Berkisah tentang seorang pria berumur 23 tahun bernama Reynald, yang biasa saja kehidupannya namun di suatu hari di siang bolong ketika ia ingin pergi keuniversitas untuk belajar, ia melihat seorang wanita yang sedang melamun di jalan, lalu tiba-tiba saja ada sebuah mobil truk yang ingin menabraknya, Reynald yang tak memikirkan apapun lagi secara spontan ia berlari dan mendorong wanita tersebut, di akhir hayatnya ia bisa melihat wanita tersebut selamat, Reynald sedikit bangga dengan itu, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap dalam hatinya ia berkata "Apa ini akhir dari kehidupan seorang perjaka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOTHING TO LOSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 AKADEMI SIHIR 2
Saat ini kami bertiga sedang didepan pintu kelas kami, kalian harus tau pintu di sekolah ini juga ternyata sultan haih ini sekolah atau hotel bintang 5.
Ouh yah aku sudah meminta maaf pada Gisel dan Giselen dan al hasil saat ini mereka tidak cemberut lagi padaku.
Ya syukurlah kalau begitu. Aku pun kemudian membuka pintu tersebut dan kami pun masuk.
Dan kalian tau kami di sambut sangat meriah oleh banyak orang, aku terheran-heran kami bertiga seperti artis.
Bukan aku sik sepertinya yang artis adalah Gisel dan Giselen soalnya kebanyakan yang menyambut kami langsung adalah pria.
Mereka semua sepertinya ingin berkenalan dengan Gisel dan Giselen untuk beberapa alasan Giselen dia bersembunyi dibelakangku sambil memegang kepadaku.
Sedangkan Gisel dia maju kedepan aku tidak tau apa yang dia ingin lakukan, tapi dia tiba-tiba saja memasang ekspresi tegas.
"JANGAN HALANGI JALAN KAMI AKU TIDAK INGIN BERKENALAN DENGAN KALIAN AKU SUDAH MEMILIKI KEKASIH." Jelas Gisel dengan tegas dan keras yang membuat suasana ricuh disana hening.
Aku yang mendengar itu jelas terkejut hah? Apa? Gisel memiliki kekasih siapa? Hah? Kok bisa tunggu sebentar biarkan aku berpikir.
Dan tiba-tiba saja Gisel mendekatiku dan dia langsung memeluk tangan kananku "Dia ini adalah kekasihku!!!." Aku langsung saja terdiam seribu bahasa.
Di kepalaku terlalu banyak pertanyaan, tak sampai situ saja, Giselen dia ikut-ikutan juga "AKU JUGA SUDAH MEMILIKI KEKASIH JADI JANGAN HALANGI JALAN KAMI."
Aku sama sekali tidak mengerti mengapa mereka berdua melakukan itu aku hanya terdiam sekarang tangan kiri kananku di peluk oleh dua wanita cantik dan imut yang tidak lain Gisel dan Giselen.
Otakku saat ini ngefreeze aku sama sekali tidak mengerti aku sama sekali tidak paham. Apa yang mereka lakukan ini wajar atau tidak aku tidak tau.
Tapi yang pasti saat ini mereka semua para pria yang ada di kelas ini menatapku dengan tatapan yang menyeramkan seperti ingin membunuh.
Haaahhh......Padahal baru saja masuk sekolah tadinya aku ingin berbaur dan menjadi mahluk sosial biasa tapi jika melihat keadaan yang seperti sekarang sepertinya tidak bisa.
Rasanya seperti De javu tapi berbeda, aku berharap semoga semuanya baik-baik saja.
Aku Gisel dan Giselen duduk di paling belakang, kami bertiga duduk berdekatan, dan aku tepat berada di tengah mereka berdua.
Walaupun aku Gisel dan Giselen duduk dibelakang tapi tetap saja aku merasa mereka semua sedang menatapku dengan penuh kebenciaan.
Aku paham sik sepertinya mereka sirik haih wahai kaum pria kalian jangan sirik wanita masih banyak bahkan aku saja berniat ingin menambah lagi.
"Gisel, Giselen aku ingin bertanya apa yang kalian lakukan itu tadi adalah hal yang wajar?"
"Tentu saja wajar justru jika tidak seperti itu aku yakin mereka akan terus mendekati kami berdua dan terus menganggu kami berdua." Ucap Gisel.
"Apa yang dikatakan kakak benar, tapi....Apa Reynald merasa terganggu dengan hal itu?"
"Tidak tentu saja tidak hehehe."
"Baguslah kalau begitu" Giselen yang tersenyum manis. untuk beberapa alasan aku terpana dengan senyumannya itu.
Kemudian aku segera tersadarkan karna seorang guru tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan.
Guru itu pria dia terlihat muda lumayan tampan juga, ntah kenapa aku merasa sepertinya di dunia ini orang-orang lebih tampan dan lebih cantik dari pada di dunia lamaku.
Aku jadi insecure.
Akhirnya pelajaran pun di mulai setelah dia memperkenalkan diri, guru disini sangat sopan jika di lihat-lihat ya itu wajar sik karna disini sekolah seperti khusus bangsawan.
Ketika pelajaran di mulai semua orang merasa bersemangat seperti Gisel dan Giselen. Ada juga orang yang sosoan seperti orang hebat intinya karna mungkin mereka masih bocah jadi ya gitu.
Aku yang melihat mereka ntah kenapa merasa jijik, tapi mungkin dari dulu aku selalu seperti ini.
Ngomong-ngomong untuk pelajaran sihir disini sangat hebat guru disini menjelaskan semuanya secara terperinci, dari mulai materi sampai praktek
Ya walaupun praktek hanya dasarnya saja seperti yang di ajarkan oleh Asmodeus bedanya disini sihir yang di keluarkan skalanya lebih kecil contohnya disini hanya membuat bola air yang seukuran dengan bola pingpong.
Walaupun seperti itu tapi yah para bocah yang ada di kelasku mereka semua senang ya karna mereka bisa mengeluarkan sihir air bahkan ada yang sampai so keren dan sombong karna bisa membuat bola air yang lebih besar.
Walaupun Seukuran bola biasa, ouh yah jika kau bertanya Gisel dan Giselen mereka adalah orang yang baik mereka berdua tidak menunjukan skill sihir mereka yang sebenarnya mereka seperti menghormati guru.
Mereka hanya mengikuti apa yang dikatakan guru jika bola yang di buat seukuran pingpong maka Gisel dan Giselen juga membuat bola air seukuran pingpong.
Jika saja Gisel dan Giselen menunjukan skill sihir yang sebenarnya yang mereka berdua miliki mungkin satu kelas akan pingsan karna terkejut.
***
Saat ini aku sedang istirahat, istirahat hanya di beri waktu 1 jam, cukup lama, aku sedang tidur-tiduran dengan wajah di taruh ke meja.
Ouh yah karna waktu istirahat sudah hampir habis ya jadi para murid sekarang tengah berkumpul di kelas mereka semua tengah asik dengan circle mereka sendiri.
Jika kau bertanya Gisel dan Giselen sedang apa jawabannya mereka sedang mengobrol dengan teman yang baru mereka dapat.
Aku takjub pada mereka berdua hanya butuh waktu sebentar saja dan tiba-tiba mereka mendapatkan banyak teman.
Kalian jangan bertanya tentangku haih hidupku sungguh suram, sendirian tidak memiliki teman, satu kelas semuanya seperti membenciku.
Haahhh....Hancur sudah kehidupan normal yang kuinginkan.
"Reynald apa kau baik-baik saja?" Tanya Giselen yang sedang berdiri didekatku.
Aku yang tengah tidur-tiduran itu kembali duduk normal dan menatap Giselen "Aku baik-baik saja kok kamu jangan khawatir."
Aku dan Giselen pun mengobrol sedikit lalu tiba-tiba saja ada seorang pria tampan berambut kuning mendekati kami, ketika dia datang pada kami ntah kenapa perasaanku menjadi tidak enak.
Sekilas dia seperti orang yang memiliki sifat apapun yang kuinginkan pasti bisa didapatkan, dia juga terlihat seperti cowo yang sempurna.
Untuk beberapa alasan aku tidak menyukainya.
Dan benar saja tiba-tiba saja dia datang dan menghampiri Giselen plus mengabaikanku plus dia menatapku dengan tatapan sombongnya.
Dia menunduk hormat seperti ala bangsawan dia mulai memperkenalkan diri.
"Bolehkah aku berkenalan dengan tuan putri secantik dirimu."
Aku yang mendengar perkataannya seperti ingin muntah.
Giselen tak menjawab sama sekali dia bingung "Perkenalkan aku adalah Brascho duke dari keluarga Celin dari kerajaan Deltora."
Dia memperknalkan dirinya dengan suara yang lantang ntah karna suatu alasan apa tiba-tiba saja semua orang yang ada disana seperti berkata wow.
"Kalau tidak salah kamu adalah Giselen benar bukan?" Ucapnya dengan senyuman manis.
Aku yang melihat senyuman dia ntah kenapa merasa jijik aku disini masih sabar walaupun dia tengah menggoda istri di masa depanku.
Lalu tiba-tiba saja Brascho dia seperti ingin merangkul tangan Giselen, Giselen pun disini hanya terdiam dia terlihat seperti takut aku tidak tau kenapa tapi sepertinya Giselen memilki trauma.
Aku yang sudah sedikit kesal aku pun langsung berdiri giselen dia langsung sembunyi dibelakangku sambil memegang tanganku.
Tangan dia gemeteran ini aneh, aku pun mulai kesal pada orang yang bernama Brascho ini, dia terkesan seperti memaksa.
Aku menatap Brascho dengan tatapan sombong.
Dia juga menatapku dengan tatapan sombong.
buat author semangat nulisnya
buat author semangat nulis nya