LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Jejak Dalam Kegelapan
Hutan di Pulau Hitam bukan sekadar pepohonan. Ia hidup. Akar-akar raksasa menjulang seperti tulang rusuk bumi yang terbuka, daun-daun lebar bergoyang tanpa angin, seolah sedang mengamati tiga sosok kecil yang menyusup masuk. Udara di sini berat, berbau belerang dan tanah basah yang bercampur dengan aroma logam tajam—bau darah kering dan oli mesin tua.
Sabiru Naverlla Azzura berjalan paling belakang, napasnya pendek-pendek. Kakinya terasa berat setiap kali menginjak tanah berlumpur yang licin oleh hujan tadi malam. Tapi dia tidak boleh lambat. Di depannya, Allbiru Sky Kalangga—putra kandung Aldo dan Rania—memimpin dengan langkah pasti. Matanya yang tajam, warisan dari ketelitian ibunya, terus memindai sekitar—bukan seperti prajurit yang mencari musuh, tapi seperti dokter bedah yang sedang mencari tanda-tanda infeksi dalam tubuh pasien.
Di samping Allbiru, Aldo Sky bergerak diam-diam, pistol terselip di balik jaket taktisnya, siap ditarik kapan saja. Wajah Aldo terlihat lebih tua dari usianya malam ini. Beban rahasia yang ia pikul—ancaman Rio terhadap nyawa istrinya, Rania, di Jakarta—membuat setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas tali.
“Jangan sentuh apa pun,” bisik Aldo tiba-tiba, tanpa menoleh. Suaranya rendah tapi tajam, memecah keheningan hutan. “Tanah ini… ada sensor gerak tekanan. Kalau kita salah langkah, alarm bakal bunyi sebelum kita sampai gerbang utama.”
Sabiru mengangguk cepat, tangannya mencengkeram tali tas punggungnya erat-erat. Di dalamnya, laptopnya masih hangat dari penggunaan terakhir. Dia sudah mencoba mengakses jaringan internal fasilitas lewat sinyal lemah yang ia tangkap dari jarak jauh—tapi hasilnya nihil. Enkripsi tingkat militer. Butuh akses fisik.
Namun, saat Aldo memberi peringatan itu, sesuatu yang aneh terjadi pada Sabiru.
Bukan suara alarm yang dia dengar. Tapi sebuah getaran. Getaran halus di dasar tengkuknya, tepat di mana port neural implannya berada. Getaran itu berdenyut seiring dengan langkah kaki Aldo.
Awas. Di depan. Tiga meter. Kiri.
Pesan itu muncul di kepalanya bukan sebagai kata-kata, tapi sebagai impuls saraf murni. Sabiru tersentak.
"Tunggu!" seru Sabiru pelan, mengangkat tangan.
Allbiru langsung berhenti, tubuhnya berputar sigap menghadap Sabiru, tangan kanannya sudah siap meraih alat suntik penenang dari tas medis di pinggangnya. "Ada apa, Ru? Kau melihat sesuatu?"
"Bukan melihat," bisik Sabiru, matanya terpejam, berusaha fokus pada denyut di tengkuknya. "Aku... merasakannya. Ada jebakan. Sensor tekanan di tanah, tiga meter di depan kita, agak ke kiri. Dan... ada kabel serat optik tipis yang terhubung ke akar pohon itu."
Aldo menatap Sabiru dengan tatapan campuran antara kagum dan ngeri. Dia mengeluarkan senter kecil berwarna merah (agar tidak menarik perhatian termal) dan menyinarinya ke arah yang ditunjuk Sabiru.
Terlihat jelas: Tanah di sana sedikit lebih padat, dan sebuah kabel transparan sehalus rambut manusia tersamar di antara lumut akar pohon.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Aldo, suaranya berbisik penuh takjub. "Sensor itu baru dipasang minggu lalu. Tidak ada di peta lama Arisendra."
Sabiru membuka matanya. Iris matanya tampak sedikit lebih gelap dari biasa, seolah pupilnya melebar menyerap cahaya redup hutan. "Aku tidak tahu, Yah. Aku cuma... tahu. Seperti aku bisa mendengar 'denyut' listrik di kabel itu."
Allbiru melangkah maju, berjongkok di samping kabel itu. Dengan presisi seorang ahli bedah, dia menggunakan pinset kecil dari tas medisnya untuk mengangkat kabel tersebut tanpa memutusnya.
"Cerdik," gumam Allbiru. "Jika kita menginjak tanah di sebelahnya, tekanan akan menutup sirkuit ini dan memicu alarm. Sabiru, kemampuanmu berkembang terlalu cepat. Ini bukan lagi sekadar intuisi hacker."
Sabiru menunduk, menghindari tatapan kakaknya. Rasa sakit di tengkuknya kembali muncul, kali ini lebih tajam, seperti jarum panas. "Kau adalah kunci," bisikan suara itu kembali terdengar di kepalanya. Suara yang sangat mirip dengan Arisendra.
"Ayo lanjutkan," kata Sabiru, suaranya sedikit serak. "Kita buang waktu. Dan... aku merasa mereka sudah tahu kita di sini. Rasanya seperti ada mata yang mengawasi dari dalam tanah."
Mereka melanjutkan perjalanan, kali ini dengan lebih hati-hati. Allbiru memimpin, menggunakan pengetahuannya tentang anatomi tanah dan vegetasi untuk mendeteksi ketidakwajaran. Aldo menjaga belakang, waspada terhadap serangan fisik. Dan Sabiru berjalan di tengah, menjadi "radar hidup" mereka, merasakan setiap jebakan elektronik sebelum mata mereka bisa melihatnya.
Setelah sepuluh menit menembus semak belukar, hutan mulai menipis. Di depan mereka, terbentang sebuah lapangan beton retak-retak yang dikelilingi pagar kawat berduri tinggi. Di ujung lapangan, berdiri sebuah bangunan bunker besar berbahan baja hitam, dengan logo samar yang hampir terkikis waktu: GENESIS CORE - FACILITY ALPHA.
"Itu dia," bisik Aldo. "Pintu masuk utama."
Tapi pintu itu tertutup rapat. Di sebelahnya, terdapat panel keypad digital yang berkedip merah.
"Aku butuh akses," kata Sabiru, melangkah maju. Tapi saat dia mendekat, panel itu tiba-tiba menyala hijau. Layarnya menampilkan pesan:
BIOMETRIC SCAN INITIATED...
DNA SEQUENCE DETECTED: NAVERLLA-BLOODLINE.
ACCESS GRANTED: WELCOME HOME, HEIR.
Pintu baja itu terbuka dengan desisan hidrolik yang berat.
Ketiganya terpaku.
"Mereka... mengenali darahnya," gumam Allbiru, matanya membelalak. "Rio tidak mengubah kode aksesnya? Atau..."
"Atau sistem ini memang dirancang untuk menyambutku pulang," selesai Sabiru, wajahnya pucat pasi. Dia merasa mual. Perasaan "pulang" itu semakin kuat, semakin menakutkan.
Aldo menatap putrinya (secara emosional) dengan khawatir. "Sabiru, apakah kau yakin ingin masuk? Kita masih bisa mundur. Kita bisa cari jalan lain."
Sabiru menatap kegelapan di dalam bunker. Di sanalah jawaban tentang ayahnya, tentang dirinya sendiri, dan tentang masa depan mereka berada.
"Tidak ada jalan lain, Yah," kata Sabiru tegas, meski kakinya gemetar. "Ini satu-satunya cara. Dan... aku merasa Ayah menunggu di sana."
Allbiru segera mengambil posisi di samping Sabiru, tangannya menyentuh bahu gadis itu dengan lembut namun firme. "Kalau begitu, kita masuk bersama. Aku di sebelah kananmu, Aldo di kiri. Jangan lepaskan konsentrasi, Ru. Apa pun yang kau rasakan, beri tahu kami."
Sabiru mengangguk. Bersama-sama, mereka melangkah melewati ambang pintu baja itu, meninggalkan hutan hidup di belakang, dan masuk ke dalam perut binatang mekanik yang telah menunggu selama dua puluh dua tahun.
Di dalam, udara terasa dingin steril, berbeda jauh dengan kelembaban hutan. Lampu-lampu neon panjang menyala satu per satu mengikuti langkah mereka, seolah membimbing mereka menuju ruang utama.
Dan di kejauhan, terdengar suara dengungan mesin raksasa yang semakin keras. Dengungan yang selaras dengan detak jantung Sabiru.
"Selamat datang, Putri Arisendra," bisik angin buatan di dalam koridor itu.
Sabiru menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena dia tahu, sejak detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.