NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama / Tamat
Popularitas:54.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

****

Laras menatap suaminya, ada rasa iba yang menyeruak di balik sisa kemarahannya. "Anak-anak sudah makan, Mas?"

"Sudah... tapi rumah jadi seperti kapal pecah, Ras. Mas baru sadar... baju kotor mereka ternyata sebanyak itu. Mesin cuci tadi sempat macet karena Mas salah masukkan deterjen," Bagas duduk bersimpuh di lantai samping sofa, menyandarkan lengannya yang pegal.

"Baru setengah hari, Mas rasanya mau pingsan. Kamu... kamu melakukan ini setiap hari selama lima tahun?"

Laras tersenyum getir. "Setiap hari, Mas. Tanpa libur, tanpa tanggal merah. Bahkan saat Laras sedang mual hebat di bulan-bulan pertama dulu."

Bagas menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca lagi. "Mas minta maaf, Ras. Mas benar-benar buta selama ini."

Malam harinya, rumah dinas itu akhirnya sunyi. Gilang dan Arka tertidur pulas setelah dihajar oleh Bagas yang mengajak mereka bermain secara ekstrem agar mereka cepat lelah. Bagas baru saja selesai mencuci tumpukan piring yang menggunung dan menyapu lantai yang lengket karena tumpahan sirup Arka.

Bagas kembali ke sisi Laras yang sudah dipindahkan ke ranjang utama. Ia duduk di pinggir ranjang, memijat bahunya sendiri yang terasa kaku.

"Mas... sini duduk," bisik Laras lembut.

Bagas mendekat, merebahkan kepalanya di samping bantal Laras. Suasana kamar yang remang membuat segalanya terasa lebih intim dan jujur.

"Capek ya, Mas?" tanya Laras, jemari tangannya yang halus mengusap rambut Bagas yang berantakan.

"Luar biasa capek, Ras. Lebih capek dari mengurus sengketa tanah warga satu desa," sahut Bagas jujur. "Tapi yang lebih membuat Mas capek adalah pikiran Mas. Mas takut, Ras. Mas takut kalau nanti pas melahirkan, terjadi apa-apa sama kamu karena Mas kurang menjagamu."

Laras terdiam, usapan tangannya berhenti sejenak. "Laras juga takut, Mas. Laras takut kalau Laras nggak bisa jadi ibu yang baik buat tiga anak. Laras takut kalau Mas suatu saat bosan sama Laras karena Laras nggak punya apa-apa untuk dibanggakan selain mengurus rumah."

Bagas meraih tangan Laras, mencium telapak tangan yang kasar itu dengan penuh takzim. "Jangan pernah bicara begitu lagi. Mas yang seharusnya takut tidak pantas memilikimu. Hari ini Mas belajar, kalau takhta Mas di Balai Desa itu tidak ada artinya kalau 'takhta' di rumah ini runtuh karena Mas lalai."

Bagas menatap mata Laras dengan dalam. "Ras, Mas janji. Setelah anak ini lahir, Mas akan jadi sandaranmu yang paling kuat. Mas nggak akan lagi jadi sosok yang cuma memerintah. Mas akan belajar cara memandikan bayi, Mas akan belajar cara membedakan bumbu dapur. Mas ingin kamu merasa punya teman hidup, bukan cuma punya pemimpin."

Laras merasakan kehangatan yang merambat ke hatinya. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa Bagas tidak sedang bicara sebagai seorang Kepala Desa yang berwibawa, melainkan sebagai seorang suami yang sedang jatuh cinta kembali.

"Mas... bayinya nendang lagi," bisik Laras sambil mengarahkan tangan Bagas ke bagian perut yang menonjol.

Bagas menempelkan telinganya di perut Laras, mendengarkan kehidupan di dalam sana. "Sabar ya, Nak. Jangan buat Mamah sakit lagi. Bapak di sini... Bapak jagain kalian berdua."

Di tengah kelelahan fisik yang luar biasa, Bagas membuktikan bahwa ia sanggup meruntuhkan egonya demi nyawa yang dicintainya. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, mereka tidak lagi bicara soal ijazah, soal Siska, atau soal tuntutan warga. Mereka hanya bicara soal masa depan keluarga kecil mereka yang kini mulai menemukan fondasi barunya di atas puing-puing penyesalan.

****

Bersambung

1
Siti Musyarofah
yg penting gak d ganggu mertua atau ipar
vania larasati
lanjut
M Y L I F E
lah kok tamat thor?? anak ke 5nya blom lahir loh😊
Sri Udaningsih Widjaya
Ceritanya bagus kak
Rista Awwalina
aneh ih, kan bs minta antar k klinik utk lahiran. keras kepalanya mmbahayakan anak dan diriny sendiri.
Rista Awwalina
jujur, agak bingung kenapa milih lahiran d rumah? pdhal kan kontraksi sdh lama, bs lgsung k rumkit bgtu Bagas pulang. Beresiko sekali..
Ranita Rani
la cwonya gk punya otak dan si cweny jg goblok gk karuan,,,bakti yo bakti tp yo ra segitunya ras,,,,otakmu yg cerdas itu mbok ya d gunakan,,,bikin yg baca kisahmu jd greget,,,,
Ranita Rani
cerai ja
Ranita Rani
ora dadi bojone kades ra patek en drpd awakq sakit semua,,,nek q mending ckp skian ja
Apis
thor ko pernikahannya masih 5 taun aj sich udah ada saka dan mau launcing anak ke 4 trs Gilang dah SD
Apis
ada part yg katanya laras usianya 24 taun Gilang dah SD kan waktu Gilang umur 4 taun laras umur 23 jd harusnya laras umurnya antara 26/27 kalo Gilang dah SD bukan 24 thor
Apis
pa kadesnya pelit g mau ngasih istrinya art buat ngringanin kerjaan rumah + ngawasin 2 anaknya
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!