Bagaimana perasaan mu ketika pria yang kamu tunggu selama hampir sepertiga usia mu ternyata menjalin hubungan dengan sahabat mu sendiri?
Takdir kah? Atau hanya sebuah kebetulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maybelll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Bandara
Dua bulan sudah berlalu sejak Adam mengantarkan ku ke apartment. Tidak ada sesuatu yang spesial yang terjadi pada ku sejak hari itu.
Hari ini aku akan pulang kampung, ke rumah Mama. Kebetulan besok Jumat, hari merah. Jadi aku punya waktu lumayan panjang untuk menikmati weekend ku di rumah Mama.
"Ya ma, ini udah di bandara. Mama tenang aja, gak usah repot repot nyiapin makanan."
".........."
"Oke Mama cantik. Bye"
Aku menghembuskan napas panjang. Aku sampai sudah hafal apa saja yang akan di katakan Mama ketika aku bepergian. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat. Jaga diri. Jaga barang berharga. Jangan melamun selama di perjalanan.
Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. Mama... Mama.. Selalu saja memperlakukan ku seperti anak kecil. Kapan sih Mama menyadari kalau anak nya ini sudah dewasa.
Pukul delapan lewat lima belas menit ketika aku sampai di bandara kota ku. Aku menyeret koper kecil ku keluar bandara. Sekarang aku menyesal, kenapa tadi aku menolak kita mama mengatakan aku akan di jemput Bang Bram.
Naik taksi takut, ojol apalagi. Bus sudah tidak ada lagi jam segini. Harus nya jam tujuh malam pesawat ku sudah mendarat, namun karena tadi delay selama hampir satu jam jadilah aku sampai terlalu malam.
Beberapa tukang taksi datang mendekat menawari ku jasa nya. Namun aku menolak secara halus. Abang Ojol juga silih berganti menanyai ku, tetap juga ku tolak. Sebenar nya aku mau pulang naik apa sih? "Ck! Apa aku telpon Bang Adam aja ya?" ku ambil ponsel dari sling bag ku dan segera menghubungi Bang Bram.
Panggilan pertama tidak di angkat.
Panggilan kedua tidak di angkat.
Dan panggilan ketiga di tolak.
Hufff...
'Kenapa dek? Abang lagi kebaktian pemuda di Gereja'
Uppss.. ternyata Bang Bram sedang kebaktian.
'Gpp Bang. Sorry ganggu'
Tiba tiba datang dua pria yang penampilan seperti anak punk mendekati ku.
"Hai manis. Nunggu jemputan ya? Kita antar aja yok. Jam segini bahaya anak gadis di luar sendirian" Ucapan itu berasal dari anak punk yang celana nya robek robek hingga paha, memakai kalung mirip rantai anj*ng dan rambut gondrong do cat merah api.
Aku menelan saliva ku kasar "Maaf mas, sebentar lagi jemputan saya sampai."
Sialnya aku, aku berdiri di area parkiran khusus mangkal para taksi dan ojol. Jantung ku berdebar kencang, aku takut sekali.
Pria yang satu berpenampilan lebih aneh. Memakai celana hitam sepaha, sepatu cats warna putih yang sudah lebih mirip warna kuning dan rambut nya botak sebelah kanan, namun lurus panjang sebelah kiri. Dia maju selangkah dan berusaha menggapai lengan ku. Aku segera mundur beberapa langkah. Kulirik kanan dan kiri ku, ku lihat beberapa supir taksi dan ojol hanya melihat ku acuh tak acuh.
Aku berusaha meminta bantuan dengan isyarat mata, namun mereka tak peduli. Mungkin mereka kesal karena tadi aku menolak jasa angkutan nya. Tapi kan setidak nya mereka menolong ku demi rasa kemanusiaan.
Pria yang maju selangkah tadi tersenyum sinis. "Kenapa? Lu sok jual mahal karena penampilan kita gini? Gini gini punya kita lebih gede di bandingin pria pria berjas yang lu liat mondar mandir di dalam bandara tadi."
Tuhan tolong aku.
Aku diam, tidak berani bicara.
"Awas aja kalau lu teriak, gua habisin lu" pria bercelana pendek tersebut mengeluarkan pisau cutter dari saku rompi nya.
Kaki ku gemetar dan keringat terasa telah membasahi baju bagian dalam ku. Aku mundur lagi selangkah.
Tanpa kuduga si rambut api mencengkeram erat tangan kiri ku dan mendekatkan wajah nya ke telinga ku "Gak masalah kalau lu gak mau ikut kita, asal lu serahin duit cash sepuluh juta ke kita sekarang juga" dia berbisik.
Sumpah demi apa pun rasa nya aku ingin muntah mencium aroma mulut nya yang berbau rokok campur alhokol. Air mata ku jatuh. Aku ingin teriak. Tapi aku takut pisau itu akan mengenai tubuh ku jika aku teriak.
"Hapus air mata lu!" si celana pendek membentak ku.
Seumur umur aku belum pernah di bentak. Orang orang disekitar ku selalu lembut dan sopan ketika berbicara.
"Rampas aja tas nya ***! Cepetan! Kita gak punya banyak waktu." si rambut api sepertu nya mulai emosi.
Aku menghempaskan tangan ku yang tadi di cengkram dan langsung memeluk sling bag ku. Si celana pendek tidak tinggal diam, dia berusaha menarik tas ku. Dan terjadi lah tarik menarik di antara kami. Si rambut api mengeluarkan pisau cutter dari saku celana dan menggoreskan nya ke lengan kanan ku.
Perih. Rasa nya perih sekali. Tapi aku harus tetap mempertahankan tas ku. Barang berharga ku semua berada di dalam tas ini.
Tali tas ku putus sebelah. Sekarang tas itu tidak lagi menempel di bahu ku sudah berada di antara tangan ku dan tangan si celana pendek.
'Tuhan tolong bantu aku. Aku benar benar dalam bahaya. Tolong kirim malaikat mu untuk menyelamatkan ku.' Aku berdoa dalam hati. Aku tidak lagi mengharapkan bantuan orang orang yang berada di sekitar kami. Aku hanya mengharapkan bantuan Yang Kuasa saat ini.
Tiba tiba si rambut api menampar pipi kiri keras. Sangat keras, sampai aku bisa merasakan sesuatu yang asin di mulut ku.
Badan ku terhuyung ke belakang. Pegangan tangan ku pada sling bag ku terlepas. Habis lah sudah. Semua sudah di rampas oleh dua pria tak punya hati di depan ku.
Sekali lagi, si rambut api kembali menampar ku di pipi kiri, lagi. Aku terjatuh ke lantai. Pandangan ku sampai berkunang kunang karena mendapat tamparan yang sangat kuat.
Aku menunduk dengan rambut yang sudah sangat berantakan menutupi wajah ku. Aku tidak berani mengangkat wajah ku karena kepala ku sangat pusing. Dua pria brengs*k itu pasti sudah membawa lari tas ku. Tamatlah riwayat ku. Dompet, ponsel dan semua kartu kartu berada di dalam sana. Mama maafkan anak mu yang tidak bisa menjaga diri.
Kenapa aku mendengar suara gaduh dan teriakan di dekat ku? Bukan kah tadi nya disekitar ku tidak ada orang selain dua pria brengsek itu? Bukan kah para supir taksi dan ojol sama sekali tak mengeluarkan suara sejak tadi?
Dipikiran ku masih bertanya tanya apa yang sedang terjadi di hadapan ku ketika ku rasakan tubuh ku di peluk seseorang. Pelukan sangat nyaman yang beberapa bulan yang lalu juga ku rasakan.
"Han kamu baik baik aja?"
Adam?
good job Thor 🥰🥰👍👍👍👍👍
lanjutkaan
ngakaakk 🤣🤣🤣🤣🤣
kelapa = kepala
menyalaa Adam 😆😆😆😆🔥🔥🔥🔥
merelakan someone untuk sahabatnya 🥹🥹
kuatt ya Joo