Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Imut Sekali
Visual Evans
"Erika, kamu kan baru pulang dari rumah sakit tadi pagi. Sebaiknya besok jangan kuliah dulu," ucap Danish lembut ketika melihat ke arah Erika yang sedang memeluk boneka beruang sambil berbaring di ranjang.
"Aku sudah baikan, Kak. Besok ada ujian. Aku harus masuk, Kak Danish."
"Baiklah. Kalau begitu kamu cepatlah tidur. Selamat malam." Danish tersenyum seraya pergi. Tapi senyum itu perlahan hilang. Ada kekhawatiran di wajah Danish.
Erika menatap wajah boneka beruang.
"Kalau ketemu Kak Evans, aku harus bagaimana bersikap?" tanyanya pada boneka beruang.
Kemudian Erika tertidur begitu saja.
***
Keesokan harinya.
Erika berangkat ke kampus dan saat ini berjalan menuju kelasnya. Tetapi dia takut untuk masuk ke dalam ruangan. Masih trauma akan tamparan Anna yang begitu terasa panas di pipinya. Pelan-pelan dia memasuki pintu masuk.
"Erika, bagaimana kabarmu?" tanya Adit.
"Sudah membaik, Dit. Makasih ya sudah menolongku waktu itu." Erika tersenyum.
"Sudahlah. Jangan sungkan. Sudah seharusnya kan kita saling tolong menolong." Erika mengangguk dan tersenyum.
Kelas dimulai. Erika melihat ke sekitar, Anna tidak terlihat. Tetapi lima belas menit kemudian Anna datang mengetuk pintu. Cukup terkejut karena mata Anna terlihat sipit membengkak. Dosen marah padanya. Tapi dia hanya menunduk saja.
Sehabis pelajaran, teman-teman Anna menghampirinya. Mereka tampak bercakap-cakap dengan serius. Erika melangkah pelan hendak ke luar ruangan.
"Erika! Kau itu jahat banget ya sudah merusak hubungan Anna dan Kak Evans!" seru seseorang. Semua mata menatap tajam pada Erika.
"Aku nggak ngerti maksud kalian," jawab Erika singkat.
"Dasar Pelacur! Pelakor sialan." Beberapa orang menyerang Erika. Erika berteriak ketakutan. Ada yang menjambak rambutnya. Bahkan menarik bajunya hingga robek di bagian bahu. Anna hanya diam menonton pertunjukan tersebut.
Adit dan beberapa teman hendak melerai, tetapi Erika sudah terlebih dahulu melepaskan diri dan berlari.
"Kalau begini, aku laporkan kalian!" Adit marah.
"Lapor aja. Dia yang akan dikeluarkan dari kampus ini," ucap Anna dengan nada arogan.
Erika yang berlari cukup kencang hingga melewati wilayah perpustakaan terjungkal jatuh hingga tak sadarkan diri.
Visual Adit 👆
***
Beberapa waktu kemudian.
Erika sedikit membuka mata. Kepalanya sedikit pusing.
"Kamu sudah sadar, Erika?" Erika memandang ke sumber suara tepat di samping dia berbaring ada seseorang yang sedang berdiri.
"Kak Evans?" Erika masih tidak percaya dengan penglihatannya.
"Kamu minum dulu ya," ucap Evans lembut sambil membantu Erika duduk dan memberinya air putih hangat. Lalu kemudian dia duduk di samping Erika. Menghadap padanya.
"Aku tadi..? Eh, ini di ruang kesehatan?" Erika celingkak celinguk melihat ke sekitar.
"Iya. Tadi kamu lari kencang terus jatuh. Lutut dan sikumu lecet. Petugas kesehatan sudah mengobatimu," jelas Evans. Erika memperhatikan luka-lukanya.
"Kak Evans yang bawa aku ke sini?" tanya Erika menebak.
"Iya, tadi itu aku baru aja keluar dari perpustakaan terus melihatmu jatuh. Kamu pingsan, jadi aku menggendongmu kemari." Wajah Erika merona. Dia bingung harus bersikap bagaimana.
Setelah semua hal yang terjadi selama ini, rasanya semakin canggung bagi Erika. Tapi tidak dengan Evans. Setelah menjenguk dan melihat Erika tidur sambil memeluk pakaian luar miliknya, Evans cukup yakin kalau Erika menyukainya, walaupun masih bingung soal adanya Danish di antara mereka.
Evans melihat Erika menunduk. "Kenapa diam saja? Apa masih sakit?"
"Makasih Kak Evans sudah menolongku. Aku sudah tidak apa-apa."
"Baiklah. Tapi tadi kenapa lari-lari? Dan bajumu robek di bahu."
"Robek?" Erika langsung menunduk melihat ke arah bahunya. "Eh, bajuku kenapa ganti?" tanya Erika panik karena baru sadar bahwa pakaian yang dia pakai sekarang berbeda.
"Hahaha. Kenapa kok panik gitu?" tanya Evans tertawa. Erika bisa-bisanya sempat terkesima melihat wajah Evans yang tertawa. Semakin terlihat sangat tampan dari biasanya.
"Bajumu robek, kebetulan ada baju di lockerku jadi ya aku....."
"Hah?" teriak Erika sambil menyilangkan tangan di dadanya. Evans cukup terkejut melihat reaksi Erika.
"Kenapa lagi? Petugas kesehatan yang memakaikannya padamu, Erika. Kamu itu ya jangan mikir yang aneh-aneh. Hahaha." Evans tertawa dengan wajah riang.
Wajah Erika semakin memerah.
Cup!
Sebuah kecupan singkat dan hangat mendarat di kening Erika. Erika terkesiap. Wajahnya langsung mendongak, menatap Evans.
"Apa yang... kakak lakukan?" tanya Erika gugup. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Dia imut sekali." Evans memperhatikan lekat-lekat wajah Erika yang polos.
"Kak Evans, kenapa cium ken..."
Cup!
Evans menangkup wajah Erika dan kali ini langsung mengecup bibirnya. Mata Erika membulat sempurna.
***
Visual Erika
Bersambung!
Dukung terus ya dengan klik Like dan share novel ini. Makasih 😉