JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN CERITANYA! Karya ini mengadakan Event. ikuti ceritanya dan menangkan hadiahnya.
Menikah muda adalah pilihan Putri Anis (18) dengan Angga Prabowo (20). Alih-alih karena beralasan tidak ingin berpacar-pacaran dan menghindari zina di jaman modern seperti ini. Akhirnya mereka memutuskan menikah tepat ketika Putri lulus sekolah.
Gosip simpang siur tentang pernikahan Putri dan Angga yang terkesan buru-buru membuat para lambe tureh memiliki cerita hangat untuk mereka gosipkan.
Kata menikah, terkadang dalam benak para muda-mudi adalah sesuatu yang mudah untuk di jalani.
Sang istri masak, mengurus rumah dan mengurus anak, dan suami bekerja di luar. Benar-benar terdengar sangat mudah.
Tetapi ... Apakah akan semudah itu?
Apakah beberapa kalian setuju dengan ku jika tidak akan semudah itu?
Mari kita simak bersama-sama cerita kelanjutannya seperti apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamaperi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Merasa terusik tahu harus gimana.
Angga melihat banner yang ada di sebuah toko, Angga langsung tahu jika itu adalah toko kue milik istrinya.
Angga membawakan buket bunga, dia ingin memberikan selamat atas usaha yang istrinya dirikan.
Ketika Angga akan masuk ke dalam ruko, dari kejauhan terlihat Fika dan Anggun menguntit Angga dari kejauhan.
"Mbak Anggun, ternyata di sini usaha Putri!? Mbak, sepertinya usaha Putri bisa maju deh. Lihatlah, baru pertama buka aja rame banget." Fika nampak mendengus kesal. Karena setelah kejadian itu, Angga tidak pernah lagi mau menginjakkan kakinya di rumahnya. Padahal, Angga masih memiliki hutang untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah Fika.
"Kita harus cari cara. Aku tidak perduli meski wanita bisa menjadi kaya. Aku tetap tidak akan pernah ikhlas adikku bersatu dengan wanita itu. Aku tidak akan pernah merestui adikku dengan Putri!" Anggun nampak menatap geram.
Rasa benci yang mendarah daging sudah sulit untuk dilunakan. Entah apa yang membuat Anggun benar-benar tidak dapat menerima Putri sebagai adik iparnya.
"Mbak, apakah mbak Anggun mau aku traktir. Di mall kini lagi ada diskon besar-besaran loh mbak!" Fika mencoba untuk menarik Anggun. Fika juga kini tidak mau kalah. Dia tetap ingin berjuang untuk mendapatkan cinta masa kecilnya.
"Iiii ... Kamu memang the best, deh! Hayuk, kalo di tlaktir, siapa sih yang nolak!" Senyum Anggun sangat sumringah.
...........
Terlihat Angga yang ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Angga sangat gugup dan merasa malu.
Tidak tahu apa yang akan dia lakukan ketika di depan Putri.
Setelah berfikir matang, Angga pun berniat untuk membuka pintunya.
Di sisi lain, Sani yang sedari memperhatikan jika di depan pintu kaca ada seseorang tidak kunjung masuk, dia pun berinisiatif untuk menyambutnya.
Sani tidak tahu jika itu ternyata adalah Angga
"Selamat datang, ada yang bisa kam-!"
Sani langsung terdiam.
"Kamu!" Sani pun langsung memasang wajah masam.
"Hay!" Angga tersenyum canggung.
Sani yang tahu sikap buruk Angga terhadap Putri pun langsung mendorong Angga supaya lekas pergi.
"Keluar dari sini! Tempat ini tidak menerima suami tukang selingkuh!" sindir Sani sambil mendorong Angga.
Tetapi, karena posisi yang kurang stabil, Angga pun oleng dan akan terjatuh. Sebelum dia mendarat dengan sempurna, Angga juga reflek mencari pegangan supaya tidak jatuh.
Tapi apa daya Sani yang tidak memiliki tenaga. Alhasil, Sani pun jatuh tepat di atas dada Angga.
Kejadian ini terlihat oleh beberapa orang yang berlalu-lalang di depan trotoar dan orang-orang yang ada di toko sebelah.
"Ya ampun, neng. Kalo lagi marahan sama pacarnya jangan suka dorong-dorong atuh, jadinya jatuh bareng kan!" seorang ibu-ibu paruh baya mencoba untuk menggoda Sani dan Angga.
Karena mereka adalah pendatang, jadi beberapa orang di sana belum paham jika sebenarnya Angga ini adalah suami Putri.
Sani dan Angga pun sama-sama mendelik ke arah ibu-ibu yang sok tau itu.
Lalu, Angga pun menatap Sani.
"Cepetan minggir dari badanku!" Angga mendelik geram menatap Sani.
"Ih! Loe gak punya mata ya! Ngapa sih mau jatuh aja pakek pegang-pegang gue!" ketus Sani kesal.
"Eh, anak manja! Kalo kamu gak dorong aku, gak mungkin juga aku jatuh! Udah salah ngotot lagi!" sahut Angga.
Kebisingan Angga dan Sani sampai ke ketelinga Putri dan Ziko juga Bapak.
"Sani, ada apa ini!? Mas Angga?" Putri melihat suaminya, langsung merasa rikuh dan bingung. Ada bapak di sana, Putri tidak ingin bapak tahu soal permasalahan rumah tangganya.
"Put, suamimu nih yang reseh! Suami tukang se-!" terpotong.
"San, tidak papa. Mas Angga, ayo masuk?" ucap Putri ramah.
"Dek, ini mamas bawain adek bunga. Selamat atas usahanya ini, ya. Semoga usahanya ini sukses dan laris manis." Angga pun memberikan buket bunganya.
"Terima kasih banyak, mas." Putri menerima, lalu dia memberikan buket itu kepada Ziko.
Sebenarnya Putri tidak ada maksud lain, dia hanya ingin Ziko meletakkannya di atas etalase yang tepat ada di sebelah Ziko..
Padangan Ziko yang hangat, membuat Angga merasa sesuatu yang tidak beres. Angga merasa jika ada sesuatu yang salah dengan Ziko dan Istrinya.
Tapi, terakhir kali Angga main hakim, dia berakhir akan masuk penjara. Andai Mico tidak melepaskan tuntutannya, jelas kini Angga sudah mendekam di penjara.
Jadi, Angga memutuskan untuk diam. Di sana juga ada bapak mertua yang sedari memperhatikannya.
"Bapak, bapak juga di sini. Bapak sehat?"
sapa Angga ramah. Padahal, selama ini Angga tidak pernah seramah itu kepada bapak mertuanya.
"Alhamdulillah, nak. Bapak sehat. Oya, Put, bapak pulang dulu ya. Nanti sore bapak jemput kamu."
"Biar aku yang antar, pak! Angga.
"Biar Putri saya yang antar, Pak! Ziko.
Mereka berdua bisa barengan untuk menjawab bapak.
Suasana pun langsung terasa canggung. Putri tidak tahu mengapa Ziko dan Angga sama-sama berkata seperti itu.
"Pak, aku mau menginap di rumah bapak. Udah lama Aku gak tidur di rumah bapak, jadi biar Putri pulang bersama ku!" Sani mencoba untuk mencairkan suasana.
"Ah, ya ya itu ide bagus. Bapak akan masak, masakan kesukaan kalian!" Bapak pun tersenyum dan mengangguk sambil menepuk bahu Sani, seolah-olah berkata, terima kasih.
Bapak dapat melihat, kerumitan yang sedang anaknya alami. Tapi, bapak masih memilih untuk diam.
Ketika bapak sudah pergi, Angga langsung menarik Ziko dan menyeretnya ke dalam supaya tidak ada yang melihat.
"Bangs*t! Siapa loe, HAH! Loe mau carper(cari perhatian) di depan mertua gua!" sentak Angga.
"Mas Angga!" teriak Putri, sambil mencoba untuk melepaskan tangan Angga yang mencengangkan kerah baju Ziko..
"Apa, Put! Siapa dia, Hah!? Baru kemarin kita menuntaskan salah faham antara kamu dan pria yang bernama mico, terus sekarang siapa lagi ini, Put!" tandas Angga nampak kesal.
"Dia kakak kelas aku, juga sepupunya Sani, Mas!" sahut Putri. "Lepaskan dia, Mas!" Putri tidak ingin menatap Angga. Putri hanya fokus mencoba melepaskan tangan Angga yang semakin kuat mencengkram kerah Ziko.
Angga yang melihat istrinya terlihat sangat khawatir dengan pria lain pun merasa sangat patah hati. Dia mengendurkan otot-ototnya.
"Bagus, Put! Berapa banyak kamu bersandar kepada pria lain ketika kita ada dalam masalah, Put?" pertanyaan menohok dari Angga membuat mata Putri melebar.
"MAS!" Putri tidak dapat berkata-kata lagi.
PLAK!
Sani maju dan menampar Angga dengan kuat.
"Sekali loe ngomong yang nggak-nggak sama sahabat gua, bakal gua buat mati loe!" ancam Sani.
Angga melihat Putri yang menangis, lalu Ziko dengan gayanya sok perhatian memberikan sapu tangan untuk Putri.
"Putri, tenagkanlah dirimu. Aku tidak papa, dan kamu juga pasti bisa melalui semua ini."
Putri kasih tertunduk. Dia tidak berani mengambil sapu tangan yang di berikan Ziko. Putri lebih memilih mengelap air mata dengan jilbabnya.
"Menjauh dari istriku!" gertak Angga benar-benar merasa geram dengan Ziko.
"Sudah, Mas! Jangan buat keributan di sini!" sahut Putri.
Angga pun mencoba untuk menghela nafas. Dia Melihat istrinya yang sangat tertekan. Angga pun menyadari kegabahannnya.
Angga mendekati Putri sambil menyenggol pundak Ziko, seolah berkata, enyahlah!
Angga memegang kedua pipi Putri.
"Sayang, maafin mamas ya! Mamas hanya cemburu, dek. Mamas takut, mamas takut kamu ninggalin mamas. Karena mamas sadar, mamas salah. Maafin mamas ya?" Angga memeluk istrinya dengan erat.
Terlihat raut wajah Ziko dan Sani yang tidak suka dengan sikap Angga.
Ziko, dia benar-benar tidak berdaya. Di satu sisi, dia tidak dapat melihat cinta SMA nya tersakiti. Tetapi dia juga tidak berdaya, karena Angga adalah suami yang sah.
slm sukses
semoga sukses selalu untuk semua karya-karya nya 🥰
Happy Ending
My Bestie mampir