NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Malam pertama di kamar pengantin yang disiapkan begitu hening, namun penuh dengan debar yang berbeda. Wangi bunga melati dari dekorasi ranjang menyeruak, bercampur dengan aroma dupa kayu gaharu yang menenangkan. Pintu kamar telah terkunci rapat, memisahkan Zavier dan Zaheera dari hiruk-pikuk pesta pernikahan yang melelahkan.

Zavier berdiri di sudut kamar, masih mengenakan kemeja putihnya yang kancing atasnya sudah terbuka. Ia menatap Zaheera yang sedang duduk di tepi ranjang, perlahan membuka kerudung transparan pengantinnya. Rambut panjang Zaheera terurai indah, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram.

"Zee..." panggil Zavier pelan, suaranya sedikit serak.

Zaheera mendongak, matanya yang besar menatap Zavier dengan binar keharuan. "Iya, Mas?"

Zavier tersenyum tipis mendengar panggilan baru itu. Ia kemudian mengambil mukena sutra putih yang ia berikan kemarin dari dalam kotaknya. "Mari kita penuhi janji kita. Kita shalat bersama sebagai sepasang suami istri untuk pertama kalinya. Kita memohon ampunan-Nya di malam pertama kita ini."

Zaheera mengangguk patuh. Ia bangkit dan mengenakan mukena sutra putih itu. Kainnya yang halus jatuh dengan sempurna di tubuhnya, membuatnya tampak begitu suci dan bercahaya. Zavier membentangkan sajadah lebar, cukup untuk mereka berdua. Zavier berdiri di depan sebagai imam, dan Zaheera berdiri tepat di belakangnya sebagai makmum yang sah.

Shalat malam itu diawali dengan Shalat Sunnah dua rakaat sebagai pasangan baru, namun suasana segera berubah menjadi sangat emosional saat mereka melanjutkan dengan Shalat Taubat.

Di dalam kesunyian malam, hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan. Zavier memimpin setiap gerakan dengan sangat perlahan. Saat sujud terakhir, Zavier membiarkannya berlangsung sangat lama. Ia menempelkan dahinya ke lantai, meratapi setiap jejak dosa yang pernah mereka ukir. Di belakangnya, Zaheera pun melakukan hal yang sama. Air matanya membasahi kain mukena sutra putih itu.

Setelah salam, Zavier memutar tubuhnya menghadap Zaheera. Ia tidak langsung menyentuh istrinya. Ia justru menunduk, bahunya terguncang hebat. Tangis yang selama ini ia tahan di depan Abi, Mas Azlan, dan Pak Narendra, akhirnya pecah di depan wanita yang paling ia cintai.

"Zee... maafkan aku," isak Zavier, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Maafkan aku karena telah membawamu ke dalam jalan yang gelap selama dua tahun ini. Maafkan aku karena tidak menjagamu dengan baik sebagai seorang pria yang seharusnya melindungi mu. Aku telah menodai mu sebelum aku menghalalkan mu. Aku merasa sangat tidak pantas menjadi imammu malam ini."

Zaheera merangkak mendekat, ia meraih tangan Zavier dan mencium punggung tangan suaminya itu dengan penuh khidmat. "Mas... jangan bicara begitu. Kita melakukannya bersama. Aku yang tidak bisa menjagamu, aku yang menyeret mu ke dalam duniaku yang liar dulu. Aku sudah memaafkan segalanya, Mas."

Zaheera menghapus air mata di pipi Zavier dengan ibu jarinya. Ia menatap wajah suaminya yang masih merah karena menangis. Tiba-tiba, Zaheera tersenyum kecil, sebuah senyum yang mengandung kelegaan yang luar biasa.

"Mas, kamu tahu apa yang paling membuatku tenang malam ini?" tanya Zaheera pelan.

Zavier menggeleng, masih mencoba mengatur napasnya yang sesak.

"Aku bahagia karena sekarang kita sudah halal," ucap Zaheera dengan nada yang sangat polos namun jujur. "Sekarang, kita tidak perlu lagi merasa ketakutan jika fajar tiba. Tidak perlu lagi kamu lari-lari keluar apartemen tengah malam hanya untuk mencari Apotek 24jam karena pengaman kita habis. Tidak perlu lagi aku harus buru-buru minum pil kontrasepsi di pagi hari karena kita 'lupa' dan nggak sengaja buang di dalam..."

Deg.

Telinga Zavier seketika memerah padam. Ia tertegun, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kalimat-kalimat eksplisit tentang masa lalu mereka yang keluar begitu saja dari bibir Zaheera di tengah suasana religius ini membuatnya merasa seperti disambar petir di tengah malam.

"Zee... Sayang..." bisik Zavier, suaranya bergetar karena malu yang luar biasa. "Bisakah... bisakah jangan lagi bahas hal-hal gila seperti itu? Itu masa lalu kita, Sayang. Itu kegelapan yang ingin aku kubur dalam-dalam di bawah sajadah ini. Kumohon, jangan diingat lagi detailnya."

Zaheera mengerjapkan matanya, tampak sedikit terkejut melihat reaksi Zavier yang begitu malu hingga telinganya tampak seperti terbakar.

"Maafkan aku, Mas... aku hanya merasa sangat lega. Aku cuma ingin bilang kalau sekarang aku merasa aman bersamamu tanpa rasa takut akan hamil di luar nikah atau rasa berdosa lagi," ucap Zaheera dengan tulus. "Panggilan 'Mas' itu... apa telingamu makin merah karena aku panggil Mas?"

Zavier memalingkan wajahnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Panggilan "Mas" yang diucapkan dengan nada manja dan polos oleh Zaheera ternyata memiliki efek yang jauh lebih dahsyat daripada semua rayuan mereka di masa lalu.

"Iya, Zee. Berhenti memanggilku begitu jika kamu masih ingin kita melanjutkan dzikir malam ini," canda Zavier, meski wajahnya masih panas.

Zavier kemudian menarik Zaheera ke dalam pelukannya. Ia mencium kening istrinya dengan lembut, kali ini tanpa rasa takut.

"Malam ini, biarlah semua 'hal-hal gila' itu menjadi pengingat betapa luasnya ampunan Allah pada kita," bisik Zavier di telinga Zaheera. "Kita akan mulai hidup yang benar-benar baru. Aku akan mengajarimu cara shalat yang sempurna, mengajarimu mengaji, dan kita akan membangun keluarga yang diridhoi-Nya."

Zaheera menyandarkan kepalanya di dada bidang Zavier, mendengarkan detak jantung suaminya yang kini terasa seperti melodi paling menenangkan. Mukena sutra putih itu menjadi saksi bahwa di kamar yang sempit di lingkungan pesantren ini, dua jiwa yang pernah hancur sedang menyatukan kepingan-kepingan diri mereka untuk menjadi sesuatu yang lebih indah.

"Mas Zavier..." panggil Zaheera lagi, sengaja menggoda.

Zavier hanya mengembuskan napas panjang, tersenyum pasrah sambil mengeratkan pelukannya. Ia menyadari bahwa perjalanannya membimbing Zaheera tidak akan mudah, namun ia siap menanggung semuanya.

Malam itu, bukan hanya raga yang menyatu, tapi juga dua taubat yang saling menguatkan di hadapan Sang Pemilik Cinta.

🌷🌷🌷

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!