(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)
Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Halaman ~
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...
Pagi ini terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Menunggu bukanlah hal yang mudah, apalagi saat perut sudah mulai protes karena belum diisi, sementara Abyan belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Sarapan yang telah disiapkan Zahra perlahan kehilangan kehangatannya.
Zahra sesekali melirik ke arah pintu kamar Abyan, berharap lelaki itu segera keluar.
Ceklek...
Suara pintu akhirnya terdengar.
Zahra refleks menoleh, dan seketika terdiam. Pemandangan di hadapannya seperti menyuguhkan menu sarapan lain yang tak kalah menggugat selera.
Penampilan Abyan pagi ini begitu rapi dan berkelas. Kemeja putih yang dipadukan dengan rompi biru dongker, lengkap dengan dasi panjang berwarna biru muda bercampur putih.
Celana senada membalut tubuhnya dengan rapi. Rambutnya dipotong pendek dan tersisir rapi ke samping, dengan sisi yang lebih tipis sehingga memberi kesan bersih, tegas, dan elegan.
Aura seorang direktur utama benar-benar terpancar jelas.
Abyan berjalan mendekat dan duduk seperti biasa. Mereka saling berhadapan di meja makan.
“Mas mau kemana? Bukannya kemarin ngomong kerja dari rumah sampe satu atau dua minggu. Ini baru enam hari loh, Mas?” Zahra dengan cepat mengisi piring Abyan.
“Mas mendadak ada kerjaan di Jogja, Ay. Nggak bisa di wakilin siapa pun. Kemungkinan besok Mas baru bisa balik. Kamu nggak apa-apa kan sendirian di rumah?”
Zahra hanya mengangguk ringan. “Nggak apa-apa, Mas.” Ia meletakkan piring yang sudah terisi penuh di hadapan Abyan.
“Apa minta Falisha aja ya tinggal di sini untuk temani kamu malam ini.” Abyan menawarkan solusi.
“Nggak usah Mas, kasihan juga Falisha. Siapa tau dia mungkin banyak kerjaan. Lagian Mas juga cuma semalam."
Abyan mengangguk pelan.
Zahra menahan senyum tipisnya. Dalam hati, ada rasa lega yang tak bisa disembunyikan. Setidaknya untuk satu hari ke depan, ia bisa menikmati waktu sendirian di rumah dengan lebih bebas.
...***...
Zahra menghela napas panjang begitu tiba di rumah. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya setelah seharian bekerja masuk pagi dan baru pulang menjelang sore. Rasa lelah perlahan tergantikan oleh ketenangan yang jarang ia rasakan.
Hari ini terasa berbeda. Rumah yang biasanya terasa berat, kini justru memberikan suasana damai. Ketiadaan Abyan membuatnya merasa lebih bebas, seolah tidak ada beban yang menekan.
Ia duduk di atas ranjang setelah melepas pakaian kerjanya, kini hanya mengenakan tank top dan celana pendek berwarna putih.
Tubuhnya akhirnya bisa benar-benar beristirahat sambil bersandar santai, ia mengambil ponselnya dan mulai bermain.
Tak lama, notifikasi dari grup sahabatnya muncul.
“Ra... kata Mas Abyan lo sendirian di rumah ya?” tanya Falisha.
“Memangnya pak suami kemana, Ra?” tanya Mika.
“Mas Abyan lagi ke Jogja, ada kerjaan.” Zahra membalas singkat.
“Lo mau gue temani nggak? Tapi tunggu gue balik kerja, baru ke tempat lo.” Mika yang sedang shift sore.
“Gue juga mau temani lo, Ra. Paling sedikit telat sih. Sorry.... banyak banget kerjaan gue hari ini,” ucap Falisha.
Zahra tersenyum kecil membaca pesan mereka. “Kalian nggak usahlah ke tempat gue. Lagian gue juga bisa jaga diri kok. Hari ini gue mau menikmati hidup, kaliankan tau kalau gue perdana tinggal di rumah sendirian,” balasnya.
“Oke, selamat menikmati,” ucap Mika.
“Awas... hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa langsung telepon gue atau Mika. Nggak usah mas Abyan, entar dia langsung terbang malam ini juga pakek jet pribadi, khawatir sama istrinya. Kasihankan... mana banyak banget kerjaan dia di perusahaan, ini aja gue nggak bisa handle,” ucap Falisha.
Zahra menjadi bersalah. Ia akhir-akhir ini sepertinya banyak mengganggu Abyan. “Dia sih... pakek acara nikahin gue,” gerutunya.
Zahra pun kembali membalas pesan sahabatnya itu. “Kalian tenang aja. Gue tau tempat kok.” ia tersenyum tipis sebelum meletakkan ponselnya.
Zahra pun bangkit dari tempat duduknya. Rasa malas mulai tergantikan oleh niat untuk menyegarkan diri.
Lebih baik mandi terlebih dahulu, setelah itu ia bisa menyiapkan makan malam, menikmati waktu tenangnya dengan cara sederhana, tapi terasa begitu berharga.
...***...
Suara nyanyian asal-asalan terdengar memenuhi ruangan.
“Nana... Huhuhu.. Hihihihi...”
Zahra bernyanyi sekenanya, yang penting suasana hatinya sedang baik. Setelah menunaikan salat isya, ia langsung menuju dapur. Sebelumnya ia sempat ke supermarket untuk membeli ikan.
Ia membayangkan menu sederhana hari ini. Ikan goreng, sayur bayam, dan sambal terasi.
“Mmm... nggak sabar banget gue mau makan.” ia pun mengelus perutnya yang terus-menerus keroncongan. “Sabar ya perut, tuanmu ini sedang memasak. Jadi... tunggulah sebentar.”
Zahra sempat-sempatnya menari sembari memasak, bahkan sempat bergoyang kecil. Spatula di tangannya ikut bergerak mengikuti irama imajinasinya. Hidup terasa begitu damai, pikirnya.
Tak lama, ia menyalakan televisi. “Mau liat muka oppa-oppa dulu.”
Perhatiannya langsung tertuju pada sebuah film yang tampak familiar.
“Wah... ini kayaknya film yang kemarin tampil di bioskop deh, belum sempet gue nonton. Lihat dulu sebentar, penasaran juga sama alur ceritanya.”
Ia mulai fokus menonton sambil sesekali melirik masakannya.
“Oh si cewek di tabrak lari. Eh... kenapa jadi ingat sama omongan mas Abyan ya, kalau gue pernah tabrak dia. Apa lewat alam gaib gue tabrak dia di jalan?”
Zahra terkekeh sendiri. “Membayangkan posisi apa yang pas menabrak mas Abyan. Terlentang kah, miring kah, oh... kepala dibawah kaki diatas ya,” Zahra semakin tertawa puas. “Dia bener-bener buat gue pusing.”
Namun tiba-tiba hidungnya mencium sesuatu yang tidak beres. “Kenapa bau-bau sangit ya?” seketika matanya membelalak.
“Astaghfirullah... emak...” Ia berlari cepat ke dapur. “Ya Tuhan... kenapa bentuknya hitam begini, matikan dululah apinya,” gumamnya.
Dengan panik, ia mematikan kompor lalu mengangkat wajan menggunakan lap dan membawanya ke tempat cuci piring.
Cheees...
Suara uap panas terdengar saat wajan panas tersiram air.
Zahra menarik napas lega. “Beruntung sang kaisar nggak di rumah. Kalau dia ada... habislah gue.”
Zahra bergegas mengipasi ruangan dengan hijab sambil membuka jendela agar asap dan bau gosong keluar. Setelah keadaan agak membaik, ia mulai membersihkan dapur.
Ia pun menghela napas panjang. “Ujung-ujungnya pesan makanan online nih. Tau begini... enak pesan dari awal. Duh... mana perut dari tadi demontrasi lagi.” Ia menutup jendela.
Blam!
Lampu tiba-tiba mati.
“Kenapa hari ini gue malah sial banget sih, seharusnya gue hidup tenang dan bahagia.” kesalnya. Ia pun melihat ruangan yang menjadi gelap gulita.
“Masa apartemen semahal ini bisa mati lampu sih?” Zahra berpikir keras, namun otaknya berkerja cukup jauh. “Jangan-jangan gue dalam bahaya.”
Zahra langsung mengenakan hijabnya. Ia bergeser pelan mencari sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri. “Dapat!Kebetulan ada kuali gosong tadi. Gue ambil dulu buat jaga-jaga, siapa tau benar adanya maling, atau ada orang yang ingin berbuat jahat sama gue.”
Dengan langkah hati-hati, ia berjalan dengan jantungnya berdegup kencang. “Jujur... ini sangat menebarkan paru-paru gue.”
Ia mencoba menenangkan diri.
“Tenang Zahra... tenang. Lo harus yakin, bahwa semua bisa terselesaikan. Lo juga pernah ikut latihan secara diam-diam silat tusuk langit yang bisa melumpuhkan lawan jenis dengan satu gerakan aja. Ya... gue harus lakukan itu.”
Tiba-tiba pintu bergerak pelan. Zahra spontan terkejut, benar saja dugaannya itu. Pasti semua sudah di rencanakan oleh orang-orang yang ingin berniat jahat dan mempunyai sifat iri dengki, pikir Zahra kembali.
Ia bersiap menyerang.
“Lagian jika itu mas Abyan yang datang, nggak mungkin. Dia kan masih di Jogja,” ucapnya dalam hati.
Pintu perlahan terbuka. Bayangan seorang lelaki masuk.
“Demi apapun... ini bener-bener mendebarkan, ayo semangat Zahra...”
Ia mengangkat kuali dan yakin, itu bukan Abyan. Dari segi tingginya saja di bawah Abyan, sekitar batas telinga sedikit. Walaupun beberapa sentimeter mungkin bisa sama dengan Abyan.
Begitu sosok itu melangkah masuk—
“Hiyaa....”
Prang!
Kuali menghantam kepalanya.
Zahra makin panik. “Ternyata dia masih sadar,”
Prang!
Pukulan kedua mengenai wajahnya lelaki itu.
Bruk!
Lelaki itu jatuh tak sadarkan diri.
“Kayaknya dia udah nggak sadar.” Zahra pun menunjuk lelaki itu dengan kualinya. “Ini akibatnya lo main masuk dan mau nyelakain gue.”
Zahra menghela napas lega. Walaupun begitu napasnya terasa ngos-ngosan.
Akan tetapi ia merasakan di belakangnya seperti ada seseorang lagi.
Tanpa pikir panjang,
Prang!
Tring!
Lampu tiba-tiba menyala.
Zahra membeku dengan mulutnya terbuka lebar. “Mampus gue...” di hadapannya Abyan. Wajah lelaki itu menghitam, hidungnya mengeluarkan darah segar.
Brak!
Abyan ambruk.
“Tamatlah riwayat gue.”
Panik mulai menyerang.
“Gimana kalau terjadi sesuatu dengan mas Abyan, bisa-bisa oma nggak akan tinggal diam.”
Ia bergegas menolong. Namun saat hendak bergerak, “Aduh...” kakinya tersandung tubuh orang lain.
Zahra pun melihat ke bawah. Kaki laki-laki tadi. Ia pun semakin panik. Jika dihadapannya Abyan, lantas, siapa dibawah kakinya.
“Aaaaa...” Zahra terkejut setengah mati. “Dok—Dokter Idris...” Ia pun hampir kehilangan kesadaran. “Kepala gue... kepala gue kayak udah duluan berdenyut heboh. Kira-kira... gue masih hidup nggak ya... malam ini,” ucapnya dalam hati sembari memegangi kepalanya.
Dengan sisa tenaga, ia menyeret keduanya ke sofa. Nafasnya terengah, entah karena berat badan mereka atau paniknya sendiri. Ia mengambil tisu basah dan mulai membersihkan wajah mereka.
“Gue enggak boleh ketawa... tahan.” Ia mengelap darah di hidung Abyan dengan hati-hati. “Ya Tuhan... kuat banget pukulan gue tadi... sampe lecet di hidung mancungnya.” tangannya saja sedikit gemetar saat menempelkan plester.
“Tapi... kalau di perhatikan dari dekat begini... mas Abyan kayak nggak ada dosanya sedikitpun, dia benar-benar sempurna.” Zahra terpaku sejenak. “Apalagi bibir merah jambunya ini, menggoda iman gue banget.” pikirannya sempat melayang.
“Ah... gue nggak boleh terhanyut dengan wajahnya ini.”
Ia langsung mengalihkan perhatian ke Idris. Membersihkan wajahnya dan menempelkan plester. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.
Saat bersama Abyan, tangannya gemetar, jantungnya berdebar. Tapi dengan Idris, biasa saja.
“Gue kayaknya lebih takut sama mas Abyan deh.” Ia menghela napas panjang. “Ah sudahlah... mungkin juga gue terbawa suasana.”
Ia menatap keduanya, lalu menelan ludah.
“Gue pengen banget lari duluan sebelum mereka sadar.” Zahra menghela napas lelah. “Tuhan... bantulah hambamu ini.”
Pikirannya semakin kacau. “Gimana ya... kalau dokter Idris tau gue ada di sini? Apalagi udah jadi istri mas Abyan?” Zahra pun terdiam, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...