Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil Kb
Lina membantu Raisa bersandar lebih nyaman di kursi.
"Sa, kamu istirahat dulu ya. Wajah kamu pucat banget," ucapnya lembut.
Raisa mengangguk pelan.
"Iya, Mi… makasih…"
Evan berdiri di sampingnya, tangannya masih menggenggam tangan Raisa.
"Kita pulang aja, Pah," katanya tegas. "Kondisi dia nggak memungkinkan."
David menatap tajam, masih belum sepenuhnya percaya.
"Kamu yakin bukan akting?" sindirnya.
Evan membalas dengan dingin.
"Kalau papa nggak percaya, itu urusan papa. Tapi kesehatan dia lebih penting."
Lina langsung menimpali.
"Mas, sudah… jangan dipaksa. Kasihan Raisa."
David menghela napas panjang, lalu mengibaskan tangan.
"Terserah kalian. Tapi ingat, papa tunggu hasilnya."
Evan mengangguk singkat.
"Pasti."
Ia lalu menunduk sedikit ke arah Raisa.
"Ayo, Sa… kita pulang."
Raisa berdiri perlahan, tubuhnya masih berpura-pura lemas. Evan langsung merangkulnya agar tetap seimbang.
"Maaf ya, Mi…" ucap Raisa pelan.
Lina tersenyum tipis, meski masih terlihat cemas.
"Nggak apa-apa, Sa. Hati-hati di jalan."
Raisa mengangguk.
"Iya, Mi…"
Mereka pun berjalan keluar dari rumah.
Begitu sampai di dalam mobil Raisa langsung menghela napas panjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan… aku hampir ketahuan…" ucapnya panik.
Evan menyalakan mesin, lalu meliriknya.
"Kamu tadi bagus," katanya santai.
Raisa menatapnya kesal.
"Bagus apanya?! Ini semua gara-gara kamu ngomong sembarangan!"
Evan tersenyum tipis.
"Kalau mas nggak ngomong begitu, papa nggak akan berhenti ngerendahin kamu."
Raisa menggeleng.
"Tapi sekarang malah makin rumit, mas…"
Evan menatap ke depan, wajahnya serius.
"Memang. Tapi setidaknya sekarang mereka mulai berhenti meremehkan kamu."
Raisa terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia bertanya pelan.
"Terus… kalau nanti aku benar-benar nggak hamil gimana?"
Evan melirik sekilas ke arah Raisa, lalu berkata santai,
"Seperti yang mas bilang tadi… ya kita harus sering-sering berusaha biar cepat jadi."
Raisa langsung menatapnya kesal.
"Kamu ini ya… pikirannya itu-itu terus. Mesum banget," gerutunya.
Evan malah tertawa kecil.
"Lah terus gimana? Emangnya bayi bisa diunduh dari aplikasi?" godanya.
Raisa makin kesal.
"Mas, ini serius. Aku nggak mau hamil di luar nikah. Nanti orang-orang ngomong apa?"
Evan mengangkat bahu.
"Nggak usah terlalu mikirin omongan orang. Mereka juga nggak hidupin kita."
Raisa menggeleng tegas.
"Tapi aku tetap punya prinsip, mas. Aku nggak mau seperti itu."
Evan akhirnya sedikit melunak, meliriknya lagi.
"Iya… mas ngerti. Makanya kita cari cara yang benar."
Raisa menarik napas panjang.
"Iya… jangan sampai semuanya makin kacau."
Evan melirik ke arah Raisa, lalu bertanya dengan nada lebih serius.
"Tapi kalau misalnya kamu hamil sebelum kita menikah gimana, Sa?"
Raisa langsung menggeleng cepat.
"Nggak mungkin, mas. Aku kan pakai KB," jawabnya yakin.
Evan mengangkat alis.
"KB juga nggak seratus persen aman. Banyak juga yang tetap kebobolan."
Raisa terdiam sejenak, wajahnya mulai ragu.
"Tapi… kecil kemungkinan, kan?" ucapnya pelan.
Evan menghela napas.
"Iya, kecil… tapi tetap ada kemungkinan."
Raisa menggigit bibirnya, mulai terlihat cemas.
"Aku nggak mau ambil risiko itu, mas…"
Evan menatapnya sekilas, lalu kembali fokus ke jalan.
"Makanya… kita harus pikirin langkah yang paling aman."
Raisa mengangguk pelan.
"Iya… aku maunya semuanya tetap benar."
Evan terdiam sejenak, matanya fokus ke jalan, tapi pikirannya jauh ke mana-mana.
"Bagaimana kalau kamu tahu kebenarannya, Sa…"
batinnya. "Kalau yang selama ini kamu minum itu bukan KB, tapi justru penyubur kandungan…"
Tangannya mencengkeram setir sedikit lebih kuat.
"Maafin aku, Sa… aku cuma nggak mau kehilangan kamu," lanjutnya dalam hati.
Di sampingnya, Raisa masih menatap ke depan, sama sekali tidak menyadari apa yang sedang dipikirkan Evan.
"Mas?" panggil Raisa pelan. "Kamu kok diam aja?"
Evan tersentak dari lamunannya.
"Hah? Nggak… mas cuma lagi mikir," jawabnya singkat.
"Mikir apa?" tanya Raisa curiga.
Evan menggeleng pelan.
"Nggak penting."
Raisa menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas.
"Kamu kalau ada apa-apa jangan disimpan sendiri, mas…"
Evan hanya tersenyum tipis.
"Iya…"
Raisa menoleh perlahan, menatap Evan dengan serius.
"Mas… kamu benar-benar nggak mau kasih tahu aku sekarang?" suaranya pelan, tapi penuh tekanan. "Alasan Mas Aditya… kenapa dia nggak pernah menyentuh aku?"
Evan terdiam sejenak, rahangnya mengeras.
Raisa melanjutkan, kali ini lebih langsung.
"Apa… benar dia seperti yang kamu bilang?"
tanyanya hati-hati. "Dia… menyukai sesama jenis?"
Evan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Sa…"
Raisa menatapnya tanpa berkedip.
"Aku butuh kejujuran, mas. Jangan tunggu sampai semuanya makin rumit."
Evan menggenggam setir lebih erat.
"Aku sudah bilang… aku akan jelasin semuanya," ucapnya pelan.
"Kapan?" potong Raisa cepat. "Aku capek terus hidup dalam tanda tanya."
Evan meliriknya sekilas.
"Bukan sekarang."
Raisa langsung menghela napas kesal.
"Kamu selalu bilang begitu."
Evan menatap ke depan lagi.
"Aku cuma nggak mau kamu hancur sebelum waktunya."
Raisa tersenyum pahit.
"Aku sudah hancur dari dulu, mas… cuma kamu yang belum lihat."
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya