Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Tribulasi Gila Part 2
Harjasa tidak membuang waktu satu detik pun.
Matanya yang emas murni memandang langit yang retak dengan ekspresi yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapapun sebelumnya. Ekspresi seorang prajurit yang mengenali ancaman di luar batas nalarnya.
"Dyah Ayu, pergi sekarang!"
Gadis itu tidak bergerak. Matanya masih terpaku pada Arjuna yang berdiri di tengah kehancuran dengan Imperial Magna Cyborg Armor yang berkilau di bawah langit yang terbakar.
Harjasa menarik lengan Dyah Ayu dengan kasar hingga tubuhnya hampir terseret.
"Kau tidak mendengar perkataanku?! Pergi sejauh mungkin dari tempat ini!"
"Tapi Arjuna—"
"Kaisar memerintahkanku menjaga Arjuna!" potong Harjasa dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, dan rahangnya mengeras, "Kau berada di bawah perlindungannya, berarti kau juga menjadi tanggung jawabku. Pergi, itu bukan permintaan!"
Dyah Ayu menatap Harjasa dengan mata yang bergetar. Bibirnya terbuka seolah hendak membantah, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
Harjasa tidak melunak sedikit pun.
"Tujuh Calamity Tribulation Catastrophe akan turun sekaligus. Bahkan yang terkecil dari ketujuhnya mampu meratakan seluruh perbatasan ini menjadi abu dalam hitungan detak jantung. Kalau kau tetap di sini, aku yang akan membawamu pergi dengan paksa!"
Kali ini Dyah Ayu bergerak. Kakinya berlari tanpa menoleh ke belakang, meskipun dadanya sesak dengan sesuatu yang tidak mampu diungkapkan oleh kata-kata manapun. Matanya memanas, tetapi air mata itu tidak jatuh.
Harjasa berbalik menghadap langit. “I-ini mengerikan?!”
Ketujuh entitas itu sudah bergerak turun dengan perlahan. Namun dengan aura yang sangat menekan, dan mengancam.
Harjasa menggertakkan giginya. “Sial, kenapa manusia ini sangat kuat? Bahkan langit pun marah padanya? Kekuatan apa yang dimilikinya?”
Bahkan dari jarak ratusan meter, tekanan yang dipancarkan oleh ketujuh entitas itu membuat bulu tubuhnya berdiri serentak. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sejak ia mencapai Void Anchoring Realm.
***
Di istana Prefektur Draconis, Maharaja Durgandha berdiri di tepi balkon tertinggi dengan jubah kebesaran yang berkibar diterpa angin langit yang terguncang.
Matanya yang emas tua memandang retakan langit tanpa berkedip, dan rahang tuanya mengeras seperti batu granit yang tidak mengenal retak.
"Tujuh sekaligus," gumamnya dengan nada serendah gemuruh yang jauh, "Dalam 10.000 tahun terakhir, belum pernah Calamity Tribulation Catastrophe turun lebih dari satu dalam satu waktu. Namun kini tujuh hadir sekaligus di atas tanahku."
Pengawalnya berlutut di belakang tanpa berani mengangkat kepala.
"Yang Mulia, apakah kita perlu mengirimkan pasukan ke perbatasan?"
Maharaja Durgandha tidak menjawab seketika. Jari-jarinya mencengkeram tepi balkon, hingga batu di bawah genggamannya retak perlahan.
"Manusia murni itu," desahnya dengan suara yang mengandung sesuatu yang tidak pernah keluar dari mulut seorang Maharaja Durgandha sebelumnya, yaitu kekaguman yang terpaksa diakui, "Ia bukan sekadar manusia biasa."
***
Di istana Prefektur Ethereal, Kaisar Indrawarman tidak berdiri, dan tidak duduk. Sosoknya melayang tiga jengkal di atas singgasananya dengan mata putih murni yang memancarkan cahaya roh yang redup.
"Langit tidak pernah menurunkan tujuh Calamity Tribulation Catastrophe sekaligus tanpa alasan," katanya kepada dirinya sendiri dengan suara yang bergema seperti angin melewati lorong kosong, "Makhluk apa yang telah lahir malam ini di atas tanahku?"
Jari-jarinya bergerak perlahan di udara, menggambar sesuatu yang tidak kasat mata.
Salah satu menteri di bawahnya memberanikan diri angkat bicara.
"Yang Mulia, Komandan Wiryo telah tewas. Apa perintah paduka?"
Kaisar Indrawarman tidak menjawab pertanyaan itu. Mata putih murninya tetap memandang langit melalui kubah istana yang tembus cahaya.
"Kirim surat ke enam prefektur lainnya," ucap Kaisar Indrawarman akhirnya dengan nada yang tidak mengandung kepanikan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin dari itu, "Sampaikan bahwa Benua Sangakama baru saja berubah malam ini."
***
Di perbatasan tujuh prefektur, setiap ksatria dari setiap ranah berhenti bergerak dalam waktu yang bersamaan.
Seorang ksatria Prefektur Celestial dari hierarki Divine Throne Seal berlutut tanpa sadar. Lututnya menyentuh tanah sebelum pikirannya sempat memerintahkan tubuhnya untuk berdiri tegak. Mulutnya terbuka namun tidak ada kata yang keluar, hanya nafas yang tersengal.
Seorang Archangel Prefektur Empyrean dengan tujuh pasang sayap yang terbentang lebar justru melipat seluruh sayapnya rapat-rapat. Tangannya gemetar.
"Ini bukan Tribulation biasa," bisiknya kepada rekannya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, "Tujuh sekaligus berarti langit sendiri yang turun untuk menghakimi."
Seorang Pilar Iblis Prefektur Abyssal yang tidak pernah mengenal rasa takut merasakan sesuatu merambat naik dari kakinya hingga ke dadanya. Ia menoleh ke rekan di sampingnya dengan mata yang menyempit.
"Siapa manusia yang berani membuat langit semarah ini?"
Tidak ada yang menjawab.
Ketujuh entitas legendaris itu tidak memberi waktu satu detik pun.
Mereka menghantam serentak dari tujuh arah berbeda dengan kekuatan yang melampaui semua kalkulasi domain Arjuna.
Tanah dalam radius dua ratus meter hancur lebur seketika. Pepohonan tumbang dan terbakar dalam waktu yang bersamaan.
Bebatuan sebesar rumah meledak menjadi serpihan debu yang beterbangan ke segala arah seperti hujan abu yang membakar.
"Aaargh! Rasa sakit apa ini?!”
Teriakan Arjuna membelah seluruh perbatasan.
Tubuhnya menghantam tanah dengan punggungnya hingga kawah sedalam lima belas meter terbentuk di bawahnya. Imperial Magna Cyborg Armor retak di puluhan titik sekaligus.
Darah menyembur dari celah armor yang pecah, dari sudut bibirnya, dan dari setiap titik yang tidak terlindungi.
Rasa sakit itu bukan rasa sakit biasa.
Bukan seperti luka dari senjata atau serangan ksatria manapun. Rasa sakit itu merasuk ke dalam setiap meridian, setiap tulang, dan setiap tetes darah seolah tubuhnya sedang diremukkan dari dalam dan luar secara bersamaan.
Di kejauhan, Harjasa berdiri di depan Dyah Ayu dengan tangan terentang menghalangi gadis itu melangkah maju.
"Lepaskan tanganmu, Harjasa!" pekik Dyah Ayu dengan mata yang sudah basah, "Arjuna—"
"Diam!"
Hardikan Harjasa memotong kalimat itu seperti pisau. Namun matanya tidak berpaling dari kawah yang mengepulkan asap di kejauhan, dan rahangnya mengeras hingga urat di lehernya tampak.
"Kalau kau melangkah satu kaki pun ke arah sana, kau akan mati sebelum sampai. Itu sangat berbahaya!"
Dyah Ayu menggigit bibirnya hingga memutih. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, dan kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri.
Dari dalam kawah, Arjuna bangkit dengan lutut yang gemetar.
"Huff … huff … sial …."
Nafasnya tersengal. Seluruh tubuhnya menjerit kesakitan dengan cara yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Namun matanya merah membara tetap memandang ketujuh entitas yang bersiap untuk serangan kedua dengan ketenangan yang tidak wajar.
Panel hologram sistem melayang di hadapannya.
[Misi darurat aktif]
[Tahan Tujuh Calamity Tribulation Catastrophe]
[Batas Waktu: 30 Menit]
[Hukuman Gagal: Kematian Permanen]
[Hadiah: Evolusi Ras — High Human ke Ancient Human]
Senyum tipis terbentuk di sudut bibir Arjuna meskipun darah masih mengalir deras.
"Penempaan langit," gumamnya dengan suara yang retak namun tetap dingin, "Bukan hukuman."
"Sistem, keluarkan Artefak Sapta Dewanata!"
Kompas purba melayang keluar dari ruang hampa. Tujuh mata kompas berputar serentak dengan tujuh cahaya berbeda. Sistem memberikan notifikasi seketika.
[Artefak Sapta Dewanata ditempa dari tujuh jantung tujuh ras hibrida]
[Mampu menyegel energi dari tujuh entitas sejenis]
[Energi Tribulasi yang tersegel akan dialihkan ke tubuh pengguna menjadi tujuh jiwa yang menampung elemen atau disebut Dragon Soul Veins]
Harjasa melihat kompas itu melayang di tangan Arjuna dari kejauhan. Matanya menyempit.
"Apa yang dilakukan manusia itu?" pikirnya.
Arjuna mengangkat kompas Sapta Dewanata tanpa ragu.
Tujuh sinar cahaya menghujam ke tujuh entitas legendaris sekaligus seperti rantai yang tidak kasat mata namun tidak bisa diputus oleh kekuatan manapun.
Ketujuh Calamity Tribulation Catastrophe membeku di posisi masing-masing. Suara gemuruh langit berhenti seketika.
"Ti-tidak mungkin!" Harjasa melangkah mundur satu langkah dengan mata yang melotot, "Ia menyegel ketujuhnya sekaligus dengan satu artefak?!"
Dyah Ayu tidak bersuara. Matanya hanya menatap Arjuna dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata manapun, antara lega, takut, dan sesuatu yang lebih dalam dari keduanya.
“Darimana A-arjuna mendapatkan artefak i-itu? Apakah a-aman?” bisik Dyah Ayu, suaranya hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri.
Energi dari ketujuh entitas mengalir masuk ke tubuh Arjuna serentak melalui kompas Sapta Dewanata.
"Aaargh! I-ini lebih menyakitkan lagi, aaargh!"
Teriakan kedua Arjuna jauh lebih keras dari yang pertama. Tubuhnya berguncang hebat, lututnya hampir menyentuh tanah, namun kakinya tidak bergerak mundur satu milimeter pun. Tanah di bawah kakinya retak membentuk pola melingkar yang semakin melebar setiap detiknya.
Dua puluh delapan menit berlalu dalam neraka yang tidak bisa digambarkan.
[Ketujuh Dragon Soul Veins telah bangkit]
[Evolusi Ras Dimulai: High Human ke Ancient Human]
Cahaya putih meledak dari seluruh tubuh Arjuna. Gelombang tekanan menyapu seluruh area dalam radius lima ratus meter, menghancurkan sisa pepohonan yang masih berdiri, meratakan bebatuan yang belum hancur, dan membuat tanah berguncang seperti gempa yang tidak mengenal henti.
Harjasa mencengkeram bahu Dyah Ayu dan menariknya ke belakang.
"Mundur! Cepat!"
Ketujuh Calamity Tribulation Catastrophe lenyap satu per satu seperti asap yang diterpa angin kencang.
Kemudian semuanya berhenti.
Debu mengendap perlahan. Keheningan turun di atas perbatasan yang sudah tidak menyisakan apapun selain kehancuran dalam radius yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Harjasa melepaskan cengkraman pada bahu Dyah Ayu. Keduanya menatap ke arah yang sama tanpa bersuara.
“Apakah dia selamat?” gumam mereka berdua serentak.
Arjuna berdiri di tengah kehancuran itu dengan Imperial Magna Cyborg Armor yang retak di hampir seluruh permukaannya. Nafasnya berat.
Tubuhnya berlumuran darah. Namun matanya merah membara memancarkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.
Sesuatu yang jauh lebih dalam, dan jauh lebih menakutkan.
Spirit Awakening Realm: Celestial Star. “Aku naik tiga lapisan sekaligus, hahaha ….”
Tujuh cahaya berbeda memancar dari tubuh Arjuna serentak membentuk sesuatu yang bahkan Harjasa dengan seluruh pengalamannya tidak pernah menyaksikannya sekali pun.
Namun bukan itu yang membuat Harjasa membeku sepenuhnya.
Melainkan suara yang datang dari dalam tujuh cahaya itu. Suara yang bukan milik Arjuna, bukan milik sistem, dan bukan milik entitas manapun yang pernah ada di Benua Sangakama.
“Dunia, kalian semua berada di bawah kendaliku sekarang, hahaha …,” ucap Arjuna, suaranya menggelegar membuat Harjasa wajahnya pucat.