NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Bayangan di Kota Hitam

Rencana Xiao Chen sederhana: dia tidak akan masuk lewat gerbang. Hui yang akan masuk.

Serigala hitam itu berjalan santai menuju gerbang Kota Batu Hitam, ekornya bergoyang pelan, lidahnya menjulur seperti anjing peliharaan yang tersesat. Dua penjaga gerbang menatapnya dengan alis terangkat.

"Hei, lihat. Serigala."

"Serigala? Di sini? Itu hanya anjing hutan."

"Mau kita tangkap? Dagingnya bisa dijual."

Salah satu penjaga melangkah ke arah Hui. Tapi begitu dia mendekat, Hui tiba-tiba berlari ke samping, menjauhi gerbang, menggonggong keras. Penjaga itu mengikutinya, tertawa. "Dasar binatang bodoh!"

Sementara perhatian mereka teralihkan, Xiao Chen bergerak.

Dia sudah melepas Jubah Perangnya dan memasukkannya ke dalam Ruang Warisan di cincin hitam. Sekarang dia hanya mengenakan pakaian lusuh yang dia ambil dari salah satu rumah terbakar di Kota Tanah Merah—kemeja cokelat kotor dan celana abu-abu penuh tambalan. Rambutnya diacak-acak, wajahnya dilumuri sedikit tanah. Yue Que dia bungkus dengan kain compang-camping dan diikat di punggungnya, tersamar seperti kayu bakar.

Dia bukan lagi Xiao Chen si pewaris Ras Dewa Patah. Dia hanya pengelana miskin yang mencari pekerjaan.

Dia berjalan melewati gerbang saat kedua penjaga masih sibuk mengejar Hui. Begitu masuk, dia bersiul pelan—sebuah nada yang dia ajarkan pada Hui selama tiga hari terakhir.

Hui segera berhenti berlari, berbalik, dan menghilang ke balik semak-semak di luar kota. Penjaga yang mengejarnya mengumpat, lalu kembali ke pos mereka.

"Lumayan," komentar Yue Que di benaknya. "Tapi serigalamu sekarang terdampar di luar kota."

"Dia akan menemukan jalan masuk. Hui lebih pintar dari yang kau kira."

Xiao Chen menyusuri jalanan Kota Batu Hitam. Suasananya persis seperti yang dibayangkannya—suram, kotor, dan penuh ancaman. Rumah-rumah batu hitam berhimpitan seperti gigi-gigi busuk. Saluran air di pinggir jalan mengalirkan cairan kehitaman yang berbau menyengat. Di sudut-sudut gelap, orang-orang berjubah compang-camping duduk dengan tatapan kosong—budak yang menunggu dijual, atau mantan budak yang sudah tidak punya apa-apa lagi.

Tapi ada juga sisi lain kota ini. Di jalan utama, berdiri bangunan-bangunan besar dengan lampu-lampu merah. Kedai minuman, rumah judi, tempat pelelangan budak, dan pasar gelap. Orang-orang bersenjata hilir mudik—kultivator jalur gelap, pemburu liar, pedagang budak, pembunuh bayaran. Tidak ada yang saling menyapa. Hanya tatapan waspada dan tangan yang selalu dekat dengan senjata.

Xiao Chen berjalan tanpa tujuan jelas, mengamati, mempelajari. Dia butuh informasi. Di mana Gorak berada. Siapa Jenderal Tanpa Bayangan itu sebenarnya. Dan kenapa awan pengawas di atas kota ini berputar lebih cepat daripada di tempat lain.

Dia berhenti di depan sebuah kedai minuman bernama "Tenggorokan Naga" . Tempat itu ramai, suara tawa kasar dan denting cangkir terdengar dari dalam. Tempat seperti ini adalah sumber informasi terbaik.

Dia masuk.

Di dalam, asap tembakau dan bau alkohol murahan langsung menyambutnya. Meja-meja kayu kasar dipenuhi orang-orang dari berbagai kalangan—pemburu, pedagang, penjudi, wanita penghibur. Di sudut, seseorang sedang memainkan kecapi sumbang yang tidak didengarkan siapa pun.

Xiao Chen duduk di meja kosong dekat dinding. Seorang pelayan wanita dengan wajah lelah mendekatinya.

"Mau pesan apa?"

"Air putih."

Pelayan itu memandangnya dengan aneh, lalu mengangkat bahu dan pergi. Beberapa saat kemudian, segelas air keruh diletakkan di hadapannya.

Xiao Chen tidak minum. Dia hanya duduk, mendengarkan.

"...Gorak kembali dengan tangan kosong. Katanya ada orang berjubah hitam yang melukainya."

"Orang berjubah hitam? Itu saja? Tidak mungkin Gorak kalah hanya karena orang berjubah hitam."

"Dia bilang orang itu punya pedang patah. Dan serigala hitam."

"Serigala hitam? Ah, omong kosong. Gorak cuma cari alasan karena gagal menjarah."

Xiao Chen mencatat percakapan itu dalam hati. Jadi berita tentang dirinya sudah menyebar, tapi tidak banyak yang percaya. Bagus.

Dia mendengarkan lebih banyak.

"...Jenderal Tanpa Bayangan sudah lama tidak muncul. Ada yang bilang dia sedang bersemedi di bawah kota."

"Di bawah kota? Maksudmu di katakomba?"

"Katanya di sana ada sesuatu yang dia jaga. Atau sesuatu yang menjaganya. Entahlah. Yang jelas, tidak ada yang berani turun ke sana."

Katakomba. Di bawah kota. Xiao Chen menyimpan informasi itu.

Tiba-tiba, seseorang duduk di hadapannya tanpa diundang.

Seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan, rambut hitam pendek, mata cokelat tajam, senyum tipis yang sulit ditebak. Pakaiannya sederhana—jubah abu-abu lusuh—tapi ada sesuatu dalam gerak-geriknya yang tidak cocok dengan penampilannya. Dia bergerak terlalu tenang untuk orang biasa.

"Teman," katanya, suaranya ringan. "Aku perhatikan kau baru di kota ini."

Xiao Chen menatapnya. "Lalu?"

"Aku juga baru. Mungkin kita bisa saling membantu." Pemuda itu menyodorkan tangan. "Namaku Ren Li."

Xiao Chen tidak langsung menjabat tangannya. "Aku tidak butuh bantuan."

Ren Li tertawa kecil. "Semua orang di kota ini butuh bantuan. Terutama seseorang yang menyembunyikan pedang patah di balik bungkusan kayu bakar."

Darah Xiao Chen berdesir. Bagaimana dia tahu?

Ren Li menyeringai. "Tenang. Aku bukan musuh. Kalau aku musuh, kau sudah dikepung anak buah Gorak sejak kau masuk kota." Dia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tahu siapa kau, Xiao Chen. Pewaris Ras Dewa Patah. Aku juga tahu kau datang ke sini untuk mencari Jenderal Tanpa Bayangan. Dan aku bisa membantumu menemukannya."

Xiao Chen menatap pemuda itu dalam-dalam. Tulang punggungnya tidak menangkap getaran ancaman. Tapi bukan berarti orang ini bisa dipercaya.

"Kenapa kau mau membantuku?"

Ren Li menyandarkan punggungnya. "Karena kita punya musuh yang sama. Jenderal Tanpa Bayangan... dia bukan sekadar penjahat biasa. Dia adalah salah satu Utusan Langit."

Xiao Chen membeku.

"Ya," lanjut Ren Li, matanya kini serius. "Dia adalah Utusan Langit yang dikirim untuk mengawasi dunia fana. Tapi entah kenapa, dia memilih bersembunyi di kota ini, membangun kerajaan kriminal, dan tidak pernah kembali ke Surga. Aku sudah memburunya selama bertahun-tahun. Dan kau... kau adalah kunci untuk memancingnya keluar."

"Aku tidak akan menjadi umpan."

"Siapa bilang umpan? Kau akan menjadi pemburu. Sama sepertiku." Ren Li tersenyum lagi. "Jadi, bagaimana? Mau bekerja sama?"

Xiao Chen terdiam. Di atas kota, awan pengawas berputar semakin cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!