“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepeda Onthel dan Pertemuan Tak Terduga
Pagi hari di kediaman sederhana Pak Wisnu, suasana nampak hangat. Aroma nasi goreng desa yang gurih menyeruak dari dapur, hasil masakan tangan terampil Kinanti sebelum memulai aktivitasnya.
"Bapak berangkat ke pabrik dulu ya, Nak. Nanti kamu berangkat kerja hati-hati, jangan ngebut kalau bawa sepeda," pamit Pak Wisnu sambil mengusap kepala putrinya dengan sayang.
"Iya, Pak, siap! Kinan kan pelan-pelan saja yang penting selamat sampai tujuan," jawab Kinanti ceria sambil mencium punggung tangan ayahnya.
Pak Wisnu berangkat menggunakan sepeda motor bebeknya, sementara Kinanti memilih menggunakan sepeda onthel kesayangannya yang berwarna hitam mengkilap. Sebenarnya, Kinanti bisa mengendarai sepeda motor dengan lincah, namun ia merasa lebih nyaman naik sepeda onthel. Baginya, mengayuh sepeda di bawah pohon-pohon rindang desa memberikan ketenangan tersendiri. Alhasil, motor Scoopy miliknya sering menganggur di pojok teras, tertutup kain, hanya dipakai jika ada keperluan mendesak atau cuaca sedang hujan deras.
Setelah selesai sarapan dan memastikan semua pintu terkunci rapat, Kinanti pun mulai mengayuh sepedanya menuju tempatnya mencari nafkah.
❖❖❖ ❖❖❖ ❖❖❖ ❖❖❖
🌸 Harumnya Toko Bunga
Toko bunga 'Sekar Wangi' tempat Kinanti bekerja selalu ramai pengunjung setiap harinya. Aroma harum berbagai jenis bunga, mulai dari sedap malam hingga mawar impor, menyambut setiap orang yang masuk. Dalam satu shift kerja, terdapat tiga orang pekerja yang selalu sibuk merangkai keindahan.
"Mbak, saya mau satu buket bunga mawar merah yang paling cantik," ujar seorang pemuda dengan wajah berseri-seri kepada Kinanti. Sepertinya pria itu sedang jatuh cinta.
"Baik, Kak. Sebentar saya rangkaikan mawar yang paling segar. Mau diberi catatan pesan?" tanya Kinanti dengan senyum profesional yang ramah.
Pemuda itu mengangguk kecil sembari menerima buku catatan kecil dan pulpen yang disodorkan Kinanti. Setelah selesai menuliskan kalimat romantis, ia mengembalikannya.
"Ini, Mbak. Tolong selipkan di bagian tengah, ya," ucap pemuda itu.
"Baik, ditunggu sebentar ya, Kak," ujar Kinanti. Jarinya dengan lincah memotong duri mawar dan membungkusnya dengan wrapping paper berwarna senada. Tak lama kemudian, buket indah itu sudah siap.
"Ini, Kak. Totalnya dua ratus lima puluh ribu rupiah."
Pemuda itu memberikan tiga lembar uang kertas berwarna merah tanpa ragu. "Kembaliannya untuk Mbak saja. Anggap saja tip karena sudah merangkai bunga secantik ini. Permisi," ucapnya lalu pergi terburu-buru.
"Eh, Kak! Terima kasih banyak!" seru Kinanti, sedikit terkejut melihat nominal tip yang cukup besar bagi ukurannya.
Kejadian seperti ini memang sering terjadi. Banyak pelanggan pria yang seolah kehilangan fokus atau menjadi ekstra murah hati saat dilayani oleh Kinanti. Teman-teman kerja Kinanti sering menggodanya, menganggap Kinanti adalah magnet uang tip di toko itu. Namun, Kinanti hanya tertawa kecil, tidak ingin merasa besar kepala.
"Laris manis, tanjung kimpul! Uang masuk, dagangan laku!" gumam Kinanti sembari mengibaskan uang tersebut ke beberapa pot bunga sebagai tradisi penglaris, sebelum memasukkannya ke dalam saku.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tiba jam pergantian shift sore.
"Yang semangat ya, bestie-bestie cantikku! Kami pamit undur diri dulu!" ledek Laras, teman kerja Kinanti yang paling cerewet, kepada pekerja shift sore yang baru datang.
"Ada-ada saja Laras ini," gumam Kinanti sambil memasukkan ponsel ke dalam tas selempang kecilnya.
"Mbak Wulan, Tika, Indah, aku duluan ya! Titip toko," pamit Kinanti.
"Iya, Kinan sayang, hati-hati di jalan ya! Awas jangan bengong nanti nabrak pangeran berbaju zirah!" sahut mereka serempak, disambut tawa kecil dari Kinanti.
Kinanti berjalan keluar, mengambil sepedanya di parkiran samping. Ia menghela napas panjang, menatap langit yang mulai jingga. Punggungnya terasa pegal setelah seharian berdiri, dan ia sudah membayangkan segarnya air mandi di rumah.
❖❖❖ ❖❖❖ ❖❖❖ ❖❖❖
🚗 Rantang dan Senyum Tipis
Di kediaman keluarga Wijaya yang megah, suasana sore itu nampak tenang. Aditya baru saja menyelesaikan beberapa laporan pabrik di laptopnya saat sang ibu menghampiri.
"Nak, Adi, boleh Ibu minta tolong sebentar?" tanya Bu Sarasvati lembut.
Aditya mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Ada apa, Bu?"
Bu Sarasvati mengulurkan sebuah rantang susun tiga berwarna stainless steel. "Tolong antarkan makanan ini ke rumah Pamanmu. Sakit lambungnya kambuh lagi, katanya tidak sempat masak."
"Pandu mana, Bu? Biasanya dia yang bagian antar-antar barang," tanya Aditya heran. Pandu adalah supir sekaligus asisten rumah tangga mereka.
Bu Sarasvati menghela napas. "Tadi disuruh Ayahmu ke kebun buah untuk mengecek panen mangga. Sudah, jangan banyak tanya, kasihan Pamanmu sudah menunggu."
"Ya sudah, Adi yang antar," jawab Aditya akhirnya. Ia mengambil kunci mobil hitamnya yang terparkir di garasi.
Setelah mengantarkan rantang ke rumah pamannya yang hanya berjarak beberapa blok, Aditya memutuskan untuk memutar jalan melewati area pasar dan toko bunga. Ia beralasan ingin mencari udara segar, meski sebenarnya ada sekelebat bayangan wajah yang menghantui pikirannya sejak pagi tadi.
DEG!
Jantungnya berdegup tidak normal saat matanya menangkap sosok yang familiar di pinggir jalan. Di sana, di antara keramaian kendaraan sore, ia melihat Kinanti.
Gadis itu tampil berbeda dengan pagi kemarin saat ia pertama kali bertamu ke rumah Pak Wisnu. Jika kemarin ia melihat Kinanti dengan daster batik yang sederhana, kini gadis itu tampak lebih segar dan tangguh mengenakan celana jeans hitam yang pas di kakinya dan kaus abu-abu lengan pendek. Rambutnya dikuncir kuda, memperlihatkan tengkuknya yang bersih dan beberapa helai anak rambut yang lepek karena keringat sore. Namun, alis Aditya mengernyit saat melihat Kinanti dengan santai mengayuh sepeda onthel tua di tengah bisingnya jalanan.
*Setahuku, Pak Wisnu punya dua motor di rumahnya. Kenapa dia malah naik sepeda? Apa dia tidak bisa mengendarai motor?* batin Aditya bertanya-tanya.
Ada rasa ingin berhenti dan menawarkan tumpangan, namun Aditya tersadar betapa anehnya jika tiba-tiba ia mengajak gadis itu naik ke mobilnya. Ia hanya bisa melambatkan laju mobilnya, menjaga jarak agar tetap bisa memantau punggung gadis itu dari belakang.
Melihat cara Kinanti tersenyum menyapa warga di pinggir jalan sambil terus mengayuh, Aditya merasa ada sesuatu yang hangat menyusup ke hatinya. Kesederhanaan gadis itu justru memancarkan daya tarik yang lebih kuat daripada wanita-wanita sosialita yang pernah ia temui.
"Cantik sekali..." gumam Aditya pelan. Senyum tipis yang tulus tersungging di bibir pria yang biasanya dingin itu. Matanya terus menatap spion, memastikan Kinanti baik-baik saja, sebelum ia akhirnya menginjak gas untuk mendahului dengan perasaan yang tak menentu.
Bersambung__