Dahulu, Yin Xiang hanyalah seonggok sampah tidak berguna dan berasal dari keluarga pengkhianat kekaisaran. Kehadirannya bahkan dianggap sebagai pembawa sial bagi setiap orang. Karenanya, Yin Xiang kerap sekali direndahkan dan disiksa.
Suatu hari, Yin Xiang terjatuh ke jurang neraka tanpa dasar. Di sana, Yin Xiang menemukan serpihan jiwa Dewa Kegelapan dan Yin Xiang ditunjuk sebagai penguasa kegelapan berikutnya. Yin Xiang bangkit dan menjadi orang yang kuat. Yin Xiang bertekad membalas dendam semua orang yang sudah menghinanya serta keluarganya. Selain itu, Yin Xiang harus berhadapan dengan kaum vampir yang mengganggu kehidupan manusia.
Bagaimana kisah Yin Xiang membalaskan dendamnya? Apakah Yin Xiang bisa menghadapi para kaum vampir yang datang mengganggu? Ikuti kisah Yin Xiang dalam cerita 'Kembalinya Sang Pendekar Kegelapan'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virisani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Potongan Giok Nirwana
Yin Xiang dan Serigala Perak sudah kembali ke Klan Yin. Mereka tidak peduli bagaimana kondisi di Desa Air Bening saat ini. Yang jelas, Yin Xiang sudah memberikan tabir pelindung bagi semua rakyat yang tinggal di sana. Gadis itu juga tidak mau orang tak berdosa menjadi korban atas rasa dendamnya.
Setelah memberantas para vampir yang ada di sana, Yin Xiang dan Serigala Perak benar-benar langsung kembali. Meninggalkan seratus prajurit elit kekaisaran di ambang kesakitan. Yin Xiang tersenyum puas mengingat hal itu. Prajurit elit kekaisaran ternyata masih bisa dikalahkan oleh pasukannya. Bisa dilihat bukan, perbedaan kekuatan antara Kekaisaran Yu dan Klan Yin?
"Nona, untuk menunjang kebutuhan ekonomi, apakah anda yakin untuk membuka rumah makan?" tanya Liu Ming pada Yin Xiang yang tengah berada di aula rapat. Pemuda itu benar-benar mengabdikan hidupnya untuk Yin Xiang dan Klan Yin. Ah, Liu Ming juga sudah membawa ibunya dari Klan Liu ke Klan Yin.
Yin Xiang mengetukkan jari telunjuknya di meja. Gadis itu menatap lurus dinding aula. Yin Xiang memikirkan sebuah usaha yang akan membuahkan hasil memuaskan untuk memenuhi kebutuhan Klan. Yin Xiang berkata, "Ya. Kita coba buka rumah makan lebih dulu. Liu Ming, kau atur saja bagaimana. Selain itu, Klan Yin juga dikenal sebagai pembuat senjata yang handal. Apa ada orang yang bisa menempa senjata di sini?"
"Ada, nona. Salah satu pemuda yang datang bersama rombongan kemarin, dia dan keluarganya adalah pandai besi yang mumpuni. Saya menjamin itu. Apa nona akan meminta mereka untuk membuat senjata?" Yin Xiang menganggukkan kepalanya. Tidak ada salahnya meminta orang-orang yang ikut dengannya untuk bekerja. Selain mereka menghasilkan untuk diri mereka sendiri, mereka juga bisa menyalurkan beberapa persen untuk klan.
"Liu Ming, kau atur saja bagaimana baiknya. Laporkan padaku setiap minggu tentang perkembangannya. Jangan sampai klan kita menjadi klan yang miskin. Bagaimana dengan anak-anak yang memiliki bakat kultivasi? Apa mereka sudah mulai dilatih?" tanya Yin Xiang lagi.
Liu Ming menganggukkan kepalanya, "Sudah, nona. Ada sekitar 20 orang anak dari rentang usia 10 sampai 14 tahun yang memiliki bakat itu. Yang lebih mengejutkannya, mereka termasuk anak-anak jenius. Beruntung kita bisa menarik mereka masuk ke Klan Yin." Liu Ming berkata dengan penuh kebanggaan. Membuat senyum miring terbit di bibir Yin Xiang. Tidak sia-sia ternyata mengumpulkan orang-orang dari berbagai daerah. Ada berlian yang berhasil dibawa pulang oleh Yin Xiang.
"Pantau terus mereka. Ah, beritahu paman Ling Feng untuk melapor tentang pergerakan di istana juga di lima kediaman klan besar. Aku tidak sabar untuk kembali bermain dengan mereka," Yin Xiang menyeringai. Aura gelapnya sedikit menguar.
Walaupun sudah cukup lama bersama, Liu Ming masih tidak nyaman dengan aura gelap yang dikeluarkan Yin Xiang. Rasanya Liu Ming seperti tengah berhadapan dengan sosok menakutkan. Padahal yang di depannya hanyalah gadis remaja yang berusia 17 tahun.
Setelah berbincang dengan Liu Ming, Yin Xiang melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Ruangan yang memiliki banyak kenangan manis di dalamnya. Yin Xiang menghela napas berat. Pintu ruangan itu sudah terlihat di depannya.
Yin Xiang berhenti melangkah tepat di depan pintu ruangan itu berada. Dia menghela napas berulang kali. Menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. Dengan mata yang tertutup, Yin Xiang mendorong pintu ruangan itu agar terbuka.
Semilir angin menerpa wajah Yin Xiang. Gadis itu menghirup aroma ruangan yang berhasil membuatnya tenang. Sekelebat ingatan melintas di benaknya. Gadis itu meremat hanfu yang dikenakannya dengan erat. Dengan langkah pelan, Yin Xiang mendekati kasur yang ada di tengah-tengah ruangan.
"Ayah, Ibu," lirih Yin Xiang. Nada suaranya bergetar. Gadis itu tengah menahan Isak tangis yang ingin keluar. Matanya sudah berkaca-kaca. Yin Xiang menggertakkan giginya, menahan diri untuk tidak runtuh di kamar milik mendiang orang tuanya.
Yin Xiang merebahkan dirinya di kasur besar itu. Matanya terpejam rapat. Satu tetes air mulai mengalir di pipi gadis cantik itu. Dan pada akhirnya, buliran-buliran bening itu berlomba-lomba untuk keluar. Membanjiri wajah Yin Xiang.
"A-Xiang janji. A-Xiang janji akan mendapatkan keadilan untuk ayah, ibu dan semua leluhur. A-Xiang janji akan membersihkan nama Klan Yin yang sudah kotor. A-Xiang akan membalaskan dendam kalian. Tolong, doakan A-Xiang, kuatkan A-Xiang," runtuh sudah pertahanan Yin Xiang. Gadis itu tidak bisa menahan sesak yang bertumpuk di dadanya. Sekuat apapun Yin Xiang mempertahankan hatinya agar tidak rapuh, tapi, Yin Xiang juga manusia dan seorang gadis yang memiliki batas lelah.
Yin Xiang menutup wajahnya dengan tangannya. Berusaha menenangkan diri yang terlarut dalam kesedihan sesaatnya. Kamar mendiang orang tuanya ini, cukup memiliki kenangan yang bisa diingat oleh Yin Xiang. Walaupun cukup kabur, Yin Xiang masih bisa mengingat bagaimana rupa orang tuanya.
Setelah puas mencurahkan segala emosinya, Yin Xiang mengusap wajahnya kasar. Dia memposisikan diri duduk sila. Gadis itu menghela napas panjang. Dengan posisinya itu, Yin Xiang memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya, Yin Xiang berkultivasi di kamar mendiang kedua orang tuanya.
Baru saja Yin Xiang memfokuskan aliran tenaga di seluruh tubuhnya, Yin Xiang kembali membuka matanya. Gadis itu merasakan ada aura yang sangat kuat di sana. Yin Xiang mengernyitkan dahinya bingung. Ini bukan aura milik seseorang, melainkan aura dari sebuah benda yang Yin Xiang tidak tahu apa.
Gadis itu memejamkan matanya dan mencoba merasakan keberadaan aura kuat itu. Semakin Yin Xiang merasakan auranya, semakin dia merasakan aliran tenaganya meningkat. Yin Xiang membuka matanya perlahan. Dia turun dari kasur, berjalan mengelilingi kamar orang tuanya demi aura kuat itu.
Yin Xiang berjalan mendekati meja rias milik ibunya. Gadis itu bisa merasakan aura yang semakin menguat berasal dari sana. Yin Xiang menyentuh permukaan cermin yang menampilkan bayangan wajahnya sendiri. Gadis itu terkesiap saat jarinya terasa menghangat. Sepertinya, aura kuat ini berasal dari balik cermin rias milik sang ibu.
Yin Xiang mengarahkan tangannya menuju belakang cermin. Dahinya mengernyit heran saat merasakan ada bagian permukaan belakang cermin yang berbeda dengan bagian yang lain. Yin Xiang seolah bersentuhan dengan sebuah giok yang memiliki permukaan sangat halus. Gadis itu langsung mencabut benda yang tertancap di bagian belakang cermin. Seketika, aura kuat dan rasa hangat langsung terasa oleh tubuhnya. Bahkan, aliran tenaganya seperti ditambah secara paksa.
Yin Xiang memandangi sebongkah giok berwarna putih bersih di tangannya. Keningnya masih berkerut. Dia memandangi giok di tangannya dengan seksama. Aura kuat itu benar-benar berasal dari bongkahan giok. Saat dilanda rasa bingung tentang giok itu, pintu kamar orang tuanya terbuka.
"Nona-" Liu Ming yang tadinya akan berbicara langsung mengatupkan mulutnya. Matanya bahkan melotot tak percaya. Liu Ming dengan gemetaran menghampiri Yin Xiang.
"N-no-nona, dari mana anda mendapatkan ini?" tanya Liu Ming dengan terbata sambil menatap giok di tangan Yin Xiang.
Yin Xiang mengernyitkan dahinya, "Liu Ming, kau tahu giok ini?"
Liu Ming menatap Yin Xiang tak percaya, "Nona, anda tidak tahu ini apa? Astaga!"
Yin Xiang menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu sebenarnya tidak memperdulikan benda yang ada di tangannya. Hanya saja, dia cukup penasaran dengan aura kuat yang dimiliki giok putih itu.
"Nona, ini adalah potongan dari Giok Nirwana. Giok yang melegenda itu. Anda sungguh tidak tahu? Saya mengetahuinya dalam sebuah buku kuno saat masih di Klan Liu. Buku kuno itu tidak sengaja saya temukan di bagian pojok yang tidak pernah terjamah oleh siapapun di perpustakaan Klan Liu. Saya masih ingat persis bagaimana bentuknya. Dan salah satunya, seperti yang tengah anda pegang, nona," jelas Liu Ming.
Yin Xiang cukup terkejut mendengarnya. Namun, seringai yang membuat Liu Ming bergidik terbit di wajahnya.
'Aku rasa, nona memiliki rencana mencengangkan lainnya. Kuharap kali ini rencananya tidak terlalu sulit dan tidak berhubungan dengan darah' batin Liu Ming.
"Liu Ming, lemparkan dadunya. Ayo, kita mulai permainan sesungguhnya"
***
saling dukung yukk
mending cetak aja mukamu di koin atau lembaran mata uang
dijamin, semua orang bakal kenal