Harap Baca Suamiku Pria Lumpuh, supaya nyambung dengan kisah mereka, ya.
Bagaimana, jika orang yang kamu cintai, adalah seorang yang telah menjadi masa lalu terburukmu. Yang telah menjadi penyebab penderitaanmu dimasa lalu. Padahal, Ia telah memberikan semuanta untukmu.
Carolina Hermawan. Gadis yatim piatu itu baru saja mengenal sebuah cinta dan bahagia, sejak bertemu dengan Reza Edwardo. Salah satu pewaris Nugraha's company.
Mereka sepakat menikah usai Olin wisuda, dan telah merancang semuanya. Tapi, rupanya keluarga Nugraha atau Papa Edward memiliki masa lalu diantara keluarga Olin.
Apa masalah itu, dan bagaimana mereka menghadapinya? Berstu, atau justru memcari jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesekali membuat kesalahan
Dikenal keras kepala, dan sok berkuasa. Olin, harus selalu tebal telinga dengan semua yang Ia dengar.
"Kata orang, anggap angin lalu. Tapi ngga bisa, gimana dong?" gerutunya.
Ia kemudian keluar dari kamar toilet, dan kembali ke ruangannya. Sementara Reza sudah mendahuluinya sejak tadi.
Olin duduk ketika sampai. Sedikit meregangkan lehernya yang begitu pegal karena segala pekerjaannya. Untung saja, hari ini tak ada jadwal dengan segala materi kuliahnya.
"Hey, sayang..." panggil Reza dengan berbisik begitu pelan.
"Hmm, kenapa?"
"Pssst, sini."
"Apa, Mas? Capek, tau ngga?"
Olin perlahan menghampiri, meski langkahnya begitu malas.
"Apalagi?"
"Tadaaaa..." Reza mengeluarkan sebungkus Ice cream untuk kekasihnya itu.
"Wuiih, buat aku?" Olin begitu riang sembari bertepuk tangan, meski suaranya Ia lirihkan
"Iya lah, siapa lagi. Tadi Papi pengen Ice cream, dan minta Ali beliin. Yaudah, aku titip."
"Ish, pinternya mencari kesempatan dalam kesempitan." colek Olin pada sang kekasih hati.
Reza membukakan bungkus ice cream itu, dan memberikannya pada Olin. Begitu senang, karena itu adalah salah satu paforitnya selama ini.
"Hhh, damainya melihatmu tersenyum." gumam Reza dalam hati.
*
"Ah, lelahnya. Kenapa tak sekalian beli banyak tadi? Tiga kali bolak balik, dimanfaatkan pula oleh Pak Reza."
"Kenapa dia? Mau ice cream juga?" tanya Papi, yang tengah menikmati ice cream cupnya, sembari sesekali menahan ngilu di giginya.
"Aah, menyakitkan. Kemarin mangga, sekarang Ice crem. Demi kau dan si buah hati," gerutu Papi.
Ali pun begitu, duduk meluruskan kakinya di lantai, dengan Ice cream dintangannya. Ia lelah, antara pekerjaan dan menuruti permintaan Bosnya saat ini. Tapi, Ia senang, karena itu tandanya Papi dalam keadaan sehat. Karena hampir seharian, hanya tidur di atas sofa setelah rapatnya selesai.
"Kau, sudah sehat, Pak?"
"Ya, setidaknya perutku sudah terisi. Terimakasih." Papi tampak begitu lega, terdengar dari helaan nafasnya.
"Yakin, tak mau makan nasi? Ini sudah siang dan lewat dari jam makan."
"Ali... Mendengarnya saja aku sudah mual. Biarlah seperti ini. Biarlah mengalir sebagaimana mestinya. Asalkan, Mami dan Baby B disana makan dengan nikmat dan selalu bahagia." ucap Papi, dengan mengelus elus perutnya yang rata.
Menuju rapat terakhir hari ini. Papi dan Ali, serta Reza tanpa Olin. Pergi ke sebuah hotel tempat perjanjian mereka.
Sepertinya, mereka bertemu dengan seorang penguasa. Karena terdapat banyak Bodyguard yang berjaga disana, menyambut mereka dengan tatapan tajamnya.
"Hari ini, membahas tentang apa?" tanya Papi pada Ali.
Pembangunan, sebuah tempat wisata. Mereka meminta kita menjadi investor.
"Lahan pribadi?"
"Masih, sengketa."
"Kenapa kau iyakan, Iiihh!" Papi tampak kesal, bahkan mengepalkan tangannya pada Ali yang tertunduk malu.
"Maaf." sesal Ali.
"Lain kali, serius periksa. Kalau seperti ini, susah kita menghadapinya. Mana, bodyguard banyak banget." Reza melonggarkan kerah dan dasinya.
Mereka bertiga masuk. Bertemu dengan salah seorang petinggi di kota itu. Bersalaman, dengan penyambutan yang begitu ramah. Hanya, firasat Papi yang sedikit aneh kali ini.
" Kau lihat wajahnya?" bisik Reza.
" Ya, sangat jelas." balas Ali.
"Semoga, tak terjadi apa-apa kali ini. Apalagi dengan kita."
"Berdoa saja." Ali tampak bersiap dengan kemungkinan yang terjadi.
Papi tengah membaca semua dokumen dan proposal yang ada.
"Ini rencana yang bagus. Kita akan memanfaatkan potensi disana, untuk dikembangkan. Bukankah bagus, untuk mendorong pembangunan? Apalagi, tenaga kerja disana bisa kita manfaatkan."
"Bagaimana dengan alamnya? Semua akan rusak jika ini dibangun. Apalagi, pembabatan secara brutal." Papi menaruh dokumen itu kembali. Tampak wajah kesal di hatinya karena semua yang terjadi.
dan dijawab tinggal ditempat jauh dan butuh waktu untuk pembuktian