Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.
Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.
Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!
Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGABAIAN DALAM KEHENINGAN.
Pintu kaca utama gedung GA Corp kini terasa bagaikan benteng pertahanan yang mustahil untuk ditembus oleh Rian. Sudah satu minggu lamanya ia mencoba mendatangi kantor sahabatnya itu, namun akses masuknya telah diblokir total oleh perintah langsung sang CEO. Jangankan melangkah ke ruangan Ghufran, menginjakkan kaki di lobi utama pun ia langsung dicegat oleh petugas keamanan.
Rian berdiri di pelataran parkir dengan bahu yang merosot layaknya kehilangan daya, menatap nanar ke arah lantai teratas gedung. "Aduh, Ghufran mah meni keras kepala pisan, Gusti. Masa gua sama sekali tidak diberi celah sedikit pun untuk sekadar meminta maaf?"
Doni yang kebetulan baru saja turun dari mobil dinas melangkah mendekat dengan gurat wajah penuh rasa bersalah kepada Rian. "Maafkan saya, Pak Rian. Pak Ghufran sudah mengeluarkan instruksi tertulis bahwa Anda tidak diizinkan masuk ke area perusahaan lagi untuk sementara waktu."
Rian hanya bisa menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar sembari tersenyum miris. "Sudahlah, Don, tidak apa-apa. Gua tahu ini konsekuensi karena sudah berbohong. Ghufran dasarnya memang keras kepala, kalau sudah kecewa berat mah susah dibujuk." Rian akhirnya berbalik arah menuju mobilnya sendiri. "Gua menyerah dulu sementara waktu, Don. Titip si Bujang Lapuk itu, ya. Jaga dia baik-baik."
Kekecewaan Ghufran yang teramat mendalam rupanya tidak hanya berdampak pada runtuhnya jalinan persahabatan dengan Rian. Sikap dingin dan kaku itu juga berimbas penuh kepada Zhawa. Sesuai perintah Ibu Halimah, Zhawa kini sudah resmi diboyong untuk tinggal bersama di dalam unit apartemen mewah milik Ghufran yang terletak di pusat kota.
Namun, alih-alih merasakan kehangatan sebuah pernikahan baru, Zhawa justru harus menelan pil pahit setiap harinya. Ghufran mendadak berubah menjadi pria yang sangat jarang pulang ke rumah. Ia sengaja menimbun dirinya dengan tumpukan pekerjaan kantor hingga larut malam. Dan jikalau terpaksa harus pulang, Ghufran lebih memilih mengunci diri dan tidur di atas sofa ruang kerja pribadinya daripada menginjakkan kaki di kamar utama.
Pagi itu, jarum jam baru menunjukkan pukul enam ketika Zhawa sudah sibuk di area dapur bersih. Dengan sisa-sisa semangat yang dipaksakan, ia memasak nasi goreng mentega dan membuatkan secangkir teh hangat kesukaan suaminya. Bau harum masakan seketika menyeruak, memenuhi sudut ruangan apartemen yang sepi itu.
Saat mendengar suara pintu ruang kerja terbuka, Zhawa buru-buru menata piring di atas meja makan, lalu menoleh dengan senyuman terbaiknya. "Kang Ghufran, sarapannya sudah siap. Zhawa sudah buatkan nasi goreng hangat, mari sarapan bersama dulu sebelum berangkat ke kantor."
Ghufran menghentikan langkah kakinya sejenak di dekat meja makan. Matanya menatap piring yang mengepulkan uap panas itu dengan pandangan yang teramat dingin, tanpa ada sedikit pun binar ketertarikan. Ia bahkan tidak melirik ke arah Zhawa yang sedang berdiri menantinya dengan penuh harap.
"Saya tidak lapar," sahut Ghufran, suaranya terdengar datar, kering, dan menusuk kalbu.
Zhawa mencoba menahan rasa sesak yang mendadak menghimpit dadanya, lalu melangkah mendekat sembari memegang tepian meja. "Tapi, Kang, sedikit saja atuh dimakan. Akang sudah jarang sekali makan di rumah semenjak kita pindah ke sini. Zhawa khawatir kesehatan Akang nanti menurun."
Tanpa membalas ucapan itu, Ghufran justru langsung berbalik arah menuju meja konsol di dekat pintu utama untuk menyambar tas kerja dan kunci mobilnya. Sikapnya benar-benar menunjukkan seolah-olah sosok Zhawa sama sekali tidak terlihat atau kasatmata di dalam ruangan tersebut.
"Kang Ghufran..." lirih Zhawa sekali lagi, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.
Ghufran memutar tubuhnya sesaat sebelum membuka pintu apartemen, menatap Zhawa dengan sorot mata kecewa yang tidak bisa disembunyikan. "Jangan membuang-buang waktumu untuk mengurus saya, Zhawa. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu dan keluarga kamu inginkan dari pernikahan sandiwara ini, bukan? Jadi, cukup nikmati saja fasilitas di sini dan jangan mengatur hidup saya."
Blam!
Pintu apartemen ditutup dengan cukup keras, menyisakan keheningan mencekam yang kembali merayapi setiap sudut ruangan. Zhawa perlahan melosoh duduk di atas kursi makan, menatap nanar ke arah dua piring nasi goreng yang kini perlahan mulai mendingin di atas meja. Setetes air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga membasahi pipinya.
Zhawa tahu betul, ia tidak berhak untuk marah atas perlakuan kejam suaminya saat ini. Ia sangat menyadari bahwa Ghufran sedang dilanda badai kekecewaan yang teramat hebat karena merasa telah dibohongi secara beramai-ramai oleh sahabat karib dan ibu kandungnya sendiri, demi mengikat dirinya ke dalam sebuah tali pernikahan yang tidak ia kehendaki sejak awal.
Zhawa mengusap air matanya dengan ujung hijab, lalu mengembuskan napas panjang untuk menguatkan hatinya sendiri. "Aku tahu Akang sedang terluka karena dibohongi. Tapi aku tidak akan menyerah untuk menunjukkan kalau pernikahan ini bukan sekadar urusan balas budi belaka."
Sementara itu, di dalam mobil yang sedang melaju membelah jalanan kota yang mulai padat, Ghufran mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tegang. Tatapan matanya lurus ke depan, namun pikirannya benar-benar kacau berantakan. Bayangan wajah pucat Zhawa dan raut sedih istrinya saat diabaikan tadi terus-menerus mengusik ketenangannya.
Ada rasa bersalah yang samar-samar mulai menyelinap di dalam lubuk hatinya karena telah bersikap teramat kasar pada wanita yang sebenarnya sangat ia cintai itu. Namun, setiap kali ego dan rasa kecewanya mengingat kembali fakta tentang sandiwara sakit jantung ibunya serta konspirasi yang disusun oleh Rian, hati Ghufran kembali mengeras bagaikan batu karang. Ia merasa dimanfaatkan, dan hal itu adalah sesuatu yang paling dibenci oleh prinsip hidupnya.
Ghufran memukul kemudi mobilnya dengan kesal. "Sial! Mengapa semua orang harus membohongiku hanya untuk urusan ini? Apakah ketulusanku selama ini sama sekali tidak ada harganya di mata mereka?"
Kini, kehidupan rumah tangga yang baru seumur jagung itu harus berjalan di atas duri-duri tajam ketidakpastian. Di satu sisi, Ghufran terus membentengi dirinya dengan tembok kedinginan karena rasa kecewa yang mendalam, sementara di sisi lain, Zhawa harus bertahan menghadapi pengabaian demi pengabaian di dalam istana mewah yang terasa sepi bagai kuburan. Akhir dari drama kebohongan ini tampaknya masih sangat panjang dan penuh liku.
terimakasih