NovelToon NovelToon
Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Romansa / Tamat
Popularitas:708.6k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kim99

Ini adalah spin off dari novel The Veil Of Eileria. Jadi jika ingin tahu masa lalu Bara sebelumnya seperti apa, bisa tengok novel tersebut. Tapi jika tidak pun tidak apa, paling keblinger dikit. 🤭

Nabila, seorang janda dengan prestasi yang luar biasa di bidangnya harus menelan pil pahit ketika dia bersinggungan dengan seorang bos besar. Selama lima tahun dia hidup hanya mengandalkan uang tabungan hingga uang itu tergerus habis.

Di saat yang sama, Nabila menerima fakta buah hatinya yang mengidap penyakit bawaan harus segera mendapatkan donor ginjal dan melakukan operasi. Nabila sudah mencoba untuk mencari pinjaman. Namun sayang, tidak ada yang mau meminjamkannya uang.

Hingga, pada suatu malam dia dipertemukan dengan orang dari 5 tahun silam. "Tidur dengan ku untuk satu malam, maka aku akan memberikan kehidupanmu yang sebelumnya." _ Bara

"Nikahi aku walau hanya untuk satu malam. Setelah itu, kau boleh menceraikan-ku." _ Nabila

Follow Ig Author: @anita_hisyam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Akad Nikah

"Sah!"

Bara terbengong ketika Ezra mengatakan itu setelah menjabat tangannya. "Semudah itu?" tanya Bara masih tidak percaya.

"Iya ... Papa udah ngapalin belapa lama? Ezla aja yang ngapalin lagu potong bebek angsa lama, Pa!"

Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia memang sudah belajar lama tentang lafadz akad ini. Tentu saja dia sangat menggebu, karena dia akan menikah dengan wanitanya, Bara benar-benar antusias dan mempersiapkan ini dari jauh-jauh hari. Bara tidak ingin pelenga-pelongo saat ijab dilakukan.

"Jadi, Papa udah siap untuk menikah dengan Mama?" tanya Ezra dengan wajah berbinar.

"Siap, dong Za!" kata Bara antusias.

....

Nabila menitikkan air mata stelah semua saksi mengucapakan satu kata yang menandakan jika dia telah resmi menjadi istri dari laki-laki yang ada di depannya. Paman Purnomo yang menjadi wali nikahnya menatap ke arah Nabila dengan tatapan bangga. Siapa yang tidak bangga jika memiliki keponakan istri dari seorang bos besar.

"Alhamdulillah ... akadnya berjalan dengan lancar. Pak Bara sepertinya sudah bekerja sangat keras untuk bisa mewujudkan pernikahan ini." Ustadz Faisal menatap Bara dengan senyum penuh arti.

Bara tidak menjawab, dia hanya menunduk. Melirik ke arah Nabila yang juga sedang menunduk dengan linangan air mata. Berbanding terbalik dengan Nabila, semua orang yang ada di sana merasa sangat bahagia. Mereka berharap jika pernikahan ini akan menjadi awal yang baik untuk keduanya. Meskipun Bara dan Nabila belum mengungkap pernikahannya mereka ke publik, mereka berharap jika semuanya akan selalu baik-baik saja.

....

"Bobok ya Sayang, ini sudah malam," kata Nabila mengecup kening Ezra kemudian menyelimuti bocah kecil itu.

"Terlima kasih, Mama!"

"Terima kasih untuk apa?" tanya Nabila menatap anaknya lekat.

"Terlima kasih kelana Mama sudah membelikan Ezla Papa Bala. Papa Bala olang baik. Mama jangan malahin Papa Bala telus ya!"

Nabila tersenyum, tangan wanita itu terulur mengusap kepala anaknya dengan usapan yang sangat lembut. "Ezra seneng punya Papa?"

Lagi-lagi bocah kecil itu mengangguk. Dia menatap Nabila dengan mata berbinar-binar. "Ezla senenggggg banget, Ma. Apalagi Papa Bala itu sayang banget sama Mama. Mama jangan nangis-nangis lagi, ya. Kalau ada apa-apa, Mama ngomong sama Ezla, kalau enggak sama Papa. Kita akan jaga Mama dengan baik. Mama jangan beles-beles telus. Ezla gak suka kalau Mama sedih."

Nabila memalingkan wajahnya. Dia mengusap buliran air mata yang menyeruak memaksa untuk keluar meskipun sudah dia larang. "Mama juga sayang sama Ezra. Sekarang Ezra bobo ya Nak. Besok kita ngobrol lagi!"

Nabila keluar dari kamar itu seraya memegangi dadanya yang sangat sesak. Bagaimana ini, bagaimana jika setelah beberapa malam Bara akan membuangnya ke jalanan. Bagi Bara, akan sangat mudah mengingkari janji. Nabila mungkin bisa menerima jika dia hanya dijadikan pemuas nafsu laki-laki itu. Namun, bagaimana dengan Ezra, bagaimana jika Ezra tahu jika Bara hanya akan menjadi ayahnya untuk beberapa malam saja.

"Ya Allah ... bagaimana ini? Apa yang harus hamba lakukan?" gumam Nabila dengan mata terpejam. Wanita itu menangis dalam diam. Dia melirik ke arah pantry, dan di sana masih nayak cucian kotor yang harus dia bersihkan. "Semoga bisa mengurangi kegelisahan ku," kata Nabila.

Jam di atas dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, Nabila menatap pintu kamarnya dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Ya Tuhan, dia sudah menjadi istri Bara. Namun kenapa rasanya justru malah seperti dia yang akan menjajakan diri. Nabila masih berpakaian lengkap, memakai gamis dengan kerudung yang menutup kepalanya rapat.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk!" sahut Bara dari dalam. Wanita itu mengembuskan napas panjang. Dia melakukan itu beberapa kali sampai hatinya benar-benar bisa merasa lebih tenang.

"Bismillah," gumam Nabila. Pintu kamar itu terbuka perlahan. Matanya langsung tertuju pada Bara yang sedang berdiri di dekat dinding kaca seraya memegang sebuah gelas kecil. Sontak, hal itu membuat Nabila terkejut dan langsung mendekatinya.

"Bapak sedang apa?" tanya Nabila merebut gelas dari tangan Bara. Dia membaui isi gelas itu, wajahnya meringis. "Bapak kenapa minum ini, kita gak boleh minum alkohol, Pak. Apa Ustadz Faisal tidak memberitahu, Bapak?" tanya Nabila berbalik seraya menyambar botol kecil dan membuang isi botol itu di bathub yang ada di kamar mandi. "Apa sih, katanya mau berubah, tapi masih aja kayak gitu."

Nabila terperanjat saat pintu kamar mandi diketuk dari luar. Wanita itu mengembuskan napas panjang seraya mengelus dada dan membuka pintu.

"Ada apa, Pak?" Nabila seolah lupa akan kegelisahan yang dia rasakan sebelumnya.

"Malam ini ... saya ingin kita mulai malam ini!"

Deg!

"Bapak mau malam ini?" tanya Nabila dengan suara terbata.

Bara mengangguk yakin. Kedua tangannya dia rentangkan di antara kusen pintu seolah dia sedang menjaga istrinya agar istri kecilnya itu tidak keluar.

"Bapak ... saya ... itu, anu ... Bapak harusnya itu dulu, 'kan?" tanyanya dengan mata terpejam.

"Itu dulu apa?" tanya Bara menunduk hingga jarak wajah mereka hanya setipis kain sutra.

"Itu!" tunjuk Nabila pada area terlarang suaminya.

"What?" tanya Bara ikut menunduk menatap ke arah objek yang Nabila tunjuk. "Kau mau ini sekarang?"

"No .. no, bukan itu maksud saya, Pak!" Nabila mengibaskan tangannya dengan mata terpejam dan pipi memerah seperti tomat matang.

....

Helaan napas lega terdengar dari mulut wanita itu. Dia tersenyum saat melihat Bara duduk bersila di depannya seraya melihat ke arah iqra yang dia letakan pada sebuah meja kecil di antara mereka berdua. Nabila merasa kegelisahannya sedikit mereda saat dia melihat Bara benar-benar ingin mempelajari dan memperdalam agamanya. Ini agak lucu, tapi Nabila sangat bahagia.

"Yang ini bagaimana?" tanya Bara membuat Nabila terkesiap dan kembali fokus pada apa yang sedang dia ajarkan.

Nabila menarik selimut sampai ke dada. Dia benar-benar berharap jika malam ini Bara akan melepaskannya. Nabila tidak akan menawarkan diri, tetapi, jika bisa, dia akan berusaha untuk menghindar untuk sementara waktu. Kedua tangannya meremas erat selimut yang sedang dia genggam. Matanya terpejam. Dalam hati, wanita itu terus berdoa untuk meminta keselamatan akan dirinya. Suaminya sudah mulai naik, akan tetapi, Nabila tidak berani untuk menatap ke arah suaminya itu.

"Nabila ...!" panggil Bara masih duduk memperhatikan Nabila dengan seksama. "Nabila ...!"

"Hmmmm ... kenapa, Pak? Bapak membutuhkan sesuatu?"

"Sampai kapan kau akan memanggil saya dengan sebutan Bapak? Saya bukan ayah kamu!"

Nabila membuka matanya. Dia menoleh, menatap Bara sebentar kemudian memalingkan wajahnya lagi karena tidak bisa menahan debaran jantungnya yang menggila. "Terus, saya harus panggil apa?"

Bara mengangkat kedua bahunya acuh. "Ezra bilang, kau seharusnya memanggil saya dengan sebutan Mas, atau Sayang ...!"

"Uhukkk!"

Nabila langsung terduduk ketika mendengar penuturan absrud suaminya. Mas? Sayang? Bagaimana mungkin. "Pak saya ...."

"Satu lagi," timpal Bara menghentikan Nabila yang hendak berbicara. "Apa kau tidak memiliki rambut? Kau tidak botak 'kan?"

"Hahhhh?" Nabila melongo bak orang bodoh. Apa yang sebenarnya ingin Bara tanyakan.

1
Renesme
Bagus, ceritanya menarik 👍👍👍
Rika Yudesni
durant, hampir saja keinginan mu untuk membunuh terpenuhi 😄😄😄
Rika Yudesni
icon nya durant " bunuh"
Rika Yudesni
kenapa bara si mafia psyco malah jadi somplak gini🤣🤣🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
ya Allah si Nabila baik banget jadi orang
🌹🪴eiv🪴🌹
gubrak 😭
🌹🪴eiv🪴🌹
ya ampyun,ngekek parah sampe ngik-ngik dan terbatuk aku
zeyeng lope ayang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
typo 🤧
🌹🪴eiv🪴🌹
terpampang
Sandisalbiah
jika Jesica sengaja menukar teh itu, berarti ada indikasi justru Maureen yg jd mata² di sana? 🤔🤔
Sandisalbiah
ini bakal jd boomerang buat hubunganmu dgn Nabila, Bara
Sandisalbiah
nah lho... PR terberat tuh buat tuan Bara... 😂😂
Sandisalbiah
Durant : terserah lha nyonya.. yg
waras ngalah..
reader : 😂😂😂😂😂
Sandisalbiah
apapun niat awal dr manusia, endingnya biarlah takdir Allah yg menentukan...
yetiku86
suka bgt sama ceritanya 😍😍😍
trmksh Thor 🙏🙏🙏
yetiku86
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ nasibmu om Durian😅
yetiku86
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
yetiku86
ternyata om Durian jatuh cinta sama Jessica waw 😍
yetiku86
bukan om bala Thor, tapi om durian.
yetiku86
kira2 Maurin apa Jesika ini ya yg dendam sama Nabila???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!