Setelah lima tahun berlalu, takdir cinta mempertemukan mereka kembali. Sayang, wanita yang disebut gadis purple olehnya saat menjalani kasih dahulu dan sangat dicintai Azka memilih mengganti identitasnya. Cinta yang begitu kuat dalam diri Azka, tak akan bisa dibohongi. Kenapa dan apa alasannya, wanita yang dulu dicintai kini begitu tak ingin bersamanya kembali. Rahasia apa yang dia sembunyikan, hingga Azka harus berjuang mencari tahu kebenarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emmy Liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia benar iblis
Panggilan telepon dengan penyelidik swasta itu berakhir secepat dimulainya.
"Jual," kata Azka, suaranya serak, mengulangi perintah terakhirnya. "Jual semuanya. Aset di Swiss, di Cayman. Aku tidak peduli harganya. Aku butuh uang cair."
Dia mematikan telepon itu. Ponsel yang tadinya berisi seluruh kerajaan bisnisnya, kini hanyalah alat untuk satu tujuan.
Azka berdiri sejenak di tengah kekacauan Terminal 3. Orang-orang masih menatapnya, beberapa berbisik, beberapa merekam. Dia tidak peduli. Dia melihat pantulan dirinya di kaca tempat dia memukul tadi. Seorang pria hancur berantakan, kemejanya kusut, tangannya berdarah.
Tapi di matanya, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang telah mati selama lima tahun terakhir, kini menyala kembali.
Tawa serak dan pahit keluar dari tenggorokannya.
Bangkrut.
Daniel mengira ancaman itu akan menghentikannya. Nyonya Farida mengira ancaman itu akan membuatnya kembali berlutut. Mereka salah.
Apa itu perusahaan? Apa itu aset? Apa itu nama Aditama?
Itu semua adalah rantai. Rantai yang Nyonya Farida pakaikan padanya saat dia menariknya keluar dari penjara. Rantai emas yang ia pakai dengan sukarela, berpikir itu adalah baju zirah untuk balas dendam.
Sekarang dia sadar. Rantai itu adalah bayarannya. Bayaran untuk menutup mulut. Bayaran untuk melupakan. Bayaran untuk mengabaikan instingnya sendiri.
Dan dia telah kehilangan segalanya justru saat dia memiliki segalanya.
Sekarang, dia tidak punya apa-apa. Dan ironisnya, dia merasa lebih bebas dari kapan pun.
"Ambil," bisiknya pada angin bandara, seolah berbicara pada Farida. "Ambil perusahaan itu. Ambil rumah itu. Ambil saham-saham itu. Semuanya racunmu."
Dia tidak takut kehilangan apa yang bisa dibeli. Karena apa yang benar-benar berharga—wanita yang dia cintai, dan putranya yang tidak pernah dia tahu—telah dicuri darinya saat dia dibutakan oleh kekayaan palsu itu.
Urusan perusahaan. Urusan balas dendam pada Farida. Urusan dengan Daniel dan ibunya. Semuanya bisa menunggu. Itu semua adalah kebisingan.
Satu-satunya yang penting adalah keheningan di dalam pesawat yang sedang menembus awan itu. Satu-satunya yang penting adalah Reykjavik.
Dia tidak bisa mengejar mereka sebagai Azka Aditama. Farida akan mengawasinya. Farida akan memblokir paspornya, membekukan rekeningnya atas nama itu.
Azka berjalan keluar dari terminal, meninggalkan mobil sportnya yang terparkir sembarangan tanpa menoleh ke belakang. Dia berjalan ke antrean taksi biasa, mengabaikan tatapan sopir taksi pada penampilannya yang kacau dan tangannya yang berdarah.
"Jalan," katanya, memberikan alamat sebuah apartemen safe house yang hanya diketahui olehnya dan penyelidik swastanya.
Di dalam taksi, dia mengirim pesan terakhir ke penyelidiknya. "Bukan atas nama Azka Aditama. Aku butuh identitas baru. Paspor palsu. Apa saja. Aku harus keluar dari negara ini malam ini."
Pesan balasan datang seketika. "Sudah disiapkan. Aset pribadimu di luar negeri cukup untuk memulai perang, Tuan. Identitas baru: Adam. Tiket ke Kopenhagen, transit dari sana. Uang tunai dan dokumen akan menunggu di safe house."
Azka menutup matanya. Dia bukan lagi CEO Azka Aditama. Dia adalah Adam. Seorang ayah yang akan mengambil kembali putranya.
Di Ruang VIP Hotel
Kekacauan di ballroom telah diredam. Para tamu telah diusir secara halus dengan alasan "insiden darurat keluarga".
Di ruang VIP, Nyonya Gloria menangis tersedu-sedu. Daniel berdiri di dekat jendela, wajahnya pucat pasi, menatap layar ponselnya yang menunjukkan grafik saham Aditama Group yang menukik tajam.
Bianca sudah dibawa pulang, dibius penenang.
Hanya Nyonya Farida yang duduk tenang di tengah badai. Dia sedang menelepon pengacaranya.
"Ya, tutup semua aksesnya. Rekening perusahaan, kartu kredit pribadi atas nama perusahaan. Semuanya. Laporkan dia sebagai 'tidak stabil secara mental' kepada dewan. Kita akan mengambil alih."
Dia menutup telepon dan menatap Gloria dan Daniel.
"Pilihan yang sangat bodoh," kata Farida, lebih pada dirinya sendiri. "Dia pikir dia bisa kabur begitu saja."
"Nyonya..." isak Gloria. "Ini... ini pasti salah paham. Azka sedang tidak sehat. Biarkan saya bicara padanya..."
"Bicara?" Farida menatap Gloria dengan tatapan menghina. "Kau sudah bicara. Dan dia menutup teleponnya. Dia memilih wanita jalang itu daripada keluarganya sendiri. Daripada perusahaannya."
"Kita hancur," bisik Daniel, masih menatap ponselnya. "Semua yang aku bangun... dia menghancurkannya dalam satu jam."
"Belum," kata Farida. Dia berdiri. "Kita masih punya satu kartu truf."
"Apa?" tanya Daniel, putus asa.
Farida tidak menjawab. Dia malah memberi isyarat kepada dua pengawal bertubuh besar yang berjaga di pintu. "Waktunya istirahat."
Nyonya Gloria dan Daniel saling pandang, bingung.
"Apa maksudmu, Farida?" tanya Gloria, mencoba menghentikan isak tangisnya. "Kita harus pulang. Kita harus..."
"Kalian tidak akan pulang," kata Farida, suaranya dingin. "Azka sedang labil dan berbahaya. Dia telah dihasut oleh wanita itu."
Pintu di belakang mereka terbuka.
"Kalian berdua," lanjut Farida, "Akan menginap di salah satu properti saya. Di Puncak. Untuk sementara waktu."
Mata Daniel membelalak ngeri. Dia akhirnya mengerti. "Anda... Anda tidak bisa melakukan ini."
"Aku bisa, dan aku sudah melakukannya," desis Farida. "Kalian adalah jaminanku. Azka pikir dia bisa pergi? Dia salah. Dia pikir dia tidak punya apa-apa lagi? Dia lupa."
"Ini penculikan!" teriak Daniel, mencoba mundur, tapi para pengawal sudah bergerak cepat.
"Ini perlindungan," ralat Farida. "Perlindungan aset. Azka akan kembali. Oh, dia pasti akan kembali. Saat dia sadar dia tidak punya uang, tidak punya kekuasaan, dan dia ingat bahwa ibu dan adik yang sangat 'dicintainya' ada di tanganku."
"TIDAK! FARIDA! TOLONG!" jerit Gloria saat seorang pengawal memegang lengannya.
"Azka benar..." bisik Daniel, wajahnya pucat karena syok dan penyesalan yang terlambat. "Kau memang iblis..."
"Bawa mereka," perintah Farida, membalikkan badan, mengabaikan jeritan Gloria. "Pastikan mereka nyaman. Tanpa ponsel. Tanpa koneksi internet. Mereka adalah 'tamu' saya sekarang."
Farida berjalan ke jendela besar, menatap Jakarta yang mulai gelap. Dia kalah dalam pertempuran hari ini. Bianca dipermalukan. Tapi perang masih panjang.
"Kau boleh lari, Azka," bisiknya. "Tapi kau tidak bisa bersembunyi. Kau akan kembali padaku. Kau akan merangkak kembali. Dan saat itu, aku akan memiliki semuanya. Termasuk anak haram itu."