Ini SEQUEL dari MUTIARA DI BALIK LUMPUR.
"Kau pikir aku mau menjadikamu istriku? Tidak sudi! Kalau bukan karena untuk melindungi bosku mana mau ku menikahi wanita kupu-kupu malam sepertimu, murahan."
Aiden berusaha keras bersabar meski hatinya sakit di katai kupu-kupu malam. Karena memang dirinya bekerja di sebuah club malam. Namun ada hal yang tidak pernah mereka ketahui tentang siapa Aiden yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menilai dari luar tanpa tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berasumsi sendiri tanpa tahu kenyataannya.
Billy Giovanno (27 tahun) memaksa wanita bernama Aiden Rosalina (25 tahun) menikah dengannya hanya karena Billy tidak ingin Aiden mengganggu rumah tangga majikannya. Billy juga beranggapan kalau Aiden merupakan wanita murahan sehingga membuatnya membenci wanita itu.
FB: Mmah Abidah / Goresan Tinta
Ig : @ai.sah562
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba di pecat
"Jika benar itu yang terjadi, Mama ingin kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Jangan pernah lari dari masalah tapi hadapilah masalah itu. Secepatnya kau nikahi dia, tanpa terkecuali." Mama Lily tidak tahu lebih dalam mengenai hubungan Billy dan Maria. Dia hanya tahu kalau orangtuanya Maria tidak menyetujui putranya dan pernah melabrak dirinya di depan banyak orang untuk menjauhi keluarga mereka.
Billy menunduk memijat pelipisnya. Ia tidak menyangka Mamanya ada di sana menambah pusing kepalanya. Pusing karena masalah yang menimpanya. Entah ia harus bahagia atau sedih mengetahui wanita yang ia tiduri adalah Maria. Namun, hatinya merasakan kebimbangan dalam memutuskan segalanya.
[ Jika itu benar Maria aku harus bertanggungjawab. Tapi bagaimana dengan Aiden? Aku memang masih menyelami perasaanku pada Maria apa aku masih mencintainya atau tidak? Lalu bagaimana dengan pernikahan siriku? Sepertinya aku harus menceraikan kupu-kupu malam itu. ] Seakan terhimpit batu besar, tiba-tiba terasa sesak kalau dirinya sudah menikah siri.
Billy beranjak ingin mencari angin segar terutama menghilangkan pengat di kepala.
"Mau kemana kau? Mama belum selesai bicara, Billy?" Cegah Lily.
"Mau jalan-jalan sore tuk mencari angin. Kepalaku mumet, ingin pecah rasanya menghadapi kenyataan semua ini." Jawab Billy melenggang pergi tanpa mendengarkan lagi sahutan dari Lily.
Mama Lily menghelakan nafas beratnya. "Padahal Mama ingin menjodohkan kamu dengan Aiden, gadis manis berambut pirang dengan mata kebiru-biruan. Mama menyukai gadis itu, gadis baik versi sudut pandang Mama. Tapi kau, kau mematahkan harapan Mama, Billy." Gumam Lilly kecewa pada anaknya sendiri.
********
"Yes, akhirnya aku bisa kembali lagi sama Billy. Tidak menyangka dia akan semakin tambah kaya, tampan penuh pesona. Billy, sedari dulu aku sangat mencintaimu. Tapi orangtuaku tidak merestui hubungan kita. Dan sekarang waktunya kau kembali menjadi milikku untuk selamanya."
Wanita belasteran Amerika Indonesia itu senyum-senyum sendiri duduk di sofa ruang tamu. Seketika senyumnya sirna kala suara yang ingin ia hindari berada di dekatnya.
"Rupanya kau di sini. Darimana saja kau, hah? Seharian tidak bisa kuhubungi, aku membutuhkan serviks mu. Ayo!" Seorang pria tengah berdiri di depan Maria bertolak pinggang menatap tajam wanita itu.
Maria berdiri mendekati prianya. "Maafkan aku, aku ada urusan dulu. Sekarang aku akan melayanimu dengan satu syarat. Bayar seharga 10 juta satu malam. Aku butuh uang itu untuk perawatan tubuhku."
"Ok, dengan senang hati." Pria itupun mencium rakus bibir Maria sedikit kasar. Keduanya saling bertukar saliva dengan tangan menjalar kemana-mana dan berakhir di atas sofa dalam keadaan tak berpakaian dengan Maria berpacu duduk di atas.
Pria itu merupakan pelanggan setia Maria baru-baru ini. Maria kembali ke Amerika setelah lima tahun di Indonesia ikut suaminya. Dia kembali lagi karena suaminya telah tiada dan orangtuanya pun sudah tiada sehingga membuatnya lebih memilih kembali ke negaranya untuk mengejar cinta yang lama. Berhubung Maria butuh biaya menghidupi kehidupannya, dia pun menjadi wanita bayaran.
*********
Cafe
"Aiden, aku pulang duluan ya. Soalnya akan ada acara keluarga yang harus ku hadiri," pamit Megan pada Aiden yang tengah membereskan pekerjaannya.
"Iya, hati-hati di jalannya." Aiden dan Megan berteman selama hampir satu tahun setelah kepulangannya dari berobat. Menurut Aiden, Megan selalu ada dan teman terbaiknya. Hanya Megan yang ingin berteman dengannya.
Selepas kepergian Megan, Aiden kembali melanjutkan pekerjaannya hingga selesai. Barulah dirinya juga pulang.
"Kau...kemari!" Ronal memanggil Aiden.
"Ada apa?"
"Ini gajian bulan ini. Sebagian uangnya sudah saya potong untuk melunasi utang Papamu." Sebuah amplop coklat Ronal sodorkan kepada Aiden.
Aiden melihat amplop itu terheran karena ini bukan waktunya gajian. "Bukankah gajian menunggu 2 Minggu lagi? Kenapa aku gajian lagi?"
"Mulai hari ini kau di pecat! Jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di cafe ini. Bos sudah tidak butuh kau lagi di sini."
Aiden terkejut. "Aku di pecat?! Kenapa seperti itu? Bukankah selama bekerja tidak mengecewakan?" Tentunya Aiden bingung tidak mengerti. Dia merasa sudah melakukan pekerjaan sesuai aturan Cafe, tidak banyak izin, rajin, banyak berinteraksi dengan pelanggan, pokoknya sudah melakukan yang terbaik.
"Mana ku tahu, sudah, ambil ini! Pergilah! Jangan kembali lagi. Tapi, utangmu harus kau bayar. Tinggal 1 milyar lagi sisa yang harus kau bayar. Jika kau tidak bisa membayarnya, kau menikah saja denganmu supaya utangmu lunas." Tawar Ronal menyeringai. Cara ini juga yang ia gunakan untuk menjerat Linda.
[ Pasti daun muda seperti ini akan sangat lezat di nikmati. Ibunya saja lezat apalagi anaknya. ] Mata nakal Ronal menelisik penampilan Aiden yang sederhana namun mampu membuat pria tertarik.
Aiden terbelalak, mana mungkin dia mau menikah dengan tua Bangka mantan ayah tirinya ini. Meskipun dirinya banyak utang tak akan pernah menyerahkan harga diri demi utang.
"Tapi Ayah...."
"Jangan panggil saya Ayah karena saya bukan Ayahmu!"
"Pak, apa salah saya? Saya tidak merasa melakukan kesalahan. Tolong bilangin sama bos jangan pecat saya, ku mohon, Pak! Bagaimana caranya bayar utang kalau di pecat?" Aiden memohon.
"Utangmu terhadap saya akan lunas kalau kau mau menikah denganku, bagaimana? Untuk kerja lagi, nanti saya bicarakan pada bos."
"Tidak! Sampai kapanpun saya tidak akan menikah dengan Anda. Saya lebih baik di pecat dari pada kerja di sini dengan Anda." Tanpa banyak pikir Aiden menolak tegas tawaran itu. Dia berpikir masih banyak lagi cara untuk mendapatkan pekerjaan daripada harus menjadi istri Ronal.
[ Enak saja tua bangka ini mau menjadikanku istrinya. Aku sudah punya suami. ]
Ronal menatap tajam. Niatnya memecat Aiden ingin membuat wanita itu lemah dan lebih memilih menjadi wanitanya tapi malah di tolak tegas oleh Aiden. Seketika permintaannya pada bos cafe sia-sia. Aiden di pecat, menjeratnya pun sulit.
Aiden beranjak pergi meninggalkan cafe tanpa menerima uang di amplop coklat itu dan mendelik tajam menatap tidak suka kepada pria yang sudah mendorong Mamanya dari tangga. "Lebih baik ku mati daripada menikah dengan dia. Tidak peduli lagi soal utang orangtuaku terhadapnya yang penting bagiku tidak harus mengemis menyerahkan harga diriku demi utang. Kalau ada uang banyak akan ku lemparkan tuh uang tepak ke wajahnya." gerutu Aiden keluar Cafe sedikit berlari ingin segera menjauh. Wajahnya menengok kebelakang dengan mulut ngedumel kesal. Di saat itu pula, dia malah menubruk tubuh seseorang secara tiba-tiba.
Brukkk...
"Kalau jalan lihat-lihat, punya mata tidak sih!" ujar seorang pria bertolak pinggang menatap tajam wanita yang duduk di lantai akibat terjatuh menubruknya.
Aiden mendongak, matanya melotot. "Kamu..!"