Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Tetangga Baru
Beberapa bulan kemudian....
Waktu berjalan dengan begitu sangat cepat. Penjualan skincare Belva mencapai di atas target dan itu membuat Belva semakin bersyukur dan bahagia. Modal yang Belva keluarkan di awal akhirnya bisa terganti dengan cepat, istilahnya sudah balik modal.
Belva dan Yuri sedang duduk santai di teras rumah, tiba-tiba pedagang bakso datang. “Mang, mau beli bakso dong,” seru Belva.
“Siap, Mbak. Mau berapa porsi?” tanya tukang bakso.
“Yur, kamu panggil anak-anak sana, mereka pasti mau bakso deh,” titah Belva.
“Ok.”
Yuri pun segera berlari masuk ke dalam rumah. Saat ini di rumah Belva hanya ada tukang masak, tukang bersih-bersih, sama beberapa karyawan yang bertugas sebagai asisten Belva, kameramen untuk membuat konten, serta sopir. Total yang ada di sana ada tujuh orang termasuk Belva dan Yuri.
“Mang siapa namanya?” tanya Belva.
“Arif, Mbak,” sahutnya.
“Mang umurnya berapa? Kok kayanya masih muda?” tanya Belva kembali.
“Baru 20 tahun, Mbak.”
“Wuidih, masih muda tapi sudah mau bekerja seperti ini. Sudah nikah belum?”
“Jangankan nikah, calon pacar pun tidak punya Mbak. Siapa juga yang mau sama tukang bakso kaya saya,” sahut Arif.
“Eh, jodoh gak bakalan ke mana. Nanti juga kamu bakalan ketemu sama jodoh kamu,” ucap Belva.
Yuri pun datang dengan yang lainnya. “Kalian pesan saja apa yang kalian mau,” seru Belva.
“Siap, Mbak!”
Semuanya pun pesan bakso Arif. Belva melihat jika dagangan Arif masih penuh. “Rif, kayanya dagangan kamu masih penuh ya?” tanya Belva sembari mengunyah baksonya.
“Iya, Mbak. Akhir-akhir ini lagi sepi,” sahut Arif.
“Mau aku borong gak?” tawar Belva.
“Ya, Allah mau banget dong Mbak. Masa diborong gak mau,” sahut Arif.
“Ya, sudah semuanya berapa? Nanti kamu bagi-bagi saja sama yang lewat,” seru Belva.
“Serius, Mbak?” tanya Arif tidak percaya.
“Seriuslah, masa bohong,” sahut Belva.
“Alhamdulillah. Saya tawarin sekarang saja ya, Mbak?”
“Boleh.”
Arif pun mulai teriak-teriak menawarkan bakso gratis, tidak membutuhkan waktu lama orang-orang mulai keluar. Biasalah, manusia itu kalau dikasih gratisan pasti akan langsung datang. Seketika bakso Arif dikerubuti orang-orang dan Belva tersenyum bahagia.
“Kalian pesan apa saja yang kalian mau, nanti biar saya yang bayar,” seru Belva.
“Terima kasih, Neng,” sahut salah satu ibu-ibu.
“Sama-sama, Ibu,” sahut Belva ramah.
Semua tetangga di sana memang sudah kenal dengan Belva. Belva terkenal ramah dan juga dermawan membuat semua orang suka kepada Belva. Semua tetangga dia juga sudah dia racunin dengan skincare milik Belva membuat semuanya bahagia dan cantik-cantik.
“Berapa semuanya, Rif?” tanya Belva.
“Semuanya 500 ribu, Mbak,” sahut Arif.
Belva mengeluarkan uang dari dompetnya dan dia memberikan satu juta lebih. “Itu lebihnya untuk kamu ya,” seru Belva.
“Ya, Allah Mbak terima kasih ya. Semoga usaha Mbak berjalan dengan lancar dan sukses, serta mendapatkan balasan yang lebih dari ini,” sahut Arif.
“Aamiin.”
Setelah semuanya habis, Arif pamit untuk pulang.
Malam pun tiba....
Seperti biasa, Yuri dan satu orang lainnya sedang melakukan live skincare. Sedangkan Belva duduk sejenak di balkon sembari melamun. “Pa, maaf Belva belum sempat menemui Papa karena beberapa bulan ini aku sedang sibuk banget mengurus usaha Belva. Nanti kalau ada waktu, Belva ke Jakarta untuk menemui Papa,” batin Belva.
Tiba-tiba, Belva mendengar suara truk yang lumayan bising. Ada beberapa truk yang berhenti di depan rumah Belva. Kebetulan sekali di depan rumah Belva itu ada rumah kosong.
“Siapa itu? Apa penghuni baru rumah depan?” batin Belva.
Belva melihat seorang Bapak-bapak seusia Papanya dan kemungkinan itu anaknya. Anaknya memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap tapi sayangnya Belva tidak bisa melihat wajah keduanya. “Syukurlah kalau rumah itu sudah ada yang beli, setidaknya jadi tidak kesepian,” batin Belva.
Belva pun kembali turun ke bawah untuk memantau Yuri yang sedang live. “Bagaimana, berapa pembelian kita malam ini?” tanya Belva.
“Kita berhasil mencapai target lagi, Bel,” sahut Yuri.
“Iya kah? Alhamdulillah kalau begitu,” sahut Belva bahagia.
“Kamu bilangin sama Dewi, livenya berhenti saja dan istirahat,” titah Belva.
“Ok, paling lima menitan lagi,”sahut Yuri.
“Eh iya, rumah depan sudah ada yang beli,” seru Belva.
“Hah, serius? Syukurlah jadi gak seram-seram lagi kalau sudah ada yang nempatin,” sahut Yuri.
“Ya, sudah aku mau istirahat dulu. Kalian kalau sudah selesai, langsung istirahat saja,” seru Belva.
“Siap, Bos!” sahut Yuri sembari memberi hormat.
Belva hanya bisa terkekeh, lalu pergi menuju kamarnya.
***
Keesokan harinya....
Belva sudah bangun pagi-pagi sekali, seperti biasa dia akan pergi ke halaman rumah dan menyiram bunga dan tanaman kesayangan dia. Beberapa kali Belva masih menguap, entah masih ngantuk atau bagaimana. “Padahal tadi malam aku tidur nyenyak, tapi kenapa nguap terus ya?” gumam Belva.
Matanya benar-benar sulit untuk dibuka, hingga selang air yang digunakan untuk menyiram tanaman malah nyasar ke jalan depan rumah dan menyiram seseorang yang sedang membenarkan tali sepatunya yang lepas. Belva tidak bisa lihat ada orang karena pagar rumahnya tertutup tidak lihat ada orang yang sedang jongkok di sana. Orang itu kaget dan langsung berdiri dengan wajah dinginnya.
“Apa-apaan ini!” bentak orang itu.
Belva kaget, dia langsung mematikan airnya dan menghampiri orang itu. “Astaghfirullah, maaf Mas aku gak sengaja,” seru Belva.
“Kamu sengaja atau apa? Tanaman kamu di sana, kenapa kamu nyiramnya ke jalan!” bentaknya lagi.
“Hai, aku sudah minta maaf kenapa kamu masih bentak-bentak!” sahut Belva dengan meninggikan suaranya.
“Baju aku basah, lain kali kalau mau melakukan apa pun harus teliti jangan ceroboh.”
“Astaga, iya aku akan lebih berhati-hati lagi, puas kamu!” sentak Belva.
“Kamu yang bikin salah, kamu yang nyiram aku, kenapa kamu yang lebih galak dari aku?” seru orang itu.
“Habisnya kamu nyebelin, sudah minta maaf juga masih saja bentak-bentak,” sahut Belva.
Sopir yang mendengar perseteruan dua orang itu langsung menghampiri. “Sudah Non, masih pagi takutnya mengganggu penghuni lainnya,” seru Pak Deden.
“Diam kamu!” Belva dan orang itu bentak Deden secara bersamaan.
Deden sampai memegang dadanya karena kaget. “Dasar cowok nyebelin,” kesal Belva.
Belva segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan orang itu juga kembali masuk ke dalam rumahnya karena bajunya basah akibat tersiram air oleh Belva. Orang itu bernama Abimana, anak dari orang yang membeli rumah di depan rumah Belva.
Abimana ternyata seorang tentara, dia pindah ke Bandung karena dipindah dinaskan ke Bandung. Abimana seorang perwira muda, pangkat dia saat ini sebagai Mayor. Abimana tinggal di sana bersama Papanya karena Mamanya sudah lama meninggal.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva