Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 32
Sementara itu, di tempat lain...
Plak!
Suara tamparan keras menggema di dalam rumah yang kini terasa begitu sunyi.
Kepala Farid menoleh ke samping akibat tamparan tersebut. Sudut bibirnya bahkan sedikit robek hingga mengeluarkan darah.
Di hadapannya, Tari berdiri dengan tubuh bergetar hebat.
Air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti.
Wanita itu memandang suaminya dengan tatapan yang dipenuhi kekecewaan dan luka yang teramat dalam.
Selama bertahun-tahun ia mempercayai pria itu.
Mencintainya.
Menjadi istri yang setia.
Namun malam ini, seluruh kepercayaannya hancur dalam sekejap.
"Kenapa...?" suara Tari bergetar pelan.
Farid hanya menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
Tatapannya datar.
Seolah tamparan itu tidak berarti apa pun baginya.
Tari tertawa pahit di sela tangisnya.
"Apa salahku sampai kamu tega melakukan semua ini?"
Dadanya terasa sesak.
"Aku kurang apa, Mas?"
"Selama ini aku selalu berusaha jadi istri yang baik."
"Aku selalu mendukungmu."
"Aku selalu mempercayaimu."
Air mata kembali jatuh.
"Dulu saat melamarku, kamu bilang di depan kedua orang tuaku kalau hanya aku wanita yang kamu cintai."
"Kamu bilang hanya aku yang pantas mendampingimu."
"Lalu apa ini?"
Suara Tari semakin lirih.
Nyaris seperti bisikan.
"Apa kamu tidak malu? Video perselingkuhanmu tersebar ke mana-mana."
"Semua orang melihatnya."
"Semua orang menertawakan keluarga kita."
Farid justru tertawa kecil.
Sikapnya yang santai membuat hati Tari semakin hancur.
Pria itu menatap istrinya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kamu mau tahu alasannya?"
Tari terdiam.
Farid memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Dari awal aku memang tidak pernah ingin menikah denganmu."
Kalimat itu menghantam hati Tari seperti palu godam.
Wajah wanita itu langsung memucat.
Farid melanjutkan tanpa beban.
"Aku menikah denganmu karena perjodohan."
"Aku sempat menolaknya waktu itu."
"Tapi dilain sisi ternyata Helena juga dijodohkan ia menerima perjodohan itu."
"Maka aku juga melakukan hal yang sama."
Tari membeku.
Sementara Farid terus berbicara.
"Aku pikir setelah itu semuanya selesai."
"Aku pikir aku dan Helena tidak akan pernah bertemu lagi."
"Tapi ternyata takdir mempertemukan kami kembali."
Kilatan kenangan muncul di mata Farid.
"Awalnya hanya berbincang biasa."
"Kami sama-sama memiliki alasan yang sama."
"Sama-sama dipaksa menikah."
"Sama-sama kehilangan orang yang kami cintai."
Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Akhirnya kami kembali bersama."
Tubuh Tari mulai gemetar.
Namun Farid seolah tidak peduli.
"Helena memiliki suami kaya raya."
"Sedangkan aku? tidak!" ucaonya sambil menggeleng pelan
"Kami melihat kesempatan."
"Kami hanya perlu menghancurkan Tyo." jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan
"Lalu mengambil semua yang dimilikinya."
Tari langsung terhuyung.
Tangannya refleks berpegangan pada pegangan tangga di sampingnya.
Jika tidak, mungkin ia sudah jatuh sejak tadi.
Matanya membelalak tidak percaya.
Seluruh tubuhnya terasa dingin.
Jadi selama ini...
Pernikahan mereka hanyalah sandiwara?
Air mata kembali mengalir.
Dengan suara serak, Tari bertanya,
"Sudah sejauh mana hubungan kalian?"
Farid mengangkat alisnya.
Tari menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Hingga kalian bisa memiliki anak?"
Ruangan mendadak hening.
Farid lalu tersenyum miring.
Senyuman yang membuat Tari merasakan firasat buruk.
"Tentu saja sejauh itu."
DEG!
Jantung Tari seakan berhenti berdetak.
Farid menatapnya lurus.
"Ella adalah anak kandungku."ucapan itu keluar dari bibir suaminya dengan lancar tanpa adanya keraguan disana.
Dunia Tari seolah runtuh saat itu juga.
Pandangannya langsung kabur.
Napasnya tercekat.
Sementara Farid tanpa belas kasihan kembali menambahkan,
"Dia lahir bahkan sebelum aku menikah denganmu."ucapnya dengan nada kecil yang nyaris berbisik
Bruk!
Tari terduduk lemas di lantai.
Air matanya jatuh semakin deras.
Bukan hanya perselingkuhan.
Bukan hanya pengkhianatan.
Ternyata pria yang selama ini menjadi suaminya telah hidup dalam kebohongan selama puluhan tahun.
Dan dirinya tidak pernah menyadarinya.
Farid hanya melirik sekilas ke arah wanita yang kini hancur di hadapannya.
Tak ada rasa iba.
Tak ada rasa bersalah.
Baginya, semua sudah terlanjur terbongkar.
Pria itu berbalik.
Lalu berjalan meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi.
Meninggalkan Tari yang terduduk sendiri dalam kesedihan.
Sementara itu...
Di balik dinding ruang keluarga.
Seorang gadis berdiri dengan wajah pucat.
Tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya hampir menembus kulit.
Sari.
Sejak tadi ia mendengar seluruh percakapan kedua orang tuanya.
Setiap kata.
Setiap pengakuan.
Setiap kebohongan.
Semuanya masuk ke telinganya dengan jelas.
Namun alih-alih menyalahkan Farid yang telah menghancurkan keluarganya...
Kebencian justru tumbuh ke arah orang lain.
Ke arah seseorang yang menurutnya menjadi penyebab semua ini.
Alya.
Sorot mata Sari berubah gelap.
Penuh amarah.
Penuh dendam.
"Gue makin benci sama lo, Alya! "
Gadis itu menggertakkan giginya.
"Sejak dulu semua orang selalu memperhatikan lo."
"Semua orang selalu membela lo."
Tangannya mengepal semakin kuat.
"Lo udah ngerebut kebahagiaan keluarga gue."
"Lo udah bikin keluarga gue hancur."
"Dan sekarang..."
Mata Sari dipenuhi rasa iri yang mengakar.
"Lo juga udah ngerebut Max dari gue."
Nama pria itu keluar dengan penuh obsesi.
Sari menatap ke depan dengan tatapan membara.
Seolah api kemarahan sedang menyala di dalam dirinya.
"Gue nggak bakal diam."
"Gue bakal balas semuanya."
"Satu per satu."
Senyuman tipis yang menyeramkan muncul di bibirnya.
"Mulai sekarang..."
"Lo akan ngerasain sendiri bagaimana rasanya kehilangan."
Di sudut rumah yang gelap itu, kebencian perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan tanpa disadari oleh siapa pun...
Badai baru sedang mulai terbentuk.