NovelToon NovelToon
NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Panqeran Sipit

Judul: Napas Terakhir Lumina

Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Jejak Pengkhianatan, Bisikan Masa Lalu

Langit di atas Hutan Lumina hari itu tampak seolah-olah terbuat dari perak yang memudar, tertutup oleh lapisan awan kelabu yang menggantung rendah dan berat. Alisha berdiri di balkon tertinggi istana, jemarinya yang ramping namun kuat mencengkeram pagar batu yang dingin dan berlumut tipis. Angin sepoi-sepoi yang biasanya membawa aroma manis bunga melati dan kesegaran pinus, kini terasa membawa sesuatu yang berbeda—bau logam yang tajam dan sisa-sisa abu pembakaran. Itu adalah bau yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang pernah mencium aroma peperangan di garis depan.

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak hari yang menentukan itu, hari di mana ia terpaksa mengasingkan Valerius, mentor yang dulu sangat ia puja. Namun, kenangan akan wajah Valerius yang penuh amarah tetap segar di ingatan Alisha, seperti luka yang menolak untuk benar-benar menjadi keropeng. Setiap kali ia menutup mata, ia masih bisa melihat tatapan mata Valerius saat melangkah pergi menuju Luar Batas—tatapan yang tidak berisi sedikit pun penyesalan atau permintaan maaf, melainkan sebuah janji sunyi akan kehancuran yang lebih besar.

“Kau melamun lagi, dan kerutan di dahimu itu mulai terlihat permanen,” sebuah suara berat dan hangat memecah keheningan yang menyesakkan itu.

Rylan berdiri di sana, di ambang pintu balkon. Ia menyandarkan pedang besarnya yang terbuat dari baja hitam di dinding istana. Wajah pemuda itu kini telah berubah; ia bukan lagi pemuda desa yang tampak canggung. Wajahnya lebih matang, rahangnya lebih tegas, dan ada bekas luka kecil yang melintang di pipi kirinya—sebuah tanda jasa yang didapatnya saat melindungi perbatasan dari serangan monster liar bulan lalu.

Alisha menghela napas panjang, suaranya nyaris berbisik, seolah takut angin akan membocorkan rahasianya pada musuh. “Apakah aku terlalu naif saat itu, Rylan? Saat aku memutuskan untuk mengasingkannya, aku hanya melihat seorang mentor yang sedang tersesat dan butuh waktu untuk merenung. Namun sekarang, setiap kali aku mendengar kabar dari perbatasan, aku merasa sedang melihat seekor monster yang kuberi waktu luang secara cuma-cuma untuk mengasah taringnya.”

Rylan melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai batu. Ia meletakkan tangannya yang kasar namun lembut di atas tangan Alisha yang masih mencengkeram pagar. 

“Kau memilih belas kasih daripada darah, Alisha. Itu bukan sebuah kesalahan, itu adalah kekuatan cahaya yang ada dalam dirimu. Hanya saja, kita harus menerima kenyataan bahwa terkadang cahaya yang paling terang justru menarik bayangan yang lebih gelap untuk mengikutinya.”

Pagi itu, latihan pedang rutin mereka di halaman istana terasa jauh lebih berat dari biasanya. Dentingan logam yang beradu tidak lagi membawa kesenangan atau adrenalin seperti dulu. Setiap serangan yang Alisha tangkis dengan pedang cahayanya terasa seperti memikul beban dari tumpukan laporan perbatasan yang kian memburuk. 

Laporan-laporan itu menyebutkan bahwa aktivitas makhluk kegelapan bukan lagi sekadar gangguan acak dari monster lapar. Mereka mulai bergerak dengan presisi militer yang menakutkan. 

Mereka menghancurkan pos-pos komunikasi dengan efisien dan mencuri kristal-kristal energi dari desa-desa terpencil, seolah-olah ada tangan dingin yang sedang merencanakan untuk memutus urat nadi pertahanan Lumina secara sistematis.

Kekhawatiran Alisha mencapai puncaknya di sore hari ketika mata-mata kepercayaan Rylan kembali dengan kabar yang membuat darah Alisha terasa membeku. Valerius tidak sedang membusuk atau meratap di tanah pengasingan yang tandus. Sebaliknya, ia telah membangun sebuah kekuatan baru, sebuah ordo terlarang yang ia sebut dengan nama yang provokatif: 

Para Penjaga Terlupakan.

“Mereka bukan sekadar bandit, Alisha,” lapor Rylan dengan nada geram yang tertahan saat mereka mengadakan rapat darurat di ruang strategi. “Anggotanya terdiri dari mantan Penjaga Cahaya yang merasa terabaikan oleh sistem baru kita, serta para pencari kekuasaan yang tergiur oleh janji-janji manis Valerius tentang tatanan dunia baru. Dia mengatakan pada mereka bahwa Hutan Lumina membutuhkan pemimpin yang 'berani'—pemimpin yang tidak takut menggunakan kegelapan untuk menjamin keamanan.”

Pukulan telak berikutnya datang saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat. Elias, seorang penjaga muda yang biasanya memiliki binar kekaguman di matanya, masuk ke ruangan dengan wajah sepucat kertas. Ia membawa secarik perkamen hitam yang tampak bergetar hebat karena dialiri energi sihir yang tidak stabil dan jahat.

Isi surat itu singkat, namun menusuk tepat ke jantung Alisha:

“Alisha, sang pewaris yang bimbang. Hutanmu sedang sekarat dari dalam, dan kau terlalu buta untuk mengakuinya. Bertemulah denganku di Perbatasan Batas Langit, saat matahari tepat berada di garis horison. Datanglah sendiri, atau saksikan desa-desa pinggiranmu menjadi debu sebelum fajar tiba. Oh, dan satu hal lagi... ada sesuatu tentang orang tuamu, Sena dan Elara, yang tidak pernah mereka ceritakan padamu. Sebuah kebenaran yang terkubur di bawah akar kebohongan mereka.”

Rylan segera menghujamkan tinjunya ke meja kayu ek hingga retak. “Ini jebakan yang sangat transparan, Alisha! Dia sengaja memancingmu keluar dari perlindungan perisai sihir utama istana agar dia bisa menghabisimu tanpa gangguan. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian ke sana. Itu murni bunuh diri!”

Alisha menatap surat itu dengan mata yang berkaca-kaca, namun di balik air mata itu, ada kilatan tekad yang tidak bisa digoyahkan. “Dia membawa-bawa nama orang tuaku, Rylan. Valerius mengenal mereka lebih lama dari aku mengenal diriku sendiri. Jika ada rahasia yang ia simpan—atau bahkan jika itu hanya dusta untuk menjatuhkanku—aku harus mengetahuinya langsung dari mulutnya. Jika aku membawa pasukan, dia akan menghilang kembali ke dalam bayang-bayang dan melampiaskan amarahnya pada rakyat jelata. Aku tidak bisa membiarkan mereka menjadi sandera hanya karena aku merasa takut.”

Meski hatinya berat, Alisha mulai bersiap. Ia mengenakan jubah pelindung perak yang ditenun khusus oleh ibunya, Elara, bertahun-tahun lalu. Jubah itu terasa hangat, memberikan sedikit kenyamanan psikologis di tengah badai kecemasan. Ia menyarungkan Pedang Cahaya di pinggangnya, merasakan beratnya sejarah keluarga yang kini harus ia pikul sepenuhnya. Sebelum melangkah keluar dari gerbang istana, ia berbalik dan mencium kening Rylan.

“Jika dalam satu putaran matahari penuh aku tidak kembali ke garis perbatasan ini, kau tahu apa yang harus kau lakukan, Rylan. Jangan tunggu aku,” bisik Alisha lirih.

Rylan menatapnya dengan mata yang menyiratkan janji yang mematikan. “Jika kau tidak kembali, aku akan meratakan seluruh tempat itu dengan tanganku sendiri untuk menjemputmu, Alisha. Ingat itu.”

Perjalanan menuju Perbatasan Batas Langit terasa seperti perjalanan menuju akhir dunia. Pepohonan purba yang biasanya memancarkan cahaya biru lembut kini tampak layu dan membisu, seolah-olah mereka sedang menahan napas ketakutan akan kehadiran sosok yang sedang mendekat. Alisha akhirnya tiba di sebuah tebing terjal yang menghadap ke arah lembah tandus yang luas.

Matahari mulai menyentuh garis horison, mewarnai langit dengan warna oranye kemerahan yang pekat, tampak menyerupai genangan darah yang tumpah di atas kain perak. Dari balik kabut hitam yang merayap keluar dari celah-celah batu, sebuah sosok muncul secara perlahan. Jubahnya compang-camping dimakan usia, namun langkah kakinya tetap menunjukkan keangkuhan seorang mantan jenderal. Valerius berdiri di sana, wajahnya tampak jauh lebih tua dan lebih keras, namun yang paling mengerikan adalah matanya—kini mata itu memiliki kilatan merah yang tidak alami, tanda bahwa ia telah melakukan kontak dengan kekuatan terlarang.

“Kau datang juga, Alisha,” suara Valerius terdengar parau, seperti gesekan batu di atas tanah kuburan yang kering. “Masih dengan idealisme yang mencekik lehermu itu? Masih setia pada cahaya yang sebenarnya hanya menutupi kebusukan di bawahnya?”

Alisha tidak ragu. Ia menghunuskan pedang cahayanya, dan seketika kilatan putih membelah kegelapan kabut di sekitar mereka. “Katakan apa yang ingin kau katakan, Valerius. Katakan sebelum cahaya ini mengakhiri apa yang seharusnya kuselesaikan dengan pedangku bertahun-tahun yang lalu di aula istana.”

Valerius tertawa, suara tawa yang kering dan penuh ejekan yang menggema di lembah sunyi itu. “Oh, Nak. Kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya dikorbankan oleh orang tuamu demi menciptakan kedamaian palsu yang kau nikmati sekarang. Kau ingin tahu mengapa aku benar-benar memilih untuk berkhianat? Itu bukan karena aku haus kuasa. Itu karena aku telah melihat apa yang mereka sembunyikan dengan rapat di dasar Hutan Lumina. Sesuatu yang sangat gelap, yang membuat cahaya mereka tampak seperti lelucon. Dan sekarang, aku akan menunjukkannya padamu, agar kau sadar siapa sebenarnya pahlawan yang kau puja itu.”

Alisha merasakan jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging. Ia berdiri di tepi jurang fisik dan mental, terjepit di antara tugas sucinya sebagai pemimpin yang harus melindungi rakyat, dan rasa haus akan kebenaran masa lalu yang mulai membisikkan keraguan yang sangat berbisa di telinganya.

1
Alia Chans
semangat✍️👈😍
T28J
terimakasih 👍
Alia Chans
semangat thor😍





jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
T28J
lanjuuuut ✍️
Dindinn
makasiiihhh💪😍
T28J
ceritanya agak cepat, cocok buat platform online👍
T28J
wiih udha bertahun tahun aja 👍
T28J
stasiun senen, jangan jangan authornya tetangga saya ni 👍
T28J
semoga lebih cepat update nya thor
BOS MUDA
next buat yg lebh seruu lg ya
BOS MUDA
panjangnya💪🙏🙏😄
BOS MUDA
mantap ceritanya, panjang bener💪🤭😍
LAMBE TURAH
bagus kali ceritanya
NANDA'Z OFFICIAL
🧐😮😧😱
T28J
cocok dikasih like👍cocok dikasih hadiah💪
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.
Dindinn: makasih kak semangat 💪💪💪💪😍🤭🙏
total 1 replies
absurd
semangat💪
absurd
🤠
absurd
semoga lebih baik dan seru lagi ya ceritanya 🤩
bagus
💪👍
bagus
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!