Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 21 cemburu
Harusnya, aku yang disana ... dampingimu, dan bukan dia ....
Ah, lagu ini memang pas, dengan situasi dan prasaanku sekarang. Kesal? Oh saking kesalnya, aku jadi ingin menelan seseorang hidup-hidup. Rasa apakah ini? Ada rasa nyeri di ulu hati.
Apa kalian bertanya, kenapa aku bisa kesal? Huft, bagaimana mungkin aku tak kesal, sementara, aku sekarang menjadi nyamuk diantara Ara dan Riyan si murid baru, yang sudah merusak moodku hari ini.
"Gimana? Enak kan?" Ara dan Riyan sedang memakan es krim di sebuah bangku panjang dekat taman. Aku pun ada disana, tetapi aku hanya menjadi nyamuk diantara mereka.
Bahkan, aku seperti nyamuk yang terkena semprotan baigon. Rasanya, seperti anda menjadi ironman.
"Yah, udah habis. Kita beli lagi yuk, Bang!" Dasar gadi lukc*at! Bisa, bisanya ia tak peduli dengan kehadiranku sedari tadi.
Kenapa? Apa aku cemburu dengan kedekatan mereka? Ah menyebalkan.
"Yaudah, gaskeunlah," ucap Riyan dengan melemparkan senyum manisnya, yang semanis buah pare.
Riyan bangkit dari duduknya, mengulurkan tangannya mengajak Ara untuk bangkit. Dengan wajah lugu nan polosnya, Ara meraih tangan Riyan, dan berjalan pergi.
Kubuang sisa ice krim ditanganku, berlari kecil kearah Ara, lalu menarik tangannya saat ia sudah cukup jauh. Satu kendala lagi, tangan Riyan masih menggenggam erat tangan Ara.
"Lepasin tangan Ara!" peringatku dengan nada tinggi.
"Apaan sih? Gue sama Ara mau beli es krim," balas Riyan, tapi suaranya sedikit halus dan lembut.
"Ara pacar gue! Jadi lo, lepasin tangannya Ara sekarang juga!" Riyan nampak terkejut, menatap Ara sekilas, lalu melepas genggamannya. Aku menatapnya sinis, lalu membawa Ara pergi dari hadapannya.
"Abang kenapa?" tanyanya, tapi aku terus menarik tangannya jauh dari Riyan.
Aku sampai di atas atap sekolah. Ku kunci pergerakan Ara, lalu menatapnya kesal. Ara beberapa kali mengerjapkan matanya, menatapku dengan tatapan polos tanpa dosa.
Aku memejamkan mataku, lalu mencium bibir mungilnya. Oh Tuhan, dosakah aku mencium dia yang bukan mahromku? Tentu saja dosa! Bryan, kau ini bodoh!
'Maafkan hambamu yang tampan ini," batinku. Aku kembali menatapnya, Ara nampak terkejut.
"Ra, gue nggak suka lo abaikan gue kek gitu! Lo bisa mikir gak sih?! Apa perlu gue bilang dulu, baru lo akan sadar!" bentakku. Sungguh, aku masih sangat kesal dengan kejadian tadi.
"Kok, Abang bentak Ara?! Ara gak suka dibentak!" matanya berkaca-kaca, lalu mendorong tubuhku menjauh darinya.
"Ara benci, Abang!" Ara berlari meninggalkanku. Apa kata-kataku menyakitinya? Aku mengacak rambutku frustasi.
"Ara, dengerin gue!" Aku berlari mengejarnya. Aku tahu betul sikap seorang wanita. Hey, ayolah! Aku bahkan mempertahankan banyak wanita dalam waktu yang sama, dengan caraku sendiri.
"Busett, ni bocah kemane sih? Dia ngambek kali, yah?" Aku terus mondar mandir mencari keberadaan Ara. Kemana gadis itu? Kenapa dia cepat sekali untuk menghilang? Bahkan, aku sampai meragukan kalau dia itu manusia.
Samar-samar terdengar suara isakan, disertakan hingus yang hirup kembali.
"Sepertinya, suaranya berasal di sini deh ...." segera ku cari sumber suaranya. Dan ketemulah dia, didalam botol, eh, maksudnya di bawah pohon rindang didekat sebuah kolam berwarna biru tersebut.
Ara menyembunyikan wajahnya, di lipatan tangan dan lututnya. Ku dekati dirinya, dan duduk disampinya, sesekali menghela nafas, dan merasakan kesejukan angin yang datang lalu pergi. Ah, tempat ini menenangkan.
Aku melipat tanganku diatas lutut, dan menepuk pundak Ara. "Masih, marah?" tanyaku dengan suara pelan.
"Pergi sana! Ara gak mau lihat wajah Abang lagi!" baru kali ini aku mendengar bentakan dari Ara. Jadi, beginilah dia ketika marah?
"Huft ... yaudah iya, gue ngaku salah. Lo jangan nangis dong, ntar wajah lo jelek tau!" ledekku. Ara masih terisak, rasanya, aku seperti seorang Ayah yang sedang membujuk anaknya. Hadeuh!
Bujubusyet!
Segera kurangkul tubuh Ara, lalu mengacak rambutnya pelan. "Sebagai perminta maafan gue, lo mau nggak? Jalan-jalan sama gue? Gue janji dah, bakalan beliin lo es krim, cokelat, gula kapas, dan semua yang lo mau." Aku yakin, caraku ini akan berhasil dengan sukses.
"Semuanya?" Ara langsung menoleh kearahku, dengan mata berbinar. Ck, cepat sekali dia ketika mendengar, nama makanan yang ia suka.
"I-iya, beneran,"
"Cokelat, es krim, gula kapas, dan boneka juga boleh?" tanyanya lagi.
"Hm," jawabku dengan deheman. Ara langsung bersorak riang, dan memeluk leherku. Rasanya nafasku terhenti karena pelukannya yang terlalu erat.
"G-gue s-sesak woii!" Ara terdiam sejenak, lalu melepas tangannya dari leherku. Huft, aku hampir saja mati dibuatnya.
"Tapi, lo harus janji bakalan maafin gue dulu!"
"Hm, janji!" balas Ara disertai cengiran khasnya.
#BERSAMBUNG!
Anyeong semuaa! Gimana? Ada yang kangen nggak? Hehe:')
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
awas az klo Bryan sampe luluh
lucu
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍