NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3 fondasi darah dan bayangan pedang kayu

Angin malam berhembus membelah celah-celah dinding gubuk kayu, membawa serta hawa dingin yang menggigit tulang. Di pekarangan belakang yang sunyi, di bawah kanopi langit bertabur bintang, Yan Xinghe duduk bersila menyerupai sebuah patung batu purba. Tidak ada pergerakan, tidak ada suara napas yang terdengar jelas. Hanya ada keheningan absolut yang mencekam.

Di dalam keheningan itu, sebuah badai kehancuran sedang mengamuk hebat di dalam tubuh fananya.

*Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan* telah memasuki putaran kedua. Jika putaran pertama berfokus pada penyambungan keretakan, putaran kedua ini bertujuan memadatkan sumsum tulang belakang. Xinghe mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Gigi-giginya bergemeretak menahan siksaan yang melampaui batas kewarasan manusia biasa. Sensasi yang dirasakannya saat ini persis seperti sebatang besi membara yang ditusukkan menembus tulang ekornya, lalu ditarik paksa ke atas hingga mencapai pangkal leher.

Keringat dingin membasahi seluruh pakaian lusuhnya. Sesekali, urat-urat menonjol di pelipisnya berdenyut liar, menandakan betapa rapuhnya keseimbangan antara keberhasilan dan kematian seketika.

Di masa lalu, saat ia menduduki takhta Kaisar Pedang Langit, menatap ke bawah dari Puncak Nirwana, sistem kultivasi Tiga Ribu Dunia tergambar jelas di benaknya bagaikan sebuah tangga emas menuju keabadian.

Sebuah perjalanan yang diawali dari akar yang kotor. Tahap pertama adalah **Alam Penyempurnaan Tubuh**, terdiri dari sembilan tingkatan kecil, bertujuan menyingkirkan kotoran fana dari daging, otot, dan tulang. Mengikutinya adalah **Alam Pembukaan Meridian**—juga sembilan tingkatan—di mana seorang praktisi mulai menarik energi spiritual alam semesta ke dalam pembuluh darahnya.

Setelah tubuh dan meridian siap, praktisi melangkah ke **Alam Pemadatan Inti Mistik** (dibagi menjadi tahap Awal, Menengah, Akhir, dan Puncak), membentuk lautan energi di perut bagian bawah. Dari sana, jiwa akan berevolusi memasuki **Alam Transformasi Roh Sejati**, memberikan kemampuan untuk melepaskan kesadaran ke luar tubuh.

Hanya mereka yang berhasil menembus batasan roh yang diizinkan melangkah keluar dari benua fana, memecah kekosongan ruang, dan memasuki ranah transenden: **Alam Melangkah Langit**, **Alam Raja Semesta**, dan puncaknya, **Alam Kaisar Ilahi**.

Xinghe tersenyum getir di tengah penderitaannya. Menoleh kembali pada tangga agung tersebut, posisinya saat ini bahkan belum menyentuh anak tangga pertama. Tubuh Yan Xinghe ini murni hancur. Jangankan menyerap energi untuk Pembukaan Meridian, daging dan tulangnya bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk disebut berada di Alam Penyempurnaan Tubuh tingkat pertama. Ia adalah setitik debu di dasar jurang.

*Kratak!*

Suara retakan keras menggema dari dalam dadanya. Xinghe memuntahkan seteguk darah kotor berwarna hitam pekat yang berbau amis menyengat. Paru-parunya meraup udara dengan rakus. Bersamaan dengan muntahan darah itu, rasa sakit yang menyiksa berangsur-angsur mereda, digantikan oleh gelombang kehangatan yang sangat tipis mengalir dari sumsum tulangnya menyebar ke seluruh persendian.

Ia membuka matanya. Kegelapan malam perlahan memudar, digantikan oleh semburat jingga di ufuk timur. Fajar telah tiba.

Xinghe mengepalkan telapak tangannya. Ada sedikit sensasi padat di balik kulitnya yang kurus. Otot-ototnya, kendati masih terlihat kecil, kini terjalin jauh lebih rapat dan alot menyerupai serat tambang kapal. Ia mengambil sebuah batu kali seukuran kepalan tangan orang dewasa di dekat kakinya. Tanpa menggunakan teknik pernapasan, murni menggunakan tenaga cengkeraman fisik, ia meremas batu tersebut.

*Krak... krak...*

Batu padat itu retak, meneteskan debu dan serpihan kerikil dari sela-sela jarinya.

"Baru mencapai batas ambang Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Pertama," gumamnya pelan, mengevaluasi kekuatannya tanpa sedikit pun rasa puas. Bagi seorang pemuda biasa, pencapaian ini dalam satu malam adalah mukjizat, sebuah kejeniusan mutlak. Di mata seorang mantan Kaisar Ilahi, kecepatan ini sama lambannya dengan siput yang merayap di atas daun kering.

Perjalanan ini membutuhkan waktu. Memaksakan diri melompat terlalu cepat menggunakan *Seni Penempaan Tulang* hanya akan membuat tubuhnya meledak tak bersisa. Fondasi harus dibangun setebal tembok baja sebelum badai sesungguhnya datang menerjang.

Xinghe bangkit berdiri. Persendian tubuhnya berbunyi berderak, melepaskan sisa-sisa kepenatan malam yang brutal. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin dari tong kayu di samping gubuk, membersihkan noda darah hitam di sudut bibirnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Aroma bubur beras yang hangat menyambut indra penciumannya. Di dapur kecil yang diselimuti jelaga, Yan Qingshan tampak canggung mengaduk panci tanah liat menggunakan sendok kayu panjang, sementara Yan Xiaoxiao menata tiga buah mangkuk retak di atas meja bambu yang bergoyang.

Mendengar suara langkah kaki, Xiaoxiao menoleh. Wajah gadis kecil itu langsung berbinar cerah. "Kakak Kedua! Ibu sudah bangun! Ibu sudah bisa duduk bersandar!" serunya riang, berlari kecil menghampiri Xinghe dan memeluk pinggangnya erat-erat.

Sebuah senyum tipis, sangat asing bagi jiwa seorang pembunuh sepertinya, perlahan terkembang di wajah Xinghe. Ia mengusap rambut kasar adiknya dengan canggung. Ia berjalan menuju kamar. Benar saja, Shen Yulan sedang duduk bersandar pada dinding kayu, wajahnya tak lagi sepucat mayat. Rona kehidupan memancar jelas, napasnya teratur tanpa suara serak. Racun Es Seratus Hari telah sepenuhnya bersih berkat Penawar Ekstrak Api Besi racikannya kemarin.

"Xinghe..." suara Shen Yulan masih lemah, memancarkan kasih sayang tak terhingga saat melihat putra tengahnya. Matanya berkaca-kaca meneliti dari ujung kepala hingga kaki, mencari luka yang tersisa akibat insiden pengeroyokan tempo hari. "Qingshan memberitahuku bahwa kau yang mencari obat untuk ibu. Anak bodoh... tubuhmu sendiri belum pulih."

"Luka luar, tidak berarti apa-apa," jawab Xinghe singkat. Ia menarik kursi bambu reyot dan duduk di samping ranjang. "Fokuslah pada pemulihan. Akar Darah Besi telah memperbaiki kerusakannya, sisa vitalitas yang hilang hanya perlu ditutupi dengan makanan bergizi."

Qingshan masuk membawa nampan berisi tiga mangkuk bubur encer dan sepiring kecil asinan sayur. Pemuda kekar itu meletakkan makanannya di meja dengan kasar, raut wajahnya terlihat sangat tegang dan serius. Ia menatap Xinghe lekat-lekat.

"Ibu sudah aman. Sekarang, kita harus membicarakan masalahmu," potong Qingshan tanpa basa-basi, suaranya berat menahan kecemasan. Ia duduk berhadapan dengan adiknya. "Kemarin, saat aku kembali dari hutan, seluruh desa membicarakan keributan di Balai Pengobatan Daun Kembar. Mereka bilang kau meremukkan tulang rusuk Zhao Meng hingga pria beruang itu harus diseret pulang oleh anak buahnya."

Xinghe menyuap sesendok bubur hambar ke mulutnya dengan tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada tajam kakaknya. "Dia menghalangi jalanku. Aku hanya memindahkannya."

Qingshan menggebrak meja hingga mangkuk-mangkuk berguncang. Wajahnya memerah menahan frustrasi. "Memindahkannya?! Xinghe, sadarlah! Ini bukan sekadar perkelahian jalanan. Zhao Meng adalah anjing penjaga keluarga Gongsun! Gongsun Ye tidak akan pernah membiarkan bawahannya dipermalukan oleh seseorang dari keluarga cabang Yan yang sudah ia hancurkan."

Kakak sulung itu menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kasar. "Keluarga Gongsun memiliki kekayaan dan koneksi. Kepala Desa Gongsun Tian adalah praktisi kuat di Tingkat Kesembilan Penyempurnaan Tubuh. Mereka memiliki lusinan pengawal bersenjata. Kita... kita bahkan tidak memiliki cukup koin tembaga untuk membeli sepotong daging babi. Jika mereka datang membalas dendam, kita bertiga tidak akan selamat."

Shen Yulan yang mendengar percakapan itu kembali memucat. Tangannya meremas selimut erat-erat. Ketakutan yang baru saja mereda akibat kesembuhannya kembali mencekik lehernya.

Xinghe meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap lurus ke dalam mata Qingshan. Tidak ada kepanikan. Tidak ada keputusasaan. Matanya sedalam samudra hitam yang tak tersentuh cahaya, memancarkan dominasi absolut yang membuat Qingshan tanpa sadar menahan napasnya.

"Gongsun Ye tidak akan datang sendiri hari ini," ucap Xinghe datar, suaranya membawa keyakinan mutlak seorang peramal masa depan. "Dia terlalu arogan untuk mengotori tangannya pada seseorang yang sudah ia anggap cacat. Dia tidak percaya aku yang mengalahkan Zhao Meng dengan kekuatan sendiri. Dia pasti berpikir aku menggunakan racun atau jebakan kotor di balai pengobatan itu."

"Meski begitu, dia tidak akan tinggal diam!" sergah Qingshan, mencoba menembus dinding ketenangan adiknya.

"Benar. Dia akan mengirim seseorang yang lebih kuat, lebih disiplin, dan tidak sebodoh Zhao Meng untuk membuktikan bahwa aku tidak memiliki apa-apa. Seseorang yang cukup kuat untuk melumpuhkan seluruh keluarga kita sekaligus sebagai bentuk peringatan bagi seluruh desa." Xinghe berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju sudut dapur, memungut sebatang dahan pohon ek kering berukuran panjang yang biasa digunakan Qingshan sebagai kayu bakar cadangan.

Dahan itu seukuran lengan anak-anak, kasar, penuh simpul kayu, dan sama sekali tidak menyerupai senjata. Xinghe menimbangnya di tangan kanan, merasakan titik keseimbangan dahan tersebut.

"Berhentilah cemas, Kakak. Aku yang memancing serigala itu keluar dari sarangnya. Aku pula yang akan mematahkan taringnya," lanjutnya tanpa menoleh, terus menajamkan ujung dahan kayu itu dengan sebilah pisau tumpul peninggalan ayahnya.

Kata-katanya memancarkan arogansi yang tidak masuk akal, sangat bertolak belakang dengan realitas tubuhnya yang kurus dan pucat. Qingshan tidak bisa memahami dari mana adiknya mendapatkan kepercayaan diri yang mengerikan ini. Sebelum Qingshan sempat membuka mulut untuk membantah lagi, suara gedoran keras yang mengguncang seluruh dinding gubuk menghentikan detak jantung semua orang di ruangan itu.

*BRAAAK!*

Pintu depan kayu yang rapuh itu ditendang hingga terlepas dari engselnya, terpental menghantam dinding ruang tamu dengan suara berdebum yang memekakkan telinga. Debu dan serpihan kayu beterbangan ke udara.

Di ambang pintu yang kini berlubang menganga, berdiri sesosok pria tinggi besar mengenakan rompi kulit serigala abu-abu. Otot-otot lengannya terbuka, menampilkan jaringan parut yang mengerikan. Sepasang sarung tangan kulit besi melapisi kepalan tangannya. Matanya setajam burung elang yang mengincar mangsa, memancarkan aura menekan yang membuat udara di sekelilingnya terasa berat.

Di belakangnya, berkumpul lima orang preman bersenjata golok panjang yang tersenyum bengis.

"Instruktur Besi, Lei Ba!" Qingshan terkesiap, melangkah mundur secara naluriah menyembunyikan ibu dan adiknya di belakang punggung besarnya.

Lei Ba adalah kepala pelatih bela diri di kediaman Gongsun, seorang kultivator tangguh yang telah menduduki puncak Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Keempat. Dia memiliki kekuatan fisik setara dengan lima ekor kerbau liar dan pertahanan kulit yang nyaris kebal terhadap senjata tajam biasa. Mengirim Lei Ba untuk menangani sebuah keluarga cabang yang lumpuh adalah bentuk pembantaian sepihak.

"Yan Qingshan," Lei Ba bersuara. Nadanya berat dan kasar bagai batu gilingan bergesekan. "Minggir. Tuan Muda memerintahkanku untuk menyeret adikmu yang lumpuh itu ke hadapannya, hidup atau mati. Aku tidak peduli dengan nyawa kalian yang lain asalkan kalian tidak menghalangi jalanku."

Qingshan menggertakkan gigi. Keringat dingin mengalir deras dari dahinya. Menghadapi praktisi Tingkat Keempat, seluruh kekuatan otaknya berteriak menyuruhnya berlutut memohon ampun. Di belakangnya, Xiaoxiao menangis tertahan memeluk kaki ibunya yang bergetar ketakutan. Qingshan menelan ludah paksa, mengepalkan kedua tinjunya erat-erat, dan memaksakan diri melangkah maju satu langkah.

"Kalian tidak akan menyentuh sehelai rambut pun dari adikku selama aku masih bernapas!" raung Qingshan. Ia mengerahkan seluruh sisa-sisa tenaga kasar hasil menebang pohon selama bertahun-tahun. Urat-urat di lehernya menonjol, ia melompat ke depan melayangkan pukulan lurus ke arah dada Lei Ba.

Ini adalah serangan putus asa seorang kakak yang melindungi keluarganya. Pukulan tanpa teknik, sepenuhnya mengandalkan luapan emosi dan tenaga mentah.

Lei Ba hanya mendengus meremehkan. Ia tidak bergerak mundur sedikit pun. Menghadapi tinju Qingshan yang melesat ke arahnya, ia dengan santai mengangkat tangan kanannya yang terbungkus sarung kulit besi.

*Baaam!*

Suara benturan daging dan besi bergema. Qingshan berteriak kesakitan. Pukulannya serasa menabrak lempengan baja padat. Tulang-tulang buku jarinya retak, rasa ngilu luar biasa merambat seketika ke bahunya. Sebelum Qingshan bisa menarik lengannya kembali, Lei Ba memutar pergelangan tangannya, menangkap lengan Qingshan dengan cengkeraman maut.

"Sampah tetaplah sampah. Kau pikir tenaga pemotong kayu bisa menggores seniman bela diri sesungguhnya?" ejek Lei Ba dingin. Ia menarik lengan Qingshan dengan paksa, mematahkan keseimbangan pemuda itu, lalu menghantamkan lutut kirinya tepat ke perut Qingshan.

*Bugh!*

Qingshan memuntahkan seteguk darah segar, matanya membelalak lebar kehilangan fokus. Tubuh besarnya terlipat menahan rasa sakit yang merobek organ dalamnya, jatuh berlutut di tanah tanah liat menutupi perutnya yang kram parah. Seluruh perlawanannya hancur dalam satu tarikan napas.

"Kakak!" Xiaoxiao menjerit histeris.

Lei Ba mengusap sarung tangannya yang sama sekali tidak tergores, matanya menyapu seisi ruangan mencari target utamanya. Tatapannya berhenti pada sosok pemuda kurus yang berdiri tenang di ambang pintu dapur. Pemuda itu tidak terlihat ketakutan melihat kakaknya muntah darah. Ia hanya memegang sebatang dahan kayu kering di tangan kanannya dengan posisi miring ke bawah, ujung menunjuk ke tanah.

Mata Lei Ba menyipit curiga. Ini dia Yan Xinghe. Desas-desus mengatakan bocah ini mengalahkan Zhao Meng dengan sihir atau trik kotor. Melihat posturnya yang rileks, Lei Ba mengantisipasi adanya jebakan di lantai atau udara.

"Jadi, kau tikus cacat yang berhasil menjatuhkan si bodoh Zhao Meng," Lei Ba melangkah masuk perlahan, sepatunya menggilas pecahan pintu kayu. Lima pengawalnya mengikuti, menyebar menutup akses jalan keluar gubuk. "Keluarga Gongsun memberimu hukuman putusnya meridian agar kau belajar merangkak. Tampaknya, kami harus memotong kedua kaki dan tanganmu agar kau menyadari posisimu yang sebenarnya."

Xinghe melangkah maju melewati tubuh Qingshan yang terkapar mengerang. Ia menunduk sejenak, menepuk ringan bahu kakaknya yang gemetar. Sentuhan kecil itu, anehnya, menyalurkan gelombang ketenangan aneh yang membuat rasa sakit Qingshan sedikit mereda.

Xinghe kembali berdiri tegak, memutar dahan pohon ek di tangannya satu kali membelah udara dengan suara mendesing tajam.

"Satu langkah lagi kau mengotori lantai rumahku dengan sepatu najismu itu, aku pastikan kau meninggalkan tempat ini tanpa sepasang kaki," ancam Xinghe. Nada suaranya tidak meninggi. Sangat santai, sedingin es, seperti seorang bangsawan yang menegur pelayan karena menumpahkan anggur.

Ancaman itu diucapkan oleh seorang pemuda tanpa sedikit pun fluktuasi energi spiritual di dalam tubuhnya. Ironi ini begitu kental hingga kelima preman di belakang Lei Ba meledak dalam tawa meremehkan.

Lei Ba sendiri tidak tertawa. Insting pertarungannya yang ditempa dalam ratusan konflik jalanan tiba-tiba membunyikan alarm bahaya. Ada yang salah dengan posisi berdiri pemuda ini. Sepintas terlihat penuh celah, berdiri membusungkan dada tanpa kuda-kuda pertahanan. Akan tetapi, saat Lei Ba mencoba merencanakan rute serangan—baik itu pukulan ke arah kepala, tendangan ke arah lutut, atau sapuan ke arah pinggang—instingnya memperingatkan bahwa ia akan menemui kematian.

Setiap sudut serangan yang mungkin ia lakukan, entah bagaimana, telah dikunci mati oleh ujung dahan kayu murahan yang dipegang dengan santai oleh pemuda cacat tersebut.

Ini bukan posisi biasa. Ini adalah ranah yang tidak dipahami oleh semut fana seperti Lei Ba. Ini adalah pengejawantahan dari *Niat Pedang* tingkat absolut, sebuah kondisi di mana pikiran dan senjata menjadi satu kesatuan yang mendominasi hukum ruang di sekitarnya.

"Membual di ambang kematian!" Lei Ba menepis peringatan instingnya, menganggapnya sebagai halusinasi sesaat akibat kelelahan. Tidak mungkin ahli bela diri sepertinya gentar pada gertakan seorang anak berusia lima belas tahun!

Ia meraung keras, memobilisasi seluruh energi spiritual dari dalam meridiannya. Otot tubuhnya membengkak hampir merobek rompi kulitnya. Urat-urat menonjol, memberikan pasokan tenaga ledakan ke kedua kakinya. Dengan satu tolakan yang membuat lantai tanah berlubang, Lei Ba melesat maju bagai kereta baja yang kehilangan rem, melayangkan pukulan *Tinju Penghancur Batu* langsung ke wajah Xinghe.

Udara di depan tinju itu menjerit terkoyak. Kekuatannya cukup untuk menghancurkan pilar batu menjadi serpihan. Jika pukulan ini mendarat, kepala Xinghe akan hancur berantakan seperti buah semangka matang yang dipukul palu godam.

Qingshan dan Xiaoxiao memejamkan mata, tidak sanggup melihat akhir tragis tersebut.

Bagi mata Lei Ba dan para preman di belakangnya, segalanya terjadi dalam sekejap mata. Pukulan dilayangkan, jarak tertutup dalam milidetik.

Di dimensi persepsi Xinghe, waktu bergerak selambat tetesan madu yang jatuh.

Kekuatan kasar tanpa teknik adalah kelemahan terbesar. Lei Ba menggunakan seluruh tenaganya dalam satu serangan lurus, memfokuskan seratus persen tenaganya ke depan, tanpa menyisakan satu persen pun cadangan tenaga untuk mengubah arah atau menarik lengannya jika terjadi perubahan tak terduga.

Xinghe sama sekali tidak berniat menahan pukulan tersebut. Bahkan dengan fisik barunya yang telah sedikit ditempa malam tadi, tulang tangannya akan hancur seketika jika berbenturan langsung dengan Tinju Penghancur Batu itu.

Tepat sepersekian detik sebelum sarung tangan kulit besi Lei Ba menyentuh hidungnya, Xinghe melakukan gerakan yang mustahil dilakukan manusia normal. Ia tidak melompat mundur atau menunduk, ia memiringkan poros tubuh bagian atasnya mengikuti arah angin pukulan, menciptakan ilusi seolah bayangannya tertinggal di tempat asalnya.

Tinju ganas itu memukul udara kosong, menyapu rambut poni Xinghe tanpa menyentuh sehelai kulit pun.

Momentum serangan Lei Ba yang terlalu besar membuatnya kehilangan titik pijak. Beban tubuhnya terseret ke depan, membuatnya berada dalam posisi rapuh tak berdaya selama dua detik penuh.

Dua detik. Bagi Kaisar Pedang Langit, itu adalah waktu luang yang berlimpah untuk mengakhiri ribuan nyawa.

Tangan kanan Xinghe bergerak kilat. Dahan pohon ek yang dipegangnya melesat naik bukan dengan tebasan, melainkan sebuah tusukan lurus menembus celah ketiak Lei Ba yang terbuka lebar akibat melayangkan pukulan. Serangan ini tidak menggunakan otot bahu, melainkan tenaga putaran pinggang yang disalurkan melalui persendian siku, memusatkan titik hantam pada ujung kayu selebar ibu jari.

*Pletak!*

Suara kayu berbenturan dengan tulang rawan menggema tajam. Ujung dahan ek itu menohok tepat di simpul saraf Kumpulan Bintang di pangkal bahu Lei Ba, sebuah titik mati meridian yang sangat fatal namun sangat tersembunyi.

Mata Lei Ba membelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Wajah garangnya membeku. Tubuh besarnya mendadak kaku seperti disambar petir ribuan voltase. Sengatan rasa sakit dan mati rasa yang mengerikan meledak dari bahunya, merambat seketika menghancurkan aliran energi spiritual di setengah tubuh kanannya.

Ia jatuh tersungkur dengan keras, wajahnya menghantam lantai tanah penuh debu. Lengan kanannya lumpuh total, menggantung layu seperti mie rebus. Energi Penyempurnaan Tubuh Tingkat Keempatnya tercerai-berai tak terkendali di dalam dadanya, membuatnya batuk darah berulang kali.

Keheningan mencengkeram ruangan itu. Lima preman bersenjata golok di ambang pintu terpaku di tempat, rahang mereka jatuh hampir menyentuh dada. Instruktur Besi mereka yang legendaris, mesin pembunuh keluarga Gongsun, jatuh tumbang hanya dengan satu sodokan kayu ranting dari bocah cacat? Ini lebih tidak masuk akal daripada melihat babi hutan terbang melintasi matahari.

Xinghe tidak mengejar kemenangannya. Ia kembali menarik dahan kayunya, memutarnya santai di sela-sela jari seolah tidak terjadi apa-apa, dan berdiri menatap tumpukan daging besar yang mengerang di ujung kakinya.

Dadanya terasa sangat sesak. Paru-parunya membakar, persendiannya nyeri luar biasa akibat gerakan ekstrem barusan yang melampaui batas kewajaran fisik fananya. Ia menelan paksa genangan darah di tenggorokannya, mempertahankan ekspresi dingin seperti es abadi.

"Seperti yang kukatakan," suara Xinghe memecah keheningan yang mencekik, matanya menatap tajam ke arah lima preman yang mulai gemetar hebat. "Bawa rongsokan ini kembali pada majikan anjing kalian. Katakan pada Gongsun Ye, jika ia ingin nyawaku, berhentilah mengirim pion cacat. Datanglah sendiri, dan aku akan mengajarinya cara menghormati langit."

Para preman itu saling berpandangan, ngeri tergambar jelas di wajah mereka. Insting bertahan hidup mengalahkan kesetiaan mereka pada upah bayaran. Tanpa membuang waktu, dua orang maju dengan hati-hati merangkul tubuh Lei Ba yang setengah pingsan, mengangkutnya pergi terbirit-birit menjauh dari pekarangan rumah keluarga Yan seakan sedang dikejar oleh dewa kematian itu sendiri.

Melihat bayangan musuh menghilang di balik tikungan desa, Qingshan yang masih memegangi perutnya berusaha berdiri dengan bantuan meja. Wajah pemuda itu dipenuhi keterkejutan yang melampaui batas nalar. "Xinghe... kau... bagaimana kau bisa melakukan itu? Dia berada di Tingkat Keempat!"

Xinghe melemparkan dahan kayunya ke sudut ruangan. "Kekuatan tanpa mata hanyalah batu yang menggelinding membabi buta, Kakak. Menghindari batu tidak membutuhkan tenaga dewa, hanya arah yang tepat."

Penjelasan sederhana itu gagal menyembunyikan keajaiban yang baru saja terjadi, namun Qingshan terlalu kelelahan untuk mendebat lebih jauh. Shen Yulan dan Xiaoxiao buru-buru memapah Qingshan untuk duduk, membersihkan darah dari bibirnya.

Meskipun memenangkan pertarungan singkat ini, pandangan Xinghe semakin menggelap. Kemenangan ini hanyalah letupan kembang api sesaat. Ia berhasil mematahkan lengan Lei Ba murni karena pria itu meremehkannya dan menyerang secara ceroboh. Jika mereka mengepungnya perlahan dan menyerang bersamaan, atau jika Gongsun Ye yang lebih licik dan memiliki penguasaan teknik martial art sesungguhnya datang, Xinghe tahu ia tidak akan bisa menggunakan trik yang sama.

Titik meridiannya harus segera dipulihkan. Ia tidak bisa terus-menerus bertarung menggunakan sisa tenaga fana yang merusak tubuhnya sendiri. *Seni Penempaan Tulang* terlalu lambat. Ia membutuhkan katalisator yang kuat, sebuah ledakan energi dari luar untuk memaksa sembilan meridian utamanya tersambung kembali, tidak peduli betapa berbahayanya proses itu.

Xinghe menatap ke arah Hutan Binatang Buas di kejauhan, pegunungan hijau gelap yang diselimuti kabut tebal, tempat di mana ayahnya dikabarkan menghilang.

"Aku harus memasuki kedalaman Hutan Binatang Buas besok," ucap Xinghe tenang, memecah kelegaan keluarganya.

Qingshan membelalak, mengabaikan rasa sakit di tulang rusuknya. "Kau gila?! Hutan itu penuh dengan monster spiritual tingkat menengah! Jangankan kau, bahkan regu pemburu elit desa tidak berani masuk melewati zona luar."

"Aku membutuhkan inti monster tipe guntur untuk memaksa membuka segel meridianku. Keluarga Gongsun tidak akan berhenti. Jika aku tidak memulihkan kekuatan dasar untuk memadatkan inti energiku dalam waktu tiga hari, kita semua akan mati bersimbah darah di gubuk ini. Ini bukan pilihan, Kakak. Ini adalah satu-satunya jalan menuju keabadian hidup kita."

Kata-kata itu meluncur dingin dan tegas, membungkam segala bentuk bantahan. Yan Xinghe yang dulu mungkin hanyalah pemuda lumpuh yang meratapi nasib. Akan tetapi, bayangan yang berdiri di hadapan mereka saat ini adalah seekor naga yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya, bersiap mengepakkan sayap menantang badai yang sesungguhnya. Tiga Ribu Dunia mulai bergetar, menyambut kembalinya Sang Penakluk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!