❤Tahap Revisi❤
Andita Andriani adalah seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya demi perempuan lain. Empat tahun menjalin hubungan jarak jauh, Andita tidak menyangka akan menerima sebuah pengkhianatan.
Dirinya bertekad untuk membalas semua penghinaan dan pengkhinatan yang sudah diterimanya dari sang kekasih.
Disatu sisi, seorang CEO muda yang tampan dan sukses, juga sedang mengalami patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Zidan Pratama Wijaya, harus merelakan cinta pertamanya pada sang sahabat. Dan karena hal itu pula yang membuat Zidan berubah menjadi pribadi yang dingin dan sulit didekati.
Lalu bagaimanakah kisah perjalanan mereka?
Ikuti ceritanya yaa...
Jangan lupa berikan Like, Komen, Vote, dan Hadiah kalian untuk Author, supaya Author semangat nulisnya..
Terimakasih ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RatuElla11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-Sama Keras Kepala
Keesokan harinya.
Sudah 3 jam lebih, Zidan menceburkan dirinya kedalam air. Lelaki tampan itu meliukkan tubuh atletisnya kesana kemari dengan gerakan bebas. Sesekali Zidan mengambil nafas kepermukaan seraya mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah, kemudian menceburkan dirinya kembali kedasar kolam.
Sudah satu minggu ini Zidan tidak pulang kerumah Tuan Wildan. Zidan berada dirumah pribadinya yang jarang sekali ia singgahi. Zidan hanya datang kerumah ini jika dirinya sedang menghadapi masalah dan butuh ruang untuk menyendiri.
Semenjak kedatangan Tuan Reyhan malam itu yang memintanya untuk menikahi Rachel, Zidan memutuskan untuk menghindari ayahnya. Hubungan keduanya menegang ketika Zidan secara tegas menolak mentah-mentah tawaran pernikahan itu.
Tuan Wildan sempat mengancam akan menghapus nama Zidan dari daftar ahli waris, namun Zidan tidak peduli. Toh dia sudah memiliki segalanya dengan usahanya sendiri. Dan tentu saja hal itu membuat Tuan Wildan semakin geram.
Akhirnya Tuan Wildan menantang putranya untuk membawa gadis yang ia sebut akan menjadi pendamping hidupnya itu kehadapannya.
Jika gadis yang dibawa Zidan berasal dari keluarga terpandang dan berkelas serta pantas untuk menjadi bagian dari keluarga Wijaya, maka Tuan Wildan tidak akan memaksa kehendaknya untuk menikahkan Zidan dengan Rachel. Dan diapun akan merestui hubungan Zidan dan calon pendampingnya itu.
Namun jika sebaliknya, Zidan membawa gadis yang derajatnya lebih rendah dari keluarga mereka, maka Tuan Wildan pun tak segan turun tangan untuk memisahkannya.
Tentu saja Zidan tidak setuju atas tantangan ayahnya itu. Syarat yang ayahnya ajukan semua tidak ada pada diri Andita. Tapi Zidan menyukai Andita, dia tidak peduli ayahnya setuju atau tidak karena ini menyangkut kebahagiaan hidupnya sendiri.
Setelah puas berenang, Zidan memutuskan keluar dari kolam dan naik keatas. Seorang pelayan lelaki yang sedari tadi berdiri ditepi kolam, menyodorkan selembar handuk padanya. Zidan meraih handuk itu dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah. Sesekali ia mengibaskan rambut hitamnya itu hingga terlihat begitu seksi.
Zidan duduk dibawah payung besar lalu meraih gelas berisi orange jus yang sudah disediakan oleh pelayan diatas meja kecil kemudian menyeruputnya. Setelah puas menghilangkan dahaganya, Zidan menaruh kembali gelas itu diatas meja lalu mengambil ponselnya.
Zidan berdecih ketika melihat rentetan pesan masuk dan missed call berkali-kali dari Rachel. Tak ada niat dari Zidan untuk membalas satupun pesan itu.
Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri Zidan.
"Tuan, maaf mengganggu, didepan ada Nyonya besar."
Zidan membuang nafas kasar.
"Biarkan saja Nyonya masuk!"
Tidak lama Nyonya Liyana datang menghampiri Zidan setelah pelayan memberitahunya bahwa Zidan baru saja selesai berenang.
"Zidan!" Panggil Nyonya Liyana.
Zidan menoleh lalu bangkit dari duduknya kemudian mencium pipi sang ibu yang sudah berdiri dihadapannya.
"Ada apa Ibu datang kemari?" Tanya Zidan datar. Mereka berdua sudah duduk dikursi yang dibatasi meja kecil menghadap kearah kolam.
"Kenapa kau tidak pulang kerumah?" Nyonya Liyana tidak menjawab pertanyaan Zidan tapi malah balik bertanya.
"Aku tidak ingin pulang!"
"Kenapa? Apa karena ayahmu?"
"Ibu sudah tahu bukan jawabannya?!"
"Huh! kalian berdua benar-benar membuatku pusing. Kenapa sifat kalian sangat mirip sekali. Sama-sama keras kepala!" Gerutu Nyonya Liyana.
Zidan hanya tersenyum tipis.
"Ibu belum menjawab pertanyaanku. Ada perlu apa Ibu datang kemari? Apa ayah yang menyuruh Ibu untuk menemuiku? Apa ibu ingin membujukku untuk pulang kerumah? Jika benar, maaf Bu aku tidak ingin pulang dan menerima perjodohan itu. Aku sama sekali tidak menyukai Rachel. Jadi simpan saja tenaga Ibu untuk berdebat denganku."
"Hah?! Kau ini! Apa kau pikir ibumu ini sudah kehilangan akal dengan menerima Rachel menjadi menantu keluarga Wijaya?"
"Apa maksud Ibu?" Zidan memicingkan matanya tidak mengerti.
"Jujur saja Zidan, Ibu tidak menyukai Rachel. Meskipun dia anak dari rekan bisnis ayahmu dan juga putri dari teman sosialita Ibumu ini, tapi sampai kapanpun Ibu tidak merestui hubunganmu dengan Rachel!" Tegas Nyonya Liyana.
Seketika wajah Zidan berbinar namun sejurus kemudian ia menyipitkan matanya.
"Benarkah? Tapi kenapa? Apa Ibu memiliki rencana lain untukku?!" Selidik Zidan.
"Haishh, kenapa kau curiga sekali pada Ibumu?! Ibu tahu kau sudah berbohong pada ayahmu dengan mengatakan bahwa kau sudah memiliki calon pendamping. Maka dari itu Ibu ingin mengenalkanmu pada seseorang!"
Zidan mengusap wajah kasar.
"Siapa bilang aku berbohong?! Ibu dan Ayah sama saja suka sekali menjodohkan anak!"
"Maksudmu? Kau sungguh sudah memiliki calon pendamping?"
"Tentu saja!"
"Siapa gadis itu? Ayo kenalkan pada Ibu!"
Zidan terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Pasalnya dirinya dan Andita belum memiliki hubungan apapun.
"Kenapa diam? Jangan bilang kau berbohong?!" Nyonya Liyana menyipitkan matanya.
Zidan mendengus kesal membuat Nyonya Liyana tersenyum senang.
"Sudah Ibu duga kau pasti belum memiliki kekasih. Dengarkan Ibu baik-baik Nak, gadis yang Ibu pilihkan ini adalah gadis yang baik, cantik dan sederhana. Ibu yakin kau pasti nanti akan jatuh cinta padanya. Dia pernah menyelamatkan Ibu dari perampok. Dia itu.."
"Sudahlah Bu! Tidak usah membahas soal perjodohan lagi. Lebih baik Ibu pergi arisan bersama teman-teman Ibu! Aku juga akan pergi kekantor!" Potong Zidan. Kemudian dia masuk kedalam meninggalkan Ibunya sendiri.
"Ya Tuhan, anak itu benar-benar susah diatur!"
******
Andita menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sedari tadi dirinya sama sekali tidak fokus bekerja. Saat ini Andita sedang dilanda kebingungan yang teramat sangat. Ia sedang memikirkan biaya operasi transplantasi ibunya yang sangat mahal sekali, sampai memakan biaya ratusan juta. Andita bingung kemana dia harus mencari pinjaman uang sebanyak itu?
Sementara uang tabungan direkeningnya saja hanya ada dua digit. Belum lagi Andita juga harus memikirkan biaya kuliah Nazwa. Gajian pun masih sangat lama. Andita merasa frustasi. Pasalnya jika operasi ibu tidak segera dilakukan, itu akan membahayakan nyawanya.
Tanpa Andita sadari dirinya menangis. Ferdy yang bekerja disebelah Andita melihat tubuh gadis itu bergetar. Diapun memberanikan diri untuk memegang bahu gadis itu.
"Ta." Panggil Ferdy pelan.
Andita buru-buru menyeka airmatanya. Ia tidak boleh terlihat lemah dihadapan siapapun.
"I-iya Fer." Pandangannya tertunduk.
"Aku tahu perasaanmu saat ini. Kau pasti sedang sangat bingung untuk mencari pinjaman uang untuk biaya operasi ibumu. Jika kau mau, kau bisa pakai dulu uang tabunganku. Ya, memang uang tabunganku tidak seberapa, tapi paling tidak itu bisa meringankan bebanmu. Aku juga ikhlas membantumu. Atau jika perlu aku akan menjual motorku untuk menambah kekurangannya." Ujar Ferdy tulus seraya menggenggam tangan Andita.
Andita begitu terharu mendengar tawaran Ferdy, namun dirinya tidak bisa melibatkan Ferdy dalam masalahnya. Andita tahu jika Ferdy juga sedang menghadapi masalah keuangan.
Beberapa hari lalu mobil Ferdy dijual untuk menutupi hutang kakaknya dikampung, karena uang usaha kakaknya dibawa kabur oleh anak buahnya.
Untuk sekarang, Ferdy hanya bisa mengandalkan motornya saja sebagai alat transportasinya. Dan mana mungkin Andita tega jika sampai Ferdy menjualnya hanya untuk membantu dirinya membayar operasi tranplantasi ibunya?
Andita menggeleng cepat.
"Tidak perlu Fer, terimakasih. Kau juga sedang mengalami masalah keuangan. Aku tidak ingin membebanimu dengan masalahku." Jawab Andita.
"Tidak apa-apa Ta. Bukankah sahabat itu harus saling bantu?"
Belum Andita menjawab, tiba-tiba kepala divisi datang menghampiri Andita.
"Hey kalian berdua! Apa kalian digaji hanya untuk mengobrol?!" Hardik kepala divisi. Kedua orang itu pun terkejut.
"Maaf Bu!" Jawab Ferdy.
"Dan kau Andita! Tuan Ken memintamu untuk datang menemui Tuan Zidan diruangannya, sekarang!"
Andita dan Ferdy pun saling berpandangan.
.
Bersambung..
ternyata marahnya berkelanjutan karena lagi San*e ya Dita?🤔🫣
Bilang atau rayu suamimu dong..
kan lucu jadinya.. mirip ayam betina suka nyerang tanpa sebab kalau lagi birahi 😁🤣🤣🫣
pada kemana?
jajan bakso ya?😁🫣
sebelum nikah saja Dita sudah dikawal bodyguard bayangan untuk mengetahui pergerakannya.
kok sudah nikah, malah nggak ada pengamanan sama sekali walaupun dari jauh
kamu harus bisa buktikan omongan keluarga Dirga bahwa fokus kamu cuma uang bukan janji itu adalah benar
wajar dong dia mencari keuntungan ganda..
ibu sehat, sisa uang ada.. malah dapat suntikan dana dari camer yg nggak setuju.
kaya dan bebas dari tanggung jawab.
janji dan hutang Budi urusan belakangan ya Dita🤣🤣🤣
menang 2x kamu..
kalau terpojok tinggal keluarkan jurus andalan..
status sosial, tidak ada restu dan tidak ada cinta..
buktikan kalau kamu muna sejati
jadikan status sosial sebagai alasan 👍
toh uang juga sudah diterima..
jangan pikirin perasaan orang lain, pikirkan perasaanmu saja dan juga kepentinganmu..
ibumu sudah sehat, saatnya ngelunjak
baru kali ini baca novel yang mana sekeluarga hobinya menjegal kaki orang 😁
mereka keluarga pebisnis apa keluarga pemain sepak bola antar kampung?🤣🤣🤣