NovelToon NovelToon
Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalinya Sang Nyonya Palsu

Matahari siang itu serasa tepat berada di atas kepala, membakar aspal di sekitar kawasan Gudang Berkah Arumi.

Setya berjalan dengan langkah gontai menuju warung tegal kecil di ujung gang. Perutnya sudah keroncongan sejak pagi. Di dalam saku celana kerjanya, jemarinya meremas selembar uang lima puluh ribu rupiah—sisa dari gaji tujuh ratus ribu rupiah yang ia bagi-bagi untuk kebutuhan bertahan hidup.

​Ia duduk di bangku panjang warung yang sempit, memesan sepiring nasi dengan sayur kangkung dan sepotong tahu pong. Menu paling murah agar uangnya cukup hingga akhir bulan. Saat Setya baru saja menyuap nasi pertamanya, suara derit ban mobil memecah kebisingan jalanan gang yang berdebu.

​Sebuah taksi eksekutif berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan warung. Pintu belakang terbuka, dan seorang wanita turun dengan gerakan yang sangat anggun. Ia memakai kacamata hitam berbingkai emas, gaun terusan ketat berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna, dan menjinjing tas desainer yang tampak sangat baru. Wangi parfum mewah yang semerbak seketika mengalahkan bau asap kendaraan dan gorengan di warung tersebut.

​Setya mendongak, matanya membelalak tak percaya. Jemarinya yang memegang sendok seketika gemetar.

​"Ra... Raya?" bisik Setya, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Wanita itu melepaskan kacamata hitamnya perlahan, memamerkan riasan wajahnya yang sangat tebal, flawless, dan mahal hasil sentuhan salon kecantikan terbaik di pusat kota. Bibirnya yang merah merona tersenyum sinis menatap Setya.

​"Hai, Mas Setya. Lama tidak berjumpa," sapa Raya dengan nada suara yang manja tapi menyiratkan keangkuhan yang tinggi.

​Setya langsung melompat dari bangkunya, mengabaikan makan siangnya yang baru tersentuh satu suapan. Ia menghampiri Raya dengan tatapan horor, menengok ke kanan dan ke kiri karena takut ada polisi yang sedang mengejar istrinya.

​"Kamu... bagaimana bisa kamu ada di sini, Raya?! Bukannya kamu harusnya di dalam sel?! Kamu kabur ya?!" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Setya yang panik. Ia bahkan refleks memegang lengan Raya, namun Raya dengan cepat menepis tangan Setya yang kasar dan sedikit kotor karena oli gudang.

​"Jangan pegang-pegang, Mas! Baju aku ini mahal, nanti kotor!" ketus Raya sambil merapikan gaunnya dengan wajah jijik. Ia kemudian melirik seragam biru kusam staf kebersihan yang melekat di tubuh Setya. "Dan tolong ya, jangan norak. Aku tidak kabur. Aku keluar secara resmi sebagai tahanan luar karena ada orang berkuasa yang menjamin penangguhan penahanan ku."

​Setya melongo, otaknya yang sudah tumpul karena stres mencoba mencerna situasi ini. "Orang berkuasa? Siapa, Raya? Dan... dari mana kamu bisa mendapatkan baju mewah dan tas mahal ini? Uang yang aku kirim lewat sipir kan cuma sedikit!"

​Raya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat puas melihat keterpurukan suaminya. "Uang dari kamu? Mas, uang beberapa ratus ribu dari hasil kamu sikat toilet gudang Arumi itu cuma cukup buat aku beli sabun cuci di dalam sana! Kalau aku mengandalkan kamu, mungkin wajahku sudah hancur dipukuli narapidana lain!"

​Raya melangkah mendekati taksi eksekutifnya, kemudian berbalik menatap Setya dengan pandangan meremehkan.

​"Sudahlah, tidak usah banyak tanya. Yang jelas sekarang aku sudah bebas dan aku punya tempat tinggal baru yang sangat mewah di apartemen pusat kota. Aku ke sini cuma mau menjemputmu. Masuk ke mobil!" perintah Raya angkuh.

​"Tapi Raya, jam istirahatku hampir habis! Kalau aku telat kembali ke gudang, Arumi akan memotong gajiku lagi! Gajiku sudah dipotong habis-habisan sampai cuma sisa tujuh ratus ribu!" Setya mencoba membela diri, jiwanya sebagai pekerja kebersihan yang trauma akan sanksi Arumi seketika mencuat.

​Mendengar nama Arumi disebut dengan nada ketakutan oleh suaminya, mata Raya berkilat penuh dendam.

​"Potong gaji? Bagus! Biarkan saja perempuan daster bau bawang itu memotong gajimu yang tidak seberapa itu! Sekarang aku punya banyak uang, Mas. Kamu tidak perlu takut kelaparan lagi," Raya membuka tasnya, menunjukkan sekilas tumpukan uang pecahan seratus ribu yang rapi di dalamnya—uang yang diberikan oleh Valerie sebagai modal awal mereka. "Sekarang ikut aku ke apartemen. Ada hal penting yang harus kita bicarakan tentang masa depan kita... dan tentang pembalasan kita pada Arumi."

​Setya menatap tumpukan uang itu dengan mata berbinar-binar. Rasa serakah dan egonya sebagai laki-laki yang selama ini diinjak-injak di gudang Arumi mendadak bangkit kembali. Ditambah lagi, rasa penasarannya tentang siapa sosok misterius di balik kekayaan mendadak istrinya ini membuatnya tidak bisa menolak.

​"Baiklah... aku ikut," ujar Setya. Ia mengabaikan nasi tegalnya yang belum dibayar, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari sakunya, melemparkannya ke meja warung, lalu buru-buru masuk ke dalam taksi mewah mengikuti Raya.

​Satu jam kemudian, Setya berdiri mematung di tengah-tengah ruang tamu sebuah apartemen penthouse mewah yang terletak di lantai tiga puluh sebuah gedung pencakar langit.

Lantainya berbahan marmer mengkilap, dan dinding kacanya langsung menyuguhkan pemandangan kota Jakarta yang megah. Setya merasa dirinya sangat tidak pantas berada di sana dengan seragam birunya yang dekil dan berbau karbol.

​Raya melemparkan tasnya ke atas sofa kulit, menuangkan dua gelas sirup dingin. Ia memberikan satu gelas kepada Setya yang masih berdiri canggung.

​"Duduk, Mas. Jangan seperti orang udik begitu," cibir Raya sambil mendudukkan diri dengan gaya manja yang sensual.

​Setya duduk dengan sangat hati-hati di ujung sofa. "Raya... tolong jelaskan padaku. Siapa sebenarnya yang membantumu? Ini semua terlalu tidak masuk akal. Siapa orang kaya yang mau mengeluarkan uang ratusan juta demi wanita yang membakar gudang seperti kamu?"

​Raya menyesap minumannya, matanya menyipit penuh kelicikan. Sesuai dengan instruksi Valerie, Raya harus mulai menghasut Setya tanpa membongkar identitas Valerie secara langsung.

​"Orang itu adalah malaikat penolong kita, Mas. Dia adalah pengusaha besar yang juga sangat membenci kelicikan Arumi. Dia tahu bagaimana Arumi menghancurkan kariermu di pelabuhan dan bagaimana Arumi memperlakukanmu seperti budak di gudangnya sendiri," hasut Raya dengan nada suara yang dibuat-buat dramatis. "Dia mau membantu kita merebut kembali harga diri kita, Mas. Tapi dengan satu syarat."

​"Syarat apa?" Setya mencondongkan tubuhnya, terpancing.

​"Kamu harus tetap bekerja di gudang Arumi. Tetaplah jadi tukang sapu di sana," ujar Raya tajam.

​Setya mengernyitkan dahi, kecewa. "Loh? Kenapa begitu? Kalau kita sudah punya banyak uang dari orang ini, untuk apa aku masih harus menyapu toilet di sana? Aku sudah muak dihina oleh Arumi dan Kak Nia setiap hari, Raya! Belum lagi melihat si Dhanu yang selalu bertingkah seperti pahlawan di depan anak-anakku!"

​"Justru itu poin utamanya, Mas!" bentak Raya, matanya melotot penuh kebencian. "Kalau kamu keluar dari sana, kita tidak akan punya mata-mata untuk mengawasi Arumi! Orang besar yang membantuku ini ingin kita menghancurkan bisnis bumbu instan Arumi dari dalam. Kamu harus tetap di sana, pura-pura menjadi pecundang yang penakut dan patuh pada Arumi, sementara diam-diam kamu mengumpulkan informasi tentang jadwal pengiriman mereka, siapa saja klien besar mereka, atau apa saja kesalahan yang bisa kita pakai untuk menjatuhkan nama baik Arumi di depan publik!"

​Setya terdiam. Jiwa pengecutnya kembali bertarung dengan rasa dendamnya. "Tapi Raya... Arumi itu sangat teliti. Waktu itu saja saat aku mencoba menghasut Ibu Dhanu di halaman parkir, aku langsung ketahuan dan gajiku dipotong. Aku takut kalau aku berbuat macam-macam, Arumi akan langsung memasukkan aku ke penjara bersamamu."

​Raya mendengus jijik melihat ketakutan suaminya. "Kamu ini benar-benar sudah kehilangan taring ya, Mas? Kenapa jadi sepenakut ini?! Kamu tidak perlu melakukan hal kriminal yang kasar seperti membakar gudang lagi! Cukup jadilah hantu yang mengawasi. Laporkan semuanya padaku, nanti biar aku dan orang besar di belakangku yang mengeksekusinya! Tugasmu cuma bertahan di dekat Arumi dan menerima gajimu yang menghinakan itu setiap bulan agar Arumi tidak curiga kalau kita sedang merencanakan badai untuknya!"

​Setya menatap gelas di tangannya, kemudian menatap keluar jendela kaca besar melihat gedung-gedung tinggi. Pikiran tentang dirinya yang bisa kembali menjadi pria kaya yang dihormati, ditambah hasutan tajam dari istrinya yang kini kembali cantik, perlahan-lahan meracuni akal sehatnya yang tersisa.

​"Baiklah..." Setya mengangguk perlahan, sebuah senyuman licik yang sudah lama hilang kini kembali muncul di wajah kusamnya. "Aku akan tetap di sana. Aku akan tetap menjadi tukang sapu yang penurut di depan Arumi. Kita buat dia lengah, sampai saatnya tiba kita tarik karpet di bawah kakinya hingga dia jatuh lebih miskin dari kita dulu."

​Raya tersenyum puas, menyandarkan kepalanya di bahu Setya yang kotor. "Nah, begitu baru suamiku. Biarkan Arumi dan Dhanu bersenang-senang dulu di atas penderitaan kita kemarin. Karena sebentar lagi, tawa mereka akan berubah menjadi tangisan darah."

​Di balik dinding apartemen yang mewah itu, aliansi rahasia yang digerakkan oleh uang Valerie kini telah mengunci targetnya. Setya akan kembali ke gudang sebagai bom waktu yang berjalan, siap meledakkan seluruh kejayaan yang telah dibangun Arumi dengan susah payah, tepat di bawah hidung mantan istrinya sendiri.

1
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
kalian jadi biang masalah😭
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
setya kamu tuh bikin masalah ajaa iya🤣
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
raya mulai pengaruhi setya
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
raya kamu kasian sekali dimanfaatkan sama valerie🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
valerie bodoh, itu kan kesalahan setya sndri dikerjaan makana dipecat
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
bos pelabuhan kalau dia kerja bner pst ga akan dipecat, knp harus nyalain arumi🤭🤭 kan slaah dia sndri, dasar betina
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
makanya jangan macem" dan bikin ulah biar ga dikeluarin
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
iya itu lah hubungan bos dan karyawan kan bukan merendahkan🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
setya demi raya bikin ibumu masuk rumah sakit😭😭😭
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
setya ga ada harga diri sma sekali
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
salah kamu sndri iya buang keluarga
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
kalau kata aku biarin ajaa raya disiksa🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
yang bikin onar itu musuh bebuyutan kamu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
setya pengkhianat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kanapa harus bebas sih
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
orang " jahat silahkan senang" dulu tunggu pembalasan
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
Setya kamu nekat iya
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
Valeri bodoh
𑇛ʜᴇ ʏᴇ ǫɪᴀɴ
janga senang dulu kalian iya
𑇛ʜᴇ ʏᴇ ǫɪᴀɴ
Setya kamu bikin masalah baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!