Mentari Handoyo, seorang putri angkat dari Mirna Arzeta Wijaya. Ia harus menyembunyikan identitas aslinya dari Laura, putri kandung Mirna. Mentari bekerja sebagai seorang pengasuh untuk mengelabui kakak angkatnya itu.
Ia hanya menandatangani surat kontrak kerja selama setahun. Siapa sangka, ia terjebak dalam jeratan ayah dari anak yang diasuhnya. Waktu setahun itu bertambah panjang, karena ia melakukan pernikahan kontrak dengan sang majikan.
Siapa sebenarnya Mentari? Mungkinkah mereka bisa saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Monica merasa seperti telah dihantam besi oleh apa yang dia dengar. Kata-kata Rea dan temannya masih terngiang di telinganya, membuatnya merasa sakit dan marah. Dia tidak bisa percaya bahwa teman yang dia percayai selama ini bisa berlaku seperti itu.
"Sudah pulang, Sayang?" tanya sang mama yang melihat monica berjalan menaiki tangga.
Namun, gadis itu seperti sedang terhipnotis. Pandangan matanya kosong. Ia bahkan tidak menjawab ketika Tari menyapanya.
Monica berjalan kembali ke kamarnya, mencoba untuk menenangkan diri. Namun, pikirannya terus berputar tentang Rea dan kata-katanya yang menyakitkan. Dia merasa seperti telah kehilangan kepercayaan pada orang yang paling dekat dengannya.
Saat dia membuka pintu kamarnya, Monica melihat foto-foto dirinya dan Rea yang terpajang di dinding. Dia merasa seperti melihat kebohongan besar. Semua senyum dan tawa yang mereka bagi bersama, ternyata hanya akting belaka.
Kenapa, Re? Kita sudah bersama sejak SD. Semua kenangan ini ternyata palsu belaka. Kenapa kamu tega kepadaku seperti ini?
Monica merasa seperti perlu melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sakit ini. Dia tidak bisa hanya diam dan membiarkan Rea terus berlaku seperti ini. Monica memutuskan untuk menghadapi Rea dan meminta penjelasan tentang apa yang dia dengar.
Dengan hati yang berdebar, Monica pergi menuju ke tempat Rea. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi dia siap untuk menghadapi apa pun. Monica ingin tahu mengapa Rea bisa berlaku seperti itu, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik senyum Rea yang manis.
Monica tiba di rumah Rea dan menemukan gadis itu di ruang tamu, sedang asyik menonton TV. Monica langsung menghampiri Rea, dengan wajah yang menunjukkan kemarahan.
"Rea, kita perlu bicara," kata Monica, suaranya tegas.
Rea terkejut melihat ekspresi Monica yang tidak biasa. "Apa yang salah, Monica?" tanya Rea, mencoba untuk terlihat tidak bersalah.
"Kamu tahu apa yang salah," kata Monica, suaranya semakin keras. "Aku tidak sengaja mendengar percakapan kamu dengan temanmu. Kamu bilang aku seperti mesin ATM bagi kamu?"
Rea tersenyum sinis, dan untuk pertama kalinya, Monica melihat sisi lain dari Rea.
"Ya, itu benar," kata Rea, suaranya penuh dengan rasa iri. "Kamu selalu mendapatkan perhatian dari semua orang. Kamu pintar, cantik, dan populer. Semua pria mengejarmu bahkan pria yang kusuka juga menyukaimu. Aku tidak bisa bersaing dengan kamu."
Monica terkejut melihat Rea yang biasanya manis dan ramah, sekarang menunjukkan wajah yang penuh dengan rasa iri.
"Kamu iri dengan aku?" tanya Monica, tidak percaya.
"Ya, aku iri," kata Rea, suaranya semakin keras. "Aku selalu merasa seperti berada di bayang-bayang kamu. Kamu mendapatkan nilai yang bagus, kamu memiliki banyak teman, dan kamu selalu terlihat cantik. Aku merasa seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu."
Monica merasa sakit mendengar kata-kata Rea. Dia tidak pernah menyadari bahwa Rea merasa seperti itu.
"Mengapa kamu tidak pernah bilang apa-apa padaku selama ini?" tanya Monica, merasa sedih.
Rea tertawa sinis. "Apa gunanya? Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi aku."
"Tapi aku bisa memperbaiki diri jika kamu mengatakannya padaku. Aku bahkan tidak tahu kamu menyukai seseorang. Sampai saat ini, tidak ada satu lelaki pun yang kuterima karena aku memikirkan perasaanmu jika hanya aku seorang yang memiliki kekasih," tutur Monica panjang lebar.
"Diam! Kamu pikir aku tersentuh dengan rasa kasihanmu itu? Tidak!" Rea berteriak dengan tatapan sarkastik.
Pertengkaran antara Monica dan Rea semakin memanas, dan Monica tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Tak sanggup menahan kecewa yang menyesakkan, Monica memilih pergi. Ia berjalan di tengah hujan rintik-rintik dengan hati yang hancur.
○Bersambung○
next chap.. jgn terlalu panas thor.., diluar cuaca nya udh panas.. 😁😁
dear Laura.., knp Will milih Tari.., krn hati nya Tari putih bersih jd terpancar di aura nya.. sementara lau.. hati lau hitam kotor penuh dengki.. jd nya aura lau tuh gelap.. 😡😡
#readersebel (😂😂)
semangat othor.. ☕
bakalan malu tuh si model karbitan.. 😁😁
ayo thor.. lanjut.. 😍😍
tengah hari dibikin makin panas.. hahay.. 😂
mmng yg paling enak itu belah duren yg jatuh dr pohon nya.. (bkn terpaksa) 😁😁
kuy.. ditunggu bunyi gedebuk nya duren yg jatoh.. 😅😅
btw, gimana reaksi ayah nya william.. klo tau anaknya nikah dgn wanita lain yg bkn pilihan nya.. 🤔🤔
next>> 😁
GPL yak.. 😁😁 pinisirin nih.. 🙈