Seaaon 1 tentang Jill dan Jeff (couple J).
Season 2 tentang Shanum dan Salman (couple S).
Jill kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan dan justru bertemu cowok tampan, mapan, dan menawan yang ternyata adalah bosnya.
Shanum terpaksa menggantikan kakaknya menikahi Salman, pria cacat yang tiba-tiba menjelma menjadi pria paling kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Para Bos Garang
Brak!
Pak Achen memukul meja dengan tangan kiri. Jill sampai terlonjak kaget. Pak Andrawan tak kalah terkejut.
“Laporan apa ini?” Pak Achen membentak. Ia bangkit berdiri dan melempar map ke lantai. “Bisa kerja tidak? Saya sudah bilang, hari ini pekerjaan harus sudah selesai. Mau berapa lama kau kerjakan itu? Apa kau tidak bisa beri perintah kepada mereka supaya bekerja dengan benar. Bagaimana bisa selesai sesuai waktu yang ditargetkan jika kerjanya salah-salah? Cukup kali ini saja saya pakai pemborong seperti mereka. Kerja lambat, salah-salah terus. Kau sebagai pengawas pun tidak bisa memberi arahan kepada mereka. Apa intruksimu tidak bisa didengar orang? Hah! Buang-buang waktu!”
Wajah Pak Achen seperti udang rebus. Merah padam. Matanya yang sipit melotot hingga menjadi bulat. Ia tidak memberi kesempatan pada Pak Andrawan untuk memberi penjelasan hingga Pak Andrawan hanya bisa menunduk dan diam.
“Kalau otakmu tidak bisa dipakai untuk memberi intruksi kepada orang kerja, buat apa juga saya pakai kamu?” gertak Pak Achen lebih keras. “Saya tidak suka caramu bekerja. Saya tidak mau lagi mendengar laporan tidak sesuai dengan apa yang telah ditentukan. Sekarang keluar!” Pak Achen menunjuk pintu yang masih terbuka lebar.
Pak Andrawan membalikkan badan dengan gerakan canggung. Memungut map di lantai. Buru-buru keluar tanpa menatap Jill.
Jill membeku di tempat. Sepertinya para bos di tempat ini mayoritas galak-galak semua. Widiiih... serem banget sih kalau Pak Achen udah marah?
Melihat kemarahan Pak Achen, jantung Jill mendadak berlarian. Andai ia yang melakukan kesalahan fatal, lantas apa yang akan terjadi? Dibentak-bentak, dimaki dan diperlakukan seperti binatang? Ugh, cukup Jeff saja yang bersikap segarang itu terhadapnya, jangan ditambah Pak Achen. Bisa gantung diri Jill nanti. Andai saja ia mendapat dampratan seperti yang dialami Pak Andrawan, bahkan diumpat dengan kata-kata kasar, mungkin ia akan menangis. Atau mungkin langsung berhenti kerja. Kenapa ia harus berada di tengah-tengah maniusia killer seperti Pak Achen dan juga Jeff?
Jill melepas napas yang tertahan ketika Pak Achen mempersilahkannya keluar. Jill melenggang keluar dan mengelus dada lega setelah menutup pintu. Kini ia berada di ruangan tempat Veny duduk manis. Veny tidak sendirian, ada beberapa staf yang pura-pura berkepentingan dengan Veny, padahal mereka hanya sedang kepo dan ingin tahu apa yang terjadi di ruangan Pak Achen sehingga mereka berkumpul di meja Veny. Suara lengkingan amarah Pak Achen membuat mereka menyerbu masuk ke ruangan Veny hanya untuk menguping. Kemudian langsung terdengar seperti serombongan lebah yang berdengung. Semuanya ngomong dan berargumen, membicarakan peristiwa yang baru saja mereka dengarkan.
Jill geleng-geleng kepala, tenyata penderitaan Pak Andrawan menjadi bahan menarik untuk diperbincangkan. Jill berlalu dan kembali menuju kantornya. Ia memasuki ruangan setelah berjalan sejauh puluhan meter.
Alif dan yang lainnya menatap kedatangan Jill. Wajah putih gadis itu berubah memerah akibat terkena paparan sinar matahari.
“Astaga Jill, besok bawa payung ya, Dek. Kasihan banget muka sampe jadi merah gitu. Cantik cantik kena jemur matahari,” celetuk Zaflan sambil tersenyum lebar.
“Iya, nih. Mana debunya tebel banget lagi kalo pas ketemu mobil truk yang ngangkut sawit. Ya ampun. Betisku juga bisa jadi segede tales bogor kalo terus-terusan jalan kaki sejauh ini.” Jill menghempaskan tubuh di kursi samping Zaflan.
TBC