NovelToon NovelToon
Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami

Status: tamat
Genre:Hamil di luar nikah / Kehidupan di Kantor / Lari Saat Hamil / Tamat
Popularitas:342.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: tita dewahasta

Lana adalah perawat yang selalu berpindah kota. Kota baru yang dia tinggali (Koja) ternyata membawanya ke dalam kisah cinta yang sulit untuk tergapai.

Syafira, sahabat Lana sejak SMP yang dulu menemaninya melalui masa remaja Lana yang sulit dan menyedihkan, menolongnya lagi untuk mendapat pekerjaan di Koja. Dia mengagumi seorang dokter bernama Nathan.

Setelah Lana masuk ke rumah sakit yang sama, Lana pun jatuh cinta kepada orang yang dikagumi sahabatnya sendiri yaitu Nathan.

Di tengah kisah cintanya, Lana, Nathan, Dion (sahabat Nathan) dan Asa (istri Dion) juga rajin berdonasi untuk menolong para ibu muda yang mengalami kehamilan tidak terencana.

Kemudian, mereka mendirikan dan mengurus bersama sebuah rumah singgah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa suci yaitu anak dari kehamilan tidak terencana.

disclaimer:
Nama tokoh, kota, aplikasi dalam novel ini hanyalah fiktif. Jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tita dewahasta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Gede Rasa (GR)

“Aku nggak kayak gitu kok. Aku cuma punya prinsip untuk memperjuangkan sesuatu gitu aja. Dia juga belum punya pacar, tunangan atau suami. Masih bisa berubah.”

Syafira luluh juga dengan kegigihan Soni.

"Oke deh aku kasih tahu alamat kos kami. Tapi kamu janji dulu, kalau kamu nggak bakal nyimpen dendam kalau ditolak lagi sama dia."

Soni mengangguk setuju.

“Dari rumah sakit ini ke kiri 500 meter, pertigaan kecil yang ada plang warna hijau belok kanan 25 meter, gerbang warna coklat."

~

Sorenya, Soni mengunjungi kos Lana membawakan makanan. Dia memencet bel yang tersemat di gerbang kos itu. Inda membukakan gerbang untuk Soni.

"Sore, Mbak, Lananya ada?"

"Oh, bentar ya saya lihat dulu."

Inda mengetuk pintu kamar Lana, tapi tidak ada jawaban.

"Maaf, Mas, nggak ada respon. Mungkin dia lagi istirahat."

"Kalau gitu nitip ini aja buat Lana ya, Mbak." Soni berpamitan.

Setelah Soni pergi, Lana keluar dari kamar.

"Hey, nih ada titipan dari pangeran. Baru bangun, Neng?"

"Enggak, nggak tidur kok."

"Lhoh, kok nggak keluar tadi?"

Lana tersenyum kecut. Inda mengerti Lana pasti berpura-pura tidur untuk menghindari Soni.

"Apa tuh isinya?" tanya Lana melihat bungkusan yang dibawa Inda.

"Bentar aku buka. Martabak manis. Nih, makan semua biar gemuk!" jawab Inda.

"Nggak mau, kita makan sama-sama. Jangan lupa sebelum makan, dilompatin dulu makanannya."

"Biar apa?"

"Yah takutnya makanannya dimantra-mantra atau jampi-jampi," kata Lana.

***

Hari berikutnya, Lana sudah merasa sehat. Dia kembali bekerja seperti biasa.

"Udah sehat?" tanya Nathan.

"Udah, Dok. Tapi masih sedikit bengkak."

"Antibiotiknya tinggal 1 hari lagi, kan?"

Lana mengangguk. Luar biasa, dokter itu bahkan hapal agenda minum obat Lana. Kemudian mereka melanjutkan pekerjaan.

Saat istirahat, Lana makan siang di kantin bersama Siwi. Di tengah mereka asyik menyantap makanan, Nathan datang ke kantin. Dia tersenyum kepada Lana dan Siwi kemudian memesan makanan.

Di saat yang hampir bersamaan, Soni juga datang ke kantin mendatangi Lana.

"Udah sembuh, Na?"

Lana tersenyum dan mengangguk.

"Kemarin aku ke kos kamu lho, kamu lagi tidur ya?"

"Iy-iya. Orang sakit butuh istirahat," kata Lana sembari memaksa diri tersenyum.

Dia melirik Nathan yang sedang memesan makanan. Dokter itu juga melirik mereka.

"Martabaknya enak, kan? Aku beli yang paling terkenal lho."

"Iya, enak kok. Makasih ya. Lain kali nggak usah repot-repot!"

"Lain kali aku boleh main ke kosmu lagi?" tanya Soni.

Lana melirik Nathan seolah meminta persetujuan. Kali ini Nathan tidak melihatnya lagi dan pergi menuju meja kosong agak jauh dari mereka.

"Boleh, kalau pas aku nggak ada di kos."

"Hahaha." Soni malah tertawa, melambaikan tangan dan pergi.

Lana buru-buru menyelesaikan makan siangnya kemudian mengajak Siwi segera kembali ke meja kerjanya.

~

Saat memberikan berkas pasien, Nathan sama sekali tidak menatap wajah Lana. Dia terlihat tidak senang.

Ketika meminta Lana memanggil pasien pun, Nathan hanya memberi kode dengan anggukan atau isyarat tangan. Sama sekali tidak ada kata-kata verbal keluar dari mulutnya untuk Lana.

Dan itu berlanjut hingga jam kerja usai. Lana tidak berani bertanya langsung, hanya penasaran di dalam hati.

Dia kenapa ya kok kelihatan kesel. (Lana)

~

Jam pulang sudah tiba, Lana pulang dengan berjalan kaki. Saat berjalan di trotoar, mobil Nathan berhenti di sampingnya dan membuka pintu sebelah kiri.

Dari dalam mobil, Nathan tersenyum tapi tidak mengatakan apa-apa.

"Ada apa, Dok?"

"Naik."

Dengan ekspresi datar, Lana naik. Mobil itu segera berjalan.

"Lhoh kelewat jalannya, Dok."

Nathan tidak berhenti di tempat dia biasa menurunkan Lana.

"Kita nonton ya."

"Kok nggak nanya dulu? Orang itu bisa punya kesibukan atau acara. Main bawa pergi aja."

"Oh, kamu nanti ada acara?"

"Ehm, ya enggak sih." Lana mendengus. "Tetep aja musti nanya dulu."

"Oke aku tanya, mau nonton apa?"

"Bukan gitu, aaarrrggghhh." Lana kehabisan kata untuk marah-marah. "Ya udah yang penting bukan thriller."

"Kamu suka martabak?"

"Biasa aja tuh."

"Terus, kamu sukanya apa?"

"Apaan Dokter ini, emang mau beliin makanan kesukaanku?"

"Iya, nggak boleh?"

"Ya boleh. Tapi kenapa?"

"Sumbangan aja buat anak kos. Belum dijawab, makanan kesukaan kamu apa?"

"Cumi-cumi asam manis, sate, bakso, sop iga, iga bakar, jamur, roti bakar, pizza, spaghetti, coklat, jagung bakar, makaroni skutel." Lana tersenyum sinis menantang dan mengejek.

Tidak mungkin kan dokter itu membelikan semuanya? Tidak mungkin juga Lana kuat menghabiskan semuanya jika benar-benar dibelikan.

~

Selama menonton mereka tidak banyak bicara. Di jalan pulang, Nathan masih sangat sedikit bicara. Sungguh tidak mengenakkan. Diajak pergi tapi tidak diacuhkan. Mending-mending tidak usah mengajaknya kemana-mana.

"Dok, kok diem aja dari tadi? Biasanya bawel. Tadi di rumah sakit juga tiba-tiba diem aja. Sakit?"

Nathan mengangguk.

"Kalau sakit kenapa nggak istirahat aja, malah ngajak aku nonton."

"Pikirannya yang sakit."

"Oh. Kenapa? Mau cerita?"

"Oke. Aku deket sama seseorang. Tapi dia juga dideketin sama orang lain. Menurut kamu gimana?"

Lana kaget.

Ternyata selama ini Nathan menyukai seseorang. Dia mengira Nathan memiliki perasaan suka padanya karena dia menunjukkan perhatian.

Jadi aku ke-GR-an, kirain dia suka sama aku. (Lana).

"Menurut aku, hmmm, lihat sikapnya aja. Kalau dia kelihatannya suka dideketin sama orang lain, berarti dia suka orang itu. Kalau suka sama Dokter, pastinya nggak nyaman dideketin orang lain."

Nathan mengangguk-angguk. "Kalau kamu jadi aku, menurut kamu, harus ngapain?"

"Wah, sebenernya aku nggak terlalu pengalaman masalah kayak gitu. Tapi ini sekedar opini aja ya. Dekati aja dulu, kenal lebih dalam. Sambil mengenal, juga bisa diamati sikap dia terhadap orang lain. Jadi, nanti lama-lama bisa ngerti, dia itu suka atau sekedar berusaha ramah sama Dokter."

"Masuk akal," kata Nathan. "Jadi, nggak langsung perjelas status?"

"Kalau dekatnya udah lama dan udah dipastiin suka sama suka, bisa aja langsung. Ngomong-ngomong, siapa wanita sial itu yang disukai sama dokter macam kamu?"

"Heh, aku nggak seburuk itu. Yang jelas orangnya ngeselin."

"Ngeselin kok diincer. Ya udah ganti yang lain yang nggak ngeselin dong. Ehm, dia kerja di rumah sakit atau orang luar?"

"Pengen tahu ya? Kasih tahu nggak ya."

Lana memandang Nathan dengan serius.

"Jangan ngelihatin kayak gitu, berasa penjahat lagi diinterogasi. Ya udah, aku kasih tahu, orangnya kerja di rumah sakit."

"Aku kenal?"

"Kenal baik."

"Namanya?"

"Kejauhan, udah segitu aja clue-nya."

"Terus, misal aku tahu orangnya, apa kamu mau dibantu comblangin sama dia?"

"Kalau kamu bisa, boleh."

~

Kos

Setelah mandi, Lana merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Sembari memandangi langit-langit kamar, pikirannya mengembara memikirkan siapa kira-kira orang yang disukai Nathan.

Dia sempat mengira dirinya lah yang disukai Nathan. Tapi Nathan mengatakan Lana mengenal orang itu dengan baik, itu artinya bukan dirinya. Orang itu adalah orang lain yang kenal dekat dengan Lana.

Ada rasa kecewa di hati Lana karena sebenarnya Lana mulai menyukai Nathan. Dia mengingat-ingat semua waktu yang dia habiskan bersama Nathan.

Beberapa waktu terakhir ini mereka melakukan hal yang berkesan seperti melakukan perjalanan ke luar kota saat resepsi pernikahan Sura (meski hanya kebetulan), dibelikan obat dan bubur oleh Nathan, dan diantar pulang ketika sakit.

Apakah itu hanya berkesan bagi Lana? Apakah Nathan tidak menganggap hal itu berkesan sama sekali?

Aku ke-GR-an dan kebaperan kali ya. Lagian nggak mungkin dia suka sama aku. Ngimpi banget. Kayaknya aku sama Syafira harus bikin perserikatan secret admirer Nathan. (Lana).

to be continued...

Jogja, February 11th 2021

1
Nur Syamsi
Itulah kesalah fahaman, coba jga Nathan cepat ngasih tau Dion kan cepat dicarikan solusinya inibbapak anak sama" pendam senditri akhirnya Lana berasumsi sendiri
Nur Syamsi
Alhamdulillah, udah ketemu dan turut senang, dipanggil tu sobat ma ibumu Nathan ....
Nur Syamsi
Temuin Lana Natha yg dikandung itu anakmu lo
Nur Syamsi
Dari kemarin" jek jelasinnya ma sobat ku ini Uda berbulan bulan ntar Lananya Hamidun gimna, Nathan Nathan
Nur Syamsi
Makanya Nathan cerita ma mbak Asa atau Dion ttg Lana, Krn ini kamunya belum mop on ma Lana...
Nur Syamsi
😭😭😭 kasian bangat ma Lana Tdk ada sanak keluarganya trus klaw misal dia hamil gimna kasian, 😭😭😭, tp itu Kana langsung ngilangin jejak Tdk ke mbak Asa untuk curhatan ..
Nur Syamsi
Betul Dion korek apa yg terjadi sama Nathan dan Kana mpe Kana meninggalkan pekerjaan yg dicintainya, bicara dari hati ke hati spya tdk ada kesalah fahaman
Nur Syamsi
dr Nathan ayo Certa SMA dr Dion ttg Lana
Nur Syamsi
Jgn ambil keputusan yg salah Lana ntar nyesal Lo kan Syafira benar dah nyerah..
Nur Syamsi
Rumit Thor antara cinta dan sahabat
Nur Syamsi
Hatimu punya kamu Lana, jgn pikirkan Syafira benar kata Inda kamu bukan pihak ke tiga, Krn dr Nathan jg sdah berterus terang na Syafira ....
Nur Syamsi
Untuk peristiwa tiga gadis ini, klaw bisa Indah sbgai penengah dan jelaskan ke Syafira spya tdk egois, Mada orang dilarang pacaran pdahal suka sana suka lagian jga dr Nathan sukanya ma Lana m, cinta Tdk boleh dipaksakan Syafira, kamu hrs ikhlas ma temanmu jgn dilarang kan egois nmanya....
Nur Syamsi
Bercandanya kekewatan mas Dion mpe nyelakain teman sendiri
Nur Syamsi
Klaw bisa Nathannya TLP Asa pura" nyato Dion, setelah itu baru wa bhw Dip bsok" saja cuma Mae nenangin diri sja dirumah
Nur Syamsi
Yg sabar mbak Asa,
Ledy Gumay
Lumayan
desember
wkwkwk
desember
🤣🤣🤭
Henym
Luar biasa
Selu Andyka
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!