Demi membalaskan dendam sahabatnya, Axela rela merubah penampilannya menjadi wanita culun yang sangat jelek. Menggunakan kaca mata tebal dan tompel di pipinya. Rencana yang ia susun berjalan dengan lancar awalnya. Namum, ketika semua hampir berhasil tiba-tiba identitas aslinya ketahuan. Semua orang tahu kalau dia bukan Alsha yang asli. Melainkan Axela.
Apa selanjutnya yang akan dilakukan Axela? Akankah ia berhasil membalaskan sakit hati Alsha terhadap semua orang yang pernah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Lalu
Due berhenti di depan gedung yang menjadi markas bagi geng Axela. Pria itu di sambut oleh beberapa wanita tangguh yang memang bertugas jaga malam itu. Mereka semua terlihat sangat khawatir ketika Due memberi kabar kalau Axela dalam bahaya.
"Bagaimana dengan Bos?"
"Masih bisa di atasi. Tetapi, kita tidak bisa diam saja. Kita harus segera menemukan siapa yang membayar dua pembunuh bayaran itu," jawab Due sambil masuk ke dalam.
"Tapi dia belum mau bicara. Dia memilih untuk di siksa dari pada harus bicara," sahut wanita tangguh tersebut.
"Ini semua karena kita tidak berhasil menangkap penembak misterius. Aku yakin, penembak itu ada hubungannya dengan pembunuh bayaran yang menculik Bos Axela."
"Pria. Dia seorang pria," jawab wanita itu lagi. Due menahan langkah kakinya.
"Kau yakin dia seorang pria?"
Wanita itu mengangguk. "Dia berbadan tinggi. Aku yakin dia seorang pria. Aku juga menemukan benda ini ketika mengejarnya." Wanita tersebut memberikan sebuah dompet. "Maafkan saya baru memberi tahu anda sekarang. Dari kemarin anda terlihat sibuk."
Due menerima dompet tersebut dan cepat-cepat membuka isinya. Kedua mata pria itu melebar ketika ia menemukan kartu identitas seorang pria yang ia kenali.
"Deon?"
"Dia bukan pria biasa sepertinya. Cafe itu hanya salah satu cara agar orang lain tidak mencurigainya. Jika memang benar Deon yang menyuruh dua pembunuh bayaran itu untuk membunuh wanita bernama Alsha. Lalu, kenapa sekarang dia bersikap baik dan mengajak Alsha kembali bersamanya? Apa dia tahu kalau Bos Axela menyamar sebagai Alsha? Jangan-jangan dia sudah menyiapkan sebuah rencana untuk menggagalkan rencana Bos Axela."
"Kita harus memberi tahu semua ini kepada Bos Axela."
"Bagaimana caranya? Sejak tadi ponsel Bos Axela tidak bisa di hubungi!" umpat wanita itu putus asa.
"Aku akan kembali ke rumah itu dan menemui Bos Axela langsung. Bos dalam bahaya. Aku tidak akan membiarkannya berada dalam bahaya!" Due mengurungkan niatnya masuk ke dalam. Pria itu memilih untuk masuk ke dalam mobil lagi agar bisa segera berangkat menemui Axela. Wanita yang tadi menjadi lawan bicara Due hanya bisa berdiri sambil melipat kedua tangannya.
"Deon? Bukankah jika di lihat dari penampilannya Deon ini pria yang payah! Kenapa sekarang statusnya dia yang sangat berbahaya?"
***
Deon meletakkan jaket cokelat yang sempat ia kenakan di atas sofa. Pria itu berjalan ke arah rak dan menuang minuman beralkohol tersebut ke dalam gelas. Tatapannya tertuju pada foto wanita yang kini berdiri di atas nakas. Senyum kecil terukir di bibirnya sebelum akhirnya terganti dengan tatapan yang sangat tajam.
"Bangkit dari kematian?"
Deon membanting gelas tersebut di atas meja. Pria itu berjalan mendekati foto Alsha. "Wanita lugu ini memiliki dua nyawa ternyata. Seharusnya aku yang memastikan sendiri apa kau benar-benar sudah mati atau masih hidup waktu itu!"
Beberapa bulan yang lalu.
Deon baru saja selesai memeriksa cafenya. Pria itu sudah ada janji dengan Alsha. Namun, karena hujan turun dengan deras, Cafe menjadi rame hingga membuat Deon memilih untuk mengukur waktu bertemu dengan Alsha. Sekitar jam delapan malam, pria itu baru memiliki waktu untuk menemui Alsha yang saat itu posisinya sudah menunggu di terminal.
Deon memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan. Ia menatap wajah kekasihnya yang kedinginan dengan tatapan tidak terbaca sebelum turun dari mobil.
"Alsha?"
Alsha yang saat itu terlihat kedinginan berlari mendekati Deon dan memeluk pria itu. "Aku kedinginan."
"Masuklah," ajak Deon. Ia membawa Alsha masuk ke dalam mobil.
Alsha yang memang sudah cukup lama pacaran dengan Deon tidak memiliki rasa curiga sedikitpun. Wanita itu menurut saja ketika sang pacar mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Alsha saat itu mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu. Kemejanya yang basah membuat pakaian dalam yang ia kenakan terlihat dengan jelas. Walau memang bisa di bilang wajah Alsha biasa saja. Tetapi, pria mana yang tidak tergoda dengan penampilan Alsha gang seperti itu. Termasuk Deon. Selama ini dia sangat jijik dan malas melihat wajah Alsha. Namun, malam ini dia merasakan hal yang berbeda. Pria itu ingin mencicipi tubuh wanita yang sudah lima tahun ia pacari.
"Aku tidak mau pulang," ucap Alsha. Ia memandang Deon dengan tatapan meminta tolong. "Mama pasti akan menyiksaku karena aku pulang malam. Belum lagi dengan Youra dan Luisa."
"Sstttt. Jangan takut. Aku akan membawamu ke rumah. Kau bisa istirahat di sana. Oke?" bujuk Deon. Alsha yang memang sangat polos hanya bisa mengangguk setuju. Wanita itu memandang ke depan sambil memperhatikan jalanan yang terlihat sunyi.
Deon segera melajukan mobilnya. Rencana jahat untuk mendapatkan tubuh Alsha sudah memenuhi pikirannya. Kini pria itu hanya perlu tiba di rumah dengan selamat sebelum menjebak Alsha.
Selang lima belas menit, Deon sudah tiba di rumah sederhana miliknya. Pria itu membawa Alsha turun bersama dengan. Hanya ada Deon di rumah itu. Deon mempekerjakan pembantu paruh waktu yang hanya muncul dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore saja.
"Deon, kenapa rumahnya gelap?" tanya Alsha ketika pertama kali tiba di rumah kekasihnya.
"Tidak ada orang di rumah. Ayo masuk," ajak Deon ambil merangkul pundak Alsha. Alsha yang tidak tahu apa-apa mulai mengikuti Deon dari belakang.
Mereka masuk dan Alsha duduk di sofa yang ad di rumah tamu. Wanita itu mengibaskan rambutnya yang basah. Deon lagi-lagi memperhatikan tubuh seksi kekasihnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
"Aku buatkan minuman hangat ya?" ucap Deon.
Alsha mengangguk pelan. Ia memandang ke depan dan menyetel televisi.
Di dapur, Deon membuat teh hangat. Tidak lupa pria itu memasukkan obat agar Alsha mau melayaninya malam ini. Deon ingin memvideo apa yang akan ia lakukan bersama Alsha nanti untuk dijadikan ancaman agar suatu saat dia ingin, Alsha mau melayaninya lagi.
"Obat ini akan membuat dia tidak sadar dengan apa yang akan ia lakukan. Dia akan merasa tersiksa dan membutuhkanku malam ini," ujar Deon sebelum membawa minuman hangat itu ke dalam.
Alsha memandang Deon dengan senyuman. Ia menyingkir untuk memberi ruang kepada Deon agar duduk di sampingnya.
"Deon, sebenarnya ada yang ingin aku katakan."
"Minumlah. Kau bisa cerita jika minuman ini sudah habis," ucap Deon dengan tatapan seolah dia khawatir. "Aku tahu, kau pasti kedinginan."
Alsha mengangguk pelan. "Terima kasih," ucap Alsha sebelum menerima minuman tersebut. Ia meneguknya perlahan. Karena memang minuman hangat itu sangat cocok untuk tubuhnya yang dingin. Dalam sekejap saja Alsha berhasil menghabiskan minuman tersebut.
"Alsha, apa kau mau ganti baju? Kamarku ada di sana," tunjuk Deon. "Pakai saja bajuku. Memang sedikit kebesaran tetapi setidaknya kau tidak kedinginan."
"Deon, ada yang ingin aku katakan," ucap Alsha lagi. Kali ini wajahnya sangat serius.
"Oke, baiklah. Katakan apa yang ingin kau katakan?"
"Aku ingin kita putus," ucap Alsha. Ia menunduk dengan wajah bersalah. "Memang tidak seharusnya aku mengatakan hal seperti ini. Tetapi, aku tidak bisa pacaran denganmu. Lebih baik kita bersahabat saja."
Deon yang memang tidak pernah tulus mencintai Alsha hanya bisa mengangguk dengan wajah santai. "Kau jatuh cinta kepada pria lain?"
"Ya...." Alsha mengukir senyuman. "Aku juga tahu kalau Youra mencintaimu. Sepertinya kau juga lebih mencintai Youra. Selama ini perhatianmu padaku, hanya karena kau kasihan bukan?"
"Baiklah. Sepertinya memang bersahabat jauh lebih baik."
Alsha memandang wajah Deon. "Kau tidak marah?"
"Tidak. Sekarang cepat ganti bajumu."
Axela mengangguk cepat. "Terima kasih Deon. Aku senang kenal denganmu," ujar Alsha sebelum bangkit. Wanita itu segera berlari ke kamar agar bisa segera mengganti bajunya basah.
Di kursi, Deon menopang kepalanya dengan tangan. "Tidak lama lagi dia akan membutuhkanku. Memangnya siapa juga yang mau pacaran dengan wanita seperti dia?" umpat Deon di dalam hati.
Surprise
Kapan ?
Dimana?