleh banyak rekomendasi restoran.
"Champ, ada saran tempat gak? Papa bingung, nih." Adam menoleh ke belakang, menunggu jawaban Agam yang terlihat berpikir seperti dirinya.
"Palazzo Kafe." Agam menyebut nama tempat dengan ekspresi datar.
"Itu, mah, kafe punya Papa. Yang lain ada gak? Masa Papa bawa Aunty Dinara ke sana? Kayak gak modal, dong, nanti," gerutu Adam sambil sesekali melirik Agam melalui kaca depan.
"Kalau gitu jangan tanya Agam. Selain Palazzo Kafe, Agam cuma tau sekolah dan rumah. Gak mungkin, kan, kita ke sekolahan malam-malam? Atau tiba-tiba Papa kepikiran buat pulang?"
Adam mendengkus dengan bibir manyun. "Kamu ditanyain malah ngaco."
"Santai aja, sih, Mas. Ke Palazzo Kafe juga gapapa." Akhirnya Dinara ikut bicara setelah tadi memutuskan menjadi pendengar baik bagi keluarga kecil tersebut.
Namun, Adam menggelengkan kepala, kekeh tak ingin membawa Dinara ke sana. Hingga dua detik kemudian, Adam menarik senyum lebar. Dia sudah tahu harus memutar setir ke arah mana.
"Media Kafe?"
Adam menoleh dan raut wajah bingung Agam tampak jelas di matanya. "Ini, tuh, kafe punya temen Papa, Om Dimas. Inget, 'kan?"
Agam mengangguk singkat setelah mengingat sosok bernama Om Dimas. Seingatnya, laki-laki dewasa yang satu ini merupakan perokok berat yang tertawa dengan suara tak kira-kira. Saat berbicara dengan Agam pun, Dimas paling suka mengacak-acak rambutnya. Hal itu membuat Agam merasa kesal. Biar bagaimanapun juga, rambut rapinya adalah salah satu aset yang mesti dijaga.
"Yuk, turun!" ajak Adam dan langsung diindahkan oleh penumpang mobilnya.
Ketiganya berjalan bersamaan dengan Agam menjadi pemisah untuk keduanya. Dalam sekali pandang, siapapun pasti akan berpikir jika mereka adalah salah satu keluarga yang ingin menciptakan momen bersama di tempat ini.
"Duduk di mana, Pa?" tanya Agam ketika menemukan Adam seperti sedang mencari-cari meja kosong di antara keramaian.
"Ke rooftop ajalah, ya. Boleh, kan, Din?"
"Eh, boleh," sahut Dinara setengah terkejut karena asyik mengamati seisi kafe.
Dipimpin Adam, ketiganya menaiki sebuah tangga dan lantai tanpa atap pun lantas terlihat. Di sini pun tak kalah penuhnya, tetapi beruntung masih ada meja kosong di sudut paling kanan.
"Woi, Dam!"
Panggilan yang berasal dari arah belakang menginterupsi Adam yang sedang bertanya menu apa saja yang ingin dipesan oleh putranya. Begitu memalingkan kepala, seseorang dengan kemeja hitam serta celemek kulit cokelat terlihat memamerkan senyum lebar.
Laki-laki itu mendekat. Adam berdiri untuk memeluk dan saling menepuk bahu layaknya sepasang sahabat yang terlalu lama tidak bertatap muka.
"Apa kabar lo? Tumben main ke sini? Udah bosen sama kafe sendiri?" tanya Dimas dengan tawa kencang membuat Agam sampai mendengkus sebal.
Namun, Adam malah ikut tertawa. Walau tak sekencang Dimas, tetapi mampu menarik perhatian beberapa pasang mata. "Pengen nyari suasana baru aja. Sekalian ajak Agam ke tempat yang berbeda. Biar dia tahu tempat yang lain selain rumah dan sekolahan."
"Woi, Gam. Gimana kabarnya? Baik?" Atensi Dimas beralih ke sosok anak kecil yang menatap datar ke arahnya. Itu adalah jenis tatapan yang sama. Baik di rumah maupun di tempatnya sendiri.
"I'm good."
"Dih, sok Inggris banget lo?" cibir Dimas yang dihadiahkan tabokan dari Adam. "Bercanda, Dam. Biar gak tegang amat, nih, bocah," jelasnya kemudian.
Menjeling ke sisi lainnya, kening Dimas dibuat berlipat. Dirinya menemukan seseorang yang tak pernah dilihat sebelumnya. Saat ia memandangi Adam untuk meminta penjelasan, sahabatnya itu hanya memberikan sebuah kalimat yang menyebalkan.
"Gue bawa pengunjung baru ke kafe lo. Namanya Dinara."
* * *
sequel cerita arhan, dong