NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 SEPERTI ANAK KEMBAR SUNGGUHAN

Akhirnya, kupersilahkan saja anak itu untuk mampir terlebih dahulu. Sebagai rasa terima kasihku padanya, karena sudah mengantarkan anakku pulang sekolah.

Dan anakku juga tampak senang, karena dia punya teman baru di sekolah.

Meski diriku sendiri merasakan bahwa ini semua bukanlah satu kebetulan semata.

Sebagai seorang Ibu, yang sangat memahami masa lalu anakku sendiri, aku harus tetap waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

.....

.....

Anakku dan anak perempuan terdengar saling mengobrol di ruang tamu. Sedangkan aku menyiapkan suguhan untuk anak itu. Walau hanya segelas teh manis hangat, dan juga beberapa kue sederhana.

Saat aku melangkah dari dapur, menuju ke ruang tamu, anak perempuan itu berkata dengan sopan.

"Eh, Bu... Ya Alloh, gak usah repot-repot, Bu..."

"Ah, enggak apa-apa. Lagian kan kamu tamu Ibu sekarang, masa iya gak disambut?" jawabku dengan senyuman, sambil kuletakkan suguhan itu di atas meja.

Aku menatap anakku, dan bilang padanya, "Harum, kamu ganti baju dulu sana. Terus cuci muka ya, biar seger."

"Iya, Bu." jawab anakku.

"Harumi, aku ke kamar dulu, ya..." tambahnya.

"Iya..." jawab anak itu.

Aku pun duduk di bangku ruang tamu yang berhadapan dengan anak perempuan itu, sedikit berjarak dari anak itu karena ada meja di antara kami berdua.

Mataku terasa seperti tak bisa beralih perhatiannya dari anak perempuan itu.

Walau pun ia selalu tersenyum saat melihatku, dan juga gestur tubuhnya terlihat sangat sopan, tapi tetap saja berputar pertanyaan demi pertanyaan dalam kepalaku.

Siapa anak ini sebenarnya?

Kenapa namanya bisa hampir sama seperti nama Harumku?

Dari mana dia berasal?

Dan pertanyaan lain yang rasanya ingin segera kulontarkan padanya.

Tiba-tiba...

"Aduh!!" suara anakku.

Sontak, aku segera menoleh ke arahnya. Ternyata ujung baju seragam sekolahnya tersangkut di gagang pintu.

"Harum, pelan-pelan..." kataku, sambil hendak berdiri untuk membantunya.

Akan tetapi, anak perempuan itu lebih cepat responnya. Ia malah lebih duluan berdiri dan segera melangkah cepat pada anakku.

"Kamu hati-hati dong, kesangkut kan bajunya, hahahaha..." kata anak perempuan itu, sambil membantu dan tertawa, sedikit meledek anakku.

Sedangkan aku?

Aku malah berdiri saja di depan bangku ruang tamu melihat mereka.

"Hehehehe... Maaf, aku kadang masih suka kesangkutnya bajunya... Hehehe..." kata anakku.

"Iya... Makanya, hati-hati dooong... Hahahaha..." balas anak perempuan itu.

Entah...

Perasaan aneh apa ini?

Aku...

Malah seperti melihat anak kembar yang terlihat ceria dan polos.

Mereka terlihat seperti anak kembar sungguhan di mataku saat ini.

"Makasih ya, Harumi..." kata anakku.

"Iya, Haruma... Ya udah, cepetan kamu ganti baju dulu!" kata anak perempuan itu.

"Iya... Awas, kamu jangan ngintip! Hahahaha..." canda anakku.

"Yeeeh... Ngawur kamu! Hahahaha..." balas anak itu.

Setelah anakku itu menutup pintu kamar, anak perempuan itu pun kembali berjalan dengan sopan menuju ke bangkunya lagi.

"Hehehe... Maafin saya ya, Bu..." ucapnya padaku.

"Saya udah gak sopan, sampe berdiri di depan kamar Harum." tambahnya.

Aku tak langsung menjawabnya.

Aku diam sambil duduk lagi, menatap wajahnya.

Dalam kepalaku, dalam batinku, aku merasa bahwa anak ini amat sopan, amat santun, dan juga terlihat jauh lebih dewasa daripada anakku.

Mungkin juga terlihat lebih dewasa sikapnya dari anak-anak remaja seusianya?

"Emmm... Bu? Bu?"

"Eh! Oh, iya-iya... Enggak apa-apa, kok..." jawabku sedikit terkejut.

Dia jadi terlihat sedikit canggung menatapku. Dua tangannya tampak saling meremas pelan.

Aku sampai memperhatikan sekali lagi dirinya.

Mulai dari jilbab sekolahnya, kepalanya, wajahnya, bentuk mata, bentuk hidung, bentuk bibir, sampai ke dagunya.

Lalu kuperhatikan juga bentuh tubuhnya, gestur tubuhnya, semuanya kulihat lebih teliti.

Sungguh, anak perempuan ini benar-benar terasa seperti saudara kembar Harum, anakku itu.

Ketika ku tatap kedua matanya yang normal itu, begitu bersih dan terasa tulus dalam batinku.

Anak itu pun kembali tersenyum padaku. Akan tetapi, semakin terlihat canggung ia. Karena sedari tadi kuperhatikan terus.

Akhirnya, aku juga jadi tak enak hati padanya.

"Maafin Ibu, ya... Kamu jangan canggung gitu, Ibu cuma kaget aja lihat kamu, Nak." kataku, sambil tersenyum hangat padanya.

"Hehehe... I-iya, Bu..." jawabnya sedikit terbata.

Ah...

Apalagi ini?

Kenapa sikap canggungnya juga terasa mirip dengan sikap canggung anakku?

🥹🥹🥹🥹🥹

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!