NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Setelah percakapan malam itu, aku masuk ke kamar dengan perasaan yang aneh. Bukan sedih, bukan juga benar-benar senang. Lebih seperti… hatiku pelan-pelan berubah arah, dan aku tidak bisa menghentikannya.

Aku berdiri di depan cermin cukup lama.

Aku melihat diriku sendiri.

Aku bukan wanita seperti Vanessa.

Aku tidak glamor.

Tidak percaya diri berjalan di ruangan penuh orang penting.

Tidak tahu dunia pesta, fashion show, atau pergaulan sosial kelas atas.

Aku hanya… aku.

Dan minggu depan aku harus berdiri di sana. Di dunia yang bukan duniaku. Di antara orang-orang yang mungkin akan menilaiku dari atas sampai bawah.

Aku menarik napas panjang.

Lalu aku berkata pelan ke bayanganku di cermin,

“Aku tidak harus menjadi mereka. Aku hanya harus berdiri di samping Adrian.”

Entah kenapa, setelah mengatakan itu, aku sedikit lebih tenang.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi ada satu perbedaan kecil—Adrian mulai pulang sedikit lebih cepat dari biasanya. Kadang kami minum teh sore di teras belakang, kadang hanya duduk diam melihat taman.

Suatu sore, kami duduk berdua di teras. Angin pelan, matahari hampir tenggelam, dan suasana sangat tenang.

Tiba-tiba Adrian berkata,

“Untuk acara minggu depan, kamu perlu baju.”

Aku langsung menoleh. “Aku punya baju.”

“Bukan baju biasa,” katanya.

Aku langsung mengerti maksudnya. “Aku tidak punya baju seperti di acara itu.”

“Iya. Jadi kita beli.”

Aku langsung kaget. “Tidak perlu. Aku bisa pakai yang sederhana saja.”

Adrian menatapku datar. “Aku tidak bilang kita beli yang berlebihan. Tapi kamu tidak boleh terlihat seperti orang yang datang ke acara yang salah.”

Aku sedikit tersenyum. “Aku memang orang yang datang ke acara yang salah.”

Ia menggeleng kecil. “Kamu datang ke acara yang benar. Hanya dunianya yang berbeda.”

Aku diam sebentar, lalu berkata pelan, “Aku tidak ingin orang-orang berpikir aku memanfaatkanmu.”

Adrian langsung menatapku serius. “Orang-orang akan berpikir apa saja. Kamu tidak bisa mengontrol itu.”

Ia melanjutkan,

“Tapi kamu bisa mengontrol bagaimana kamu berdiri, bagaimana kamu bicara, dan bagaimana kamu melihat mereka. Jangan terlihat seperti kamu lebih rendah dari mereka.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Kamu tahu aku tidak terbiasa dengan semua ini,” kataku pelan.

“Iya. Tapi kamu juga bukan orang lemah.”

Aku sedikit tertawa kecil. “Kamu terlalu percaya padaku.”

“Aku tidak percaya tanpa alasan,” jawabnya tenang.

Sunyi sebentar.

Lalu aku bertanya pelan, “Adrian… kenapa kamu menikah denganku waktu itu?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah taman, ke arah matahari yang hampir tenggelam.

“Aku juga tidak tahu,” katanya akhirnya. “Awalnya hanya karena keluarga memperkenalkan. Aku tidak punya alasan untuk menolak dan tidak punya alasan untuk menerima.”

Aku menunggu dia melanjutkan.

“Tapi setelah aku bertemu kamu, aku merasa kamu… berbeda,” katanya pelan.

“Berbeda bagaimana?”

“Kamu tidak pernah meminta apa-apa dariku.”

Aku terdiam.

“Kebanyakan orang yang mendekatiku selalu menginginkan sesuatu. Koneksi, uang, posisi, proyek, atau masa depan. Kamu tidak pernah meminta apa-apa. Bahkan kamu terlihat siap pergi kapan saja kalau aku menyuruhmu.”

Aku menunduk sedikit.

“Itu bukan karena aku baik,” kataku pelan. “Aku hanya terbiasa tidak memiliki apa-apa.”

Ia langsung menoleh ke arahku.

“Itu yang membuatku tidak ingin kamu kembali ke hidup seperti itu,” katanya pelan.

Dadaku terasa hangat lagi. Perasaan yang sekarang semakin sering muncul setiap kali dia berbicara jujur seperti itu.

“Kamu tahu hal yang aneh?” katanya tiba-tiba.

“Apa?”

“Rumah ini dulu terasa seperti hotel. Aku hanya datang untuk tidur. Sekarang terasa seperti rumah.”

Aku menatapnya.

Ia melanjutkan,

“Karena sekarang ada orang yang menungguku pulang.”

Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Angin sore berhembus pelan. Matahari hampir tenggelam. Dan untuk beberapa saat, kami hanya duduk diam.

Namun diam kali ini berbeda.

Bukan diam karena tidak ada yang bisa dibicarakan.

Tapi diam karena kami berdua sama-sama memikirkan hal yang sama… tapi belum ada yang berani mengatakannya.

Beberapa hari lagi, kami akan datang ke acara Vanessa.

Dan entah kenapa, aku merasa—

Acara itu bukan hanya pesta atau fashion show.

Tapi akan menjadi tempat di mana semua orang akan melihat kami.

Melihat siapa Adrian sekarang.

Dan melihat…

siapa aku di sampingnya.

Hari acara itu akhirnya datang.

Sejak pagi suasana rumah sudah sedikit berbeda. Bukan karena ada banyak orang, tapi karena aku sendiri yang merasa tegang. Dari bangun tidur sampai siang, aku tidak bisa benar-benar tenang. Bahkan Bibi Ratna sampai tertawa kecil melihat aku beberapa kali berjalan bolak-balik tanpa tujuan.

“Nyonya tegang ya?” tanyanya.

Aku tersenyum kecil. “Kelihatan ya, Bi?”

“Iya. Dari tadi buka lemari, tutup lemari, duduk, berdiri lagi.”

Aku menghela napas. “Aku merasa seperti mau ujian.”

“Bukan ujian,” kata Bibi Ratna sambil tersenyum. “Hanya datang sebagai istri Tuan.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuatku sedikit lebih tenang.

Sore harinya baju yang Adrian pilihkan sudah siap di kamar. Gaunnya tidak terlalu berlebihan, tapi sangat elegan. Warna lembut, potongannya sederhana, tapi terlihat mahal. Aku bahkan takut memakainya.

Aku berdiri di depan cermin setelah selesai bersiap.

Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri.

Rambutku ditata rapi, make up tipis tapi membuat wajahku terlihat berbeda, dan gaun itu membuatku terlihat… lebih dewasa. Lebih anggun. Lebih percaya diri, meskipun sebenarnya aku masih sangat gugup.

Aku sedang menatap diriku di cermin ketika terdengar ketukan di pintu.

“Masuk,” kataku.

Pintu terbuka, dan Adrian masuk dengan kursi rodanya. Ia memakai jas hitam sederhana, tapi seperti biasa, dia selalu terlihat rapi dan berwibawa tanpa perlu berusaha.

Ia berhenti beberapa detik saat melihatku.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya—

Adrian terlihat sedikit terdiam.

Ia menatapku cukup lama sampai aku jadi gugup sendiri.

“Kenapa?” tanyaku pelan. “Aneh ya?”

Ia menggeleng pelan. “Tidak.”

Ia masih menatapku beberapa detik lagi sebelum berkata,

“Kamu terlihat sangat cantik.”

Aku langsung terdiam.

Adrian bukan tipe orang yang mudah memberi pujian. Jadi ketika dia mengatakan itu, aku tahu dia benar-benar jujur.

“Terima kasih,” kataku pelan sambil sedikit menunduk.

Ia mendekat sedikit dengan kursi rodanya.

“Kamu siap?” tanyanya.

Aku menarik napas panjang. “Tidak terlalu. Tapi aku akan mencoba.”

Ia menatapku lurus-lurus lalu berkata,

“Kamu tidak perlu mengesankan siapa pun di sana.”

Aku mengangguk pelan.

“Kamu hanya perlu melakukan satu hal,” lanjutnya.

“Apa?”

“Jangan lepaskan kursi rodaku malam ini.”

Aku sedikit bingung. “Maksudnya?”

Ia berkata pelan,

“Selama kamu berdiri di belakangku dan mendorong kursi rodaku, semua orang akan tahu kamu di pihakku. Dan aku di pihakmu.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Itu bukan kalimat romantis.

Tapi entah kenapa terasa lebih dari sekadar romantis.

Aku mengangguk pelan. “Aku tidak akan melepaskannya.”

Ia menatapku sebentar, lalu mengangguk kecil. “Bagus. Kalau begitu kita berangkat.”

Perjalanan ke acara itu tidak terlalu lama, tapi di dalam mobil aku hampir tidak bicara sama sekali. Tanganku dingin, dan aku terus melihat keluar jendela untuk menenangkan diri.

Adrian akhirnya berkata,

“Kamu gugup sekali ya?”

“Iya,” jawabku jujur.

“Kamu takut pada mereka?”

Aku berpikir sebentar. “Bukan takut. Aku hanya merasa… aku bukan bagian dari dunia mereka.”

Adrian langsung menjawab,

“Mulai malam ini, kamu bagian dari duniaku. Dan mereka bagian dari duniaku. Jadi mau tidak mau, mereka harus menerima kamu.”

Aku menoleh ke arahnya.

Ia melanjutkan,

“Aku tidak pernah peduli pendapat orang tentang hidupku. Jadi kamu juga tidak perlu peduli.”

Aku tersenyum kecil. “Kamu memang selalu sederhana menghadapi semuanya.”

“Bukan sederhana,” katanya. “Aku hanya memilih apa yang penting.”

“Apa yang penting?” tanyaku pelan.

Ia menatap ke depan, lalu berkata tenang,

“Orang yang tetap tinggal ketika hidupku tidak lagi sempurna.”

Aku terdiam.

Mobil akhirnya berhenti di depan gedung besar yang penuh lampu. Banyak mobil mewah terparkir di depan. Orang-orang berpakaian elegan berjalan masuk sambil berbicara dan tertawa.

Aku langsung merasa gugup lagi.

Supir membuka pintu mobil. Adrian keluar dulu dengan bantuan supir, lalu aku turun setelahnya.

Aku berdiri di belakang kursi rodanya.

Tanganku pelan memegang pegangan kursi roda itu.

Adrian berkata pelan tanpa menoleh,

“Sekarang kita masuk bersama.”

Aku mengangguk, meskipun dia tidak bisa melihatku.

Lalu aku mulai mendorong kursi rodanya masuk ke dalam gedung besar itu.

Lampu kristal besar menggantung di langit-langit. Musik lembut terdengar. Orang-orang berbicara dalam kelompok kecil. Semua terlihat elegan dan berkelas.

Beberapa orang mulai menoleh ke arah kami.

Sebagian melihat Adrian.

Sebagian lagi melihat… aku.

Aku bisa merasakan tatapan mereka. Menilai. Penasaran. Bertanya-tanya siapa aku.

Tanganku sedikit menegang di pegangan kursi roda.

Lalu tiba-tiba Adrian berkata pelan,

“Tenang saja.”

Aku sedikit menunduk. “Semua orang melihat kita.”

“Itu memang tujuan kita datang,” katanya santai.

Aku hampir tertawa kecil mendengarnya.

Dan saat itulah—

Dari ujung ruangan, Vanessa berjalan mendekat ke arah kami dengan gaun merah elegan, senyum percaya diri, dan tatapan yang sulit diartikan.

Dia berhenti di depan kami.

Menatap Adrian.

Lalu menatapku.

Dan dengan senyum tipis dia berkata,

“Terima kasih sudah datang. Kalian benar-benar menjadi pasangan yang paling aku tunggu malam ini.”

Aku tahu dari nada suaranya.

Malam ini…

tidak akan berjalan dengan sederhana.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!