ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGHINAAN DAN PENOLAKAN
Di sebuah restaurant tepat di Kota Bandung, dua orang berhadapan saling menatap. Seakan menyiratkan kerinduan satu sama lain. Pria dan wanita yang berusia tak jauh berbeda. Pun, mereka pernah hidup di bawah atap yang sama. Pernah berbagi cinta dan kasih. Bahkan telah membuahkan hasil.
"Bagaimana kabarmu?"Andi Pangerang Adam memulai pembicaraan.
Wanita yang telah menginjak kepala empat, namun wajahnya masih terlihat cantik, menipiskan bibir. Betapa tidak, dalam ingatan masih terputar jelas kenangan bersama mantan suami.
Hubungan awalnya sangat bahagia, namun harus kandas di tengah jalan karena persoalan yang cukup pelik.
"Sangat baik," jawabnya singkat.
Andi Adam mengangguk, "Syukurlah ...."
Meski telah lama berpisah, namun sekat kecanggungan diantara keduanya masih ada. Jika bukan karena puteri semata wayangnya, mungkin komunikasi antara Adam dan Soraya pun sudah berakhir sejak terdengar ketukan palu pengadilan agama.
"Ada yang ingin aku sampaikan, Raya." Pria matang itu pun kembali melanjutkan obrolan, sedangkan Soraya mengangkat cangkir teh hangat dan menghisap dengan pelan.
Ia hanya mengangkat alis sebagai isyarat 'Ada apa?'
Andi Adam menunggu sampai aktivitas wanita di depan selesai. Ia akan mengutarakan hal penting. Ya, prihal lamarannya kepada Andi Alda Marolah. Hal tersebut sebagai bentuk penghargaan pada ibu dari anaknya.
"Raya ... sebentar lagi aku akan menikah," katanya dengan penuh keyakinan.
Sederet kalimat tersebut membuat Soraya terdiam. Ia mencerna baik-baik ucapan mantan suaminya.
Menikah?
Wanita yang mengenakan dress hitam selutut itu tersenyum miring.
"Itu Berita yang sangat baik."
Setelah ratusan hari perceraiannya dengan Andi Adam, kini pria itu datang dan menyatakan telah memiliki penggantinya. Bahkan, ia sendiri belum berpikir untuk ke arah itu.
"Tapi ... apa kamu yakin ingin menikah lagi?" katanya dengan nada sarkas. Bukan tanpa alasan, ia hanya ingin mengingatkan masa lalu yang membuat mereka kembali asing.
"Aku butuh pendamping di usiaku yang tidak muda lagi."
Soraya mengangguk "Aku harap semuanya tidak terulang."
Andi Adam menipiskan bibir. Sekelebat ingatannya kembali ke dua tahun lalu. Harus ia akui, bahwa dirinyalah paling bersalah atas segala yang terjadi, hingga maaf pun rasanya tak cukup untuk menebus.
"Maafkan semua kesalahanku."
Mungkin sudah puluhan kali ia mengucapkan hal tersebut di depan wanita yang pernah mengisi hari-harinya.
"Aku sudah mengikhlaskan semuanya demi puteriku. Bukan berarti aku melupakan. Kenangan pahit itu membuatku sulit menerima pria baru," ucapnya dengan pias.
"Aku harus bagaimana untuk menebus semuanya, Ra?"
Soraya hanya mengedikkan bahu dan keduanya pun terdiam sesaat.
"Siapa wanita itu?"
*
Ibu Hilda beserta puteranya telah duduk di depan Sang Kuasa di rumah itu. Andi Shadam Marolah beserta Sang Istri, Andi Erna Idrus. Keduanya betul-betul dilanda ketegangan yang hebat. Namun hal tersebut berhasil tertutupi oleh senyuman tulus Ibu Hilda dan Ibnu.
Orang tua Alda bungkam mengamati tamunya. Raut wajah tak senang tentu menghiasi.
Alda yang menyaksikan itu, hanya mampu menelan ludah. Ia bak berada di sisi jurang. Keputusan ayah-ibunya akan menentukan segalanya.
"Ibu mau meminum apa?" Alda mencoba mencairkan.
"Tidak perlu repot-repot, Nak," balas Ibu Hilda dengan amat lembut.
"Tidak apa, Bu."
"Alda." Andi Erna memperingati.
Serempak ketiganya terdiam. Alda hanya menunduk dan membalikkan tubuh. Perlahan ia melangkah menuju dapur.
Sepeninggal wanita cantik itu, Ibu Hilda kembali fokus dengan tujuannya.
"Mohon maaf jika kami mengganggu."
Ibu Hilda memulai pembicaraan. Dia akan menyampaikan tujuannya datang. Menemui kedua tuan rumah yang duduk di depan menatapnya tanpa senyum ramah.
Ibnu yang duduk tepat di samping sang ibu tak berani menatap bola mata Andi Shadam. Jujur dia sangat takut. Aura ketegangan seperti menghimpit dadanya, sehingga bernapas pun rasanya sangat berat.
Ibu Hilda melanjutkan pembicaraan. Dia berusaha tenang. "Tujuan kami datang kemari untuk melamar Andi Alda Marolah," ucapnya dengan berterus terang. To the poin.
"Apa saya tidak salah dengar?" Jawab Andi shadam spontan namun tegas.
Ibu hilda menggeleng pelan. "Itu benar, Puang. Saya ingin melamarkan putri Puang Shadam dan Puang Erna untuk putraku Ibnu."
Andi Erna mengerutkan kening. Lancang. Benar-benar lancang.
"Pernah mendengar pepatah bugis, narekko dekpa nasekke pannimu aja melo luttu (Jika kedua sayapmu belum tumbuh dengan baik, jangan mencoba untuk terbang)"
Ibu Hilda menelan ludah. Tentu dia bukan orang bodoh yang tidak mengetahui hal itu. Dia berbalik melihat putranya yang lebih dulu menatapnya. Sorot matanya jelas memancarkan harapan yang mendalam.
Wanita paruh baya itu kembali melihat Andi Erna yang tidak bergeming sama sekali.
"Apa yang bisa Ibnu berikan kepada putri semata wayangku?" Bak menantang Ibnu dan Ibunya.
Ibu Hilda menarik napas dan mengeluarkan dengan perlahan. "Berapa uang panaik yang Puang inginkan?" Tanyanya dengan nada lembut.
Andi Shadam dalam hatinya mengakui tekad dan keberanian dua orang di depannya. Tapi sungguh bukan ini yang dia inginkan.
Seandainya dia mampu memberikan seisi dunia untuk putrinya, pasti akan diberikan. Itu menggambarkan betapa cintanya ia kepada Alda.
Sedari kecil Andi Alda selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan Andi Shadam dan Andi Erna pernah melarang putrinya untuk bekerja. Mau cari apa lagi? Semua telah mereka siapkan. Bukan hanya itu, Andi Shadam dan Andi Erna tetap bersikukuh untuk mempertahankan gelar kebangsawanannya sebagai warisan turun temurun.
Tiba-tiba Andi Shadam dan Andi Erna terkekeh seolah mengejek keduanya. Alda yang mencuri dengar sedari tadi di balik tembok ruang tamu menggigit bibir dalamnya. Teh hangat yang berada di tangannya tak mampu lagi ia suguhkan di ruang tamu itu. Alda tak mampu berbuat apa-apa. Orang tuanya lebih keras dari yang orang tahu.
"Persoalannya bukan pada uang panaik. Saya hanya ingin putriku memiliki suami yang sepadan dengan keluarga kami," pungkasnya. "Garis keturunan calon suami Andi Alda, semuanya harus jelas."
Ibu Hilda dan Ibnu menelan ludah. Firasatnya sudah sangat tidak bagus. Keduanya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Andi Shadam.
"Andi Alda Marolah sudah saya jodohkan dengan Andi Pangeran Adam."
DEG!
Sederet kalimat itu membuat Ibnu memejamkan mata. Jantungnya berdetak lebih kencang dari yang biasanya. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
Alda sudah dijodohkan? Lalu kenapa ia tidak pernah jujur?
"Beberapa hari yang lalu kami sudah memutuskan semuanya. Acaranya akan diadakan secepatnya."
Ucapan Andi Erna semakin membuat Ibu Hilda tercengang. Bibirnya seolah terkunci. Tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana. Sedangkan Ibnu ia seperti di dorong kedasar jurang. Hatinya hancur. Benar-benar hancur.
Oh Alda. Sedari awal harusnya sadar diri. Aku dan Ibuku tidak akan pernah diperhitungkan dikeluargamu. Hubungan ini bagai langit dan bumi. Aku tidak akan pernah bisa menggapaimu.
Ibu Hilda meremas tangan putranya. Mencoba memberi kekuatan. Ia berbisik di telinga Ibnu "Maaf, Nak. Hanya ini yang mampu Ibu lakukan."
.
smg ibnu jg bisa mncintai nana